Tiga Serangkai eBook Bipolar
3 eBook Bipolar ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata penulisnya. Mengupas secara detail dan sistematis dari gejala awal, saat berada di puncak manik dan depresi, sampai langkah-langkah pemulihannya. Inilah ebooknya : "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah”, “Berdamai dengan Bipolar” dan “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”.

Blog Curhatkita: Semua Informasi dan Layanan Gratis! Kecuali…

Oleh Tarjum


Sejak dibuat pertengahan tahun 2006, blog Curhatkita mengkhususkan diri untuk memposting artikel-artikel seputar gangguan kejiwaan, kesehatan mental dan pengembangan diri.


Blog Curhatkita sebenarnya dibuat sebagai pengganti website kejiwaan dan kesehatan mental yang sudah lebih dulu saya buat awal tahun 2004. Karena saya pikir waktu itu, pengelolaan blog lebih simpel dan praktis dibanding pengelolaan website. Booming dan popularitas blog juga menjadi bahan pertimbangan, karena netizen lebih banyak yang tertarik mengunjungi blog yang lebih dinamis dan menarik ketimbang website.

Blog Curhatkita saya jadikan sebagai media curhat dan sharing online seputar masalah-masalah kejiwaan, kesehatan mental dan pengembangan diri. Selain saya sebagai admin dan owner blog, siapa pun bisa curhat dan sharing pengalaman di blog Curhatkita.

Ketika facebook booming, banyak blogger dan netizen yang memprediksi bahwa masa kejayaan blog akan segera berakhir, karena orang lebih suka menulis status yang simpel di akun facebook ketimbang menulis artikel yang panjang di blog.

Ternyata prediksi tersebut tidak sepenuhnya benar, bahkan bisa dibilang meleset. Ditengah gelombang euphoria dan popularitas situs jejaring sosial, blog tetap bertahan. Mengapa? Karena blog sebenarnya “mahluk” yang berbeda dengan facebook maupun twitter. facebook dan twitter justru menjadi media untuk mempromosikan posting-posting blog.

Tak mau ketinggalan, blog Curhatkita juga menggunakan facebook dan twitter sebagai media untuk mempromosikan artikel-artikelnya, baik artikel baru maupun artikal lama. Berkat kehadiran facebook dan twitter, blog Curhatkita masih tetap bertahan hingga saat ini, setelah melewati perjalanan panjang dan pasang surut selama 8 tahun.

Sebagian besar posting blog Curhatkita tentang gangguan bipolar, sesuai latar belakang dan pengalaman saya sebagai penyandang bipolar. Sebagai owner blog, saya merasa belum bisa berbuat banyak untuk membantu teman-teman penyandang bipolar dan penyandang gangguan kejiwaan lainya. Karena keterbatasan waktu dan sumberdaya tentunya. Namun saya berusaha sebisa mungkin membantu teman-teman sesuai kemampuan dan kapasitas saya.



Selain menulis artikel-artikel di blog dan media lain, jika ada yang meminta, saya juga melayani konsultasi via telepon, email atau chating via facebook. Karena proses pemulihan bipolar saya terbilang unik, tanpa konsultasi langsung dengan psikiater dan tanpa konsumsi obat-obatan, maka saran dan masukan yang saya sampaikan pun lebih banyak berupa saran non medis dan motivasi.

Tentu saja semua itu hanya bisa saya lakukan jika ada waktu senggang di luar jam kerja saya sebagai karyawan swasta.

Ada juga teman-teman bipolar atau keluarganya yang menyempatkan waktu berkunjung ke rumah saya, untuk silaturahmi, sekedar ngobrol, curhat dan meminta saran langkah-langkah penanganan bipolar. Saya sih senang aja klo ada teman-teman bipolar yang berkunjung ke rumah. Tapi, seperti yang saya paparkan di atas, saya hanya bisa memberi saran-saran yang sifatnya non medis sesuai pengalaman saya.

Untuk semua informasi, saran dan masukan terkait gangguan bipolar yang saya sampaikan di media online (email, blog, facebook, twitter, sms, telepon, BBM, dll) dan offline (tatap muka langsung) saya tidak meminta biaya apa pun alias GRATIS!



