Tiga Serangkai eBook Bipolar
3 eBook Bipolar ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata penulisnya. Mengupas secara detail dan sistematis dari gejala awal, saat berada di puncak manik dan depresi, sampai langkah-langkah pemulihannya. Inilah ebooknya : "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah”, “Berdamai dengan Bipolar” dan “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”.

Cinta yang Luar Biasa Seorang Ayah kepada Anak Angkatnya

Deng (tengah), Xuefeng dan Fo, gurunya Xuefeng (foto: detik.com)

CINTA, mungkin kata yang paling populer di dunia, sering kita dengar dan kita ucapkan. Kata cinta mengandung beragam arti, makna dan penafsiran.

Namun cinta yang tulus, siapa pun yang memberikannya, siapa pun yang menerimanya, kapanpun dan di manapun cinta itu berlabuh, efeknya luar biasa, baik bagi yang memberikan maupun yang menerimanya. Cinta yang tulus bisa difahami dan dirasakan oleh setiap orang tanpa perlu diucapkan dengan kata-kata yang indah.

Melalui tulisan ini, saya hanya ingin mengajak anda menyaksikan video tentang satu contoh cinta yang tulus. Cinta yang luar biasa dari seorang ayah kepada anak angkatnya, berbuah cinta yang luar biasa dari sang anak. Deng, sang ayah mempertaruhkan jiwa dan raganya bahkan hidupnya untuk kebahagiaan dan kesuksesan Xuefeng, anak angkatnya. Deng bahkan rela tak menikah lagi demi anak angkatnya.

Kisah ayah dan anak angkatnya yang mengharukan ini terekam dari acara reality show di negeri tirai bambu, “Panggung Impian”. Ketika Xuefeng menuturkan impiannya, para penonton dan pembawa acara pun mulai meneteskan air mata. Sebagian menangis tersedu mendengar pengorbanan terbesar sang ayah. Terlebih lagi, Deng yang petani miskin ini tidak hanya membesarkan putrinya, tapi juga adik kandungnya yang hilang ingatan.

Saya tak perlu banyak bercerita, karena video yang cukup panjang ini (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia) akan menceritakan dengan gamblang kisah perjuangan yang dramatis seorang ayah untuk membesarkan putrinya.

Sebelum manyaksikan video ini, sebaiknya anda menyiapkan tisyu atau sapu tangan, karena saya jamin anda tak akan kuasa menahan air mata, bahkan mungkin anda akan menangis tersedu-sedu saat menyaksikan video ini.

Langsung saja, silakan saksikan videonya.




Sumber video : detik.com.

Lanjutkan...

Pengamen Nyentrik di Markas Polres Subang

Menyanyi dan menghibur di markas Kasatlantas (dok. pri)

Awalnya saya mengira dia anggota polisi Satlantas Polres Subang yang ditugaskan menghibur para pembuat SIM (Surat Izin Mengemudi) di ruang tunggu markas Satlantas.

Postur tubuhnya sedang dengan badan tegap berisi. Wajahnya ganteng, berkulit hitam manis dengan rambut pendek, walau tidak cepak seperti anggota polisi. Sampai sekitar 15 menit saya memperhatikan dia. Saya masih bertanya-tanya dalam hati, siapa dia sebenarnya? Saya dengar dia mengatakan, bahwa dia ditugaskan Kasatlantas untuk menghibur para pembuat SIM di ruang tunggu. Saya semakin yakin bahwa dia memang anggota polisi yang ditugaskan atasannya untuk menghibur di ruang tunggu.

Diiringi petikan gitar akustiknya, dia menyanyikan lagu-lagu Ebit G. Ade, dengan suara merdunya. Sesekali dia menyapa dan mengajak audiens ikut menyanyi. Dengan senyum menawan, dia melempar joke dan canda kepada orang-orang yang duduk di ruang tunggu.
Hari itu saya dan istri mau membuat SIM. Sudah mendaftar dan menyerahkan dokumen persyaratan, tinggal menunggu dipanggil ke ruang tes yang posisinya tepat di depan ruang tunggu. Tak lama kemudian, istri dipanggil untuk mengikuti tes teori. Saya mengantar istri masuk ruang tes, lalu menunggu di luar ruangan.

