Tiga Serangkai eBook Bipolar
3 eBook Bipolar ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata penulisnya. Mengupas secara detail dan sistematis dari gejala awal, saat berada di puncak manik dan depresi, sampai langkah-langkah pemulihannya. Inilah ebooknya : "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah”, “Berdamai dengan Bipolar” dan “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”.

3 Tahun Lebih Saya Mencari Buku Ini

Buku yang dicari selama 3 tahun lebih

Kamis sore (20/11/ 2014) setelah 3 tahun lebih, saya bisa melihat dan memegang lagi buku ini. Buku tentang sepenggal kisah hidup yang pernah saya jalani saat bergelut dengan gangguan bipolar.

Buku “Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah” ini dikirim oleh salah seorang sahabat yang baik hati dari Yogyakarta, Navia Fathona namanya. Terima kasih Navia untuk kiriman bukunya.

“Kok bisa sih buku sendiri sampai 3 tahun lebih baru lihat lagi?” Begitu mungkin anda bertanya-tanya. Begini ceritanya :

Setelah buku psikomemoar ini terbit tanggal 2 Maret 2011, sebagai penulis saya mendapatkan jatah 10 buku dari Elex Media Komputindo. Buku tersebut beberapa buah saya berikan kepada teman dan kolega sebagai cinderamata. Sampai hanya tersisa satu buku untuk pegangan saya sendiri. Lalu ada seorang teman online yang butuh buku tersebut, ya sudah saya kirim bukunya kepada sang teman. Saya pikir waktu itu, saya bisa beli lagi di TB. Gramedia, beli sendiri atau nitip sama teman.

Saya kontak beberapa orang teman yang kemungkinan sering lewat TB. Gramedia di Jakarta dan Bandung. Ternyata di kota-kota tersebut bukunya sudah kosong. Suatu ketika saya berkunjung ke Bekasi, saya mampir ke TB. Gramedia di salah satu mall. Ketika saya tanyakan ke bagian informasi dan di cek di database buku, ternyata bukunya sudah habis. Dari database Gramedia Bekasi tersebut, terlacak buku yang masih ada di TB. Gramedia Karawaci, Tangerang.

Bukunya terpajang di rak buku Gramedia

Lemes deh saya nggak dapat bukunya. Ke Tangerang? Kapan saya bisa ke sana? Nggak ada teman juga yang domisili di daerah Karawaci. Ya sudah saya pasrah, penulis buku tapi gak punya bukunya satupun.

Sampai beberapa waktu lamanya saya belum juga mendapatkan buku tersebut. Akhirnya muncullah ide untuk meminta bantuan teman online mencarikan dan membelikan buku tersebut. Lalu saya menulis status berikut ini halaman facebook:

Sreenshot pencarian buku di status facebook

Navia, merespon permohonan saya dan manyatakan kesediaanya untuk mengirimkan buku miliknya ke alamat saya. Dia bilang sudah meresume isi buku tersebut.

Siapa sih Navia Fathona yang sudah berbaik hati mengirimkan buku miliknya ke saya?

Navia, mahasiswi semester pertama Fakultas Psikologi UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kami pertama kali kenal di Kompasiana, setelah Navia membaca beberapa artikel saya tentang gangguan bipolar di Kompasiana. Kami berlanjut saling kontak via facebook.

Navia membeli buku psikomemoar ini di Yogyakarta, lalu membaca dan mendiskusikan materi bukunya dengan teman-teman kuliahnya. Saat diskusi itulah muncul ide untuk mengadakan seminar tentang gangguan bipolar dan mengundang saya sebagai pembicaranya. Seminar tentang Gangguan Bipolar tersebut akhirnya terlaksana pada tanggal 10 Mei 2014 di Gedung Serbaguna Kampus UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Buku psikomemoar bipolar ini, bagi saya bukan sekedar sebuah buku yang menceritakan pengalaman saya selama bergelut dengan gangguan bipolar, lebih dari itu, buku ini adalah satu episode dari cerita perjalanan hidup saya. Buku ini hasil pergumulan batin dan pemikiran saya selama dan sesudah mengalami gangguan bipolar.

