Tiga Serangkai eBook Bipolar
3 eBook Bipolar ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata penulisnya. Mengupas secara detail dan sistematis dari gejala awal, saat berada di puncak manik dan depresi, sampai langkah-langkah pemulihannya. Inilah ebooknya : "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah”, “Berdamai dengan Bipolar” dan “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”.

Bukan Manusia, Jika Itu Sempurna ( 35 )

    

Ternyata, “Bukan Manusia, Jika itu Sempurna” Belum Berakhir

Oleh Tresya Agnashila



Dia datang, disaat aku sedang mempersiapkan pelaminan.

Ya Ttuhan, kenapa engkau menuntun langkah kakinya untuk berjalan tepat dihadapanku. Saat ini, disaat aku sedang mempersiapkan pernikahanku bersama orang yang sangat mencintaiku.

Benar apa yang pernah dikatakan seorang ulama, ada 3 macam cara tuhan menjawab doa kita.
Pertama, mengabulkan doa/permintaan kita saat ini juga.
Kedua, mengganti doa/permintaan kita dengan sesuatu yang jauh lebih baik untuk kita.
Ketiga, menunda doa/permintaan kita hingga tiba nanti saatnya.

Dan mungkin, kini aku sedang mendapatkan jawaban ketiga.

Iya, tidak kupungkiri, dahulu kala, hampir setiap detik dan setiap nafasku aku memohon kepada Tuhan,
“ya Tuhan, kembalikan mas Doni padaku….”
“ya Tuhan, tolong sampaikan salam rinduku pada mas Doni…”
“ya Tuhan, tolong bimbing langkah mas Doni untuk datang kembali padaku…”
“ya Tuhan, tolong getarkan hati mas Doni untuk selalu mengingatku…”
Dan masih banyak lagi caraku memohon kepada tuhan untuk membawa mas doni kembali kepelukanku.

Namun, Tuhan mengulur waktu yang teramat sangat lama, sedangkan aku, mungkin memang benar, aku tak pantas mendapatkannya. Aku bukan orang yang cukup setia untuk cintanya. Nyatanya, kini aku lebih memilih Tirta. Lebih memilih menyerahkan hidup, diri dan cintaku untuk Tirta.

Tapi kenapa? apa yang sebenarnya tuhan rencanakan untuk hidupku? kenapa kini disaat hatiku sudah tak lagi mengharapkannya, dan hatiku sudah benar-benar ingin bersanding pada tirta, tuhan membawanya kembali padaku. Dan dia ucapkan, dia masih sangat mencintaiku.

Ya Tuhan…………… Bolehkah aku marah padamu ?????????????
Kenapa engkau mempermainkan perasaan hambamu yang sangat lemah ini ?
Apa sebenarnya rencanamu ?

Mungkinkah ini ujian untuk cinta dan setiaku pada Tirta ?
Atau inikah jawaban dari doa-doa ku dulu yang kau tunda ?
Lantas aku harus bagaimana ???

Tuhan, selama ini, hanya kepadamulah aku menyerahkan semua hidup dan langkahku…
Hanya padamulah aku mengadu dan membiarkan engkau memberiku pilihan yang terbaik. Tapi apa sebenarnya semua ini ? disaat engkau telah menunjukan semua kebaikan dan kesempurnaan tirta, kini kenapa juga engkau kembalikan mas doni padaku….

Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan???

Aku mencintai tirta, karena dialah orang yang selama ini selalu ada disampingku… saat dukaku, saat-saat terlemahku, dan saat aku sudah tak mampu menghadapi dunia. Dialah orang yang mengembalikan senyumku… membawaku berlari dan membuang semua kenangan pahit bersama mas doni. Melepaskan aku dari jeratan bayang-bayang mas doni.. dan mengajakku melangkah dalam penantian cinta mas doni.

