Tiga Serangkai eBook Bipolar
3 eBook Bipolar ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata penulisnya. Mengupas secara detail dan sistematis dari gejala awal, saat berada di puncak manik dan depresi, sampai langkah-langkah pemulihannya. Inilah ebooknya : "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah”, “Berdamai dengan Bipolar” dan “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”.

Senyum Adinda

    

Cerpen Curhatkita (3)

Oleh Nisa

Betapa terkejutnya, Dinda ketika ada sepasang tangan kekar menariknya. Rasa penasaran membuat Dinda menoleh ke belakang. Ternyata si empunya tangan kekar itu....

"Huh, kenapa sih papa nggak jual aja mobil bututnya itu, ganti sama yang baru. Aku pasti nggak perlu naik bus jadi nggak berdesakan seperti ini. Pengap lagi, nggak bisa nafas. Belum lagi bau asap rokok plus keringat dan plus-plus lainnya. Lengkap deh bauku hari ini. Kalo begini tiap hari, bisa-bisa wangi parfum Bluberyku berubah jadi bau tujuh rupa." Gerutu Dinda dalam hati.

Dinda sibuk bergelayutan layaknya beberapa penumpang yang lain. Bus sudah penuh sesak. Tapi, pak supir itu masih enggan menjalankan kendaraannya.

Beberapa kali, Dinda menyeka butir-butir keringatnya yang mulai mengucur dengan tissuenya. Entah itu, sudah tissue yang ke berapa yang Dinda ambil dari sakunya.Yang pasti, di bawah kakinya sudah berserakan tissue-tissue basah oleh keringatnya.

"Mbak, jangan buang tissue sembarangan dong.Tuh lihat, jadi nempel di sepatu saya." Kata seorang bapak yang kebetulan berdiri di sebelahnya.

Dinda hanya melirik sebentar tapi kemudian dia kembali asyik menyeka butiran keringatnya yang masih enggan berhenti mengucur.

Tak lama kemudian,akhirnya bus itu jalan juga. Dinda menarik napas lega. "Phhff..akhirnya jalan juga. Dari tadi aja jalan,keringatku gak perlu mengucur deras seperti ini."

Tiba-tiba ngiikkk..!!! Pak supir menginjak rem mendadak. Spontan para penumpang terkejut dan hampir jatuh. Para penumpang berteriak histeris dan mengeluarkan sumpah serapah yang di tujukan untuk sang supir tersebut. Tak terkecuali,Dinda yang jatuh mencium ketiak cowok jelek di depannya.

"Hehehe..wangi ya mbak ketiak saya." Kata cowok jelek itu sambil nyengir.

Dinda tambah gondok. "Wangi apanya? Enak aja ini kecelakaan tau! Tuh,gara-gara supir brengsek. Nginjak rem nggak bilang-bilang dulu lagi!" Jawab Dinda sewot. Ia membuang muka,tidak ingin berlama-lama menatap wajah cowok jelek itu. Takut semakin geer.

"Lha,kalo nggak wangi. Kenapa mbak masih ciumin aja tuh buktinya?" Balas si cowok jelek itu sambil tertawa cekikikan.

Dinda baru sadar.Posisinya masih mencium ketiak cowok jelek itu. Ia buru-buru membenarkan posisinya kembali ke posisi semula. Tepatnya,sebelum cowok jelek itu makin geer. Wajahnya memerah menahan malu yg sudah sampai di ubun-ubun kepala. Dinda mengepalkan tangannya.I ngin rasanya, ia melayangkan sebuah tinju ke wajah cowok jelek itu. Tapi, situasi tidak menguntungkan baginya. Lalu,ia kembali berpegangan pada tiang atas bus. Wajahnya cemberut.

"Pak, pelan-pelan dong bawa mobilnya! Pake rem mendadak lagi. Bisa bawa mobil apa nggak sih?" Maki Dinda kesal.

"I'm soly,mbak. Itu ada youl gand mothel lewat." Jawab sang sopir sekenanya. Sambil tangannya menunjuk seorang nenek tengah menyeberang.

"Dasar nenek nggak tau diri! Nyebrang seenaknya. Di kira ini jalanan miliknya apa?" Gerutu Dinda sewot. Spontan para penumpang tertawa serempak. Tapi, tidak dengan Dinda. Ia kesal setengah mati. Ingin rasanya, ia melempar si supir norak itu pake sepatu ketsnya. Paling nggak sepatu ketsnya itu sudah lulus uji coba buat nimpuk anjing di kompleks rumahnya. Waktu Dinda di kejar-kejar anjing itu.

Mengingat kondisinya yang tidak memungkinkan. Maka Dinda mengurungkan niatnya. "Huh,enak aja tuh supir masa nenek jelek, kurus plus bongkok kayak gitu di bilang nenekku. Sok pake bahasa inggris lagi. Udah belepotan, kayak gado-gado juga. Dasar norak !!" Maki Dinda dalam hati.

