Tiga Serangkai eBook Bipolar
3 eBook Bipolar ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata penulisnya. Mengupas secara detail dan sistematis dari gejala awal, saat berada di puncak manik dan depresi, sampai langkah-langkah pemulihannya. Inilah ebooknya : "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah”, “Berdamai dengan Bipolar” dan “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”.

Bukan Manusia, Jika Itu Sempurna ( 34 )

    

Oleh Tresya Agnashila

Sampai di rumah, aku langsung mengambil sample urineku dan aku celupkan alat tes kehamilan ini.

Kutunggu hingga beberapa menit, dan ternyata hasilnya garis satu, yang menandakan itu adalah negatif atau aku tidak dalam keadaan hamil.

Haaaah, lega hatiku, ternyata aku nggak hamil.

Sadar beberapa menit, aku mikir sama diriku sendiri, “Aku ini blo’on apa oneng ya? Kemarin kan aku nggak jadi gitu-gituan sama Tirta, kok hamil?? Hamil dari mana?? Hahahahaha…”

Aku menertawakan diriku sendiri, aku lega dan mungkin aku hanya masuk angin biasa.

Sore hari sepulang kantor, Tirta menelfonku dia tanya, “Kenapa sih tadi siang tanya-tanya kayak gitu? Ada apa lagi? Trus kenapa tadi langsung matiin telfon gitu aja?”

Hehehe… aku cuma nisa tertawa cengengesan aja, sambil terus menggodai dia.

Seminggu berlalu, aku sudah minum obat masuk angina, tapi perut ini masih terasa mual, dan kadang terasa seperti ada jarum yang menusuk-nusuk perut bagian kanan bawahku.

Aku coba periksa ke dokter umum, jangan-jangan aku terkena mag, tapi kata dokter ini bukan mag. Dia hanya memberiku obat masuk angin dan penghilang rasa nyeri.

Satu resep telah habis, tapi tak kunjung sembuh. Kadang ketika aku terlalu lelah, rasa sakit di perutku terasa lebih hebat. Kemudian aku coba konsultasi kembali pada dokter, lalu dokter menyarankanku untuk USG di dokter spesialis kandungan, biar dilihat ada apa dalam perutku, atau mungkin ke dokter penyakit dalam.
Waktu itu aku cenderung ingin memeriksakan diri ke dokter penyakit dalam, tapi ketika aku datang, aku mendapat nomor antrian 57, padahal saat ini baru sampai nomor 6. haaah? Trus sampai jam berapa aku harus menunggu?

Kemudian aku putuskan untuk mencoba memeriksakan diri ke ahli kandungan… kebetulan saat itu masih sepi, aku mendapatkan antrian nomor 8 tapi karena saat itu belum ada pasien yang datang, maka aku langsung dipersilahkan masuk oleh suster.

Dokter : “Keluhannya apa nona Tresya?”
M : “Ini dok, perut saya itu kadang mual, kadang kalo kecapekan juga nyeri banget…saya periksa ke dokter umum tapi katanya nggak ada magh, kemudian saya direkomendasikan untuk USG disini”
D : “oke kalo gitu, mari kita lihat dulu”

Berbaringlah aku di kasur putih ini, dibuka sebagian perutku, dan diolesi oleh perawatnya cairan bening yang terasa dingin… kemudian alat itu menekan perutku dan diputar-putarkan oleh dokter dodi disekitar perutku… dokter melihat layer dengan sangat jeli..sangat lama dia memutar-mutarkan alat USG itu… tak jarang dia menekan di beberapa tempat…
Hampir 15 menit dokter memeriksa perutku sambil menanyaiku beberapa pertanyaan…

Kemudian dia menyuruhku untuk duduk kembali dan mulailah kami berbincang…
D : “ nona tresya, suka makanan cepat saji ?”
M : “ hehe..iya dok..”
D : “ suka makan mie, sarden, kornet dan makanan berbahan pengawet lainnya ?”
M : “ hehe…iya dok “
D : “ kemudian bumbu masak, chiki-chiki dan makanan berbahan pewarna,penyedap dan perasa lainya ?”
M : “ iya dok”
D : “ mulai sekarang, wajib berhenti mengkonsumsi semua itu. Jika anda masih sayang dengan rahim anda, anda wajib menghentikan, bukan hanya mengurangi makanan seperti yang tadi sya sebutkan”
Raut wajahku mulai memburuk.
M : “memangnya kenapa dok ?”
 