Tapi mas doni, dia adalah orang yang mengenalkanku pada cinta… dialah cinta pertamaku. Dan dia orang yang tak pernah berdosa padaku. Dia adalah pria yang pernah sangat mencintai dan aku cintai. Dia juga adalah pria yang pernah aku sakiti. Dia berhak marah padaku…tapi aku juga berhak marah padanya. Kenapa setelah sekian lama, dia baru kembali dan mempertanyakan cinta kita….

Sore itu,di hari Jumat, aku memutuskan untuk berlibur pulang ke kampung halamanku. Rumah yang sudah lama aku tinggalkan… dan tirta kekasih hati yang selama ini selalu mengunjungiku.

Rencana pernikahan kami sudah mulai matang, tahun, bulan dan tanggal sudah ditentukan. Memang masih cukup lama, mengingat kami berdua masih sama-sama sibuk dengan pekerjaan, dan rumah yang kami bangun juga masih belum sempurna, kami memutuskan untuk tidak tergesa-gesa melaksanakan pernikahan.

Tirta sangat mengerti aku adalah orang yang sangat menghargai moment-moment penting. dan dia juga ingin, bahwa pernikahan kami nanti menjadi sempurna, seperti apa yang kami berdua inginkan. Dan untuk semua itu, pasti butuh waktu yang cukup lama untuk mempersiapkan segalanya.

Kami sepakat, untuk menikah di kota kelahiranku dan kota dimana tempat kami bertemu. Untuk mempermudah semua nya di Hari H nanti, aku memilih untuk menggunakan semua jasa pernikahan yang ada di kotaku. Jadi mungkin mulai saat ini, setiap weekend, aku lah yang harus bolak balik dari kota dimana aku bekerja ke kota kelahiranku.

Kali ini tirta tak bisa menjemputku, dia masih sangat sibuk dengan pekerjaannya dan lusa dia juga harus keluar kota. Terpaksa aku naik bus karena tirta tidak memperbolehkanku untuk menyetir sendiri dalam jarak yang cukup jauh. Sepulang dari kantor, aku diantar oleh supir kantor menuju terminal.

Tadinya pak seno (driver kantor) menawarkan untuk mengantarku pulang sampai di rumah, tapi engga lah… jarak dari kantor ke rumahku jauh banget. Hampir 3 jam perjalanan. Kasihan juga dia nanti pulang kesini sendirian. Toh aku juga jarang banget naik kendaraan umum, sekali-kali boleh lah…pasti menyenangkan nanti bertemu dengan banyak orang.

Sampai di terminal, pak seno mencarikanku Bus Patas yang menuju ke kotaku. Setelah mendapatkan tiket, aku naik dan duduk dikursi nomor 12. terminal terlihat cukup ramai, banyak terlihat para mahasiswa dan orang-orang seumuranku yang sepertinya juga akan mudik ke kota mereka masing-masing. Ternyata seru ya naik Bus Umum… banyak pedagang asongan yang menjajakan dagangannya, ada tahu, arem-arem, permen jahe, dan banyak minuman kaleng lainnya.

Kemudian yang paling bikin aku seneng, banyak pengamen yang beramai-ramai membawa gitar, kendang dan gitar kecil yang kurang lebih kalo nggak salah namanya gitar Kencrung. Suara mereka cukup merdu, dan lagu-lagu yang dibawakan mereka cukup asyik…lagu pop diiringi dengan tabuhan kendang, sontak membuat kaki ini menjadi ingin ikut bergoyang…

Tapi sayang. Ternyata mereka hanya boleh bernyanyi dan menawarkan jajanan hanya ketika di terminal. Ketika bus berjalan, mereka semua turun, dan bus pun menjadi sangat sepi…hanya terdengar suara mesin yang meraung-raung.

Dalam perjalanan. Entah setan apa yang merasuki pikiranku, tiba-tiba saja aku teringat oleh mas Doni… ya, dulu kami pernah naik bus seperti ini. Ketika kami akan menghadiri malam akrab di akademinya, kami menaiki bus akademi yang hawanya seperti ini.

“Haaah…mas doni, mas doni…. Seperti apa rupamu sekarang mas.. tambah gemuk kah? kurus kah ?” hehehe… aku cuma bisa tersenyum mengingatmu.

