Oleh TarjumWaktu itu sekitar jam 10 malam.
Aku, istri dan kedua anakku sudah berada di tempat tidur, sebentar lagi kami semua akan tertidur pulas.
Tiba-tiba terdengar suara berisik di luar. “Pulang! Ayo pulang…jangan ke sana!” Teriak seorang pemuda yang ku kenal dengan suara cukup keras.
Aku dan istriku bangkit dari tempat tidur. Menyingkap gorden dan membuka jendela kamar, dengan penuh tanda-tanya menengok keluar kamar. Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Ternyata suara teriakan itu adalah suara Doni dan Toni, dua pemuda tetangga sebelah yang sedang tugas ronda malam itu. Doni dan Toni mengejar dan memanggil-manggil seorang perempuan tua yang terus berjalan di samping rumah, menuju ke arah kebun rambutan di belakang rumah ku.
“Ada apa Don? Siapa perempuan itu?” Tanyaku.
“Itu, orang gila! Tadi dia duduk di kursi teras depan rumah Mang Tarjum. Saya suruh pergi, eh, dia malah ngeloyor ke belakang rumah,” jawab Doni, seraya bergegas mengejar prempuan tua itu.
Perempuan tua yang hilang ingatan itu sepertinya sering berkeliaran di jalan raya. Aku lihat sekilas dia mengenakan baju kebaya kumal dan kain batik sebatas lutut. Rambutnya yang sebagian sudah memutih dibiarkan menggerai tak terurus. Karena suasana di belakang rumah agak gelap, aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Aku, Doni dan Toni mengikuti perempuan tua yang terus berjalan cukup cepat masuk ke kebun rambutan.
“Mak..mak! Ke sini, jangan ke sana gelap, nanti dipatuk ular. Ayo, balik kesini!” Aku dan Doni memanggil-manggilnya dan mencoba menakut-nakuti perempuan tua itu. Tapi, dia tak menghiraukan panggilan kami. Dia malah mengucapkan kata-kata yang tak kumengerti sambil mengais-ngais dedaunan dan ranting di bawah pohon rambutan.
Suasana di kebun rambutan itu cukup gelap, aku hanya melihat samar-samar gerak-geriknya yang cukup lincah. Aku mencoba mendekati dan mengajaknya keluar dari kebun rambutan. “Mak, jangan ke sana! Takut banyak ular, ayo balik ke sini!” kataku berusaha membujuk.
Dia malah mengucapkan kata-kata bernada kesal padaku dalam bahasa jawa, “Bocah ke rewel tenan sih….tak bledog ning aku ya!” (Anak ini rewel banget sih, mau aku lempar apa!).
Aku lihat dia mengambil ranting pohon rambutan kering. Matanya melirik ke arahku. Aku mundur beberapa langkah, khawatir dia benar-benar melemparku dengan ranting itu. Sambil mengomel dengan bahasa jawa, dia bergegas berjalan ke arah timur menjauhiku.
Setelah upaya untuk membujuk perempuan tua itu tak berhasil, Doni dan Toni, kembali melanjutkan tugas ronda malam itu, berkeliling ke tempat lain. Sementara aku masih berdiri di kegelapan malam di tengah kebun rambutan.
Kulihat samar-samar perempuan tua itu semakin manjauh dari tempatku berdiri. Aku mencoba mangikuti kemana dia pergi dari kejauhan. Di ujung kebun dia berbelok ke arah selatan. Aku masih terus mengikutinya dari kejauhan. Kulihat dia berdiri di bawah sebuah pohon rindang. Dia seperti mencari dedaunan untuk alas duduk atau mungkin tidur.
Yang aku khawatirkan dia akan berjalan lurus ke arah timur. Sebab beberapa meter dari ujung kebun rambutan itu ada pesawahan. Antara sawah dan kebun dipisahkan oleh tebing yang cukup tinggi dan dibawahnya mengalir selokan. Jika perempuan tua itu terus berjalan lurus di kegelapan, bisa saja dia akan terjerembab dan jatuh dari tebing ke selokan di bawahnya.
Aku agak lega, ternyata dia berbelok ke arah selatan. Dari ujung kebun rambutan itu ada jalan setapak ke arah selatan yang berbelok kembali barat menuju pemukiman penduduk. Jadi, kalau dia terus berjalan mengikuti jalan setapak itu dia akan masuk kembali ke pemukiman lalu ke jalan raya.
Setelah berdiri beberapa saat di kegelapan malam yang dingin menggigit, memperhatikan gerak-gerik sang perempuan tua itu, aku membalikkan badan dan kembali ke rumah. Aku berharap tidak akan terjadi apa-apa padanya.
Pagi-pagi, saat aku menyapu lantai teras depan dan samping rumah, aku melihat sebungkus roti, segelas air mineral, dan sebatang rokok disamping kursi. Roti dan air mineral masih utuh, belum dibuka. Sedangkan sebatang rokok itu sepertinya sudah dihisap seperempat batangnya.
Aku ingat kejadian tadi malam. Menurut Doni, perempuan tua yang semalam di suruh pergi itu, sebelumnya duduk di kursi teras depan rumahku. Tadinya mungkin dia duduk di sana untuk makan roti dan minum segelas air sambil menikmati sebatang rokok. Namun, kerana keburu ketahuan petugas ronda, dia diusir pergi.
Roti, air dan rokok yang tertinggal di teras depan rumahku, belum sempat dia nikmati. Kasihan juga perempuan tua itu.
Seandainya semalam aku tahu lebih dulu sebelum petugas ronda datang, perempuan tua itu tak akan aku suruh pergi dari rumahku sebelum dia menghabiskan makanannya.