Sambil melihatkan foto USG tadi,
D : “Dari hasil USG yang kita lakukan tadi, saya temukan ada tumor padat di dinding rahim anda. Dan ini sudah berukuran 5,8 cm. Saya tidak bisa mengatakan ini berbahaya tapi kita juga tidak boleh meremehkan barang ini. Dibanding dengan jenis lainnya, tumor ini bisa dibilang tidak atau sangat lama berkembang. Bukan termasuk dalam jenis tumor yang jahat, tapi permasalahannya adalah, tumor ini tumbuh di dinding rahim dan di jalan masuknya sperma. Jadi kemungkinan, sperma dari suami nona nanti akan sulit masuk dan membuahi sel telur. Tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau terus berdoa, saya hanya menyampaikan kemungkinan terburuknya saja agar anda mau lebih berhati-hati lagi.”

Aku tertegun, terdiam mendengar penjelasan dari dokter.
M : “Bagaimana kalo operasi pengangkatan tumor ini dok ? “
D : “Bisa saja dilakukan operasi, tapi akan membuat presentase kemungkinan anda untuk memperoleh keturunan menjadi lebih kecil, karena dinding rahim akan rusak, dan proses pembuahan akan semakin sulit dilakukan.”

Pulang aku dari rumah sakit itu. Diperjalanan aku merenungkan apa yang terjadi pada diriku.
Ya allah, kenapa aku harus mengidap penyakit ini? Kenapa benjolan ini harus tumbuh di rahimku? Mungkinkah aku bisa memberi seorang anak pada suamikU? Berapa lama waktu untuk kami memiliki buah hati nanti?

Sampai di rumah, Tirta menelfonku, seperti biasa, dia menyapaku dengan penuh keceriaan. Dia selalu bisa membuatku tersenyum bahagia.
Tengah malam aku merenung, “Ya allah, masih pantaskah aku mendampingi Tirta, seorang pria yang benar-benar sempurnya.
Dia seorang pria yang tampan, mapan, berhati mulia, dan berakhlak sangat istimewa.

Dia selalu membicarakan rumah tangga yang bahagia denganku, 2 orang anak yang mengisi keceriaan dalam rumah yang sebentar lagi akan kami bangun.
Dia ingin menjadi seorang ayah yang baik, ayah yang selalu meluangkan waktu di akhir pekan untuk mengajak anak-anaknya berlibur dan bermain. Dia ingin meluangkan waktu di jam 10 pagi untuk menjemput malaikat kecilnya disekolah. Dia membayangkan pulang disambut dengan tangisan dan candaan buah hatinya. Ya allah, mampukah aku memberi semua itu padanya?
Lama aku merenung, hingga mungkin aku tak tertidur.

Di akhir pekan tirta mengajakku jalan-jalan… dia bilang dia rindu pada adam… hatiku semakin teriris… tersayat dan entah apa aku bisa menahan rasa kecewa pada diriku sendiri.

Aku memikirkan banyak cara… banyak sekali cara…
Apakah aku harus meninggalkannya seperti aku meninggalkan mas doni ?
TIDAK, Tirta terlalu baik untuk ku sakiti…
Apakah aku harus mengatakan keadaanku pada tirta?
YA, dengan semua sifatnya dia pasti akan mengatakan tak apa-apa… tapi aku yang akan tersiksa karena aku tak dapat memberikannya keturunan. Dan aku tak mau, kelak hidupnya juga akan kesepian karena tak ada buah hati diantara kita.
Apakah kelak ketika kami sudah menikah aku akan meminta untuk mengadopsi seorang anak?
Tirta pasti mau, tapi…… ini tak adil untuknya.