Tak berapa lama,bus kembali melaju. Menyusuri jalan-jalan Jakarta yang pagi itu padat merayap. Tapi,tiba-tiba ngiiikk..!!! Lagi-lagi rem mendadak.Hampir saja Dinda terjatuh lagi. Bisa bertambah geer cowok jelek di depannya itu.

Betapa terkejutnya, Dinda ketika ada sepasang tangan kekar menariknya. Rasa penasaran membuat Dinda menoleh ke belakang. Ternyata si empunya tangan kekar itu seorang cowok keren. Sekeren Edward Cullen si vampire di film Twilight. Dorong-dorongan para penumpang malah membuat Dinda jatuh lagi.Tapi, kali ini berbeda. Dinda jatuh ke dalam pelukan si cowok ganteng itu.

"Ah,kenapa jantungku berdegup kencang yah? Apa cowok ini mendengar bunyi degup jantungku juga yah?" Tanya Dinda dalam hati. Beberapa detik kemudian,Dinda kembali berdiri ke posisi semula.

"Ma..maaf yah." Kata Dinda pelan. Wajahnya semakin merona merah. Betapa tidak, Dinda bisa merasakan kehangatan dalam pelukan cowok ganteng itu meski hanya untuk beberapa detik saja.

"Ah,nggak apa-apa! Lain kali,hati-hati yah. Pegangan yang kuat, jangan sampai jatuh lagi." Kata cowok itu sambil mengangguk plus bonus senyumnya. Yang membuat Dinda semakin melayang ke langit tingkat ke tujuh. "Gila, lama-lama gue di bus ini bisa-bisa gue terbang melayang tinggi." Kemudian Dinda kembali teringat pada sang supir norak itu.

"Ada apa lagi sih pak ? Nenek-nenek nyebrang lagi ?" Tanya Dinda sewot.

"Soly mbak,bukan nenek-nenek. Tapi, itu kucing peliharaan mbak lewat tanpa permisi dulu !" Jawab sang supir sekenanya.

Dinda semakin gondok. Dinda menoleh lagi ke belakang. "Terima kasih ya." Kata Dinda seraya menampilkan senyum termanisnya hari itu. "Wow,cowok keren ! Pangeran impianku! Akhirnya ketemu juga. Hore!! Asyik!!" Dinda melonjak-lonjak kegirangan. Ia baru berhenti ketika ada beberapa pasang mata menatapnya dengan pandangan aneh.

Wajahnya merona merah. Untungnya,Dinda sudah sampai di sekolahnya. Dia tergesa-gesa turun dari bus. Tanpa berani menoleh ke arah cowok keren itu." Huh,bodoh,bodoh,bodoh!! Bikin malu aja nih." Gerutu Dinda sambil menepuk-nepuk kepalanya. Dinda tak menyadari sepasang mata sedang mengawasinya di belakang."

Hei,kenapa Din? Lagi marah ya?" Ira menepuk pundak Dinda pelan. Sambil menunjukkan nyengir kudanya.

"Gak,lagi ketawa Ra. Udah tau lagi marah pake nanya lagi." Jawab Dinda sewot.

"Din, iya aku tau kamu lagi marah! Tapi,marah kenapa? Marah kan ada penyebabnya juga, Din?" Tanya Ira bingung.

"Masa sih tiba-tiba marah begitu aja. Nggak masuk akal kan? Kamu mau tau kenapa gue marah, Ra?" Tanya Dinda lagi. Ira mengangguk penuh harap.

"Gue kesel sama sopir bus jelek, nggak bisa setir mobil, sok pintar bahasa Inggris lagi! Dasar norak tuh supir!" Jawab Dinda sewot. Dinda segera meninggalkan Ira sendirian yang terpaku keheranan. Keningnya berkerut. Bingung. Melihat keanehan sahabatnya itu.

"Kenapa sih sama si Dinda hari ini? Nggak biasanya kayak gitu. Salah minum obat kali yah?" Gerutu Ira dalam hati sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Dinda berjalan dengan langkah lebar. Menuju kelasnya. Di lemparkan tasnya di atas meja. Ia menghempaskan tubuhnya di atas kursi itu. Tangannya menopang dagunya. Pikirannya melayang hinggap pada kenangan di bus tadi. Dinda tersenyum manis membayangkan kejadian tadi.

"Din,kamu kenapa sih tadi? Kamu salah minum obat yah hari ini? Tadi,kamu marah-marah. Sekarang senyam-senyum sendirian?" Tanya Ira semakin bingung. Ke dua alisnya mengkerut.

"Aduh,lo cerewet banget sih Ra! Gue pusing tau!! Mengganggu aja sih! Lagipula apa urusannya sama lo, gue mau marah-marah kek, gue mau senyam-senyum kek. Yang penting,gue nggak mengganggu orang lain !" Jawab Dinda kesal. Ia segera berlari keluar kelas. Tiba-tiba,Brukk..!! Dinda jatuh terhempas ke lantai. Ia meringis kesakitan.