Saya berharap, kelak buku ini akan dibaca oleh anak cucu saya. Dan mereka akan tahu perjuangan orang tuanya dalam mengatasi problem pribadi dalam kehidupannya. Karena cerita pengalaman hidup saya adalah juga cerita tentang mereka, walaupun mereka tak menyaksikan dan merasakan apa yang saya rasakan selama bergumul dengan gangguan jiwa.

Melalui buku ini, khususnya untuk keluarga dan anak cucu saya kelak, saya ingin mengajarkan kepada mereka tentang perjuangan hidup, tentang kegigihan, semangat dan sikap pantang menyerah ketika menghadapi beragam masalah kehidupan yang juga akan ditemui di sepanjang perjalanan hidup mereka.

Melalui buku ini saya juga ingin memberi contoh kepada mereka tentang pentingnya mencatat dan menuliskan secara runut pengalaman, pemahaman dan pemikiran ke dalam sebuah buku agar pengalaman, pemahaman dan pemikiran mereka bermanfaat untuk orang lain. Karena buku akan abadi dan akan terus dibaca walaupun penulisnya telah tiada.

Akhirnya, semoga buku mungil nan sederhana ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya, saat ini dan di masa yang akan datang.

Keterangan: Selain versi cetak, tersedia juga versi ebook buku ini.

Lanjutkan...

Bipolar Care Indonesia, Peduli Penyandang Bipolar

Ultah pertama Bipolar Care Indonesia (dok.BCI)

Disaat banyak orang membentuk komunitas bisnis, organisasi profesi atau lembaga swadaya masyarakat (LSM), 5 orang anak muda yang punya kepedulian tinggi terhadap masalah gangguan jiwa khususnya gangguan bipolar, membentuk sebuah komunitas sosial yang diberi nama “Bipolar Care Indonesia”.

Apa dan bagaimana Bipolar Care Indonesia dan apa saja kegiatan yang sudah mereka lakukan untuk membantu para penyandang gangguan jiwa? Silakan simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Sebelumnya saya akan menjelaskan sekilas tentang apa dan bagaimana gangguan bipolar itu?

Gangguan bipolar adalah salah satu gangguan jiwa, dimana penderitanya mengalami perubahan mood yang ekstrem antara manik (senang sekali) dan depresi (sedih sekali). Di satu waktu seorang penderita bipolar bisa merasa sangat gembira, lalu di lain waktu merasa sedih bahkan sampai ingin bunuh diri. Kedua hal yang sangat bertolak-belakang tersebut datang silih berganti, kadang ada periode normal diantaranya, dan pola, keparahan, serta frekuensinya bisa berbeda pada setiap penderita.

Perubahan mood ekstrem dan gejala-gejala yang dirasakan penderita bipolar tersebut mengganggu fungsi personal, sosial, dan pekerjaan penderita, sehingga menurunkan kualitas hidup jika tidak ditangani dengan tepat. WHO menyebutkan bahwa gangguan bipolar berada dalam urutan ke-6 penyakit utama yang dapat menyebabkan disabilitas di seluruh dunia. Padahal, jika ditangani dengan tepat, penderita bipolar bisa kembali berfungsi optimal dan mandiri.

Saya sendiri pernah mengalami gangguan bipolar saat masih remaja (dari kelas 2 SMP sampai kelas 3 SMA). Sekarang Alhamdulillah sudah pulih. Saya sudah menulis pengalaman bipolar saya di buku psikomemoar “Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah” yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo, salah satu “saudara tua” Kompasiana. Saya juga menulis 2 ebook tentang gangguan bipolar dan menulis artikel tentang bipolar di blog pribadi dan di Kompasiana.

Setelah aktif menulis di blog, media sosial, menulis buku dan ebook tentang gangguan bipolar, beberapa kali saya mendapat undangan untuk mengikuti kopi darat, workshop, seminar dan acara-acara terkait gangguan bipolar, baik dari grup-grup diskusi bipolar, komunitas maupun dari organisasi psikiatri seperti PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia).

Namun, karena acara-acara tersebut lebih sering diadakan di Jakarta dan kota-kota besar, saya yang dari daerah (Subang) jarang bisa hadir, walau ada kerinduan untuk bertemu dengan teman-teman bipolar yang suka berbagi pengalaman di dunia maya.

