Pernikahan pasangan sejenis asal Taiwan, You Ya-ting dan Huang Mei-yu (foto: http://pasunik.blogspot.com)
Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya yang berjudul “Banyak ‘Tongki’ Masuk ke Desa Kami”. Pada artikel ini saya coba membahas lebih dalam tentang apa dan bagaimana Tongki ini.
Penomena “Tongki” (perempuan berpenampilan laki-laki) ini pernah saya ceritakan kepada seorang rekan wartawan media online di Subang. Saya berharap dia bisa melakukan investigasi dan memberitakan soal Tongki ini. Karena waktu itu memang sudah muncul ke permukaan dan meresahkan warga.
Namun sang rekan wartawan keberatan, dia khawatir pemberitaan soal Tongki ini menyinggung pihak tertentu, karena fenomena ini menyangkut isu Sara. Apalagi desa kami, Desa Wanakerta merupakan bagian dari kecamatan Purwadadi yang merupakan basisnya NU (Nahdlatul Ulama), yang menurut sang rekan lebih moderat dalam menyikapi isu-isu seperti ini.
Sampai akhirnya keresahan warga desa itu memuncak dan diadakan musyawarah para tokoh agama dan tokoh masyarakat, seperti yang saya ceritakan di artikel sebelumnya. Memang warga desa kami masih tergolong moderat dalam masalah-masalah seperti ini. Buktinya mereka hanya berusaha mengingatkan secara baik-baik agar para Tongki ini kembali ke fitrahnya sebagai seorang perempuan dan menjalin hubungan yang normal dengan lawan jenis.
Sejak ada peringatan dari warga desa, memang tingkah para Tongki ini relatif mereda. Kalaupun mereka menjalin hubungan, dilakukan dengan sembunyi-sembunyi.
Terus terang saya penasaran, ingin tahu lebih jauh tentang cerita para Tongki ini. Dan informasi soal Tongki ini, tak usah saya cari jauh-jauh, saya bisa mendapatkan informasi cukup akurat dari istri saya yang suka ngobrol dengan anak kost. Soalnya istri saya sangat akrab dengan anak kost. Sesama perempuan biasanya saling curhat dan berbagi cerita pengalaman masing-masing. Dari orbrolan-obrolan itulah cerita tentang para Tongki mulai mengalir. Dan kebetulannya lagi di kontrakan kami pernah kost beberapa Tongki dan pasangannya.
Kisah Tongki Pertama
Saat malam hari, sepulang dari kantor biasanya saya ngobrol dengan sang istri tercinta. Ya, iya lah, masak sih pulang kerja langsung tidur dan istri dicuekin, hehehe… Kami biasanya ngobrol tentang apa saja, termasuk ngobrol tentang tingkah polah para Tongki. Salah satunya tentang Susi (nama samara) kekasih Tongki yang mencoba bunuh diri, selengkapnya bisa dibaca di artikel ini “Seorang Karyawati Nekad Bunuh Diri”. Bagaimana sampai Susi menjalin hubungan dengan seorang Tongki? Dari cerita Susi kepada istri (Susi pernah kost di tempat kami), awalnya dia adalah perempuan normal. Sempat menikah dan punya seorang anak yang sekarang diasuh orang tuanya.
Namun pernikahan mereka kandas, karena suaminya ternyata tak setia. Sakit hati karena dikhianati sang suami, membuat Susi tak percaya kepada semua laki-laki. Sampai akhirnya Susi bertemu dengan seorang Tongki, sebut saja namanya Bety. Awalnya hubungan Susi dan Bety sekedar hubungan pertemanan karena kerja dan kost bareng. Lama-lama, karena Bety memberi perhatian lebih, layaknya seorang kekasih, Susi pun merasa nyaman menjadi teman spesialnya Bety. Akhirnya terjalinlah hubungan sesama jenis diantara mereka berdua. Hubungan mereka bahkan terlihat lebih mesra dibanding hubungan pasangan yang normal.
Kisah Tongki Kedua
Beda lagi cerita pasangan Tongki yang lain. Sebelum kenal pasangan Tongkinya, sebut saja Dina, adalah gadis normal yang suka sama laki-laki. Usianya masih tergolong belia, baru 16 tahun. Dina bekerja di pabrik Wig yang tak jauh dari kontrakan saya. Awalnya Dina, kost dengan dua orang teman perempuan sekampungnya yang sama-sama melamar kerja di pabrik Wig. Kedua temannya berhenti kerja karena mau menikah, sementara Dina masih menjomblo.
Datanglah dua orang anak kost yang baru masuk kerja di pabrik Wig. Ternyata mereka berdua adalah sepasang kekasih, seorang Tongki, sebut saja Wati dan pasangannya. Awalnya saya dan istri tidak tahu bahwa kedua perempuan ini pasangan sejenis, karena sikapnya yang biasa-biasa saja. Penampilan Wati, si Tongki pun sekilas terkesan peminin. Maka kedua perempuan ini kami tempatkan satu kamar dengan Dina. Jadilah mereka kost satu kamar bertiga.