Hampir 3 jam perjalanan, aku sudah memasuki kotaku, segera aku menelfon tirta mengabarkan bahwa aku hampir sampai di terminal.
“assalamualaikum….”
‘waalaikumsalam “
“sayang, aku udah masuk kota. Jemput di terminal sekarang ya ?”

“Maaf sayang, nanti biar anggotaku yang jemput kamu ya. Barusan aku dapet kabar ada anggotaku yang kecelakaan. Dia nggak ada keluarga disini. Ini aku lagi perjalanan ke rumah sakit, nanti biar aku suruh orang buat jemput kamu. Nanti kalo semua udah selesai aku langsung kerumah “

“ haaah ? ada yg kecelakaan ? ya udah kalo gitu biar aku naik angkot/taksi aja. Udah kamu pasti lagi repot, lagian ini kan pribadi, nggak enak kalo suruhan orang kantor buat jemput aku. Lagian aku kan masih pacarmu, belum jd istrimu. Dah biar aku pulang sendiri aja. Kamu ati-ati ya di jalan…”

Awalnya tirta menolak dan memaksa agar aku dijemput oleh anggotanya, tapi setelah perbincangan kami yg cukup lama, akhirnya tirta menyerah juga.

Sampailah aku diterminal…. Waduuuuh, aku bingung. Gimana nih ? tadi di terminal sana masih ada pak seno yang menemani, tapi sekarang aku sendiri, cari angkot/taksi nya dimana ni ???

Terminal di kotaku tidak seperti di terminal kota-kota besar lainnya. Kotaku adalah kota yang kecil mungil sepi dan damai. Jadi jam segini, kira-kira jam 9 malam, terminal pun juga udah sepi….
Turun dari bus, aku diam duduk sejenak untuk sekedar menghela nafas…
“hhhmmm….. lumayan juga lah, pengalaman malem-malem sendirian di terminal.”
Ada beberapa pria yang menghampiriku untuk menawarkan jasa ojek..
“ mbak ojek mbak… kemana mbak ? saya Bantu bawa tas nya “
“ engga pak, terima kasih…saya cari angkot aja “

Tak berapa lama, aku menghampiri seorang bapak-bapak tua yang terlihat seperti petugas di terminal.
“maaf pak, numpang Tanya. Kalo cari angkot/taksi disebelah mana ya pak ?”
“oh, mbak nya keluar aja. Di luar banyak angkot dan taksi tinggal pilih jurusan mana. Kalo didalem nggak ada, didalem yg boleh masuk cuma bus sama kendaraan roda dua.”
“oh baik pak, makasih ya pak infonya.“

Mendengar jawaban dari bapak tadi, aku segera bergegas berjalan keluar terminal. Aku sengaja berjalan perlahan menelusuri warung-warung yang menyediakan berbagai macam oleh-oleh khas kotaku… banyak juga terlihat pengamen, pedagang asongan dan peminta-minta yang sedang beristirahat sambil menghitung rejeki berbentuk lembaran dan kepingan rupiah dari kantong permen mereka. Ada juga ibu-ibu penjaga warung yang dengan baju setengah terbuka, sedang menggesek-gesekan uang logam ke lehernya hingga merah-merah. Hahahaaa….. cukup menarik pemandangan diterminal ini.

Tapi entah semalam aku mimpi apa, entah tadi siang ada badai apa, dan entah entah entah apa yang terjadi dalam hidupku saat ini……. Tepat dihadapanku, aku melihat seorang laki-laki, dengan postur tubuh yang sangat tinggi, memakai baju seragam dinas berwarna hijau, bermotif doreng, dengan baret warna hijau menutupi kepalanya dan menggenggam tas ransel warna hitam di tangan kanannya.

Aku pernah melihat wajah ini, dan sudah barang tentu dia sangat tak asing lagi.

Mas doni, pria yang selama ini aku tunggu…. Pria yang bertahun-tahun lalu aku harapkan berdiri didepanku seperti ini. Pria yang pernah sangaaat amat sangat aku cintai. Dan pria yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidup ini.

