Tiga Serangkai eBook Bipolar
3 eBook Bipolar ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata penulisnya. Mengupas secara detail dan sistematis dari gejala awal, saat berada di puncak manik dan depresi, sampai langkah-langkah pemulihannya. Inilah ebooknya : "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah”, “Berdamai dengan Bipolar” dan “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”.

Bukan Manusia, Jika Itu Sempurna ( 36 )

    

Oleh Tresya Agnashila


Lama, sangat lama aku menangis. Aku rasakan tubuh seperti beberapa tahun yang lalu. Tubuh yang sakit, mata yang pegal hingga hampir keluar, kepala yang sungguh pusing tak terhingga, dan sendi-sendi yang sangat linu.

Aku rasakan kembali sakit-sakit seperti dahulu. Ini sudah terlalu lama, air mataku sudah tak ada lagi yang bisa kukeluarkan. Punggung ini sudah lelah membungkuk. Aku beranikan diri untuk menegakkan badanku. Tapi masih saja sama, otakku masih kosong. Masih tak ada kata yang bisa kuucapkan menyambut kedatangannya.

Kami masih sama-sama terdiam. Diam dan hanya diam. Tirta, hanya Tirta. Nama Tirta lah yang ada di otakku. "Ta, aku harus bagaimana menghadapi situasi ini? Apa yang harus aku lakukan Ta?

Andai aja Tirta ada disini, pasti aku tak sebingung ini.
Mas doni masih terduduk diam disampingku…. Dia masih menikmati keheningan ini.
Hari semakin malam. Petugas terminalpun datang menghampiri kami.
“Nunggu bus jurusan mana mas? ini bus terkahir yang akan berangkat.”
Aku hanya diam…dan mas Doni menjawab,
“Oh engga pak, kita berhenti disini kok”
KITA ?????????????????
Huh….. aku nggak tau mesti ngomong apa, yang kurasakan saat ini hanya lelah. Aku ingin segera pulang, membasuh wajahku dan merebahkan tubuhku.

Aku bangkit dari dudukku, tampak seperti mas doni melihat ke arahku, aku sama sekali tak mampu melihatnya. Aku hanya bisa berjalan perlahan menjauh darinya. Aku sendiri sadar aku belum sepenuhnya sadar dan yakin dengan apa yang harus aku lakukan.

Aku berjalan menyusuri setiap ubin yang ada di terminal ini. Setelah beberapa langkahku… aku dengar suara hentakan sepatu mas doni. Cepat dan semakin cepat menuju ke arahku. Entah apa yang ada dipikirannya, tiba-tiba dia menyaut tas ku, dan mencengkeram lenganku. Dia menghentikan langkahku, tapi aku menampiknya… tanpa kata-kata aku mengelak dari cengkramannya, baru kali ini setelah beberapa menit yang lalu aku berani menatap matanya.

Matanya terlihat sangat tajam. Rautnya seperti orang yang ingin meneriakkan sesuatu diwajahku…dia terlihat sangat marah. Aku masih tersendu-sendu, sambil menatapnya, aku mencoba meraih kembali tas ku yang direbutnya.

Dia memegang erat tasku, tak membiarkan aku mendapatkannya, dia semakin geram, dan tanpa kata-kata pula dia menggenggam erat tanganku. Dia remas setiap sela-sela jariku. Semakin erat dan semakin kencanag. Dia tak lagi memandangku, dia menyeretku menarikku pergi dengan langkah-langkah lebarnya yang semakin cepat.
“Maas….sakit.”

Aku mencoba untuk melepaskan genggamannya, tapi semakin aku mencoba mengelak darinya, semakin kuat juga dia menggenggam tanganku.

Kami jadi pusat perhatian malam itu, meskipun sudah tak begitu banyak orang disana. Tapi tetap saja semua mata memandang pada kami. Tapi dengan kesangaran dan seragam mas Doni, tak ada 1 orang pun yang berani mendekati kami.