Sang penyanyi di ruang tunggu tadi, juga keluar ruangan. Dia ngobrol dengan seorang anggota polisi. Karena penasaran, saya coba mendekati dan menguping pembicaraan mereka berdua. Ternyata, dia kenal dengan Tegar, pengamen cilik asal Subang yang mendadak tenar karena suara emasnya ditemukan seorang pencari bakat.


Para pembuat SIM di ruang tunggu Kantor Satlantas (dok. pri)

Ketika dia selesai ngobrol dengan sang polisi, saya mendekatinya. Saya penasaran, ingin tahu siapa dia sebenarnya. Setelah kenalan, kita berdua ngobrol di luar ruang tunggu. Cepi, nama sang penyanyi di ruang tunggu Satlantas Polres Subang ini. Orangnya ramah, terbuka dan murah senyum. Saya tanya apakah dia anggota polisi? Ternyata bukan! Dia pengamen yang biasa menghibur pengunjung di salah saru rumah makan dekat terminal Subang.

Suatu hari, seorang anggota polisi yang sering mendengar suara merdu dan petikan gitar akustiknya, mengajak Cepi untuk mengisi salah satu acara hiburan yang diadakan di markas Polres Subang. Sejak itu, Cepi sering dipanggil untuk menyanyi jika ada acara-acara hiburan di markas Polres.

Beberapa bulan terakhir, Kasatlantas Polres Subang meminta Cepi menyanyi dan menghibur para pembuat SIM di ruang tunggu Satlantas. Maksudnya agar para pembuat sim tidak merasa jenuh duduk-duduk menunggu proses pembuatan SIM. Langkah kecil dari Kasatlantas yang patut diapresiasi. Ini salah satu bukti, polisi berusaha meningkatkan mutu pelayanannya kepada masyarakat.

Markas Satlantas Polres Subang (dok. pri)

Cepi mengaku, tidak setiap hari menyanyi di ruang tunggu, hanya hari-hari tertentu saja. Sehari-harinya dia lebih sering menyanyi di rumah makan dekat terminal Subang. Dia mangkal di situ karena kenal baik dengan sang pemilik rumah makan. Seminggu sekali dia ngamen di salah satu rumah makan di kota Bandung.

Mungkin karena sikap ramahnya, penampilannya dan kepiawaiannya menyanyi dan memetik gitar itu yang membuat pihak Polres Subang sering mengundang Cepi di acara-acara hiburan di markas Polres. Saya sendiri sudah membuktikan keramahan Cepi, baru kenal beberapa menit saja kita sudah bisa ngobrol akrab dan terbuka. Tak tampak rasa canggung atau minder karena dia berprofesi sebagai pengamen. Sebaliknya dia sangat menikmati aktivitasnya menyanyi dan menghibur orang.

Ketika ditanya soal Tegar yang pernah jadi teman ngamennya di Subang, dia bilang bahwa Tegar memang bernasib baik, bisa rekaman dan tenar seperti sekarang. “Nasib saya belum sebaik Tegar kang,” katanya enteng, “Tapi, siapa tahu suatu saat nanti saya juga bernasib baik seperti dia.”

Ini dia Cepi, sang penghibur di Satlantas Polres Subang

Teruslah berkarya, menyanyi dan menghibur banyak orang, kang Cepi. Semoga, suatu saat nanti nasib baik menghampirimu. Seorang motivator mengatakan, “Kesempatan datang kepada mereka yang siap.” Saya pikir nasib baik juga tak datang tiba-tiba, tapi datang kepada orang-orang yang siap menerimanya.

Lanjutkan...