Ada seseorang yang mengulurkan tangannya membantunya berdiri. Dinda terperanjat. Tak percaya.Ia menutup mulutnya."L..lho,kk.. kamu yang tadi di..di bus kan?"Tanya Dinda tak percaya. Ia mencubit tangannya. “Auww,sakit!! Jadi,ini bukan mimpi?" Kata Dinda sambil meringis kesakitan.

"It's not a dream,nona cantik!! This is true!" Jawab si cowok ganteng tersebut.

Dinda langsung berlari kembali menuju kelas. Wajahnya penuh dengan senyum kegembiraan yang terpancar di wajahnya.

Apalagi ketika cowok ganteng itu masuk kelasnya. Dinda kembali teringat kejadian di bus tadi. Ia tersenyum lebar.

"Ehem,kamu sedang memikirkan apa?" Sebuah suara mengejutkan Dinda.

Dinda menoleh mencari asal suara tersebut. Matanya terbelalak lebar. Ia menutup mulutnya. Tak percaya. "N..nggak, nggak lagi mikirin apa-apa kok." Jawab Dinda gugup. Sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu. Upps..hampir aja ketahuan, kalo lagi mikirin dia!

"Perkenalkan saya adalah guru Bahasa Inggris kalian yang baru. Saya menggantikan pak Budi yang berhenti. Nama saya Arman Setiadi"

Dinda kembali tersenyum manis. Wajahnya tetap merona merah.

"Kalian boleh panggil saya pak Arman saja."

"Yess!!" Jerit Dinda dalam hati. "Uppss..untung pak Arman tidak tau kalo aku sedang membayangkan dirinya. Ah, pangeran impianku." Senyum Dinda kembali merekah.

Jakarta, Desember 2010


Anda bisa berteman dan mengenal Nisa lebih dekat di akun facebooknya.

Bagaimana menurut anda cerpen yang anda baca ini? Kami tunggu komentar anda.
Cerpen ini merupakan posting penutup Curhatkita tahun 2010.

Sampai Jumpa di 2011!

Jika menurut anda tulisan ini cukup menarik dan bermanfaat silakan share di twitter atau facebook dengan mengklik tombol share di bawah atau di atas posting ini. Jika mau berlangganan artikel blog ini melalui email, silakan subscribe disini.

Cerpen ini bisa dibaca dari ponsel anda. Masukan URL ini: http://mippin.com/curhatkita atau http://buzzcity.mobi/curhatkita di browser ponsel anda.

[Photo Ilustrasi : Asmirandah]


Bookmark and Promote!



Artikel Terkait:

Ingin mendapat artikel seperti ini langsung ke Email anda? Silahkan masukan alamat email anda untuk berlangganan.

eBook 1: "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah"

Buku psikomoar ini bercerita tentang pergumulan saya selama bertahun-tahun dengan gangguan jiwa yang tidak saya fahami dan membuat saya bertanya-tanya, “Apa yang terjadi dengan diri saya? Penyakit apa yang saya alami? Bagaimana cara mengatasinya?” Ironisnya, saya baru tahu apa yang terjadi dengan diri saya, 8 tahun setelah saya pulih, bahwa saya mengalami Gangguan Bipolar. [Selengkapnya]




eBook 2: "Berdamai Dengan Bipolar"

Bagaimana mengenali dan mengatasi Gangguan Bipolar?
Bagaimana menanggapi sikap negatif orang-orang di sekitar anda?
Bagaimana mendampingi orang yang mengalami Gangguan Bipolar? eBook ini memberi jawaban dan solusi alternatif penanganan Bipolar. [Selengkapnya]



eBook 3: “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”

eBook ini merupakan inti dari pengalaman dan pemahaman bipolar saya. Inti dari tulisan-tulisan saya di buku, ebook, blog, facebook, twitter dan media lainnya. eBook ini bukan teori-teori tentang gangguan bipolar! Bukan formula ajaib untuk mengatasi gangguan bipolar! eBook ini tentang tindakan, langkah-langkah penanganan bipolar. [Selengkapnya]


eBook Novel: “Pengorbanan Cinta”

Novel ini bukan sekedar kisah cinta yang romantis dengan segala macam konflik di dalamnya. Saya berani menyebut novel ini sebagai “Buku Pelajaran Cinta”. Beda dengan buku pelajaran pada umumnya, Buku Pelajaran Cinta ini tak membosankan, malah sangat mengasyikan dibaca. Setelah mulai membaca, jamin Anda tak ingin berhenti dan ingin terus membacanya sampai akhir cerita. [Selengkapnya]



eBook Panduan: “7 Langkah Mudah Menyusun & Memasarkan eBook”

Jika dikemas dengan desain cover yang apik dan diberi judul yang manarik, kumpulan posting blog atau catatan facebook anda bisa disusun menjadi sebuah ebook yang akan memikat pembaca di ranah maya. Selanjutnya ebook anda tinggal dipasarkan secara online.
[Selengkapnya]

 
 © Copyright 2016 Curhatkita Media  template by Blogspottutorial