Dari semua layanan gratis yang saya berikan, ada yang saya meminta anda membayar, yaitu untuk 1 buku (Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah) dan 2 ebook saya (Berdamai dengan Bipolar dan 7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar). Itu pun jika anda berminat membelinya. Ya iyalah, saya kan gak maksa anda untuk beli buku dan ebooknya... hehehe.

Saya berharap, dengan semua informasi yang saya sampaikan di media online maupun offine, dengan buku dan ebook yang saya tulis seputar gangguan bipolar/gangguan kejiwaan dan problem pribadi, bisa memberi manfaat dan membantu banyak orang.
Dan semoga Allah meridhoi apa yang saya lakukan.

Salam sejat jiwa dan bahagia.

Lanjutkan...

Mengapa dan Bagaimana Dia Jadi Tongki?

Pernikahan pasangan sejenis asal Taiwan, You Ya-ting dan Huang Mei-yu (foto: http://pasunik.blogspot.com)

Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya yang berjudul “Banyak ‘Tongki’ Masuk ke Desa Kami”. Pada artikel ini saya coba membahas lebih dalam tentang apa dan bagaimana Tongki ini.

Penomena “Tongki” (perempuan berpenampilan laki-laki) ini pernah saya ceritakan kepada seorang rekan wartawan media online di Subang. Saya berharap dia bisa melakukan investigasi dan memberitakan soal Tongki ini. Karena waktu itu memang sudah muncul ke permukaan dan meresahkan warga.

Namun sang rekan wartawan keberatan, dia khawatir pemberitaan soal Tongki ini menyinggung pihak tertentu, karena fenomena ini menyangkut isu Sara. Apalagi desa kami, Desa Wanakerta merupakan bagian dari kecamatan Purwadadi yang merupakan basisnya NU (Nahdlatul Ulama), yang menurut sang rekan lebih moderat dalam menyikapi isu-isu seperti ini.

Sampai akhirnya keresahan warga desa itu memuncak dan diadakan musyawarah para tokoh agama dan tokoh masyarakat, seperti yang saya ceritakan di artikel sebelumnya. Memang warga desa kami masih tergolong moderat dalam masalah-masalah seperti ini. Buktinya mereka hanya berusaha mengingatkan secara baik-baik agar para Tongki ini kembali ke fitrahnya sebagai seorang perempuan dan menjalin hubungan yang normal dengan lawan jenis.

Sejak ada peringatan dari warga desa, memang tingkah para Tongki ini relatif mereda. Kalaupun mereka menjalin hubungan, dilakukan dengan sembunyi-sembunyi.

Terus terang saya penasaran, ingin tahu lebih jauh tentang cerita para Tongki ini. Dan informasi soal Tongki ini, tak usah saya cari jauh-jauh, saya bisa mendapatkan informasi cukup akurat dari istri saya yang suka ngobrol dengan anak kost. Soalnya istri saya sangat akrab dengan anak kost. Sesama perempuan biasanya saling curhat dan berbagi cerita pengalaman masing-masing. Dari orbrolan-obrolan itulah cerita tentang para Tongki mulai mengalir. Dan kebetulannya lagi di kontrakan kami pernah kost beberapa Tongki dan pasangannya.


Kisah Tongki Pertama

Saat malam hari, sepulang dari kantor biasanya saya ngobrol dengan sang istri tercinta. Ya, iya lah, masak sih pulang kerja langsung tidur dan istri dicuekin, hehehe… Kami biasanya ngobrol tentang apa saja, termasuk ngobrol tentang tingkah polah para Tongki. Salah satunya tentang Susi (nama samara) kekasih Tongki yang mencoba bunuh diri, selengkapnya bisa dibaca di artikel ini “Seorang Karyawati Nekad Bunuh Diri”. Bagaimana sampai Susi menjalin hubungan dengan seorang Tongki? Dari cerita Susi kepada istri (Susi pernah kost di tempat kami), awalnya dia adalah perempuan normal. Sempat menikah dan punya seorang anak yang sekarang diasuh orang tuanya.