Beberapa seminar bipolar sempat saya hadiri. Ada kebahagiaan tersendiri ketika bertemu teman online yang selama ini hanya saling menyapa lewat layar monitor. Rasanya seperti bertemu kembali dengan seorang teman lama. Saya juga pernah menjadi narasumber seminar bipolar yang diadakan oleh mahasiswa psikologi UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Saya menjadi pembicara di Seminar Bipolar UIN Sunan Kalijaga.

Apa dan Bagaimana Bipolar Care Indonesia?

Bipolar Care Indonesia (BCI) yang dibentuk tanggal 27 Mei 2013, adalah komunitas sosial yang bergerak di bidang kesehatan jiwa, khususnya untuk gangguan bipolar. Cakupan kegiatan BCI yaitu edukasi, dukungan, dan aktivitas. BCI melakukan kampanye mengenai isu kesehatan jiwa di berbagai media dan acara serta memberikan dukungan untuk ODMK (orang dengan masalah kejiwaan) beserta caregiver-nya (pendamping penderita bipolar). BCI juga melakukan aktivitas-aktivitas untuk mengajak penyandang bipolar agar lebih produktif.

Pak Wi, sedang melukis di pameran Kreasi Bipolar (dok.BCI)

Di komunitas ini anggotanya bisa saling berbagi cerita, inspirasi, motivasi, dan bertanya terkait gangguan bipolar. Seperti yang dituturkan Vindy di grup facebook BCI. BCI berharap bisa membantu para penyandang bipolar, caregiver dan keluarganya.
Untuk informasi seputar gangguan bipolar, psikologi, atau topik-topik lainnya bisa follow twitter BCI di @BipolarCareInd. Bisa juga menghubungi BCI melalui email di bipolarcare.indonesia@gmail.com. Untuk artikel mengenai gangguan bipolar dan kegiatan-kegiatan BCI, bisa cek di http://www.bipolarcareindonesia.com.

BCI punya motto: RAISE mental health awareness, CARE for each other, TOGETHER for better life.

Melalui BCI, Vindy dan rekan-rekannya, mengadakan aktivitas yang kadang sunyi dari publisitas dan luput dari perhatian publik. Mereka merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan nyata yang bertujuan untuk membantu para penyandang gangguan bipolar.

Jenis kegiatan yang sudah mereka adakan diantaranya: Kumbar (kumpul bareng), Psikoedukasi, Art for Cure (terapi seni), Mental Health Check-Up, Konseling Kelompok, Seminar Awam Bipolar, Kreasi Bipolar (pameran karya seni bipolar) dan Talkshow di radio dan televisi.

Melalui kegiatan-kegiatan tersebut mereka dan para nara sumber (aktivis dan praktisi kesehatan jiwa) berbagi ilmu, pengalaman dan pemahaman dengan para penyandang gangguan bipolar, caregiver, keluarga dan masyarakat umum.

Meski mereka masing-masing juga masih bergelut dengan gangguan bipolar yang fluktuasi moodnya kadang tak mudah dikendalikan, mereka tetap antusias untuk berbagi pengalaman, penngetahuan, pemahaman dengan orang-orang yang mengalami gangguan bipolar.

Waktu saya Tanya Vindy, “Apa kendala utama untuk mengadakan acara-acara tersebut?”
“Biasanya memang dana, kalau kebetulan dapet sponsor Alhamdulillah,” jawab Vindy, “Sama kalau dulu panitianya cuma dikit. Sekarang bisa diusahakan untuk gabung jadi panitia biar gak keteteran.”

Menurut Vindy, sumber dana untuk acara-acara tersebut didapat dari Sponsor, donatur dan kas BCI. Dana dari seponsor sekitar 80%, sisanya dari donator dan kas BCI.

Menghapus Stigma Negatif Gangguan Jiwa


Satu hal yang harus diketahui adalah penyandang gangguan jiwa tak ingin diperlakukan istimewa, dimanjakan atau dikasihani oleh keluarga dan orang-orang terdekatnya, mereka ingin diperlakukan sama dengan yang lain. Mereka ingin dicintai, disayangi dan dihargai seperti orang lain yang dianggap normal. Dalam setiap pertemuan, sosialisasi, edukasi dan seminar selalu ditekankan agar meraka menjadi pribadi yang mandiri, bisa hidup dengan kemampuannya sendiri dan tak bergantung kepada orang lain termasuk kepada keluarga dan orang-orang terdekatnya.