Mungkin waktu itu pikiranku terlalu sempit… yang aku pikirkan hanya bagaimana membuat hidup tirta menjadi sempurna.
Mungkin, aku harus mengenalkannya pada wanita baru? wanita yang lebih sempurna dariku yang bisa membahagiakannya dan memberikannya seorang keturunan…

Ya, aku ingat beberapa teman kuliahku… banyak diantaranya yang berprofesi sebagai model.. aku menghubungi mereka satu per satu.. aku bilang aku punya saudara, tampan, mapan dan baik yang sedang ingin mencari pacar.. banyak diantara mereka yang sudah memiliki pasangan, hingga kutemukan 1 temanku yang aku tau dia memang orang yang baik. Dia mau untuk aku kenalkan pada Tirta. Hingga kami mengatur janji untuk sekedar minum kopi dan mengobrol lebih lanjut tentang tirta… disitu aku mengatakan padanya,

“Tolong buat pertemuan ini seperti natural.. karena dia sebenarnya tidak mau dijodoh-jodohkan, aku yang berinisiatif untuk mencarikannya seorang pacar.”
Temanku “Nabil”, dia mau menuruti apa kataku.

Saat itu aku memberikan akun facebook milik tirta. Kemudian nabil meminta pertemanan pada tirta.
Sungguh, hatiku sangat sakit.. bahkan lebih sakit ketika aku berpisah dengan mas doni… aku menangis lebih keras dan seluruh tubuhku terasa lebih lemas ketika menyerahkan Tirta, orang yang kusayangi pada wanita lain.. tapi aku harus tegar, aku harus melihat tirta hidup bahagia dan lebih sempurna.

Hubunganku dengan tirta masih baik-baik saja.. meskipun tirta sudah berteman dengan nabil, tapi tirta belum menganggapnya penting. aku coba membuka akun facebook tirta, dan terlihat beberapa obrolan mereka. Nabil mencoba untuk mengajakanya berkenalan, tapi tirta hanya menjawabnya singkat, padat namun tetap ramah. Seperti tirta menjawab postingan-postingan dari teman-temannya yang lain…

Rasa cemburu begitu meledak-ledak didada ketika melihat pesan masuk dari nabil yang mengingatkan tirta untuk jangan lupa makan, dan jangan terlalu lelah bekerja.
Walaupun tirta hanya menjawab “ ya, thank’s “ tapi rasa dihatiku sangat nggak rela… tirta lelakiku, hanya aku yang boleh mengatakan itu.. tapi lagi-lagi aku harus sadar diri. Akulah yang membuat semua skenario ini.
Sampai suatu hari, entah apa yang mereka perbincangkan.

Tirta datang padaku, ketika aku sedang mendengarkan alunan musik di kamarku, tirta datang, melepas earphone ku, dengan wajahnya yang sangat geram, mukanya yg sudah memerah, dia membanting HP nya tepat dihadapanku.

Kaget, tapi aku tetap tersenyum sambil menunduk tak berani menatapnya.
“Apa-apa an sih?! kamu kenapa?! apa salahku?!”

Aku cuma bisa tersenyum simpul, tetap tak bisa menatapnya.
“Tirta marah…sungguh sangat marah. Lebih menakutkan dibanding dengan marahnya dia di lapangan basket kala itu. Tirta berteriak, membentakku dengan sangat keras… kudengar dari nadanya bicara, dia juga terisak menahan amarah dan tangisan di dadanya…

Sungguh saat itu aku sudah tak punya rasa. Aku hanya bisa duduk sambil tersenyum simpul diujung ranjangku.
“Jawab aku, liat aku, apa yang kamu lakuin ke aku ??!!”

Dia terus membentakku. Dia berdiri tepat di hadapanku.
“Doni? Doni lagi yang bikin kamu kayak gini?!”

Dia mengira mas Doni telah kembali… dan aku ingin bersatu lagi dengan mas Doni.
Aku hanya bisa diam… tapi air mata ini tak bisa tertahankan… dalam batinku aku ingin menjerit…
“aku sudah tak memikirkan lelaki itu… yang aku mau hanya yang sempurna untukmu”

Belum sempat aku memandangnya dan mengatakan barang sepatah kata, dia pergi meninggalkanku… iya, tirta benar-benar pergi meninggalkanku.

Dia membanting pintu kamarku…membanting pintu rumahku…dia juga membanting pintu jean… (maaf jean, tirta harus menyakitimu).

Tirta pergi…aku baru berani benar-benar mengeluarkan air mataku lagi.
Yaaa, hanya ini yang aku bisa…meratapi lagi nasibku… meratapi lagi apa yang menjadi pilihanku.

