Tiga Serangkai eBook Bipolar
3 eBook Bipolar ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata penulisnya. Mengupas secara detail dan sistematis dari gejala awal, saat berada di puncak manik dan depresi, sampai langkah-langkah pemulihannya. Inilah ebooknya : "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah”, “Berdamai dengan Bipolar” dan “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”.

Skizofrenia dalam Bait-Bait Puisi

    

Seorang facebooker yang tergabung di grup KPSI (Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia) menuangkan suasana hati dan pikiran seorang skizo ke dalam bait-bait puisi nan indah dan penuh makna.

Puisi ini juga disertai penjelasan detail tentang makna dibalik kalimat-kalimat puitisnya.

“Puisi ini saya persembahkan untuk sesama penderita skizofrenia agar mempunyai semangat dalam hidupnya. Pesan saia jangan menyerah kawan, jangan menyerah!” kata sang penulis.

Silakan simak dan renungkan bait-bait puisinya.


Lingkar Mukjizat


Oleh Egi David Perdana

kurebahkan diri di pinggiran intuisi

dimana di sana mengalir isyarat-isyarat hikmat

menantikan sandi-sandi aksara berbisik kepadaku

disela-sela penantianku aku menatap masa depan yang teruntai

adakah satu yang tersyukuri itu untukku?

sedangkan sepucuk curiga berkata

"ah esok tak pernah mau menggenggam tanganmu"

aku menjadi putus asa dan berharap layu

memimpikan diriku menjadi sebuah ketiadaan

karena........

sakitku



tetapi perlahan-lahan sang qolbu menebas curiga dengan kasihnya

cahaya yang mulanya ambruk pun mulai membangun dirinya kembali

lalu sekepak asa berubah menjadi pilar-pilar kokoh

melindungiku dari dosa-dosa yang tak bisa mati

dan kini kutahu hari esok mau menjalani hidup denganku

bersedia menunggui kedatangan sukacita yang kuharap-harap

kemudian pada lembayung yang tirainya terurai kisahku

kuguratkan sebingkai kalimah

pada mereka yang juga adalah aku, bahwa

jangan menyerah kawan

jangan menyerah



Makna:

Pada bait pertama, ada kata intuisi yang berarti suara hati. Disini saya ingin menggambarkan bahwa penderita skizo terlalu menggantungkan diri pada suara hatinya, pada suara-suara yang ada di dalam dirinya yang disini saya istilahkan dengan merebahkan diri. Intuisi sendiri juga bisa bermakna pengetahuan tentang sesuatu tanpa memikirkan atau mempelajarinya. Jadi penderita skizo termasuk saya pun jika mendapatkan pendengaran-pendengaran di dalam jiwa langsung menganggapnya nyata tanpa mempelajarinya apakah itu nyata atau bukan.

Dilanjutkan di bait kedua, yang kurang lebih memiliki makna bahwa di dalam suara hati yang tersimpan kegalauan tersebut terdapat rahmat dari Tuhan, bahwa di dalam penderitaan kita itu Tuhan menyimpan rencana agar kita bisa mengerti bahwa sebenarnya duka itu juga baik, bahwa seseorang tidak dianggap dewasa di mata Tuhan jika kita tidak ditempa dalam ujiannya.

Kemudian pada bait ketiga, digambarkan sang tokoh itu sedang menunggu bisikan-bisikan selanjutnya yang ia nikmati, maksudnya dia terlena dengan halusinasi-halusinasi kotor yang ada di dalam jiwanya tanpa sadar dan mensyukuri bahwa ada rencana besar Tuhan dibalik itu semua, namun yang dilakukan sang tokoh hanya diam menunggu tanpa berusaha.

Coba lihat antara bait satu sampai ketiga yang hanya dilakukannya hanyalah merebahkan diri dan menunggu padahal sudah diperkuat oleh bait kedua bahwa di antara suara-suara jiwa itu terdapat isyarat-isyarat hikmat yang mengalir yaitu rahmat Tuhan dan manusia harus berusaha mencarinya sendiri dan jika digambarkan dengan seorang skizo maka si penderita harus mencari kesembuhannya dengan usaha gigih dari dirinya sendiri. Percuma keluarga penderita berusaha mengobatinya tapi tidak ada kesadaran dari dirinya sendiri.

Pada bait ke empat, dimana si penderita masih terus menunggu tanpa adanya usaha dari dirinya sendiri mulai melihat masa depan yang ada di depannya, bagaimana dia nanti menghidupi keluarganya, bagaimana pandangan masyarakat pada keluarganya yang menanggung aib karena penyakitnya dianggap memalukan dan juga apakah cita-citanya kelak akan tercapai dan saia mengistilahkan itu dengan kata untaian.