Berdamai dengan Ombak di Samudera Kehidupan

Ilustrasi (Imamulmuttaqin.wordpress.com/Natalia Tejera)

Tekanan hidup yang bertubi-tubi menghantam diri kita setiap saat, kadang menggoyahkan daya tahan mental kita. Pikiran-pikiran negatif menyeruak memenuhi isi kepala. Bukan hal mudah untuk menghalau semua itu, butuh usaha keras, ketekunan, kegigihan dan semangat pantang menyerah.

Setiap orang, termasuk saya sendiri, pasti pernah dan akan terus mengalami tekanan-tekanan fisik dan psikis sepanjang hidupnya. Seperti perahu di tengah lautan yang terombang-ambing karena terus-menerus dihamtam ombak. Sang nahkoda tak bisa menghentikan terjangan ombaknya, dia juga tak bisa membiarkan perahunya dipermainkan ganasnya deburan ombak. Tapi, sang nahkoda bisa mengendalikan gerak dan laju perahunya agar tak terbalik dan tenggelam dihamtam ombak.

Kalau sang nahkoda tak ingin berjibaku dengan ombak di tengah lautan, dia bisa menyandarkan perahunya di tepi pantai. Namun dia tak akan pernah pergi ke mana pun dan tak akan pernah merasakan dinamika kehidupan selain di pantai.

Karena sang nahkoda memutuskan untuk berlayar mengarungi samudera luas, untuk menemukan tempat-tempat indah di belahan dunia, maka dia harus berani menghadapi ganasnya terjangan ombak di tengah samudera. Tak cukup bermodalkan keinginan kuat dan semangat membara, dia harus membekali dirinya dengan keahlian mengendalikan perahu, memahami cuaca, arah angin, besar-kecilnya ombak yang akan menghadang perjalanan. Dia juga perlu orang lain untuk membantu mengendalikan perahu dalam perjalanannya mengarungi samudera.


Ilustrasi (networkedblogs.com)

Itulah gambaran, perjalanan hidup yang harus ditempuh setiap orang dan beragam rintangan yang akan menghadang di tengah perjalanan. Karena kita sudah memutuskan untuk melangkah dan menetapkan tujuan, maka kita harus siap dengan segala resiko yang akan kita temui di tengah perjalanan.

Tak ada apa pun yang bisa kita dapatkan tanpa usaha. Tak ada apa pun yang akan kita perolah hanya dengan berpangku tangan menunggu nasib baik atau keajaiban datang. Kita harus berjuang untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Kita harus berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan sebuah impian.

Ilmu, pengalaman dan hikmah yang kita dapatkan di sepanjang perjalanan, akan membuat kita semakin dewasa, semakin kuat, semakin bijak dan semakin mendekatkan kita pada tujuan yang ingin kita capai. Di sepanjang perjalanan, kita bisa belajar dari pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain. Kita juga bisa belajar dari kekalahan, kegagalan, kemenangan dan kesuksesan pribadi dan orang lain. Proses pembelajaran itulah yang akan membuat kita semakin matang dan siap menghadapi resiko dan tantangan di sepanjang perjalanan hidup kita.

Jadi, intinya kita harus bisa belajar dari setiap peristiwa yang kita termui di sepanjang perjalanan hidup kita. Bukankah Tuhan juga menyuruh kita untuk “membaca”? Membaca atau mengamati apa yang tersurat dan tersirat. Mengamati apa yang terjadi pada diri kita dan di luar diri kita.

Tuhan menyuruh kita untuk belajar dan terus belajar agar menjadi pribadi yang lebih baik, lebih mengenal diri dan pada akhirnya lebih mengenal Tuhannya. Karena itu, Tuhan menempatkan derajat orang-oarng yang berilmu (alim) pada tingkatan yang tinggi. Sampai-sampai Tuhan menggambarkan tidurnya orang yang berilmu lebih baik dari ibadahnya orang yang tak berilmu. Luar biasa bukan cara Tuhan membandingkan orang yang berilmu dan tak berilmu.