Namun pernikahan mereka kandas, karena suaminya ternyata tak setia. Sakit hati karena dikhianati sang suami, membuat Susi tak percaya kepada semua laki-laki. Sampai akhirnya Susi bertemu dengan seorang Tongki, sebut saja namanya Bety. Awalnya hubungan Susi dan Bety sekedar hubungan pertemanan karena kerja dan kost bareng. Lama-lama, karena Bety memberi perhatian lebih, layaknya seorang kekasih, Susi pun merasa nyaman menjadi teman spesialnya Bety. Akhirnya terjalinlah hubungan sesama jenis diantara mereka berdua. Hubungan mereka bahkan terlihat lebih mesra dibanding hubungan pasangan yang normal.


Kisah Tongki Kedua

Beda lagi cerita pasangan Tongki yang lain. Sebelum kenal pasangan Tongkinya, sebut saja Dina, adalah gadis normal yang suka sama laki-laki. Usianya masih tergolong belia, baru 16 tahun. Dina bekerja di pabrik Wig yang tak jauh dari kontrakan saya. Awalnya Dina, kost dengan dua orang teman perempuan sekampungnya yang sama-sama melamar kerja di pabrik Wig. Kedua temannya berhenti kerja karena mau menikah, sementara Dina masih menjomblo.


Tongki bisa dikenali dari gaya berpakaian dan gerak-geriknya (foto: dok pribadi)

Datanglah dua orang anak kost yang baru masuk kerja di pabrik Wig. Ternyata mereka berdua adalah sepasang kekasih, seorang Tongki, sebut saja Wati dan pasangannya. Awalnya saya dan istri tidak tahu bahwa kedua perempuan ini pasangan sejenis, karena sikapnya yang biasa-biasa saja. Penampilan Wati, si Tongki pun sekilas terkesan peminin. Maka kedua perempuan ini kami tempatkan satu kamar dengan Dina. Jadilah mereka kost satu kamar bertiga.

Kami baru tahu bahwa mereka berdua Tongki dengan pasangannya, dari cerita Dina. Dina suka cerita ke istri, kalau mereka berdua sering terlihat mesra. Kalau tidurpun mereka saling berpelukan. Tapi tidak sampai melakukan hubungan intim layaknya pasangan sejenis. Makin lama mereka berdua makin berani menunjukan kemesraan di depan teman-teman kostnya. Istri saya juga sering melihat kemesraan mereka berdua.

Sampai suatu hari pasangan Wati keluar dari tempat kerjanya dengan alasan mau pindah kerja ke tampat lain. Jadilah sekarang Wati tinggal berdua dengan Dina. Wati yang sedang patah hati ditinggal pasangannya, mencoba mendekati Dina. Awalnya Dina tak begitu suka dengan sikap Wati. Namun perhatian Wati membuat Dina luluh dan coba-coba menjadi pasangannya. Dari awalnya hanya kasihan sama Wati, lalu coba-coba, lama-lama Dina menikmati hubungannya dengan Wati, maka jadilah mereka sepasang kekasih dan menjalin hubungan sesama jenis.

Beberapa bulan lalu, Dina sudah keluar dari tempat kerjanya dan sudah menikah dengan seorang duda beranak satu. Tapi, ternyata Dina masih belum bisa melupakan hubungannya dengan Wati. Selain kontak telepon, Wati masih suka berkunjung ke rumah Dina. Suami Dina tentu tak curiga, karena menganggap Wati hanya sekedar teman kostnya. Jadi, tak mudah bagi seorang Tongki untuk kembali menjadi perempuan sejati dan menjalani hubungan yang normal.


Bagaimana Cerita Wati Menjadi Tongki?

Saya masih penasaran dengan cerita para Tongki ini. Saya ingin tahu, apakah para Tongki yang sejak kost di tempat kami memang sudah kelihatan Tongki tulen, sebelumnya normal atau memang sejak kecil sudah jadi Tongki?

Saya tanya lebih lanjut ke istri yang sering ngobrol dengan Wati. Menurut istri, dari cerita dan pengakuan Wati, awalnya dia adalah perempuan normal. Dia jadi Tongki, karena sejak bekerja di pabrik dia berteman dekat dengan Tongki. Berawal dari sentuhan atau rabaan, berlanjut ke ciuman. Walaupun niat awalnya cuma iseng dan coba-coba, semakin sering hal itu dilakukan dan dinikmati akhirnya jadi ketagihan.


