Tiga Serangkai eBook Bipolar
3 eBook Bipolar ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata penulisnya. Mengupas secara detail dan sistematis dari gejala awal, saat berada di puncak manik dan depresi, sampai langkah-langkah pemulihannya. Inilah ebooknya : "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah”, “Berdamai dengan Bipolar” dan “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”.

Curhat Seorang Suami yang Istrinya Divonis Menderita Bipolar / Manik Depresif

    

Curhat ini dikirim Bapak AS (nama samaran) via email pada tanggal 14 Maret 2009. Atas izin yang bersangkutan, curhatnya saya tampilkan di blog ini. Mungkin ada di antara teman-teman sekalian yang bisa membantu.
Berikut curhatnya :


Salah satu anggota keluarga kami (istri) dinyatakan oleh dr. mendapat gangguan Mania-Bipolar pada 1 januari yang lalu. Saat ini telah diresepkan obat rawat jalan setelah 2 minggu rawat inap di RS di Bogor.

Saya telah membaca hampir seluruh tulisan di blog curhatkita maupun sivalintar.com, beberapa artikel saya download. Saya juga menonton beberapa video tentang mania-depresi di youtube. Tapi saya masih belum faham tentang penyakit tersebut dan bagaimana ‘merawat pasien’ agar sembuh. Kami menaruh harapan besar pada mas Tarjum sudi kiranya menolong kami, memberi bantuan, saran atau pengalamnya mengatasi gangguan ini antara lain dalam hal-hal sebagai berikut:

Episode mania-depresi yang saat ini sedang dialami oleh istri, kapan periodesasinya, dan bagaimana mengetahui tanda-tanda/kondisi detail pasien pada masing-masing episode dan perubahannya? Bagaimana pula bila ternyata dalam keadaan campuran?. Bukankah setiap perubahan episode akan melewati episode normalnya?

Dari tulisan yang telah saya baca, disebutkan bahwa dalam kondisi depresi wanita lebih sedikit berhasil bunuh diri dari pada pria, apakah ini berarti tetap ada potensi atau keinginan bunuh diri? Bisakah kami mengetahui tanda-tanda atau rencana sebelum bunuh diri? Semisal peristiwa di Palembang baru-baru ini, perempuan pegawai telpon seluler yang bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari lantai atas dan ditampung oleh banyak orang dengan kasur. Bagaimana menyadarkan agar pasien tidak melakukannya (bunuh diri), sementara pasien dalam pikiran yang kosong (jika diajak bicara seakan masuk telinga kanan-keluar telinga kiri)?.
Di sisi lain pada kondisi mania, kami telah merasakan dan mananggung beban dari akibat perilakunya. Upaya perawatan (‘pencegahan/antisipasi’) apa yang mesti kami lakukan pada setiap keadaan tersebut?

Bagaimana atau apa saja yang sebaiknya dilatihkan untuk memberinya pemahaman ‘kebenaran’ perasaan, cara berpikir dan perilaku pasien yang selama ini ‘salah’? Bukankah dengan menjelaskan kesalahan-kesalahan masa lalu berarti melukai hati dan perasaan pasien? Pasien bukannya tahu kesalahan yang dilakukannya, tahu juga kalau dibantu dan diupayakan penyembuhannya? Bagaimana pula caranya agar pasien mau membuka diri, tidak berbohong/mengacaukan dan menyampaikan hal-hal yang telah dilakukannya? Terutama untuk ini kami sangat perlu mendapatkan bantuan psikoterapi dari yang ahli.

Kami berusaha sekuat tenaga, segenap daya dan upaya. Suatu saat seakan kami ingin diam dan pasrah, tapi suatu saat kami juga ingin maju terus (termasuk oleh dorongan semangat dari mas Tarjum). Obat-obatan demikian mahalnya, dan untuk mendapatkannya kami sering harus mengorbankan kebutuhan pokok. Sementara kami masih harus menyelesaikan persoalan-persoalan yang begitu mengerikan, yang harus kami tanggung sebagai akibat perilaku pasien, setelah hampir seluruh harta seakan musnah dalam sekejap. Kami seakan telah tidak memiliki apa-apa lagi, kecuali tanggungan-tanggungan beban yang masih harus terselesaikan.