Kami sama-sama diam. Mungkin saat itu kami sama-sama tertegun. Kaget, dan apalah… yang pasti saat itu tubuhku terasa sangat panas. Badanku lemas, kakiku seakan bergetar dengan hebat. Air mataku seperti sudah penuh dan tak tertampung lagi, tangan ingin gemetar, dan dada ini rasanya sungguh dasyat… entah berdetak, bergetar atau apa. Aku sudah tidak bisa merasakan.

Nafasku hampir saja berhenti…. Beruntung aku tidak memiliki riwayat penyakit jantung, mungkin jika iya, saat ini juga aku terkena serangan jantung.

Haaaaaaaah…… sungguh ini gila. Tubuhku sudah sangat lemas. Entah aku harus berbuat apa.

Dia terlihat sangat tegang, bahkan tak sekalipun kulihat dia mengedipkan matanya. Tampaknya dia lebih kaget dari pada aku.

Cukup lama kami berdiri. Saling menatap dan saling merasakan keanehan dalam tubuh kami.

Entah apa yang ada dipikiranku. Aku sama sekali tak punya daya untuk menyapa atau tersenyum padanya. Yang kulihat saat itu hanya kursi kayu berwarna coklat di depanku. Tanpa pikir panjang, aku langsung melangkahkan kedua kakiku untuk duduk menenangkan diriku sendiri dikursi panjang itu.

Haaaaaah, kini baru aku bisa bernafas. Huuuuuuuuuh, rasanya ingin menangis, tapi kenapa ? apa alasanku hingga aku harus menangis ?

Ingin rasanya berteriak kencang, tapi apa yang harus aku teriakkan ? ingin rasanya kubaringkan badan ini, tapi tak mungkin. Aku hanya bisa menyandarkan punggungku dan terus mengambil nafas dengan tatapanku yang masih kosong.

Kudengar langkah kaki yang sangat tegas. Suara sepatunya yang sangat berirama, terdengar jelas ditelinga. Mendekat…dan kian mendekat. Lalu kurasakan bangku ini bergetar, duduklah dia tepat disampingku. Dengan jarak kurang lebih 100 cm.

Aku tak berani melihat e arahnya, aku hanya berani duduk, menatap kedepan sambil memegang kencang tas kerjaku. Kaki ini masih bergetar, tangan ini juga semakin dingin dan gemetar. Cukup lama kami duduk disini, entah memang benar-benar lama, atau aku yang merasa lama.

Tanpa sepatah katapun, dia juga hanya diam. Mungkin dia juga sama sepertiku. Tapi jujur, saat itu tak ada satu pertanyaanpun atau satu katapun yang ingin aku katakana padanya. Sungguh kosong, hampa. Benar-benar hampa.

Hingga kurasakan dia menggerakkan tubuhnya. Akhirnya, dia menyandarkan punggung yang tadinya terduduk dengan sikap tegap. Dia angkat kedua tangannya menutupi kedua matanya. Kemudian dia melepas baret hijaunya, lalu dia membungkuk sesaat, dan kembali menegakkan kepalanya.

“Kamu kemana aja?” tanya mas Doni.

Ya tuhan….aku sama sekali tidak mengharapkan moment-moment seperti ini. Aku benci detik-detik ini…aku hancur lagi. Aku ingin ini tak usah terjadi.

Aku hancuuuuuuur….!!!. Aaku tak berdaya dihadapannya. Hanya dengan mendengar suaranya saja, serasa tubuh ini akan meledak. Tangisku sudah tak mampu kubendung lagi. Aku kenapa? mendengar tiga patah kata darinya saja bisa jadi seperti ini?!

Aku heran dengan diriku sendiri, beberapa menit yang lalu aku masih menjadi manusia yang pasif, yang tak tau harus berbuat apa dan tak tau harus berkata apa. Tapi kenapa sekarang aku menangis? air mataku jatuh begitu saja…dadaku terisak-isak. Tangisanku semakin meronta… seperti aku sedang mengeluarkan air mata yang selama bertahun-tahun ini aku simpan.