Mas doni terus menarikuu, dia berjalan dengan sangat cepat dan tegas tanpa memperdulikan aku. Aku mengikutinya dengan tertatih-tatih. Saat itu aku masih memakai seragam kerjaku. Dengan hem batik dan rok selutut serta sepatu hak tinggi membuatku tak bisa berjalan dengan cepat. Mas doni memanggil sebuah taksi, dia membuka pintu dan memasukkanku dengan paksa ke dalam taksi. Aku mencoba sekuat tenaga untuk menolaknya.

“Nggak mau. Aku mau pulang sendiri… lepasin! “

Dia masih hanya diam sambil menatapku tajam. Dia terus mendorongku hingga terpaksa aku duduk di dalam taksi bersama dia.

“Jalan manggis 2 pak “

Dia masih hafal dengan alamat rumahku. Didalam taksi, dia masih memegangi erat jemariku. Aku mencoba untuk melepaskan genggamannya.
“Lepasin mas…. Sakit ! “

Setelah mendengar kata sakit keluar dari mulutku, dia baru melepaskan genggamannya.
Aku menangis lagi, sambil meniupi sela-sela jemariku. Padahal kurasa tak seberapa sakit, tapi ingin rasanya hati ini menangis. Dan kugunakan saja jemariku sebagai alasan aku menangis.

Mas doni bingung melihat sikapku.
Dia melemparkan tas ku sambil berteriak.

“Mau kamu tu apa ??? aku harus gimana ngadepin kamu ?? !!!!! “

Dia berteriak sangat keras… hingga taksi ini terasa seperti bergetar. Supir taksi cuma bisa diam aja melihat pertengkaran kita.

“Ngomong donk, jangan nangis aja!! apa salahku sampe kamu kayak gini !! “

Mas doni kembali berteriak padaku. Ini kali pertama semenjak aku mengenalnya dia berteriak keras dan membentakku seperti ini. Dia terlihat putus asa karena aku hanya diam sambil terus menangis dan meniupi sela-sela jemariku.

Sampailah kami didepan rumahku. Taksi sudah berhenti, tapi kami masih duduk terdiam. Mas doni mengeluarkan dompetnya, dia membayar ongkos taksi kemudian dia membuka pintu dan keluar dari dalam taksi. Dia kemudian membukakan pintukku dan memegang tanganku perlahan.

“Ayo dek, turun….”

Ini pertama kalinya semenjak saat itu mas doni memanggilku dek… lagi-lagi hanya air mata yang terasa sangat panas yang keluar dari mataku. Mas doni membawakan tasku, dan merangkulku berjalan perlahan memasuki gerbang rumahku.

Dia menggeledah tas ku, mencari kunci rumahku. Dia masih sangat hafal dengan kebiasaanku meletakkan kunci rumah di sela-sela tas kecil dalam tas ku. Ya allah…kenapa setelah sekian lama, sepertinya dia masih sangat hafal dengan setiap langkahku…..

Terbukalah pintu rumahku, mas doni memapahku masuk kedalam. Tak ada 1 pun lampu yang menyala.
Mas doni menyalakan lampu ruang tamu dan halaman depan. Dia juga masih sangat hafal dengan setiap sudut rumahku.
Mas doni meletakkan task u di atas sofa, kemudian dia mendudukkanku di atas sofa. Aku masih saja berpura-pura meniupi jemariku. Karena aku benar-benar bingung, apa lagi yang harus aku lakukan…

Mas doni menyalakan semua lampu di rumahku. Dengan suara sepatunya yang sangat keras, dia berjalan menyusuri setiap sudut rumahku.
Ya, rumahku memang masih sama seperti dulu… tak ada satu pun dari sudut ruangan ini yang aku rubah.

