Tiga Serangkai eBook Bipolar
3 eBook Bipolar ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata penulisnya. Mengupas secara detail dan sistematis dari gejala awal, saat berada di puncak manik dan depresi, sampai langkah-langkah pemulihannya. Inilah ebooknya : "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah”, “Berdamai dengan Bipolar” dan “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”.

Obat itu Bernama Kasih Sayang

    

Pengalaman Pribadi

Oleh : Johan Bhimo Sukoco

Minggu sore itu kusengajakan diri menjelajahi Kota Solo. Niatan mencari kado yang tepat untuk Ibu, kurasa perlu untuk segera direalisasikan. Kuputuskan untuk membeli kerudung. Sebenarnya, ada keinginan memberinya blender. Aku tahu benar, blender di rumah rusak dan Ibu sering mengeluhkannya. Apalagi beberapa gigi depan wanita ini sudah mulai patah dan tak kuat lagi mengunyah makanan yang terlalu keras. Tapi apa daya, uang tabunganku tak mencukupinya. Apalagi statusku sebagai anak kost, tentu harus pandai menekan budget.

Hunting kuawali dari rumah kerudung terdekat di belakang kampus. Tutup. Kutinggalkan toko itu dan kuarahkan motorku tak menentu. Aku tak begitu tahu-menahu pertokoan kerudung di Kota kecil ini. Logisnya, karena aku lelaki. Kupacu saja motorku sesuai felling. Melewati jalanan kecil hingga kampung Kalitan. Sialnya, tiba-tiba hujan menghujamku tanpa kompromi. Kupepetkan motor ke sebuah emperan toko. Berteduh di bawahnya. Tak lama berselang, Adzan Ashar memanggilku kuat-kuat. Kusempatkan diri sembahyang sejenak di masjid komplek keluarga Soeharto itu, seraya menunggu hujan reda.

Hujan mulai reda, dan kuputuskan untuk mengambil kendali ke arah Jalan Slamet Riyadi. Asumsiku disitu banyak pertokoan besar. Terus, terus, dan terus melaju hingga mentok ke Pusat Grosir Solo atau lebih di kenal PGS. Hatiku menuntun untuk masuk. Aku pun masuk. Di sana memang banyak beraneka busana, termasuk kerudung yang kucari.

Bermulai dari lantai dasar kelantai berikutnya. Hingga akhirnya mataku tertuju pada kerudung dengan tipe panjang. Ibu pasti anggun jika memakainya. Agak bimbang juga apakah akan ku pilih motif batik itu atau tidak. Pasalnya, koleksi kerudung beliau di rumah cukup banyak. Takutnya sama motif dengan yang kuberikan nanti. Kutekadkan hati untuk memilih motif itu, setelah berdialog kecil dengan penjualnya yang ramah. Agaknya dia tahu keterbatasanku sebagai lelaki. Setelah tawar-menawar dengan empu penjual, akhirnya sampai pada titik kesepakatan. Dengan senyum kepuasan, aku pulang. Mendung masih menggelanyut Kota ini, tapi untung hujan tak lagi deras menyapaku. Rintihannya masih tersisa walau sebatas gerimis.

Di kamar kost. Kukemas kerudung batik itu dengan kertas kado yang sempat kubeli. Dengan kemasan seadanya, bahkan lebih mirip bungkus permen yang hanya di putar asal di kedua ujungnya. Pantas saja, aku tak biasa melakukannya. Kado telah siap. Selasa nanti Ibu ulang tahun. Tak mungkin aku bisa memberikan kado ini langsung padanya. Jadwal kuliahku mulai senin nanti amat sangat padat.
Terlambat dua hari aku memberikannya pada Ibu. Agak kecewa juga. Tapi tak mengapa, karena di malam harinya telah sempat kuucapkan selamat ulang tahun padanya di balik ponsel. Gerimisnya malam di kost terasa menusuk igaku saat Ibu menerima teleponku di Apotik. Aku tahu dimana posisinya sesaat setelah berucap salam. Perempuan ini menderita hipertensi . Tekanan darahnya labil. Ah, semoga masih tersisa waktu untuk memberikan kado ini padamu, Mom.

Mundurlah wahai waktu
Ada selamat ulang tahun
Yang tertahan tuk kuucapkan
Yang harusnya tiba tepat waktunya
Dan rasa cinta yang s’lalu membara
Untuk dia yang terjaga menantiku

(Selamat ulang tahun-Dewi Lestari)

Kamis sore aku pulang ke rumahku di Sragen. Rumah yang besar, tapi tersimpan kesunyian di dalamnya. Hanya ada Ibu dan Bapak. Itu pun kalau bapak tidak kerja lembur di kantor. Kakak sulungku telah merantau di pulau penjara. Kasihan juga melihat Ibu yang selalu berkawan sepi. Aku benar-benar merindukan tempat ini.