Maafkan aku Mak Tua, gara-gara petugas ronda dan aku, kau tak sempat menikmati roti, segelas air dan sebatang rokok yang kau punya. Padahal mungkin kau merasa sangat lapar tadi malam.
Aku hanya bisa berdo’a untukmu, semoga Tuhan melindungimu dari mara bahaya. Semoga Tuhan menunjukan jalan kesembuhan dan mempertemukanmu dengan orang-orang kau cintai. Amin.
Inspirasi apa yang anda dapatkan dari cerita ini? silakan berbagi di komentar.
Jika menurut anda posting ini cukup menarik dan bermanfaat silakan share di twitter atau facebook. Jika mau berlangganan artikel blog ini melalui email, silakan subscribe disini.
Tentang Penulis : Tarjum, pendiri dan editor Curhatkita. Anda bisa kenal lebih dekat dengan Tarjum di Facebook dan Twitter.
Artikel Terkait:
- Hati-Hati dengan “Sang Pencuri Impian”
- Cinta yang Luar Biasa Seorang Ayah kepada Anak Angkatnya
- Pengamen Nyentrik di Markas Polres Subang
- Apa kata Krisna jika Melihat Kisah Cinta Rais dan Risna?
- Mengapa dan Bagaimana Dia Jadi Tongki?
- Ebook True Story “Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah”
- Inpirasi dari film “Mongol”, True Story Genghis Khan
- Tanggung Jawab dan Keberanian yang Luar Biasa Dua Ekor Semut Pemimpin
- Ibuku, Tak Pernah Membentak Apalagi Memukulku
- Gabriel Muniz, Bocah Tanpa Kaki yang Punya Talenta Luar Biasa
- Ayahku adalah Sahabat, Teman Curhat dan Penasihatku
- Ujian Tuhan untuk Seorang Istri Luar Biasa yang Bijaksana dan Berjiwa Besar
- Kejujuran Iblis Kepada Nabi Muhammad SAW ( 2 )
- Kejujuran Iblis Kepada Nabi Muhammad SAW
- Seorang Karyawati Nekad Bunuh Diri
- Pelajaran Berharga dari Nenek “Berbibir Merah” di Lereng Merapi
- Bagaimana Mengatasi Kejenuhan Rutinitas Kerja dengan Cara Sederhana namun Unik dan Berkesan
- Pelajaran Berharga dari Seorang Janda Tua
- Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Pasukan Super Khusus Amerika Serikat, “Tim Enam” Navy SEAL?
- Bagaimana Bertahan Hidup Selama 3 Minggu di Lautan Lepas?
- Zhang Da, Bocah Tangguh yang Pantang Menyerah!
- Inilah Kaver buku “Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah”
- Keajaiban Memberi
- Ketegaran Jiwa Seorang Sekizofrenia
- Menjalani Proses Pengobatan dan Pemulihan Gangguan Jiwa, Butuh Keyakinan dan Kesabaran
- Mengapa dan Bagaimana Dia Jadi Tongki?
- Banyak “Tongki” Masuk ke Desa Kami
- Tanggung Jawab dan Keberanian yang Luar Biasa Dua Ekor Semut Pemimpin
- Sahabat yang Unik dan Langka
- Di Ujung Senja Menanti Sang Kekasih
- Ibuku, Tak Pernah Membentak Apalagi Memukulku
- Ayahku adalah Sahabat, Teman Curhat dan Penasihatku
- Kenangan Indah di Tangkuban Perahu dengan Teman, Kekasih dan Anak Istri
- Tuhan Kadang Mengabulkan Do'a Kita dengan Cara yang “Unik” dan Tak Pernah Terbayangkan
- Rekaman Wawancara Tentang Bipolar Dengan Penyiar Radio Nederland Wereldomroep (RNW)
- Ada Apa di Tahun Baru 2012?
- Indah dan Uniknya Persahabatan di Dunia Maya
- Testimoni
- Selamat Idul Fitri 1432 H
- Hanya Dalam 6 jam Kehilangan 2 Penopang Hidup Keluarga
- Antara Atlet dan ODB
- Jangan Takut untuk Mencintai, Seseorang sedang Menunggu Kedatangan Anda
- Sahabat, Tapi juga Musuh Dalam Selimut yang Lambat Aku Kenali
- Saling Berbagi untuk Mencari Solusi Terbaik Penanganan Gangguan Bipolar
- Oleh-Oleh Nyantri di Pesantren Ustad Yusup Mansyur
- Jangan Hanya Mencari Obat, Tapi Cari Dulu Sang Pemilik Obat!
- Pengorbanan Cinta
- Luapan Semangat dan Gairah yang Saya Alami, Bukan Manik!
- Komentar dan Saran dari Teman Facebooker dan Blogger
Ingin mendapat artikel seperti ini langsung ke Email anda? Silahkan masukan alamat email anda untuk berlangganan.
Komentar :
Yah itulah yang akan terjadi mas Tarjum disaat ODMK yang sudah kehilangan "support system" terutama dari keluarganya. Semoga tidak banyak lagi mak tua..mak tua lain yang mengalami keadaan seperti itu.
Terharuuuu
@Entik,
Itulah pentingnya “support sistem”, dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat kepada ODMK. Namun kadang karena faktor ekonomi, keluarga ODMK tak berdaya menanggung beban berat yang harus di pikul untuk mendukung dan membantu ODMK. Kadang juga karena ketidak tahuan keluarga ODMK yang menganggap gangguan jiwa sebagai aib atau kutukan.
@Anonym,
Jika anda terharu, mohon bantu dia dengan do’a agar menemukan jalan kesembuhan dan dipertemukan dengan orang-orang yang dicintainya.
Posting Komentar
Sampaikan komentar terbaik anda di kolom komentar :)