Kami ingin melakukan pemeriksaan rutin ke dokter, mengujikan diagnosa ke lab, atau ke psikiater, tapi kandas, belum mendapatkan alamat konsultasi yang terjangkau biayanya. Klinik Terpadu Fakultas Psikologi UI memberi kesempatan pada kami untuk berkonsultasi, tapi masih harus menunggu jadwal yang masih lama lagi dan entah kapan. Kami juga mengirim email ke beberapa situs konsultasi psikologi, tetapi yang gratis masih terbatas memberikan sarannya. Kami mohon Mas Tarjum dapat memberikan saran dan alamat yang mungkin dapat kami jangkau dari kota Depok, Bogor.

Kami sering cemas jika meninggalkan pasien sendirian di rumah, sehingga sering pula tidak bekerja beberapa hari dalam minggu-minggu terakhir. Sementara ini kami lakukan pengawasan terhadap kegiatan pasien di rumah dan memberikan dorongan untuk melakukan aktifitas. Kami melakukan dzikir, berdoa dan sholat bersama, berlatih membaca ruqyah syariyah secara mandiri.

Mas Tarjum kami bersyukur, kami masih memiliki harta-harta yang lain yang bahkan tidak ternilai harganya.. Fisik kami sehat wal afiat, 3 anak perempuan kami bersekolah, kami juga masih tinggal di suatu rumah dan masih bekerja. Kami juga merasa tidak sendirian. Masih banyak orang lain yang lebih berat menanggung beban agar tetap bisa bertahan dan sebagainya. Dan yang paling berharga, Insya Allah kami masih tetap meyakini bahwa Allah-Tuhan yang Maha Agung, Allah Maha Kuasa, Maha Pengampun, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah Maha Mengetahui dan kami diberi petunjuk untuk dapat memetik hikmah dari cobaan ini.




Berikut saran untuk Bapak AS yang saya kirim via email :

Pak AS, saya turut prihatin atas apa yang dialami istri anda. Terima kasih atas kepercayaannya untuk curhat via email saya.

Sebelumnya saya jelaskan, bahwa saya bukan ahli kejiwaan, saya cuma belajar dari pengalaman saya sendiri selama menderita bipolar. Saya belajar secara otodidak dari buku-buku dan artikel di surat kabar, majalah dan internet. Jadi tentu saja pengetahuan saya sangat terbatas soal kejiwaan. Tapi, insya allah saya akan membantu semampu saya. Kita hanya bisa berikhtiar, Allah lah yang akan menentukan segalanya.

Berat memang mendampingi istri yang menderita bipolar, tapi siapa lagi yang bisa mendukung dan membantunya jika bukan orang terdekatnya. Dukungan, perhatian dan kasih sayang anda akan sangat berarti baginya.

Untuk membedakan kondisi mania dan depresi bisa dilihat dari kondisi psikis yang tercermin dari perilaku sehari-harinya. kalau dia tampak bahagia, bersemangat (kadang berlebihan) atau aktif melakukan bermacam aktivitas berarti ia dalam kondisi mania. Saat kondisi mania inilah sebenarnya anda bisa lebih efektif memberinya pengertian dan mendorongnya untuk melakukan aktivitas fisik, psikis dan spiritual untuk mengatasi kondisi kejiwaanya yang labil. Pada kondisi mania ini penderita tampak seperti normal, padahal sebenarnya tidak, kondisi kejiwaannya masih labil.

Kondisi depresif sebaliknya dia akan tampak murung, sedih, tak ada semangat, malas beraktivitas dan lebih banyak berdiam diri. Dalam kondisi ini memang si penderita seakan tak berdaya, tak bisa berpikir normal dan seakan tak ada apa pun yang bisa membuatnya bahagia. Dalam kondisi inilah mungkin keinginan bunuh diri itu muncul.