Seminggu berlalu tirta sama sekali tak menghubungiku… akun facebook nya juga telah menghilang, sama sekali dia tak meninggalkan jejak untukku.

Siang itu aku terbangun dengan infuse ditanganku. Ternyata tubuhku sudah tak kuat lagi.
Sakit, rindu, tekanan, dan kemarahan tirta membuatku benar-benar tak berdaya. Tubuhku tak mampu menampung semua ini.

Seminggu aku di rumah sakit… tak ada tirta yang menemani serta menyemangatiku lagi. Sungguh, jika aku boleh mati, rasanya ingin aku mati hari ini…. Tanpa merasakan perihnya hati ini, harus melukai orang yang kusayangi lagi.

Aku marah pada diriku sendiri… kenapa selalu cerita cintaku berakhir seperti ini..kenapa lagi-lagi aku harus mengorbankan semua ini… tanpa aku mampu mengucapkan sebuah pengakuan.

Suatu hari, di kantor, aku berada dalam suatu acara. Aku bertemu dengan seorang atasan dari luar kota. Dia terlihat masih sangat muda. Dan dari beberapa pertemuan kita, aku lihat dan merasa bahwa dia tertarik padaku. Dia orang yang sangat pendiam. Awalnya dia mengaku seorang duda ber anak 1. dia mengaku nyaman berbincang denganku. Lebih dari rekan kerja.

Hampir saja aku melampiaskan kesedihanku kepada orang ini. Hampir saja aku dekat dengannya, aku juga merasa, dia seorang duda, sudah memiliki anak, maka tak apa jika dariku dia tak mempunyai keturunan… tapi ternyata tuhan berkata lain… ternyata dia masih belum resmi bercerai dengan istrinya. Tapi rumah tangga mereka sudah tidak harmonis lagi. Istrinya melakukan suatu kesalahan yang tidak bisa dia ampuni.

Tapi lagi-lagi aku berfikir, bukankah setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan? apa selama dia hidup dan berumah tangga dia tak pernah melakukan kesalahan?
Kemudian bagaimana dengan anak-anaknya ? apa mereka juga melakukan kesalahan yang sama seperti ibunya ? haruskah mereka menjadi korban dari perselisihan orang tuanya?

Lagi pula, tak adil juga jika aku bersama dia tapi hatiku masih mencintai Tirta. Tak adil baginya untuk menjadi pelarianku saja.

Dalam kebimbanganku ini, terdengar pesan masuk berdering di HP ku.
“Udah makan?” Tirta mengirim sms padaku.

Ya allah… betapa senang hatiku…. Sungguh tak bisa kugambarkan betapa bahagianya aku malam itu… tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata betapa aku sangat bahagia.
Aku membalas sms nya, “belum…”
Karena memang malam itu, sebiji gandum pun belum masuk ke perutku…

“Sate mau? “

Haaaah ?? sate ??? Tirta menawariku sateeee ????
“Kkamu dimana ? “
5…10…hingga 15 menit dia tak menjawab…
Aku terus memegangi hp ku samil kunaik-naikkan ke atas, Siapa tau aja nggak ada sinyal, padahal penuh juga sih.
Duuuuuh, kok nggak bales ya… janga-jangan tirta Cuma mau ngerjain aku.

Nekat ah…aku telfon aja dia. Baru aku mau menelfon dia, terdengar raungan suara gas dan klakson jean di depan rumahku.
Aku intip dari bilik jendela… haaah? jean??? mobil tirtaaaa???
Ya allaaaaaaaaaaaaah….aku deg-deg an banget… udah berapa bulan aku nggak ketemu dia. Kayak apa sekarang mukanya ??? duh, penampilanku gimana ya ???

Dia turun dari mobilnya, dengan celana pendek dan kaos oblong favoritnya…membawa sebungkus sate dengan khas gaya jalannya… aku tak sabar ingin menemuinya… seolah malam ini aku lupa dengan benjolan yang ada diperutku.. aku lupa, beberapa bulan yang lalu aku telah menyakitinya.