Salah satu masalah (dari sekian banyak masalah) yang masih mengganjal dalam usaha-usaha untuk membantu penyandang gangguan jiwa adalah stigma negatif. Ketika meraka sudah mulai pulih, dan kembali ke tengah-tengah masyarakat, mereka berharap bisa diterima dan diperlakukan tanpa stigma, sama seperti orang lain. Stigma anegatif Inilah yang berusaha dihapus oleh para penyandang gangguan jiwa, aktivis kesehatan jiwa, praktisi kesehatan jiwa dan orang-orang yang peduli kepada penyandang gangguan jiwa.

Salah satu cara menghapus stigma negatif itu melalui sosialisasi, publikasi dan edukasi dengan memberikan penjelasan yang benar dan proporsional tentang segala jenis gangguan jiwa kepada masyarakat.


Foto bareng panitia dan nara sumber selesai acara Kreasi Bipolar 2013 (dok.BCI)

Tahun lalu saya sempat hadir di acara “Kreasi Bipolar” yaitu seminar untuk masyarakat awam mengenai gangguan bipolar dan pertunjukan serta pameran seni karya penderita bipolar. Acara Kreasi Bipolar tersebut diadakan tanggal 2 Juni 2013, di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta. Di sanalah saya pertama kali bertemu langsung dengan Vindy dan teman-teman dari Bipolar Care Indonesia.

Untuk apa acara Kreasi Bipolar ini diadakan?
Untuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar mengenal gangguan jiwa yang kerap terjadi di masyarakat namun tidak terdeteksi. Selain itu untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa penderita gangguan bipolar juga dapat berkarya dan bekerja dengan menjadi panitia di acara ini. Diharapkan acara ini dapat memberikan informasi baru kepada masyarakat dan menjadi ajang untuk gigi bagi penderita bipolar.

Acara ini sebagai ajang sharing, saling mendukung dan saling menguatkan diantara penyandang bipolar dan keluarganya. Merangsang para penyandang bipolar untuk mau menggali bakat dan kemampuan yang dimiliki dan menyalurkannya dalam aktivitas kreatif.

Semoga acara Kreasi Bipolar dan kegiatan-kegiatan lain yang bisa membantu para penyandang gangguan bipolar yang dimotori Bipolar Care Indonesia, bisa lebih sering diadakan, bukan hanya di Jakarta tapi di daerah-daerah lain di seluruh penjuru negeri.

Lanjutkan...

Inilah Cinta yang Sederhana dan Apa Adanya

Foto Ilustrasi : bebibluu.blogspot.com

Sore itu di akhir bulan Oktober, saya membuka-buka halaman facebook, membaca status beberapa orang teman.

Saya tertegun ketika membaca puisi singkat seorang teman, berisi curhat pribadi yang ditujukan kepada pasangannya (suaminya). Puisi singkat itu begitu mengena di hati. Berikukt kutifan puisinya :


Apa Adanya Dirimu Sempurna Buatku
Oleh Bernadette Irene

Sayangku, dengarkan aku, tak perlu lagi ragu, ini aku,
aku bukannya mereka yang hanya bisa dipuaskan dengan sesuatu yang palsu lagi semu,
tak perlu lagi mencoba jadikan dirimu sempurna,
karena apa adanya dirimu jauh lebih berharga.

Ada indah yang menyapa disetiap kerlingan mata,
ada cinta yang tergambar disudut senyum bersahaja,
ada makna yang tersaji disetiap tutur kata,
dan ada sejuta rasa bangga yang menyelip dikala kau dan aku, bersama.


Sayangku, segala tentangmu buatku mengerti,
bahwa hidup adalah tentang mencintai segala yang terjadi,
dan menerimanya dengan kelapangan hati.