Nah, mari kita terus belajar untuk meningkatkan nilai diri, nilai orang lain dan lingkungan di sekitar kita, agar menjadi lebih baik. Dengan ilmu kita bisa menemukan solusi terbaik dari masalah-masalah yang kita hadapi di sepanjang jalan kehidupan. Dengan ilmu pula kita bisa berbagi dan membantu sesama. Namun, ilmu jangan sampai membuat kita sombong dan tinggi hati, apalagi sampai disalah-gunakan. Ilmu mestinya membuat kita lebih rendah hati, lebih peduli dan selalu mawas diri.

Bukan mau mengajari, hanya berbagi dan saling mengingatkan sesama teman seperjuangan mengarungi samudera kehidupan.

Lanjutkan...

3 Tahun Lebih Saya Mencari Buku Ini

Buku yang dicari selama 3 tahun lebih

Kamis sore (20/11/ 2014) setelah 3 tahun lebih, saya bisa melihat dan memegang lagi buku ini. Buku tentang sepenggal kisah hidup yang pernah saya jalani saat bergelut dengan gangguan bipolar.

Buku “Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah” ini dikirim oleh salah seorang sahabat yang baik hati dari Yogyakarta, Navia Fathona namanya. Terima kasih Navia untuk kiriman bukunya.

“Kok bisa sih buku sendiri sampai 3 tahun lebih baru lihat lagi?” Begitu mungkin anda bertanya-tanya. Begini ceritanya :

Setelah buku psikomemoar ini terbit tanggal 2 Maret 2011, sebagai penulis saya mendapatkan jatah 10 buku dari Elex Media Komputindo. Buku tersebut beberapa buah saya berikan kepada teman dan kolega sebagai cinderamata. Sampai hanya tersisa satu buku untuk pegangan saya sendiri. Lalu ada seorang teman online yang butuh buku tersebut, ya sudah saya kirim bukunya kepada sang teman. Saya pikir waktu itu, saya bisa beli lagi di TB. Gramedia, beli sendiri atau nitip sama teman.

Saya kontak beberapa orang teman yang kemungkinan sering lewat TB. Gramedia di Jakarta dan Bandung. Ternyata di kota-kota tersebut bukunya sudah kosong. Suatu ketika saya berkunjung ke Bekasi, saya mampir ke TB. Gramedia di salah satu mall. Ketika saya tanyakan ke bagian informasi dan di cek di database buku, ternyata bukunya sudah habis. Dari database Gramedia Bekasi tersebut, terlacak buku yang masih ada di TB. Gramedia Karawaci, Tangerang.

Bukunya terpajang di rak buku Gramedia

Lemes deh saya nggak dapat bukunya. Ke Tangerang? Kapan saya bisa ke sana? Nggak ada teman juga yang domisili di daerah Karawaci. Ya sudah saya pasrah, penulis buku tapi gak punya bukunya satupun.

Sampai beberapa waktu lamanya saya belum juga mendapatkan buku tersebut. Akhirnya muncullah ide untuk meminta bantuan teman online mencarikan dan membelikan buku tersebut. Lalu saya menulis status berikut ini halaman facebook:

Sreenshot pencarian buku di status facebook

Navia, merespon permohonan saya dan manyatakan kesediaanya untuk mengirimkan buku miliknya ke alamat saya. Dia bilang sudah meresume isi buku tersebut.

Siapa sih Navia Fathona yang sudah berbaik hati mengirimkan buku miliknya ke saya?

Navia, mahasiswi semester pertama Fakultas Psikologi UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kami pertama kali kenal di Kompasiana, setelah Navia membaca beberapa artikel saya tentang gangguan bipolar di Kompasiana. Kami berlanjut saling kontak via facebook.