Mas doni masuk kedalam kamar mandi, terdengar suaranya mengambil air dari gayung… aku masih duduk di sofa, ternyata dia membasuh wajahnya dan membasai kepalanya. Mungkin dia sama sepertiku, merasa wajah dan pikiran ini sangat penat dan panas…
Lalu dia membuka kulkasku, dia mengambil gelas di atas kulkas, kemudian menuangkan sebotol air dingin kedalam gelas…
Dia menghampiriku, menyuruhku untuk meminum air ini… aku minum tiga teguk air…kemudian dia duduk bersandar tepat disebelahku…

“haaaaah……..”
Dia terdengar menghela nafasnya…

“dek, aku harus gimana ngadepin kamu ? “
Inilah saat paling tenang setelah kita bertemu beberapa jam yang lalu… aku masih memegangi gelas dinginku.
Dia mencoba untuk memulai pembicaraan dan seakan dia ingin tau tentang semua yang terjadi selama ini.
Dia memegang tanganku….aku benar-benar tak berdaya.

“Dek, coba ngomong sesuatu….”
Entah apa yang aku pikirkan…..rasanya geli ketika mengingat ini. Kata pertama yang kuucapkan adalah….
“Mas, kamu tambah ganteng….”

Hahahahahaaaaaa……… aku bener-bener konyol…. Ketika mengingat dan menulis kata ini disini, aku tertawa sambil meratapi kekonyolanku. Hahahahahaaaa…..
Mas doni pun tersenyum…. dia terlihat malu… dan dia terlihat seperti menawan tawa kegeliannya.

“Dek, kamu masih belum terlambat buat menjelaskan semua sama mas….”
Ceileh, dia mulai menyebut kata “mas”….

“haaaaah…. Apa mas yang harus aku jelasin. Toh semua juga udah terlambat untukku.”
Suasana jadi semakin santai. Aku sudaah bisa mengendalikan diriku sendiri…dan kami juga sudaha bisa berbincang dengan tenang.

Doni : “ dek, tolong katakan semua yanag udah terjadi selama ini. Mas masih nungguin kamu. Kenapa kamu nggak hubungi mas ? kenapa kamu nggak kirimi mas kabar ? kenapa dihari kelulusan mas kamu nggak datang ? kenapa dimalam pelepasan tugas kamu juga biarin mas nungguin kamu sendiri. Kenapa kamu hilang gitu aja ? “
Haaah ? kok gitu sih ? bukannya aku yang nungguin dia, kok malah dia juga nungguin aku ?

Me : “ mas, kenapa selama ini juga mas baru kembali ? kenapa setelah lulus mas sama sekali nggak hubungi aku ? kenapa selama bertahun-tahun mas nggak nyariin aku ? aku nungguin kamu mas. Bahkan no HP ku pun bertahun-tahun nggak aku rubah. Alamat rumah, telfon rumah juga masih sama. Lalu disaat kelulusanku, kenapa mas Cuma datang liat aku dari jauh ? kenapa mas nggak nemuin aku ?”

D : “itu karna mas ingin kamu yang mencari mas. Kamu nggak sadar dengan apa yang kamu lakuin ke mas dek ? mas selama ini menunggu penyesalan kamu. Mas nunggu penjelasan dari kamu. Kamu yang memutuskan mas secara sepihak. Itupun tanpa kamau ngomong sendiri ke mas. Kamu yang mintaa waktu buat kita urusi masalah kita sendiri. kamu yang bilang ke dendi kan kalo kamu masih pengen sendiri. kamu pikir mas nggak sakit hati dek ? mas berjuang disana, tiba-tiba pulang dapet kabar kamu mau ninggalin mas. Ya udah, ini kan yang kamu mau… mas sama sekali nggak mengusik kamu. Mas nggaka menggangu kehidupanmu. Tapi mas masih menunggu kamu. Mas berharap, suatu saat nanti kamu menyesali keputusanmu dan kamu kembali mencari mas. Mas nggak berharap permintaan maaf dari kamu, cukup kamu menyesal aja mas udah seneng dek.”
Haaah….. ternyata selama ini dia juga menungguku….