Kesederhanaanmu buatku tak lagi menggilai segala yang bias dan tak murni dari hati,
denganmu aku pahami, bahwa cinta adalah untuk dinikmati,
dan biarkan mengalir bersama mimpi agar indah kesudahannya nanti.
Sayangku, apa adanya dirimu, adalah sempurna bagiku.



Saya tak kuasa menahan diri untuk menulis komentar di status tersebut dan langsung dibalas oleh sang teman.

Tarjum : Menawan sekali tulisannya Bernadette. Kalau kebanyakan perempuan (karena tak mungkin semua) mencintai laki-laki seperti itu dan sang lelaki pun mencintai perempuan seperti itu, rasanya sebuah hubungan akan terasa manis dan membahagiakan. Tak akan ada rasa pahit dan sakit hati. Begitu barangkali.

Bernadette : Waaa... saya jadi malu, masih amatiran kok mas, hanya berusaha memuntahkan apa yang ada di kepala. Memang sejatinya hubungan yang sehat seperti itu. Ya, seimbang antara take and give-nya. Saya juga masih dan akan terus berproses untuk jadi pribadi yang bisa memaknai sebuah hubungan dengan lebih baik lagi. Insya Allah.

Tarjum : Memang seperti itulah yang diharapkan seorang pria/suami dari kekasih/istrinya, begitu juga mungkin sebaliknya. Mau menerima pasangan apa adanya, tak membandingkan dengan orang lain, tak menuntut melebihi kemampuannya, tak membesar-besarkan kelemahannya tapi sebaliknya mau menerima pasangan apa adanya, menutupi kelemahannya dan menghargai setiap usahanya untuk memperbaiki diri.

Demikianlah kutifan status dan obrolan tentang cinta dengan seorang teman facebook.
Kalau makna cinta diibaratkan jenis minuman dengan bahan dan kemasan yang beragam seperti: minuman rasa buah dalam kaleng, minuman soda dalam botol, minuman segar dalam kemasan plastik, minuman rasa teh dalam kemasan kotak dan banyak lagi yang lainnya, makna cinta yang terkandung dalam bait-bait puisi Berbadette di atas seperti air pegunungan yang murni dan segar tanpa bahan pewarna dan pengawet.

Tapi bukankah air murni dan segar yang sebenarnya dibutuhkan tubuh? Sementara air dengan beragam rasa, aroma dan kemasan hanya nikmat di lidah tapi belum tentu sehat di tubuh.

Cinta yang dibutuhkan seseorang dari pasangannya adalah cinta murni dan jernih yang keluar dari kedalaman nurani. Cinta yang sederhana dan apa adanya tanpa banyak pamrih dan tuntutan. Cinta yang membuat nyaman dan damai tanpa membuat banyak kekhawatiran.

Terima kasih Berbadette, bait-bait puisi cintanya sudah mengingatkan dan menginspirasi, bagaimana seharusnya menerima seseorang yang dicintai apa adanya.

Bagaimana menurut anda? silakan sampaikan pendapat anda di kolom komentar.

Mau baca status-status Bernadette yang lainnya, silakan berteman dengannya di facebook.


Lanjutkan...

Menjalani Proses Pengobatan dan Pemulihan Gangguan Jiwa, Butuh Keyakinan dan Kesabaran

Oleh Tarjum


Bahan tulisan ini saya kutif dari diskusi yang saya ikuti di situs jejaring sosial. Berawal dari komentar di status facebook seorang aktivis kesehatan jiwa, berlanjut menjadi diskusi yang menarik.

Diskusi mengenai pengobatan bipolar khususnya dan gangguan jiwa umumnya di situs jejaring sosial selalu hangat dan menarik. Tak jarang terjadi perdebatan sengit diantara peserta diskusi.

Sampai saat ini, banyak hal yang sudah diketehui dan difahami dari masalah-masalah seputar gangguan jiwa, tapi jauh lebih banyak yang belum diketahui dan difahami. Seiring semakin banyaknya pengguna internet, media social seperti blog, facebook dan twitter cukup efektif membantu menyebarkan informasi tentang gangguan jiwa kepada publik melewati batas-batas negara.