Navia membeli buku psikomemoar ini di Yogyakarta, lalu membaca dan mendiskusikan materi bukunya dengan teman-teman kuliahnya. Saat diskusi itulah muncul ide untuk mengadakan seminar tentang gangguan bipolar dan mengundang saya sebagai pembicaranya. Seminar tentang Gangguan Bipolar tersebut akhirnya terlaksana pada tanggal 10 Mei 2014 di Gedung Serbaguna Kampus UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Buku psikomemoar bipolar ini, bagi saya bukan sekedar sebuah buku yang menceritakan pengalaman saya selama bergelut dengan gangguan bipolar, lebih dari itu, buku ini adalah satu episode dari cerita perjalanan hidup saya. Buku ini hasil pergumulan batin dan pemikiran saya selama dan sesudah mengalami gangguan bipolar.

Saya berharap, kelak buku ini akan dibaca oleh anak cucu saya. Dan mereka akan tahu perjuangan orang tuanya dalam mengatasi problem pribadi dalam kehidupannya. Karena cerita pengalaman hidup saya adalah juga cerita tentang mereka, walaupun mereka tak menyaksikan dan merasakan apa yang saya rasakan selama bergumul dengan gangguan jiwa.

Melalui buku ini, khususnya untuk keluarga dan anak cucu saya kelak, saya ingin mengajarkan kepada mereka tentang perjuangan hidup, tentang kegigihan, semangat dan sikap pantang menyerah ketika menghadapi beragam masalah kehidupan yang juga akan ditemui di sepanjang perjalanan hidup mereka.

Melalui buku ini saya juga ingin memberi contoh kepada mereka tentang pentingnya mencatat dan menuliskan secara runut pengalaman, pemahaman dan pemikiran ke dalam sebuah buku agar pengalaman, pemahaman dan pemikiran mereka bermanfaat untuk orang lain. Karena buku akan abadi dan akan terus dibaca walaupun penulisnya telah tiada.

Akhirnya, semoga buku mungil nan sederhana ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya, saat ini dan di masa yang akan datang.

Keterangan: Selain versi cetak, tersedia juga versi ebook buku ini.

Lanjutkan...
Buku & eBook: "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah"

Buku psikomoar ini bercerita tentang pergumulan saya selama bertahun-tahun dengan gangguan jiwa yang tidak saya fahami dan membuat saya bertanya-tanya, “Apa yang terjadi dengan diri saya? Penyakit apa yang saya alami? Bagaimana cara mengatasinya?” Ironisnya, saya baru tahu apa yang terjadi dengan diri saya, 8 tahun setelah saya pulih, bahwa saya mengalami Gangguan Bipolar. [Selengkapnya]




eBook 2: "Berdamai Dengan Bipolar"

Bagaimana mengenali dan mengatasi Gangguan Bipolar?
Bagaimana menanggapi sikap negatif orang-orang di sekitar anda?
Bagaimana mendampingi orang yang mengalami Gangguan Bipolar? eBook ini memberi jawaban dan solusi alternatif penanganan Bipolar. [Selengkapnya]



eBook 3: “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”

eBook ini merupakan inti dari pengalaman dan pemahaman bipolar saya. Inti dari tulisan-tulisan saya di buku, ebook, blog, facebook, twitter dan media lainnya. eBook ini bukan teori-teori tentang gangguan bipolar! Bukan formula ajaib untuk mengatasi gangguan bipolar! eBook ini tentang tindakan, langkah-langkah penanganan bipolar. [Selengkapnya]


eBook 4: “7 Langkah Mudah Menyusun & Memasarkan eBook”

Jika dikemas dengan desain cover yang apik dan diberi judul yang manarik, kumpulan posting blog atau catatan facebook anda bisa disusun menjadi sebuah ebook yang akan memikat pembaca di ranah maya. Selanjutnya ebook anda tinggal dipasarkan secara online.
[Selengkapnya]

Terpopuler Bulan Ini

 
 © Copyright 2008-2014 Curhatkita Media  template by Blogspottutorial