M : “ tapi apa selama ini mas nggak kangen sama aku ? kenapa mas nggak mencoba buat hubungin aku sekalipun “

D : “ mas kangen sama kamu sampek mas hampir gila dek. Mas bener-bener hancur disana. Tapi mas berusaha buat memenuhi apa yang kamu inginkan. Dendi bilang kamu masih ingin sendiri, focus dengan hidup kamu. Makanya mas nungguin kamu. Hp mas juga nggak pernah ganti, kenapa kamu juga nggak hubungi mas ?”

Ya allah…..kenapa jadi gini sih?
Iya, memang benar selama ini aku yang salah…aku yang memulai semua ini. Aku yang membuat keputusan ini. Dan aku juga yang menentukan jalannya hubungan kami.
Aku Cuma bisa diam…. Lagi-lagi tak mampu menjelaskan.

“dek…. Sekarang mas Tanya, kamu masih cinta kan sama mas ? kamu masih sayang kan ? mas nggak akan Tanya apa alasanmu dulu meninggalkan mas… kalo kamu memang nggak bisa mengatakan, mas nggak akan meminta penjelasan apa-apa lagi dari kamu. Cukup kamu bilang kamu sayang sama mas, ayo kita mulai lagi semua dari awal “

Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah…… petir rasanya menyambar-nyambar ditelingaku.
Lemas sudah…ternyata mas doni masih sesempurna dulu….
Bertahun-tahun upaya untuk melupakannya, hancur sudah hanya dalam waktu kurang dari 2 jam.
Lalu tirta ? calon suamiku….bagaimana dia…..
M : “ mas, aku sudah hampir menikah….”

Aku memberanikan diri mengatakan kata-kata itu dengan tubuh dan suaraku yang sangat lemah. Tapi saat itu, aku sudah cuek…entah apa yang akan terjadi nanti, aku pasrahkan semua pada tuhan yang menciptakan keadaan ini.
Mas doni tertawa sinis sambil membaringkan punggungnya di sofaku… dia menatap langit-langit rumahku.

Dengan senyum kecil di bibirnya,
“ heeeehm, terus mas mesti gimana ?”
M : “ nggak tau mas…. Aku juga bingung”

Tiba-tiba dia bangkit, berdiri dan berteriak.
“ NGGAK BISA, KAMU NGGAK BOLEH BINGUNG, KAMU NGGAK BOLEH NGGAK TAU !!! “

Aku kaget..bener-bener kaget….
Mas, kenapa kamu sekarang jadi hobi berteriak….. inikah hasilnya kamu menjadi seorang perwira….
Tapi aku kembali sadar, wajar dia seperti ini padaku…memang aku yang salah…aku yang sudah menyakitinya.

Matanya memerah, dia terlihat sangat menyeramkan… dia berteriak lagi padaku…
“NGOMONG DEK ! NGOMONG ! JANGAN DIEM AJA MAININ AKU KAYAK GINI !!!!!!”

Dia berteriak sambil mencengkeram lenganku dengan sangat kuat…
M : “aku takut mas….aku takut… kamu jangan kayak gini..aku takut”

Tubuh kencangnya menjadi lemas, dia terduduk dihadapanku, dia memegngi kedua tanganku…dia bersujud dihadapanku, dia menciumi tangan dan lututku…dia menetskan air matanya….meski hanya setetes, tapi itu sangat membuatku tersiksa.

“dek…aku harus gimana…aku nggak bisa terima kalo kamu buat keputusan ini. Kita masih sama-sama. Kamu nggak bisa ninggalin aku gini aja…”

Melihat mas doni tak berdaya, hatiku semakin teriris-iris… penyesalan, rasa bersalah benar-benar menghantam tubuhku… aku tak bisa melihat dia seperti ini… dia masih lemas terduduk dilututku….