Kulihat dari depan pintu Ibu tersenyum hangat menyambutku.
Pelukan dan ciumannya sekonyong-konyong menyambut kedatanganku. Seakan-akan tak bertemu Sang anak setahun lamanya. Padahal baru dua minggu aku diperantauan. Jarak Sragen-Solo yang hanya satu jam sedikit banyak memang memisahkan kerinduanku dengan rumah. Kadang seminggu...kadang dua minggu...atau paling lama tiga minggu, aku baru sempat bergumul dengan keluarga kecil ini.
“Wah..ini obat bagi Mama, Nak,” sorak beliau terkejut saat kuserahkan kado bersampul tak beraturan itu.
Ibu tak sanggup berkata-kata lagi. Kulihat jelas ada setitik haru di matanya.
Sebuah kado yang penuh dedikasi untuk seorang Ibu. Kau tahu apa isinya? Tiga elemen dasar yang menjadikannya ada. Sehelai kerudung, secarik kertas ucapan, dan dibalut kertas kado. Ditambah dua elemen pendukung berupa kasih sayang dan ketulusan hati.
Untuk pertama kalinya aku memberikan kado pada Ibu. Pantas saja jika Beliau terharu.

Seminggu setelah kejadian itu. Sepulang dari periksa rutin dokter, Ibu tersenyum manis padaku seraya berkata, ”Tekanan darah Mama mulai mendekati stabil, nak. Terima kasih, ya!”. Beliau menambahkan bahwasanya ini semua berkat kado kejutan yang aku berikan.
Aku membalasnya dengan puji syukur. Harga Kado kecil yang tak seberapa itu ternyata mampu membuat perubahan besar pada kesehatan Ibu. Agh, Ternyata obat itu berasal dari kasih sayangku untuknya.

Kupersembahkan khusus teruntuk Ibu, yang tak perlu tahu kisah ini.
Mudah-mudahan di 23 Desember nanti,aku tak terlambat lagi mengucapkannya padamu. Semoga.

Johan Bhimo Sukoco
Email : johanbhimo@yahoo.co.id
Blog : porospemburu.blogspot.com
Phone: 085642317178.


logo sivalintar


Bookmark and Promote!



Artikel Terkait:

Ingin mendapat artikel seperti ini langsung ke Email anda? Silahkan masukan alamat email anda untuk berlangganan.

Komentar :

ada 0 komentar ke “Obat itu Bernama Kasih Sayang”

Posting Komentar

Sampaikan komentar terbaik anda di kolom komentar :)

eBook 1: "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah"

Buku psikomoar ini bercerita tentang pergumulan saya selama bertahun-tahun dengan gangguan jiwa yang tidak saya fahami dan membuat saya bertanya-tanya, “Apa yang terjadi dengan diri saya? Penyakit apa yang saya alami? Bagaimana cara mengatasinya?” Ironisnya, saya baru tahu apa yang terjadi dengan diri saya, 8 tahun setelah saya pulih, bahwa saya mengalami Gangguan Bipolar. [Selengkapnya]




eBook 2: "Berdamai Dengan Bipolar"

Bagaimana mengenali dan mengatasi Gangguan Bipolar?
Bagaimana menanggapi sikap negatif orang-orang di sekitar anda?
Bagaimana mendampingi orang yang mengalami Gangguan Bipolar? eBook ini memberi jawaban dan solusi alternatif penanganan Bipolar. [Selengkapnya]



eBook 3: “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”

eBook ini merupakan inti dari pengalaman dan pemahaman bipolar saya. Inti dari tulisan-tulisan saya di buku, ebook, blog, facebook, twitter dan media lainnya. eBook ini bukan teori-teori tentang gangguan bipolar! Bukan formula ajaib untuk mengatasi gangguan bipolar! eBook ini tentang tindakan, langkah-langkah penanganan bipolar. [Selengkapnya]


eBook Novel: “Pengorbanan Cinta”

Novel ini bukan sekedar kisah cinta yang romantis dengan segala macam konflik di dalamnya. Saya berani menyebut novel ini sebagai “Buku Pelajaran Cinta”. Beda dengan buku pelajaran pada umumnya, Buku Pelajaran Cinta ini tak membosankan, malah sangat mengasyikan dibaca. Setelah mulai membaca, jamin Anda tak ingin berhenti dan ingin terus membacanya sampai akhir cerita. [Selengkapnya]



eBook Panduan: “7 Langkah Mudah Menyusun & Memasarkan eBook”

Jika dikemas dengan desain cover yang apik dan diberi judul yang manarik, kumpulan posting blog atau catatan facebook anda bisa disusun menjadi sebuah ebook yang akan memikat pembaca di ranah maya. Selanjutnya ebook anda tinggal dipasarkan secara online.
[Selengkapnya]

 
 © Copyright 2016 Curhatkita Media  template by Blogspottutorial