Berawal dari coba-coba, dinikmati dan akhirnya ketagihan (foto: http://pasunik.blogspot.com)

Proses “penularan” perilaku para Tongki ini mungkin tak jauh beda dengan orang yang kecanduan rokok, minuman keras atau narkoba. Bukankah semua awalnya dari iseng dan coba-coba? Lambat-laun jadi suka dan akhirnya jadi ketagihan bahkan kecanduan. Jika sudah kecanduan, jadi sulit untuk melepaskan diri darinya.

Dari cerita-cerita di atas, walaupun belum terbukti secara ilmiah, berarti benar apa yang dikatakan orang-orang, bahwa hubungan sejenis bisa “menular”. Dina bisa menjadi contoh, gadis normal yang ketularan dan akhirnya jadi Tongki dan menjalani hubungan sejenis. Jadi ingat, cerita film Jombi yang jika mengigit manusia normal bisa mengubah manusia itu menjadi Jombi.

Masih ada dua kisah Tongki lagi sebenarnya yang ingin saya ceritakan di sini, tapi kalau diceritakan sekarang, artikel ini akan terlalu panjang. Jadi ceritanya akan dilanjut di artikel berikutnya. Kisah dua Tongki berikutnya lebih seru dan dramatis.

Lanjutkan...

Banyak “Tongki” Masuk ke Desa Kami

Suasana di salah satu pabrik Garment di desa kami

Sejak ditetapkan sebagai zona industri beberapa tahun lalu, banyak pabrik berdiri di desa kami. Sebagian besar pabrik garment asal Korea, yang tergolong industry padat karya. Para investor asal Korea tersebut mendirikan pabrik di daerah karena mengejar upah murah.

Pabrik garment memang menyerap banyak tenaga kerja. Pabrik tempat saya bekerja saja yang 3 factory menyerap tenaga kerja lebih dari 4.500 orang. Dan lebih dari 90% karyawan pabrik garment adalah perempuan. Di desa kami saat ini ada 3 pabrik garment dan 1 pabrik wig. Total karyawan 4 pabrik tersebut sekitar 11.000 orang lebih.



PT. Handsome, pabrik Garment dengan karyawan sekitar 4.500 orang

Dari sekitar 10.000 karyawan perempuan dan 1000 karyawan laki-laki, ternyata terselip puluhan atau mungkin ratusan karyawan perempuan tapi penampilan dan gayanya seperti laki-laki. Mereka inilah yang oleh warga desa disebut “Tongki”. Tongki adalah nama itik hasil perkawinan silang antara bebek dengan entog. Mereka disebut Tongki, mungkin karena dianggap perpaduan antara perempuan dengan laki-laki.

Awalnya kehadiran para Tongki ini dianggap hal yang wajar, toh mereka kan masih tergolong perempuan, hanya penampilannya saja yang tomboy dan kelaki-lakian. Tapi, lama-lama muncul ke parmukaan kasus-kasus yang dalam pandangan warga desa dianggap melanggar norma. Orang-orang sering melihat, para Tongki ini menjalin hubungan dengan perempuan teman kerja mereka dan sering terlihat mesra di tempat umum. Setelah diselidiki, ternyata hubungan itu bukan sebatas pertemanan antara perempuan dengan perempuan, tapi hubungan sepasang kekasih layaknya laki-laki dengan perempuan.

Mayoritas karyawan Gamment perempuan (90% lebih)

Sampai di sini, warga desa masih menyikapinya dengan biasa-biasa saja, karena kasus hubungan sesama jenis yang muncul dipermukaan hanya beberapa saja. Seiring berjalannya waktu, dengan semakin banyaknya karyawan dari luar,daerah yang masuk ke desa kami, para Tongki juga semakin banyak jumlahnya. Kasus hubungan sesama jenis para Tongki pun semakin banyak. Warga desa mulai resah dengan ulah para mereka yang tak jarang menunjukan kemesraan dengan pasangannya di tempat umum.