Mas doni bingung melihat kearahku, dan aku semakin bingung dengan apa yang terjadi padaku. Dia mencoba untuk memegang pundakku atau mungkin lenganku. Tapi aku tak bisa…aku menampik tangannya.
“Tolong….jangan sentuh aku!”
Kata itu yang pertama kali keluar dari mulutku setelah bertahun-tahun kita tidak bertemu.

Mas Doni terlihat kecewa, dia menundukkan wajahnya dan memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Entah seperti apa kita berdua, mungkin banyak orang yang melihat kita, aku terus melanjutkan tangisanku, dan mas Doni terus duduk sambil menundukkan wajahnya.

Bersambung…



Bookmark and Promote!



Artikel Terkait:

Ingin mendapat artikel seperti ini langsung ke Email anda? Silahkan masukan alamat email anda untuk berlangganan.

Komentar :

ada 3 komentar ke “Bukan Manusia, Jika Itu Sempurna ( 35 )
Anonim mengatakan...

ditunggu part 35nya..menegangkan dan bikin penasaran...

liya nimatulmaulla on Rabu, 09 Oktober 2013 18.54.00 WIB mengatakan...

ceritanya makin tambah seru dan menegangkan.kak ditunggu part 36nya

liya nimatulmaulla on Rabu, 09 Oktober 2013 18.56.00 WIB mengatakan...

ceritanya makin tambah seru dan menegangkan.kak ditunggu part 36nya

Posting Komentar

Sampaikan komentar terbaik anda di kolom komentar :)

eBook 1: "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah"

Buku psikomoar ini bercerita tentang pergumulan saya selama bertahun-tahun dengan gangguan jiwa yang tidak saya fahami dan membuat saya bertanya-tanya, “Apa yang terjadi dengan diri saya? Penyakit apa yang saya alami? Bagaimana cara mengatasinya?” Ironisnya, saya baru tahu apa yang terjadi dengan diri saya, 8 tahun setelah saya pulih, bahwa saya mengalami Gangguan Bipolar. [Selengkapnya]




eBook 2: "Berdamai Dengan Bipolar"

Bagaimana mengenali dan mengatasi Gangguan Bipolar?
Bagaimana menanggapi sikap negatif orang-orang di sekitar anda?
Bagaimana mendampingi orang yang mengalami Gangguan Bipolar? eBook ini memberi jawaban dan solusi alternatif penanganan Bipolar. [Selengkapnya]



eBook 3: “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”

eBook ini merupakan inti dari pengalaman dan pemahaman bipolar saya. Inti dari tulisan-tulisan saya di buku, ebook, blog, facebook, twitter dan media lainnya. eBook ini bukan teori-teori tentang gangguan bipolar! Bukan formula ajaib untuk mengatasi gangguan bipolar! eBook ini tentang tindakan, langkah-langkah penanganan bipolar. [Selengkapnya]


eBook Novel: “Pengorbanan Cinta”

Novel ini bukan sekedar kisah cinta yang romantis dengan segala macam konflik di dalamnya. Saya berani menyebut novel ini sebagai “Buku Pelajaran Cinta”. Beda dengan buku pelajaran pada umumnya, Buku Pelajaran Cinta ini tak membosankan, malah sangat mengasyikan dibaca. Setelah mulai membaca, jamin Anda tak ingin berhenti dan ingin terus membacanya sampai akhir cerita. [Selengkapnya]



eBook Panduan: “7 Langkah Mudah Menyusun & Memasarkan eBook”

Jika dikemas dengan desain cover yang apik dan diberi judul yang manarik, kumpulan posting blog atau catatan facebook anda bisa disusun menjadi sebuah ebook yang akan memikat pembaca di ranah maya. Selanjutnya ebook anda tinggal dipasarkan secara online.
[Selengkapnya]

 
 © Copyright 2016 Curhatkita Media  template by Blogspottutorial