Mendeteksi gangguan jiwa tak semudah seperti mendeteksi gangguan fisik. Bahkan dengan alat medis paling canggih sekalipun belum bisa dideteksi secara akurat. Mungkin karena letak gangguan jiwa yang berada di dimensi yang abstrak (pikiran dan perasaan), walaupun sebagian bisa dideteksi di salah satu organ tubuh manusia yang paling rumit dan komplek yaitu otak.

Jika ada teman ODB/ODMK yang curhat soal gangguan jiwa yang dialaminya, saran pertama saya adalah, konsultasi ke psikiater untuk memastikan gejalanya, agar tak hanya menduga-duga, karena banyak kesamaan gejala gangguan jiwa yang satu dengan yang lainnya. Jika sudah konsultasi ke psikiater, ikuti anjurannya. Kalau dianjurkan dan perlu minum obat ya minum obat sesuai jenis dan dosis yang dianjurkan.

Mereka biasanya balik tanya, “Mas Tarjum sendiri kan gak pernah konsul ke psikiater dan gak pernah minum obat?”

Saya jawab begini, “Jaman saya waktu itu jangankan istilah bipolar, skizofrenia atau jenis gangguan jiwa lainnya, istilah psikiater saja saya belum tahu, lha saya kan anak desa yang sehari-harinya cuma menggembala domba. Waktu itu istilah yang saya tahu hanya seputar stress, depresi, gangguan kecemasan dan psikolog.

Orang tua saya juga petani yang hanya lulusan sekolah rakyat (SR), yang tak tahu-menahu soal gangguan jiwa. Untuk konsul ke psikiater dan dan beli obat yang harganya tak murah, mana mampu keluarga saya waktu itu.”

Jadi saya nggak konsul ke psikiater dan nggak minum obat karena waktu itu belum tahu dan belum memungkinkan.

Tapi, walaupun saya tak pernah konsultasi ke psikiater, sebisa mungkin saya mencari informasi dari buku, majalah dan surat kabar untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan diri saya dan gangguan jiwa jenis apa yang saya alami, kok ada fase-fasenya.

Butuh waktu bertahun-tahun untuk memahami gangguan jiwa yang saya alami sendiri. Uniknya saya baru tahu istilah “ Gangguan Bipolar”, 12 tahun (2002) setelah saya merasakan gejalanya (1990). Jadi selama 12 tahun itu saya tidak tahu gangguan jiwa jenis apa yang saya alami.


Menanggung derita psikis sperti bipolar atau skizofrenia memang berat. Seorang psikiater bahkan menggambarkan seperti ini, “Sakit psikis 10 kali lebih berat dari sakit fisik yang paling berat sekalipun.” Kita seakan tak kuat lagi menanggung beban tekanan psikis itu dan sampai titik tertentu kita merasa akan menyerah. Saya dan teman-teman ODB/ODS/ODMK yang lain juga pasti pernah merasakan suasana hati seperti itu.

Mungkin sebagian orang menganggap, gangguan bipolar yang saya alami tergolong ringan, jadi tanpa dibantu obat pun saya bisa pulih. Ini pandangan yang keliru. Seringan apa pun gangguan jiwa, terasa sangat berat bagi orang yang merasakannya. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam dan hari demi hari harus dijalani dengan suasana hati yang sangat tidak nyaman; tertekan, cemas, sedih, takut dan beragam perasan negatif lainnya yang sering tak bisa dikendalikan dan tak bisa diredakan.

Suasana hati dan pikiran yang sangat tak nyaman itu dirasakan dan dijalani selama bertahun-tahun lamanya, tanpa si penyandangnya tahu kapan derita jiwanya akan berakhir. Dengan gambaran suasana hati penyandang gangguan jiwa seperti yang saya jelaskan sekilas di atas, masihkah anda menganggap gangguan jiwa sebagai hal yang ringan, mudah dikendalikan dan mudah diatasi?

Bukan hanya itu, ketidaknyamanan psikis hanya satu dari sekian banyak ketidaknyamanan yang dirasakan oleh ODMK. Gangguan fisik juga sering mengiringi gangguan mental. Ketidakfahaman orang-orang terdekat tentang gangguan jiwa menambah berat beban psikis ODMK. Belum lagi stigma negatif yang sampai saat ini masih melekat kuat kepada ODMK.