Lamanya masing-masing fase relatif, tergantung kondisi psikologisnya, bisa dalam hitungan bulan, minggu atau bahkan hari. semakin cepat siklusnya berarti semakin kronis kondisi psikologisnya. Yang pernah saya alami adalah siklus mingguan dan bulanan. dua minggu mania, dua minggu depresi atau seminggu mania dua minggu depresi. Dalam kondisi mania inilah biasanya saya bisa melakukan aktivitas-aktivitas fisik dan psikis sebagai proses terapi penyembuhan. Saat mania, saya bisa melukis atau membuat patung dengan hasil yang sangat baik (saya hoby melukis dan membuat patung), bisa melakukan aktivitas fisik dengan baik (bekerja atau berolahraga dengan semangat).

Saat mania inilah anda bisa mengarahkan istri melakukan terapi penyembuhan. Terapi sepiritual juga sangat baik, memberinya pemahaman keagamaan, melakukan ibadah bersama, mempelajari buku-buku keagamaan dll. Terapi spiritual inilah yang paling efektif untuk mencegah penderita mengikuti dorongan untuk bunuh diri.
Karena saat depresi datang seperti tak ada apapun yang bisa membuatnya bahagia, paling hanya bisa sedikit meringankan beban pikirannya.

Dari pengalaman saya, aktivitas fisik seperti olahraga sangat baik untuk mempercepat proses penyembuhan. Menurut para ahli kejiwaan, bipolar bisa juga disebabkan karena ketidak seimbangan biokimiawi dalam otak, aktivitas fisik mungkin akan mengembalikan keseimbanganya. Kondisi fisik yang bugar juga akan berpengaruh positif pada kondisi psikisnya. dia akan merasa lebih segar, sehat dan yang terpenting akan membuatnya lebih percaya diri dan bersemangat. Kurangi beban fisik dan psikisnya. Ambil alih sebagian pekerjaanya. Hindari hal-hal yang akan membebani pikiran dan akan membuatnya merasa tertekan. Klo anak anda sudah dewasa mungkin bisa membantu meringankan beban kerjanya, membantu mengerjakan pekerjaan rumah misalnya.

Saat suasana hatinya sedang tenang dan bahagia (kondisi mania) adalah saat yang tepat untuk mengajaknya bicara, menggali apa yang menjadi beban pikirannya dan memberinya pemahaman-pemahaman yang positif. Posisikan diri anda sebagai teman yang bersedia mendengar keluh-kesahnya dengan sabar dan penuh empati. Dari obrolan itu nanti anda secara perlahan bisa menggali dan mengenali masalah yang membebani pikirannya.
Inilah yang dilakukan ayah saya dulu dengan kesabaran yang luar biasa. Saya bisa ngobrol berjam-jam dengan beliau dan saya kemukakan semua masalah yang membebani pikiran saya waktu itu. dengan mencurahkan isi hati saya merasa sebagian beban berat pikiran berkurang dan saya merasa lebih baik.

Penggunaan obat memang bisa membantu, hanya masalahnya mungkin harga obat yang relatif mahal. Saya sendiri tak pernah menggunakan obat-obatan, hanya mengandalkan terapi fisik, psikis dan sepiritual. saya sering menangis saat berdoa di hadapan-Nya. saya curahkan semua beban pikiran kepada-Nya dan itu membuat pikiran saya tenteram, mengurangi beban dan tekanan mental. Baik sekali jika anda sering melakukan aktivitas keagamaan bersama. Anda sudah melakukan hal yang tepat. Percayalah, Allah mendengar do'a anda, tapi kita wajib ikhtiar untuk mendapatkan pertolongannya. Allah tak akan memberi cobaan berat pada anda jika anda tak akan sanggup mengatasinya. Dibalik semua itu ada rencana-Nya yang tak kita fahami. Jangan pernah berburuk sangka padanya dan jangan sekali-kali berputus asa. Pada saatnya pertolongan Allah akan datang, kita cuma tak tahu kapan. Kadang orang berhenti melangkah karena putus asa, padahal mungkin hanya beberapa langkah lagi dia akan berhasil. Orang yang menang dalam sebuah pertarungan kadang bukan karena ia lebih hebat dari lawannya tapi karena ia mampu bertahan lebih lama dari lawannya.