Dia masuk kedalam rumahku, aku terlihat sudah didepan pintu. Seolah seperti tak pernah ada apa-apa.
“Kurus banget sih?“ dengan nadanya yang jutex dia menyapaku.
“hehehe…” aku cuma bisa tertawa sambil memegangi handphone ku.
“Yuk, cepetan makan… “

Dia masuk kedalam meninggalkanku sendirian diruang depan… dia masuk kedapur, mengambil 2 buah piring kemudian menatakan sate untukku… dibawanya keruang tengah, dia letakkan di atas karpet kemudian tanpa segan dia menyalakan televisI sambil mengganti-ganti chanelnya…

Aku tersenyum bahagia memandangnya dari ruang tamuku. Ttirtaku…ternyata masih sama seperti yang dulu.
Sambil menggigit batang satenya…dia melirik ke arahku, “Cepetan sini makan… malah bengong. Heran ya liat cowok ganteng ?”

Hahahahaa….tirta tirtaaa.
Lalu aku datang mendekat padanya… aku makan sate yang rasanya jadi seperti makanan paling nikmat sedunia… beneran deh, nggak ada makanan lain yang seenak sate ini.. hahahahaha

Mungkin tirta nggak sabar melihatku makan dengan perlahan… ya memang setelah malam itu, malam dimana tirta meninggalkanku… selera makanku jadi sangat kurang bagus…kadang, bisa dalam sehari aku tak menyentuh sesuap nasi.
Tirta mengambilkan sesendok besar lontong beserta sambelnya…dia menekan kedua pipiku sambil terus memaksa menyuapiku.

Meskipun kita sempat bertengkar, tapi hati ini rasanya sangaaaat bahagia.
Selesai makan, tirta tidur-tiduran di sofa depan tv ku… aku masih heran melihat kelakuannya.

“Ni anak kerasukan apa sih kok bisa aneh kayak gini ? “
Persis seperti awal kita bertemu… gayanya super jutex emang selalu bisa membuatku bertanya-tanya bahagia.

“Ta….”
“Heeeem ?”
“sory ya…”
“sory kenapa ?”
“nabil….”
“ wah, sexy ya….”
“ aaaaah, kok sexy sih ??”
“ iya, nabil temenmu yg model kan ? difoto sih keliatan biasa aja…cantik lah, tapi standart. Setelah ketemu aslinya, sexy banget… pantes aja jadi super model”
“ aah ah ah…. Kok gitu sih ? kamu pernah ketemuan sama dia ?”
“ ya pernah lah… gila aja sia-siain barang bagus”
“ tirtaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa !!!!”
Aku teriak keras-keras di telinganya sambil mencubiiiit hebat perutnya.

“Ya udah, terus ngapain kamu kesini sekarang ? ngapain tadi sms aku ? pake beliin aku sate !! suap-suapin segala !!!! “
Tanpa dosa dia menjawabku…
“Cuma mampir “

Ya allaaaaah, teganya kamu ta…. !!!!!!!
Aku tersungkur lemas merebahkan diri ke sofaku…. 
Tak selang berapa lama… tirta mengecilkan volume tv ku…

“hei….” Dia mendekati sambil menyapaku.
Aku masih saja diam tak mau melihatnya.
Kemudian dia ikut-ikutan bersandar di sofaku sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku.
“ makanya, jadi orang jangan sok-sok an…. Masih cinta, masih sayang, pake mau ninggalin segala…”

Setelah dia mengatakan itu, aku baru berani menatap mata indahnya.

“Lain kali, apapun yang terjadi, bilang sama aku… jangan biasakan menyiksa diri sendiri lagi. Kamu punya aku, punya papa mama dan yang pasti kita punya tuhan. Percaya, nggak ada masalah yang nggak ada penyelesaiannya. Nggak ada penyakit yang nggak ada obatnya. Jangan menganggap dunia ini kecil… toh kalaupun memang kecil, masih banyak hal yang bisa kita lakukan.”

“Tirtaaaa….. “ aku terbangun dari sandaranku.