Bukan hal yang mudah untuk bisa mengendalikan sikap, suasana hati dan tindakan bagi seorang penyandang gangguan jiwa.

Mungkin teman-teman bertanya-tanya, “Tapi kok mas Tarjum bisa pulih tanpa obat? Apakah itu sebuah keajaiban?”

Sebenarnya tak ada yang ajaib bagi Tuhan kalau Dia menghendaki. Tapi keajaiban Tuhan juga tidak turun dari langit begitu saja. Perlu ikhtiar terus menerus yang melelahkan dan sering membuat kita merasa ingin menyerah. Namun, waktu itu saya memutuskan untuk terus berusaha dan tak mau menyerah, karena saya punya harapan dan keyakinan saya bisa pulih dan bisa hidup normal.

Satu hal yang harus selalu kita ingat dan yakini adalah, ketika Tuhan memberi kita sebuah ujian, salah satunya dengan gangguan jiwa, Tuhan tahu betul sampai di mana batas kekuatan mental kita.

Buktinya sampai saat ini, saya anda dan teman-teman penyandang gangguan jiwa yang lain masih bisa bertahan, masih diberi kesadaran, kekuatan dan masih bisa mengendalikan diri. Itu artinya kita masih kuat dan memang harus kuat, sampai kita bisa benar-benar bisa mengelola suasana hati dan pikiran kita, lalu berdamai dengan diri-sendiri.

Sesuai pengetahuan yang saya dapat dari bahan bacaan, saya mencoba mengatasi derita jiwa saya sebisa mungkin. Saya berusaha mengubah pola pikir, sikap dan tindakan, walau itu tak mudah. Yang tadinya kurang gaul, mulai memberanikan diri bergaul, diantaranya; nonton acara hiburan, aktif berolahraga, aktif di organisasi kepemudaan, dll). Saya juga merubah penampilan saya yang culun jadi lebih trendi.

Selain itu, saya juga melatih dan mengasah bakat yang saya miliki yaitu melukis dan membuat patung. Jadi, sebisa mungkin saya menyibukan diri dengan sikap, pola pikir dan aktivitas-aktivitas yang positif.

Tak lupa, setiap saat terutama sehabis sholat saya membaca do’a khusus yang maknanya untuk menjernihkan pikiran dan perasaan. Saat berdoa, sambil bersimpuh dan bersujud hadapan-Nya, saya sering menangis memohon kesembuhan, menumpahkan segala beban psikis di hadapan-Nya.

Kadang muncul keraguan dalam hati, benarkah Tuhan mendengar do’a saya? Benarkah Tuhan akan mengabulkan do’a saya dan akan memberi saya kesembuhan? Namun saya berusaha menepis semua keraguan itu. Selalu terngiang di kepala saya, pesan seorang ustadz, “Jangan pernah berburuk sangka kepada Tuhan, berbaik sangkalah kepada-Nya. Karena Tuhan sebagaimana prasangka dan keyakinan kita kepada-Nya.”


Setelah ikhtiar panjang selama bertahun-tahun, diiringi do’a, berbekal harapan dan keyakinan, akhirnya Tuhan memberi saya kesembuhan. Proses pemulihan tidak seketika dan serta-merta begitu saja, namun perlahan dan bertahap. Butuh kesabaran dan keyakinan dalam proses pemulihan gangguan jiwa, baik dari penyandangnya maupun dari caregiver dan orang-orang terdekatnya.
Di sinilah letak masalahnya. Banyak teman-teman ODB/ODMK dan keluarganya yang tidak sabar menjalani proses panjang pengobatan dan pemulihan gangguan jiwa. Ini hal yang wajar sebenarnya, karena dalam banyak hal kita selalu ingin mendapatkan hasil dengan cepat dengan cara yang mudah, bahkan kalau bisa dengan cara instan. Itulah mungkin salah satu penyebab mengapa banyak penyandang gangguan jiwa yang mencari pengobatan alternatif.
Padahal untuk meraih sebuah tujuan dalam hal apa pun, ada proses yang harus dilalui dan tak bisa diraih dengan cara-cara instan. Sebagai contoh, berapa teman ODB mengeluh karena setelah beberapa waktu lamanya menjalani terapi dan pengobatan, belum juga merasakan hasilnya, lalu menghentikan proses pengobatannya dan mencari alternatif pengobatan lain. Dia ingin cepat merasakan hasilnya dan segera pulih setelah menjalani pengobatan. Dia tidak sabar menjalani proses panjang yang harus dilalui untuk meraih kesembuhan.