Tanpa sadar, aku memeluknya…. Aku memeluknya dengan sangat erat. Inilah pertama kali aku memeluk tubuhnya setelah masa-masa yang kulalui… aku memeluknya dengan penuh rasa rindu… hanya beberapa menit sudah mampu membuat kami kembali bersatu…aku jatuh lagi padanya… aku jatuh lagi dalam peluknya…
Dia juga memelukku…dia juga memelukku dengan sangat erat dengan penuh kerinduan.,,

Dia terus bicara…
“kamu masih milikku dek, kamu masih sayang aku…kamu masih mencintaiku, kamu nggak akan bisa hidup dengan orang lain dek…”

Dia terus mengatakan kata-kata itu sambil memelukku….
Disela-sela curahan kerinduan kita, Hp ku berbunyi…. Tirta menelfonku…
Aku kaget, mas doni pun kaget…

Lama aku membiarkan Hp ku bernyanyi…dan tirta pun masih terus saja meneruskan panggilannya. Mas doni melihat Hp ku, dia melihat nama “ lovely “. Dia tersenyum sinis dan memberikan Hp padaku.
“ angkat dulu…”

Aku takut…apa yang harus aku jelaskan pada tirta. Aku baru saja menghianatinya.
“ halo ta….”
Tirta sepertinya curiga…
“ kok panggil ta sih ? “
“ oh, iya sayang….”

Mas doni berdiri dan berjalan melihat sudut-sudut ruanganku seakan tak mau melihatku memanggil orang lain dengan sebutan sayang.
“ sayang, udah sampe rumah kan ? tadi naik apa ?”
“ oh tadi naik taksi kok…iya santai aja, udh sampe rumah kok “
“ kamu kenapa sih ? kok kayaknya bingung gini ? “
“ nggak papa sayang, aku Cuma capek aja…”
“ hhhhmmm….dasar manja, nggak pernah baik bus, skalinya naik bus pasti mabok ya. Hehehe”
Tirta masih saja bercanda tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun padaku….
“ ehm…iya ta, aku capek banget…”
“ kok ta lagi sih ? wah nyesel banget gara-gara nggak dijemput diterminal predikat sayang untukku jadi menghilang “

Rasanya ingin sekali aku menangis mendengar tirta mengucakan kata-kata itu…
Iya ta…andai aja kamu tadi datang, aku nggak akan seperti ini sekarang. (gumamku dalam hati)

“ya udah, kamu istirahat aja ya sayang….ini aku masih di rumah sakit, mungkin aku nginep disini aja. Udah malem, aku juga capek. Kamu bobok aja ya, nggak usah nungguin aku. Rumah dikunci semua. Besok pagi baru aku pulang….”

“Ta…eh sayang, besok biar aku yang kerumah kamu aja. Kamu nggak usah kesini. Aku kangen sama rumah kamu, besok biar aku masak disana ya. Kamu nggak usah kerumahku”

“oke deh….dah buat istirahat ya. Besok bangun siang aja…aku nggak akan ganggu kok”

Haaaah…..apa yang aku lakukan… kenapa aku bohongin tirta. Kenapa aku nggak bilang kalo saat ini aku sedang bersama mas doni. Kenapa juga tadi aku menyuruhnya untuk tak datang kerumah…. Aku sungguh berdosa pada tirta….

Mas doni tampak gelisah…dia tampak tak senang melihatku seperti ini. Tapi dia juga terlihat tak mau pergi, ingin terus mendengar percakapanku bersama tirta.