Pada bait selanjutnya si tokoh bertanya kepada Tuhan "adakah satu yang tersyukuri itu untukku?" maksudnya adalah si tokoh mengharapkan masa depan yang cerah "adakah masa depan yang akan membuat si tokoh bersyukur?"
Masa depan yang diidam-idamkan penderita skizo yaitu kesembuhan dan perlakuan layak dari masyarakat. Tetapi pada bait selanjutnya sedikit rasa curiga si tokoh membuat asa dari si tokoh memudar dalam pikiran yang diracuni rasa curiga.

Si tokoh. di bait selanjutnya bergumam dalam hati bahwa tidak ada hari esok untuk penderita skizo seperti dia yang saia gambarkan dengan kalimat "ah esok tak pernah mau menggenggam tanganmu" Saia gunakan istilah menggenggam tangan dengan alasan bahwa hari esok atau masa depan dan kita itu sebetulnya bagai sepasang kekasih jika kita percaya kepadanya dia akan setia tetapi jika tidak dia akan pergi. Ya hari esok akan setia jika kita percaya dan berusaha dan hari esok akan pergi jika kita diam dan berputus asa.

Dari bait-bait sebelumnya terdapat kesimpulan pada bait selanjutnya bahwa hal itu membuat sang tokoh sangat putus asa dan berharap mati yang saya istilahkan dengan layu. Dan mati disini bukan hanya mati sebagai manusia tetapi juga matinya harapan dan masa depan si tokoh.

Kemudian di bait selanjutnya karena keputus asaan si tokoh berharap dirinya menjadi sebuah ketiadaan, berharap dirinya tidak pernah ada dan dirinya hanyalah khayalan bahkan lebih dari itu. Ketiadaan yang saya maksud benar-benar ketiadaan yang sebenarnya yaitu sama sekali tidak ada, tidak pernah terlahir, tidak pernah tercipta dan tidak pernah merasakan hidup.

Lalu di bait kesepuluh dan kesebelas si tokoh mengutarakan penyebabnya kenapa si tokoh putus asa, merasa tidak mempunyai masa depan dan ingin menjadi suatu ketiadaan? Jawabannya adalah karena penyakit yang ia derita. Tetapi si tokoh mempunyai nurani yang saya gambarkan sebagai qolbu. Hati nurani si tokoh membuang jauh-jauh semua yang telah dipikirkannya dan sedikit demi sedikit rasa curiga terkikis dari hatinya. Saya menggambarkan dengan kata "menebas curiga dengan kasihnya" maksudnya adalah si tokoh dengan hati nuraninya meluluhkan rasa curiga dengan pikiran yang positif. Ya kasih disini bisa diartikan sebagai pikiran yang positif.

Lalu di bait selanjutnya yang dimaksud dengan "cahaya yang ambruk" adalah masa depan si tokoh yang sudah hancur. Jadi dengan pikiran positif si tokoh, masa depan yang tadinya hancur berkeping-keping mulai tertata kembali, mulai terlihat dengan jelas kembali yang saya istilahkan dengan "membangun dirinya kembali".

Dibait selanjutnya yang saya maksud dengan sekepak asa adalah sedikit harapan yang bangkit karena nurani atau qolbu, bagaikan burung yang lemah bila terbang dengan satu kepakan karena pikiran positif si tokoh. Harapan yang tadinya diumpamakan dengan kata sekepak bisa juga setetes, sebilah atau sejumput, harapan yang tadinya sangat kecil bahkan sama sekali tidak ada berubah menjadi pilar-pilar yang kokoh menjadi penyangga bagi masa depan si tokoh, ya harapan adalah penyangga untuk hari esok.

Di bait selanjutnya maksudnya adalah harapan yang menjadi penyangga hidup yang juga ada pikiran positif di dalamnya yang berasal dari nurani meluluhkan pikiran-pikiran aneh dan buruk, rasa curiga, rasa frustasi yang saya gambarkan dengan istilah "dosa-dosa yang tak bisa mati". Dan kenapa melindungi bukan membunuh? karena selama penderita skizo belum dikatakan dianggap sembuh hal-hal seperti itu akan tetap ada dalam pikirannya.

Nah agar hal-hal negatif itu minimal tidak timbul lagi maka pikiran positif dari nurani dan harapan si tokoh yang menjadi pilarnya, yang diibaratkan hal-hal negatif itu sebagai virus dan pikiran positif itu sebagai anti-virusnya.

Di bait selanjutnya akhirnya si tokoh percaya bahwa akan ada hari esok untuknya karena pikirannya yang positif. Dan maksud bait selanjutnya adalah bahwa karena pikiran positif dari nurani itu si tokoh itu menjadi percaya bahwa sukacita atau kebahagiaan akan datang dan hal itu bisa terjadi karena adanya dalam tanda kutip "kesetiaan" dari pikiran positif makanya saya istilahkan hal itu dengan "bersedia menunggui".