“iya, aku udah tau… kamu kok bisa-bisanya berfikiran seperti itu. Kamu masih belum sadar seberapa sayangnya aku sama kamu ? sekarang kita juga nggak punya anak, tapi aku juga cinta sama kamu… apa bedanya nanti sama sekarang kalo kita nggak punya anak ? “

“Ya beda ta… kelak ketika sudah berumah tangga, kita bakal ngerasa kesepian kalo nggak punya anak. Belum lagi keluarga, teman dan saudara, setelah kita menikah, mereka pasti bertanya… gimana udah isi belum? Gimana anaknya udah berapa ? gimana, anaknya udah bisa apa ?. kita itu hidup bermasyarakat, kita pasti akan menemukan hal-hal seperti itu… dan aku, Cuma ingin yang terbaik buat kamu.”

“Ya kamu. Cuma kamu yang terbaik buat aku. Kalo kamu bener-bener pengen yang terbaik buat aku, ayo, menikah sama aku”

Lagi-lagi tirta sangat tegas mengambil keputusan ini…aku bahagia…sangat bahagia…namun aku juga masih sangat bimbang dengan diriku sendiri.

“Hei… rumah tangga kita berdua, biar aja jadi urusan kita. Nggak usah perduliin omongan orang lain… kalo kamu terus-terusan mikirin perasaan orang lain, pendapat orang lain, lama-lama kamu bisa mati gila ! biar mereka dengan pemikirannya masing-masing, yang penting kita jalani hidup kita dengan baik dan bahagia…”

Kata-kata itu yang sampai saat ini terus aku ingat… terus terngiang-ngiang dalam benakku. iya, benar kata tirta… buat aku aku hidup dalam baying-bayang orang lain. Buat apa aku hidup dalam ketakutan akan pendapat orang lain… yang penting aku hidup tidak menyusahkan orang lain, itu sudah lebih dari cukup.

“Makasih ya ta… makasih kamu benar-benar mau menerimaku apa ada nya…”
Aku hanyut dalam pelukan hangatnya… pelukan yang selama beberapa bulan ini tak menenangkan diriku lagi… pelukan yang benar-benar hebat… benar-benar bisa membuatku merasa disayangi..
Tak ada kata ragu lagi untuk menolak lamarannya… dia benar-benar seorang pria yang mau menerimaku, mencintaiku dan menyayangiku apa adanya… bahkan di saat aku menjadi seorang wanita yang tak sempurna.

Guys, inilah akhir dari cerita cintaku.

Doakan, beberapa bulan kedepan aku akan menikah dengan Tirta… dan kebetulan, tirta memiliki teman seorang dokter, dia menyarankan aku untuk melakukan terapi pengecilan tumor. Dengan obat-obat herbal dan dia menyarankan untuk setiap hari aku meminum air rebusan daun sirsat.

Dengan kecanggihan tekhnologi masa kini, dia juga memberi solusi untuk kami memiliki seorang keturunan. Dia menyarankan jika nanti setelah proses pengecilan tumor ini kami tak berhasil juga memiliki seorang keturunan, kami bisa melakukan Inseminasi… insyaallah, atas izin allah… jika kita memang dipercaya bisa memiliki keturunan, pasti bagaimanapun caranya kami akan mendapatkan seorang buah hati.

Sekian cerita pengalaman kehidupan saya… semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua… bahwa hidup tak harus selalu memikirkan pendapat dan pandangan orang lain. Tak ada masalah yang tak ada penyelesaiannya, tak ada penyakit yang tak ada obatnya… cobalah untuk berbicara, jangan pendam semua dan menyiksa dirimu.

Kita, berhak untuk bahagia.

Apakah menurut anda cerita cinta ini sudah berakhir?
Ya, Anda mungkin mengira inilah akhir cerita cinta Tresya.
Sang penulis cerita ini juga mengira cerita perjalanan cintanya yang dramatis dan berliku sudah berakhir.

Ternyata belum! Cerita cinta Tresya belum berakhir. Ada peristiwa yang bahkan sang penulisnya sendiri tak menduga. Dan ini mengagetkan dia, bahkan membuat dia shok! Apa yang terjadi?

Penasaran kan? Silakan simak lanjutan ceritanya. Tak harus menunggu lama, besok anda bisa baca lanjutan ceritanya.


Bersambung…



Bookmark and Promote!



Artikel Terkait:

Ingin mendapat artikel seperti ini langsung ke Email anda? Silahkan masukan alamat email anda untuk berlangganan.