Maaf, bukan maksud saya menggurui atau sok tahu, saya hanya mengatakan berdasarkan pengalaman pribadi saya. Saran saya untuk anda dan keluarga, "Jangan Pernah Menyerah!" "Jangan pernah berputus asa untuk mendapat pertolongan Allah"

Berikut ada beberapa nama, tlp dan email para praktisi dan aktivis kesehatan mental yang bisa anda hubungi dan mungkin bisa membantu :

1. Anta Samsara, sekretaris Perhimpunan Jiwa Sehat, organisasi yang membantu para penderita gangguan kejiwaan. Hp. 085781361440, email : anta_samsara@yahoo.co.id.

2. Untuk memperoleh pemerikasan gratis gangguan bipolar coba anda hubungi nomor-nomor berikut :
Solo, Dr Sigit Wahyu Purnomo / Dr Hendriana Kuhuweal di 0271 657771 atau 0271 648920.
Jakarta, Dr Nurmiati Amir / Dr Tiana Arsianti di 021 3107741 ext 108.
Bandung, Dr Arifah Nur Istiqomah HP. 08112211596 dan Dr Ike MP Siregar HP. 08122103308.

Demikian informasi yang bisa saya sampaikan, semoga membantu.

Jika anda mau memberi saran, masukan atau informasi untuk Bapak AS, silakan tulis di kolom komentar di bawah posting ini atau kirim via email : sivalintar@yahoo.com

Bookmark and Promote!



Artikel Terkait:

Ingin mendapat artikel seperti ini langsung ke Email anda? Silahkan masukan alamat email anda untuk berlangganan.

Komentar :

ada 0 komentar ke “Curhat Seorang Suami yang Istrinya Divonis Menderita Bipolar / Manik Depresif”

Posting Komentar

Sampaikan komentar terbaik anda di kolom komentar :)

eBook 1: "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah"

Buku psikomoar ini bercerita tentang pergumulan saya selama bertahun-tahun dengan gangguan jiwa yang tidak saya fahami dan membuat saya bertanya-tanya, “Apa yang terjadi dengan diri saya? Penyakit apa yang saya alami? Bagaimana cara mengatasinya?” Ironisnya, saya baru tahu apa yang terjadi dengan diri saya, 8 tahun setelah saya pulih, bahwa saya mengalami Gangguan Bipolar. [Selengkapnya]




eBook 2: "Berdamai Dengan Bipolar"

Bagaimana mengenali dan mengatasi Gangguan Bipolar?
Bagaimana menanggapi sikap negatif orang-orang di sekitar anda?
Bagaimana mendampingi orang yang mengalami Gangguan Bipolar? eBook ini memberi jawaban dan solusi alternatif penanganan Bipolar. [Selengkapnya]



eBook 3: “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”

eBook ini merupakan inti dari pengalaman dan pemahaman bipolar saya. Inti dari tulisan-tulisan saya di buku, ebook, blog, facebook, twitter dan media lainnya. eBook ini bukan teori-teori tentang gangguan bipolar! Bukan formula ajaib untuk mengatasi gangguan bipolar! eBook ini tentang tindakan, langkah-langkah penanganan bipolar. [Selengkapnya]


eBook Novel: “Pengorbanan Cinta”

Novel ini bukan sekedar kisah cinta yang romantis dengan segala macam konflik di dalamnya. Saya berani menyebut novel ini sebagai “Buku Pelajaran Cinta”. Beda dengan buku pelajaran pada umumnya, Buku Pelajaran Cinta ini tak membosankan, malah sangat mengasyikan dibaca. Setelah mulai membaca, jamin Anda tak ingin berhenti dan ingin terus membacanya sampai akhir cerita. [Selengkapnya]



eBook Panduan: “7 Langkah Mudah Menyusun & Memasarkan eBook”

Jika dikemas dengan desain cover yang apik dan diberi judul yang manarik, kumpulan posting blog atau catatan facebook anda bisa disusun menjadi sebuah ebook yang akan memikat pembaca di ranah maya. Selanjutnya ebook anda tinggal dipasarkan secara online.
[Selengkapnya]

 
 © Copyright 2016 Curhatkita Media  template by Blogspottutorial