D : “itu dia…. Calon kamu ? “
M : “iya mas…. Namanya tirta. Dia pria yang baik mas. Dia yang selama ini nemenin aku, semangatin aku, dan bawa aku lepas dari keterpurukanku “
Mas doni duduk sambil tersenyum sinis padaku…

D : “kenapa kamu nggak cari aku ? “
M : “ada 1 alasan yang nggak bisa aku ungkapin ke mas…. Aku pengen biar mas tau masalah ini, tapi bukan dari aku “
D : “trus kalo bukan dari kamu, dari siapa aku bisa tau ?”
M : “biar tuhan nanti yang kasih liat jalannya….”
D : “dek, apa selama ini, bertahun-tahun aku nungguin kamu, belum bisa juga buktiin serius N cintanya aku sama kamu ? apa selama ini aku tunggu, belum layak juga buat aku tau apa salahku ? “
M : “bukan mas… kamu nggak salah. Dari awal juga aku nggak pernah meragukan kesetiaan dan keseriusan cintamu… ini bukan salah kita. Keputusan ini memang salahku, tapi masalah ini bukan kesalahan aku ataupun kamu “
D : “trus apa ? kamu nggak bisa hukum aku kayak gini. Penjahat aja dihukum ada salahnya. Apa aku lebih hina dari penjahat ? sampe-sampe kamu tega hukum aku kayak gini….”
M : “engga mas…. Aku juga nggak bisa jelasin semua ini. “
D : “engga, malam ini juga kita harus selesain masalah ini “

Haaaah……apa memang ini jalannya ? aku harus ungkapin perilaku mamanya ? trus, buat apa selama bertahun-tahun ini aku menderita kalo pada akhirnya aku juga yang harus memaparkan kebusukan mamanya….!
M : “ nggak bisa mas…. Kamu harus tau sendiri. aku nggak mau….”
D : “oke, nggak masalah kalo kamu nggak mau kasih tau. Tapi satu hal, kamu juga nggak boleh nikah sebelum aku tau apa alasannya kamu ninggalin aku. Kamu nggak boleh deket sama cowok lain, sebelum aku tau semuanya !”

“Haaaaaaaaaaaaaah…….!!!” Itulah kata-kata terakhirnya sebelum dia berniat pergi meninggalkan rumahku.

Lalu aku harus bagaimana? Bagaimana harus kuhadapi mas doni? Bagaimana aku harus menjelaskan semua ini pada tirta? Dan bagaimana dengan nasib pernikahanku nanti?

Bersambung…


Berkali-kali saya katakan, cerita cinta yang mengharu-biru ini, penuh kejutan dan gak bisa ditebak alurnya. Bahkan sampai menjelang akhir cerita, anda masih belum bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya dan bagaimana akhir ceritanya, iya gak? Siapa yang akan dipilih Tresya untuk menjadi pendamping hidupnya? Tirta atau Doni?

Saya mau tanya, seandainya cerita ini saya susun dari awal sampai akhir menjadi sebuah ebook (buku elektronik) yang bisa anda baca secara offline atau bisa anda print, apakah anda mau membeli ebook tersebut? Jika banyak yang berminat membaca cerita cinta ini dalam format ebook, Insya Allah saya akan menyusunnya menjadi sebuah “eBook Kisah Cinta”.




Bookmark and Promote!



Artikel Terkait:

Ingin mendapat artikel seperti ini langsung ke Email anda? Silahkan masukan alamat email anda untuk berlangganan.

Komentar :

ada 11 komentar ke “Bukan Manusia, Jika Itu Sempurna ( 36 )
liya nimatulmaulla on Jumat, 11 Oktober 2013 11.11.00 WIB mengatakan...

semakin tambah seru dan mendebarkan,. ditunggu part 37nya

liya nimatulmaulla on Jumat, 11 Oktober 2013 11.12.00 WIB mengatakan...

semakin tambah seru dan mendebarkan,. ditunggu part 37nya

heppy riana on Sabtu, 12 Oktober 2013 00.15.00 WIB mengatakan...

setuju kak, ,,,

heppy riana on Sabtu, 12 Oktober 2013 00.21.00 WIB mengatakan...

setuju kak, ,,,

Kata Mutiara Cinta on Jumat, 18 Oktober 2013 04.08.00 WIB mengatakan...

nicely presented info,, setuju

heppy riana on Kamis, 24 Oktober 2013 21.55.00 WIB mengatakan...

mana nih lanjutannya -_-

quinn indira on Jumat, 25 Oktober 2013 02.11.00 WIB mengatakan...