Yang paling meresahkan warga adalah tingkah para Tongki ini yang kalau bertengkar dengan pasangannya lebih galak dari laki-laki. Saya pernah menyaksikan sendiri pertengkaran seorang Tongki dengan pacarnya. Si Tongki baru sebulan kost di kontrakan saya. Saya pikir tadinya, tak apalah mereka saya terima kost, yang penting jangan membuat ulah di tempat saya. Kalau mau pacaran ya silakan di luar tempat kontrakan. Mereka kost bertiga satu kamar, seorang Tongki dan 2 orang perempuan. Mereka bertiga bekerja di tempat yang sama.

Sebulan pertama mereka kost, tak ada masalah apa-apa. Memasuki bulan kedua, saya mulai melihat gelagat yang tak baik. Saya dengar dari teman sekamar si Tongki, bahwa pacar si Tongki ingin mengakhiri hubungan dan ingin menjalani hubungan yang normal layaknya perempuan lain. Tentu saja si Tongki tak terima, karena dia sudah cinta berat sama pacarnya.

Sampai suatu malam, selepas Magrib, saya mendengar suara rebut-ribut di kamar kost si Tongki. Saya pikir tadinya hanya bercanda, tapi makin lama makin ribut dengan teriakan-teriakan si Tongki yang makin keras. Ketika saya mendekati kamarnya, ternyata si Tongki sedang teriak-teriak seperti orang kesurupan. Dua orang teman perempuannya berusaha menenangkan dan memegangi si Tongki yang meronta-ronta. Lebih parah lagi, pintu dan bak kamar mandi jebol ditendang si Tongki yang mengamuk. Ternyata dia mabuk berat. Menurut pacar dan teman perempuannya dia mabuk karena sakit hati oleh pacarnya yang minta putus hubungan.

Saya mau mencoba menenangkan, gak enak juga, soalnya bagaimanapun kan dia perempuan. Untungnya ada seorang teman yang bertamu dan dia seorang playboy. Dialah yang menenangkan si Tongki yang meronta-ronta.

Ternyata, kejadian seperti ini bukan hanya terjadi di kontrakan saya, di kontrakan lain pun sering terjadi pertengkaran Tongki dengan pacarnya seperti itu. Sampai ada pemilik kontrakan yang tak mau menerima mereka kost di tempatnya. Ya, karena itu tadi, suka bikin ulah di tempat kost.

Bahkan ada yang lebih gila lagi, pernah ada kasus seorang karyawati yang bekerja di perusahaan garment tempat saya kerja, nekad mau bunuh diri di kamar kostnya. Menurut keterangan teman kostnya, si karyawati tersebut nekad minum obat dan over dosis karena ditinggal pulang pacarnya. Dan pacarnya itu adalah seorang Tongki.

Karena semakin banyaknya para Tongki yang bekerja di pabrik dan sering membuat ulah yang meresahkan warga desa, suatu waktu para tokoh masyarakat dan tokoh agama bermusyawarah untuk mencari jalan keluar atas penomena Tongki ini. Hasil musyawarah tersebut disepakati, setiap pemilik kontrakan yang di dalamnya ada Tongki, dihimbau untuk mengingatkan para Tongki agar tidak melanjutkan hubungan terlarangnya. Kalau mereka tidak menggubris himbauan warga tersebut, maka mereka diminta meninggalkan desa dan mencari kerja di tempat lain.

Setelah ada himbuan ini, sempat ada beberapa orang pemuda Karang Taruna yang datang ke kontrakan saya dan menanyakan apakah ada Tongki yang tinggal di kontrakan saya. Saya bilang sudah tak ada, karena sudah pindah ke tempat lain. Mereka bilang, hanya akan menasihati para Tongki. Jika mereka mematuhi himbauan warga, tak masalah mereka boleh tetap tinggal dan bekerja di desa ini.

Di perkotaan, penomena para Tongki ini mungkin hal yang biasa, tapi bagi warga desa yang masih memegang teguh adat-istiadat, norma dan hukum agama, keberadaan dan tingkah para Tongki, tak bisa diterima dan sangat meresahkan. Ketenangan dan kedamaian hidup warga desa seolah terusik oleh kehadiran dan ulah para Tongki. Inilah mungkin salah satu dampak hadirnya industri di daerah pedesaan.


Lanjutkan...

Pakwi, Pelukis Wayang Peraih MURI

Oleh Tarjum

Pakwi dengan lukisan Togog dan Semar (facebook.com/nawa.tunggal)

Kecintaanya pada tokoh wayang, tak diragukan lagi.