Dan di bait selanjutnya yang saya maksudkan dengan lembayung adalah pengalaman dan orang-orang mempunyai pengalamannya sendiri-sendiri. Penderita skizo punya pengalamannya sendiri-sendiri sebagai cerita, yang mana cerita itu saya istilahkan dengan tirai.

Di bait selanjutnya maksudnya ialah si tokoh berbagi pengalamannya, berbagi apa yang ia rasakan kepada sesama penderita skizofrenia dengan memberikan penyuluhan-penyuluhan dan nasehat-nasehat apa yang mesti dilakukan agar bisa menemukan kebahagiaan. Kalau saya sederhanakan adalah orang yang melakukan seminar-seminar kegiatan jiwa demi kesembuhan penderita skizo yang lain dan sungguh bait ini saya terinspirasi dari bung Anta Samsara pengarang buku “Gelombang Lautan Jiwa”.

Di bait selanjutnya kalimat "pada mereka yang juga adalah aku" maksudnya adalah sesama penderita skizofrenia dan di bait-bait terakhir ditutup dengan kalimat "jangan menyerah kawan" yang diulang sebanyak dua kali maksudnya adalah agar penderita skizo tidak menyerah dengan keadaan yang dia alami karena masih ada nurani dari Tuhan yang akan memberikan pikiran positif dan menjaga kita, pokoknya jangan menyerah.

Dan kenapa puisi ini saya beri judul “Lingkar Mukjizat”, karena dari phrase pertama diceritakan si tokoh mengalami keputus asaan dan pada phrase kedua Tuhan menanamkan pertolongannya lewat hati nurani sang tokoh yang saya anggap hal itu bagaikan sebuah roda nasib atau lingkaran.


Bookmark and Promote!



Artikel Terkait:

Ingin mendapat artikel seperti ini langsung ke Email anda? Silahkan masukan alamat email anda untuk berlangganan.

Komentar :

ada 1
eko oktosatrio on Senin, 12 Desember 2016 18.16.00 WIB mengatakan...

Assalammualaykum, bang Egi. Saya mohon ijin. Boleh atau tidak mencantumkan puisi karya anda? ditugas mata kuliah saya.

Posting Komentar

Sampaikan komentar terbaik anda di kolom komentar :)

eBook 1: "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah"

Buku psikomoar ini bercerita tentang pergumulan saya selama bertahun-tahun dengan gangguan jiwa yang tidak saya fahami dan membuat saya bertanya-tanya, “Apa yang terjadi dengan diri saya? Penyakit apa yang saya alami? Bagaimana cara mengatasinya?” Ironisnya, saya baru tahu apa yang terjadi dengan diri saya, 8 tahun setelah saya pulih, bahwa saya mengalami Gangguan Bipolar. [Selengkapnya]




eBook 2: "Berdamai Dengan Bipolar"

Bagaimana mengenali dan mengatasi Gangguan Bipolar?
Bagaimana menanggapi sikap negatif orang-orang di sekitar anda?
Bagaimana mendampingi orang yang mengalami Gangguan Bipolar? eBook ini memberi jawaban dan solusi alternatif penanganan Bipolar. [Selengkapnya]



eBook 3: “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”

eBook ini merupakan inti dari pengalaman dan pemahaman bipolar saya. Inti dari tulisan-tulisan saya di buku, ebook, blog, facebook, twitter dan media lainnya. eBook ini bukan teori-teori tentang gangguan bipolar! Bukan formula ajaib untuk mengatasi gangguan bipolar! eBook ini tentang tindakan, langkah-langkah penanganan bipolar. [Selengkapnya]


eBook Novel: “Pengorbanan Cinta”

Novel ini bukan sekedar kisah cinta yang romantis dengan segala macam konflik di dalamnya. Saya berani menyebut novel ini sebagai “Buku Pelajaran Cinta”. Beda dengan buku pelajaran pada umumnya, Buku Pelajaran Cinta ini tak membosankan, malah sangat mengasyikan dibaca. Setelah mulai membaca, jamin Anda tak ingin berhenti dan ingin terus membacanya sampai akhir cerita. [Selengkapnya]



eBook Panduan: “7 Langkah Mudah Menyusun & Memasarkan eBook”

Jika dikemas dengan desain cover yang apik dan diberi judul yang manarik, kumpulan posting blog atau catatan facebook anda bisa disusun menjadi sebuah ebook yang akan memikat pembaca di ranah maya. Selanjutnya ebook anda tinggal dipasarkan secara online.
[Selengkapnya]

 
 © Copyright 2016 Curhatkita Media  template by Blogspottutorial