Ebook nya uda ada blm ya? Mau donk pesan 1..

Tarjum on Jumat, 25 Oktober 2013 11.41.00 WIB mengatakan...

Ebook kisah ini masih dalam proses editing, akan segera rillis. yang minat silakan pesan. ada discount khusus untuk yang pesan sebelum riliis. yang mau pesan tinggal tuliskan Nama dan alamat email di komentar atau kirim ke email : tarjumsahmad@yahoo.com, dgn subyek "Pesan ebook Bukan Manusia, Jika Itu Sempurna. Bagian akhir dari kisah ini akan posting Senin, 28/10/2013.

Tarjum on Jumat, 25 Oktober 2013 13.13.00 WIB mengatakan...

Versi ebook dari kisah ini merupakan hasil editing dari naskah yang diposting serial di blog. Yang anda di blog hanya diedit seadanya dari naskah aslinya yang merupakan "curhat" pengalaman pribadi penulisnya. Jadi di ebook anda akan merasa lebih nyaman dan asyik bacanya dari awal sampai akhir cerita, tanpa kesalahan ejaan dan tanda baca, kalau ada kesalahan cetak dan ejaan hanya beberapa. Jadi segera pesan ebooknya sebelum rilis dengan harga sepesial :)

kolak pisang on Senin, 27 Januari 2014 15.19.00 WIB mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
omeeo on Senin, 27 Januari 2014 17.30.00 WIB mengatakan...

nice share

Posting Komentar

Sampaikan komentar terbaik anda di kolom komentar :)

eBook 1: "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah"

Buku psikomoar ini bercerita tentang pergumulan saya selama bertahun-tahun dengan gangguan jiwa yang tidak saya fahami dan membuat saya bertanya-tanya, “Apa yang terjadi dengan diri saya? Penyakit apa yang saya alami? Bagaimana cara mengatasinya?” Ironisnya, saya baru tahu apa yang terjadi dengan diri saya, 8 tahun setelah saya pulih, bahwa saya mengalami Gangguan Bipolar. [Selengkapnya]




eBook 2: "Berdamai Dengan Bipolar"

Bagaimana mengenali dan mengatasi Gangguan Bipolar?
Bagaimana menanggapi sikap negatif orang-orang di sekitar anda?
Bagaimana mendampingi orang yang mengalami Gangguan Bipolar? eBook ini memberi jawaban dan solusi alternatif penanganan Bipolar. [Selengkapnya]



eBook 3: “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”

eBook ini merupakan inti dari pengalaman dan pemahaman bipolar saya. Inti dari tulisan-tulisan saya di buku, ebook, blog, facebook, twitter dan media lainnya. eBook ini bukan teori-teori tentang gangguan bipolar! Bukan formula ajaib untuk mengatasi gangguan bipolar! eBook ini tentang tindakan, langkah-langkah penanganan bipolar. [Selengkapnya]


eBook Novel: “Pengorbanan Cinta”

Novel ini bukan sekedar kisah cinta yang romantis dengan segala macam konflik di dalamnya. Saya berani menyebut novel ini sebagai “Buku Pelajaran Cinta”. Beda dengan buku pelajaran pada umumnya, Buku Pelajaran Cinta ini tak membosankan, malah sangat mengasyikan dibaca. Setelah mulai membaca, jamin Anda tak ingin berhenti dan ingin terus membacanya sampai akhir cerita. [Selengkapnya]



eBook Panduan: “7 Langkah Mudah Menyusun & Memasarkan eBook”

Jika dikemas dengan desain cover yang apik dan diberi judul yang manarik, kumpulan posting blog atau catatan facebook anda bisa disusun menjadi sebuah ebook yang akan memikat pembaca di ranah maya. Selanjutnya ebook anda tinggal dipasarkan secara online.
[Selengkapnya]

 
 © Copyright 2016 Curhatkita Media  template by Blogspottutorial