Dari ribuan lukisan yang dibuatnya, sebagian besar adalah lukisan wayang dengan beragam karakter dan posisi. Itulah bukti kecintaan dia pada salah satu karya seni dan budaya khas Indonesia.

Siapakah pelukis yang luar biasa ini?

Dialah “Dwi Putro”, biasa disapa “Pakwi”

Saya pertama kali bertemu dengan Pakwi, beberapa bulan yang lalu di Pasar Seni Ancol, saat menghadiri acara “Kreasi Bipolar” yang diadakan rekan-rekan Komunitas Bipolar Care Indonesia (sebuah grup facebook tempat sharing masalah-masalah yang terkait gangguan bipolar).

Waktu itu, saya perhatikan, Pakwi nyaris tanpa henti melukis di stand pameran yang dibuat khusus untuk memajang karya-karya lukisnya. Saya berdiri tepat di hadapan Pakwi yang sedang asyik menyelesaikan lukisan wayangnya. Dia nggak peduli dengan kahadiran saya.

Pakwi, mengacuhkan saya..hehe (dok pribadi)

Saya melihat semangat, antusiasme dan stamina Pakwi yang luar biasa saat menggoreskan kuas di atas media lukis. Ketika melukis, dia seperti tak terpengaruh oleh keadaan di sekelilingnya. Dia fokus dan konsentrasi penuh pada media lukisnya tanpa peduli dengan siapa pun atau apa pun yang ada di depan, belakang atau di sampingnya.

Siapa sebenarnya Dwi Putro atau Pakwi?

Berikut saya kutif tulisan tentang Pakwi, di website kickandy.com. Pakwi juga pernah tampil di acara “Kick Andi Show” bersama beberapa orang penderita sikzofrenia dan gangguan bipolar.

Pria asal Yogyakarta itu selain terkena skizofrenia juga mengalami gangguan pendengaran dan komunikasi. Kondisinya semakin parah ketika kedua orangtuanya meninggal dunia. Pakwi pun hidup di jalanan selama beberapa tahun.

Melihat kondisi Pakwi yang makin memburuk, Sang adik, Nawa Tunggal merasa sedih dan tergerak untuk membantu dan mengangkat Pakwi dari kehidupan jalanan. Dengan penuh kesabaran dan ketekunan, Pak Wi akhirnya tidak sering mengamuk dan bisa menjadi pelukis.

Saya sendiri mengenal Pakwi dari sang adik, Nawa Tunggal. Saya pernah ketemu dengan Nawa Tunggal di salah satu seminar Kesehatan Jiwa di Jakarta. Nawa Tunggal bersama beberapa orang rekannya yang aktivis Keswa (Kesehatan Jiwa), membentuk sebuah grup di facebook bernama “Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI)".

Nawa Tunggal, Adik dan pendamping setia Pakwi(facebook.com/nawa.tunggal)

Saat ini member KPSI sudah lebih dari 9.927 orang. Member KPSI, yang tersebar di seluruh Indonesia, selain penderita sizofrenia dan gangguan jiwa lainnya, juga anggota keluarga pasien skizofrenia, psikiater, aktivitas keswa dan orang-orang yang peduli terhadap penderita gangguan jiwa.

Nawa Tunggal, yang wartawan Kompas ini, sangat telaten mendampingi sang kakak yang menderita skizofrennia. Dia berperan sebagai adik, orang tua, caregiver, mentor, sekaligus manager untuk sang kakak.

Ketelatenan, kesabaran dan kegigihannya membantu sang kakak untuk bisa hidup normal dan terus berkarya, sangat layak diacungi dua jempol. Berkat dukungan, pendampingan, arahan dan kasih sayangnya, kondisi Pakwi, semakin membaik.

Pakwi, seakan tak pernah lelah untuk berkarya, melukis beragam tema dan karakter dengan sapuan kuas yang penuh semangat, antusiasme dan daya imajinasi yang kuat.

Salah satu tema lukisan yang paling disukai Pakwi, adalah tokoh-tokoh wayang. Ini mungkin wujud kecintaan Pakwi kepada seni dan budaya khas Indonesia.