Proses yang anda jalani untuk mengendalikan gejolak perasaan dan pikiran itulah yang tanpa anda sadari akan menempa jiwa anda menjadi lebih kuat. Seperti seorang atlet angkat besi yang terus melatih otot-otot tubuhnya setiap hari dengan mengangkat beban. Dengan kesabaran dan disiplin diri yang tinggi dia menjalani latihan beban setiap hari, menjaga pola makan dan pola hidup yang sehat setiap hari. Sampai akhirnya, setelah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun berlatih, dia mampu mengangkat beban yang jauh melebihi berat tubuhnya sendiri dan menjadi pemenang dalam kejuaraan.

Gangguan jiwa membuat saya bisa lebih memahami diri sendiri dan orang lain. gangguan jiwa mendorong saya untuk mencari dan menggali informasi sebanyak mungkin tentang bagaimana memahami gejalanya dan bagaimana mangatasinya.

Dengan pengalaman, pemahaman dan pengetahuan itu pada akhirnya saya bisa mengendalikan gejolak jiwa, berdamai dengannya dan perlahan-lahan bisa melepaskan diri dari belenggunya. Bukan hanya itu, saya juga bisa berbagi pengalaman dan pemahaman kepada teman-teman ODB/ODMK yang lain.

Itulah sekilas yang saya maksud hikmah dari gangguan jiwa yang saya alami. Soal ini sudah saya jelaskan dengan gamblang di buku psikomemoar “Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah”.

Kesimpulannya, Tak ada yang mustahil atau tak mungkin dalam proses pemulihan gangguan jiwa jika Tuhan menghendaki. Tapi kehendak Tuhan juga mengikuti hukum alam, hukum sebab akibat. Kita tetap harus ikhtiar dan berdo’a untuk meraih kesembuhan. Dalam menjalani proses pengobatan dan pemulihan itu, diri kita dan orang-orang terdekat kita dituntut untuk bersabar dan tak mudah menyerah.


Lanjutkan...
Buku & eBook: "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah"

Buku psikomoar ini bercerita tentang pergumulan saya selama bertahun-tahun dengan gangguan jiwa yang tidak saya fahami dan membuat saya bertanya-tanya, “Apa yang terjadi dengan diri saya? Penyakit apa yang saya alami? Bagaimana cara mengatasinya?” Ironisnya, saya baru tahu apa yang terjadi dengan diri saya, 8 tahun setelah saya pulih, bahwa saya mengalami Gangguan Bipolar. [Selengkapnya]




eBook 2: "Berdamai Dengan Bipolar"

Bagaimana mengenali dan mengatasi Gangguan Bipolar?
Bagaimana menanggapi sikap negatif orang-orang di sekitar anda?
Bagaimana mendampingi orang yang mengalami Gangguan Bipolar? eBook ini memberi jawaban dan solusi alternatif penanganan Bipolar. [Selengkapnya]



eBook 3: “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”

eBook ini merupakan inti dari pengalaman dan pemahaman bipolar saya. Inti dari tulisan-tulisan saya di buku, ebook, blog, facebook, twitter dan media lainnya. eBook ini bukan teori-teori tentang gangguan bipolar! Bukan formula ajaib untuk mengatasi gangguan bipolar! eBook ini tentang tindakan, langkah-langkah penanganan bipolar. [Selengkapnya]


eBook 4: “7 Langkah Mudah Menyusun & Memasarkan eBook”

Jika dikemas dengan desain cover yang apik dan diberi judul yang manarik, kumpulan posting blog atau catatan facebook anda bisa disusun menjadi sebuah ebook yang akan memikat pembaca di ranah maya. Selanjutnya ebook anda tinggal dipasarkan secara online.
[Selengkapnya]

Terpopuler Bulan Ini

 
 © Copyright 2008-2014 Curhatkita Media  template by Blogspottutorial