Komentar :

ada 5 komentar ke “Bukan Manusia, Jika Itu Sempurna ( 34 )
Sonia Irma Novita on Kamis, 03 Oktober 2013 10.35.00 WIB mengatakan...

mau tanya,, kak tresya nya kok ga nulis lagi? kok seperti hilang ditelan bumi saja?? soalnya pengen tau cerita lanjutnyaaaa >.< :(

Tarjum on Kamis, 03 Oktober 2013 10.53.00 WIB mengatakan...

Ya, kak Tresya emang gak pernah nulis lagi untuk blog Curhatkita. cerbung ini tulisan Tresya thn 2012 yang saya edit dan saya posting bersambung di blog ini. Mungkin karena kesibukan kerja jadi gak sempet nulis lagi. saya ada kontak beberapa bulan lalu di situs jejaring sosial Google+.

Sonia Irma Novita on Kamis, 03 Oktober 2013 16.35.00 WIB mengatakan...

boleh minta kontak nya gak mas? soal nya pengen hub mbak tresya... -__- pengen banget..ini adik saya pengen hub jugaa,,, sama mas tirta kah mbak tresya skrg??

Tarjum on Kamis, 03 Oktober 2013 17.12.00 WIB mengatakan...

beberapa waktu yang lalu saya coba kontak Tresya lewat akun media sosialnya, tapi gak ada balasan. saya lihat di blognya juga sudah stahun lebih gak posting tulisan. Nanti klo dah ada kontak balasan dan dia mengizinkan ngasih kontaknya ke penggemarnya saya kabarin ya. karena ini menyangkut privasi dia sebagai penulis dan teman curhat.

Sonia Irma Novita on Kamis, 03 Oktober 2013 18.58.00 WIB mengatakan...

haha okee mas..terimakasih yah (y) :D

Posting Komentar

Sampaikan komentar terbaik anda di kolom komentar :)

eBook 1: "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah"

Buku psikomoar ini bercerita tentang pergumulan saya selama bertahun-tahun dengan gangguan jiwa yang tidak saya fahami dan membuat saya bertanya-tanya, “Apa yang terjadi dengan diri saya? Penyakit apa yang saya alami? Bagaimana cara mengatasinya?” Ironisnya, saya baru tahu apa yang terjadi dengan diri saya, 8 tahun setelah saya pulih, bahwa saya mengalami Gangguan Bipolar. [Selengkapnya]




eBook 2: "Berdamai Dengan Bipolar"

Bagaimana mengenali dan mengatasi Gangguan Bipolar?
Bagaimana menanggapi sikap negatif orang-orang di sekitar anda?
Bagaimana mendampingi orang yang mengalami Gangguan Bipolar? eBook ini memberi jawaban dan solusi alternatif penanganan Bipolar. [Selengkapnya]



eBook 3: “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”

eBook ini merupakan inti dari pengalaman dan pemahaman bipolar saya. Inti dari tulisan-tulisan saya di buku, ebook, blog, facebook, twitter dan media lainnya. eBook ini bukan teori-teori tentang gangguan bipolar! Bukan formula ajaib untuk mengatasi gangguan bipolar! eBook ini tentang tindakan, langkah-langkah penanganan bipolar. [Selengkapnya]


eBook Novel: “Pengorbanan Cinta”

Novel ini bukan sekedar kisah cinta yang romantis dengan segala macam konflik di dalamnya. Saya berani menyebut novel ini sebagai “Buku Pelajaran Cinta”. Beda dengan buku pelajaran pada umumnya, Buku Pelajaran Cinta ini tak membosankan, malah sangat mengasyikan dibaca. Setelah mulai membaca, jamin Anda tak ingin berhenti dan ingin terus membacanya sampai akhir cerita. [Selengkapnya]



eBook Panduan: “7 Langkah Mudah Menyusun & Memasarkan eBook”

Jika dikemas dengan desain cover yang apik dan diberi judul yang manarik, kumpulan posting blog atau catatan facebook anda bisa disusun menjadi sebuah ebook yang akan memikat pembaca di ranah maya. Selanjutnya ebook anda tinggal dipasarkan secara online.
[Selengkapnya]

 
 © Copyright 2016 Curhatkita Media  template by Blogspottutorial