Pakwi sedang melukis Semar (facebook.com/nawa.tunggal)

Ungkapan semangat, harapan, kecintaan maupun kebanggaan terhadap negara dan bangsa Indonesia, tak selalu harus diungkapkan dengan kepalan tangan, pekik dan teriakan. Dalam diam, dalam kesunyian dan kesendirian, bahkan dalam kegalauan jiwa, semangat, harapan dan kecintaan pada negeri itu bisa diungkapkan.

Seperti Pakwi, yang mengungkapkan semangat, harapan dan kecintaanya pada negeri, melalui goresan-goresan kuasnya di atas kanvas. Lukisan-lukisan wayang yang artistik dan sarat makna adalah wujud dari semua itu.

Pakwi seolah ingin mengatakan, bahwa seorang penderita skizofrenia, yang sering dipandang negatif dan jadi bahan olok-olok orang yang tak memahami gangguan jiwa, masih tetap mampu berkarya.

Teruslah berkarya Pakwi!


Karya-karya Lukis Pakwi

Lukisan wayang Pakwi sepanjang 88 meter, memproleh rekor MURI “Difabilitas Mental Melukis Wayang Terpanjang Nonnstop".

Pakwi dan Rekor Muri (facebook.com/nawa.tunggal)

Selain melukis sendiri, Pakwi juga berkolaborasi melukis dengan beberapa orang pelukis ternama, diantaranya: Nasirun, Tisna Sanjaya, Fredy Sofian, Joko Kisworo dan Jaya Suprana.
Kolaborasi Pakwi dengan Tisna Sanjaya, Fredy Sofian dan Joko Kisworo di Pasar Seni Jakarta, Senayan, 3 - 5 November 2013.

Kolaborasi Pakwi, Tisna S, Fredy S. dan Joko K. (facebook.com/nawa.tunggal)

Lukisan Pakwi kolaborasi dengan Nasirun dan Noriyu, 10 Oktober 2013, di Bentara Budaya Jakarta.

Kolaborasi Pakwi, Nasirun dan Noriyu (facebook.com/nawa.tunggal)

“Damar Kurung” karya Pakwi dalam Pameran Tunggal “1001 Lukisan Skizofrenia”, 2 - 11 Nov 2012 di Pasar Seni Ancol.

Damar Kurung, karya Pakwi (facebook.com/nawa.tunggal)


Lanjutkan...
Buku & eBook: "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah"

Buku psikomoar ini bercerita tentang pergumulan saya selama bertahun-tahun dengan gangguan jiwa yang tidak saya fahami dan membuat saya bertanya-tanya, “Apa yang terjadi dengan diri saya? Penyakit apa yang saya alami? Bagaimana cara mengatasinya?” Ironisnya, saya baru tahu apa yang terjadi dengan diri saya, 8 tahun setelah saya pulih, bahwa saya mengalami Gangguan Bipolar. [Selengkapnya]




eBook 2: "Berdamai Dengan Bipolar"

Bagaimana mengenali dan mengatasi Gangguan Bipolar?
Bagaimana menanggapi sikap negatif orang-orang di sekitar anda?
Bagaimana mendampingi orang yang mengalami Gangguan Bipolar? eBook ini memberi jawaban dan solusi alternatif penanganan Bipolar. [Selengkapnya]



eBook 3: “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”

eBook ini merupakan inti dari pengalaman dan pemahaman bipolar saya. Inti dari tulisan-tulisan saya di buku, ebook, blog, facebook, twitter dan media lainnya. eBook ini bukan teori-teori tentang gangguan bipolar! Bukan formula ajaib untuk mengatasi gangguan bipolar! eBook ini tentang tindakan, langkah-langkah penanganan bipolar. [Selengkapnya]


eBook 4: “7 Langkah Mudah Menyusun & Memasarkan eBook”

Jika dikemas dengan desain cover yang apik dan diberi judul yang manarik, kumpulan posting blog atau catatan facebook anda bisa disusun menjadi sebuah ebook yang akan memikat pembaca di ranah maya. Selanjutnya ebook anda tinggal dipasarkan secara online.
[Selengkapnya]

 
 © Copyright 2008-2013 Curhatkita Media  template by Blogspottutorial