Kami baru tahu bahwa mereka berdua Tongki dengan pasangannya, dari cerita Dina. Dina suka cerita ke istri, kalau mereka berdua sering terlihat mesra. Kalau tidurpun mereka saling berpelukan. Tapi tidak sampai melakukan hubungan intim layaknya pasangan sejenis. Makin lama mereka berdua makin berani menunjukan kemesraan di depan teman-teman kostnya. Istri saya juga sering melihat kemesraan mereka berdua.
Sampai suatu hari pasangan Wati keluar dari tempat kerjanya dengan alasan mau pindah kerja ke tampat lain. Jadilah sekarang Wati tinggal berdua dengan Dina. Wati yang sedang patah hati ditinggal pasangannya, mencoba mendekati Dina. Awalnya Dina tak begitu suka dengan sikap Wati. Namun perhatian Wati membuat Dina luluh dan coba-coba menjadi pasangannya. Dari awalnya hanya kasihan sama Wati, lalu coba-coba, lama-lama Dina menikmati hubungannya dengan Wati, maka jadilah mereka sepasang kekasih dan menjalin hubungan sesama jenis.
Beberapa bulan lalu, Dina sudah keluar dari tempat kerjanya dan sudah menikah dengan seorang duda beranak satu. Tapi, ternyata Dina masih belum bisa melupakan hubungannya dengan Wati. Selain kontak telepon, Wati masih suka berkunjung ke rumah Dina. Suami Dina tentu tak curiga, karena menganggap Wati hanya sekedar teman kostnya. Jadi, tak mudah bagi seorang Tongki untuk kembali menjadi perempuan sejati dan menjalani hubungan yang normal.
Saya masih penasaran dengan cerita para Tongki ini. Saya ingin tahu, apakah para Tongki yang sejak kost di tempat kami memang sudah kelihatan Tongki tulen, sebelumnya normal atau memang sejak kecil sudah jadi Tongki?
Saya tanya lebih lanjut ke istri yang sering ngobrol dengan Wati. Menurut istri, dari cerita dan pengakuan Wati, awalnya dia adalah perempuan normal. Dia jadi Tongki, karena sejak bekerja di pabrik dia berteman dekat dengan Tongki. Berawal dari sentuhan atau rabaan, berlanjut ke ciuman. Walaupun niat awalnya cuma iseng dan coba-coba, semakin sering hal itu dilakukan dan dinikmati akhirnya jadi ketagihan.
Berawal dari coba-coba, dinikmati dan akhirnya ketagihan (foto: http://pasunik.blogspot.com)
Proses “penularan” perilaku para Tongki ini mungkin tak jauh beda dengan orang yang kecanduan rokok, minuman keras atau narkoba. Bukankah semua awalnya dari iseng dan coba-coba? Lambat-laun jadi suka dan akhirnya jadi ketagihan bahkan kecanduan. Jika sudah kecanduan, jadi sulit untuk melepaskan diri darinya.
Dari cerita-cerita di atas, walaupun belum terbukti secara ilmiah, berarti benar apa yang dikatakan orang-orang, bahwa hubungan sejenis bisa “menular”. Dina bisa menjadi contoh, gadis normal yang ketularan dan akhirnya jadi Tongki dan menjalani hubungan sejenis. Jadi ingat, cerita film Jombi yang jika mengigit manusia normal bisa mengubah manusia itu menjadi Jombi.
Masih ada dua kisah Tongki lagi sebenarnya yang ingin saya ceritakan di sini, tapi kalau diceritakan sekarang, artikel ini akan terlalu panjang. Jadi ceritanya akan dilanjut di artikel berikutnya. Kisah dua Tongki berikutnya lebih seru dan dramatis.
Artikel Terkait:
curhat cinta
- Inspirasi dari Gadis Mungil dengan Down Sindrom
- 5 Tips Rahasia Awet Muda, Cantik dan Menawan
- Inilah Cinta yang Sederhana dan Apa Adanya
- Apa kata Krisna jika Melihat Kisah Cinta Rais dan Risna?
- “Pengorbanan Cinta”, Bukan Novel Biasa!
- Cinta Sejati yang Membuatku Menangis
- Perselingkuhan, Bagaimana Mencegah dan Mengakhirinya?
- Jalan Hidup Gue
- Jika Kekasih atau Pasangan Anda Acuh Tak Acuh, Bagaimana Menyikapinya?
- Pacar dan Sahabatku Meninggalkanku Bersamaan
- Apa yang Anda Inginkan dari Pasangan Hidup Anda?
- Jika Mau Melamar Sang Kekasih, Apa yang Akan Anda Katakan Kepada Calon Mertua?
- Seorang Karyawati Nekad Bunuh Diri
- Jika Ditinggal Kekasih yang Sangat Dicintai lalu Ditinggal Sahabat, Apa yang akan Anda Lakukan?
- Tema “Cinta” Mendominasi Forum Curhat
- Bagaimana Meyakinkan Orangtua bahwa Anda Sudah Siap Menikah?
- Arti Cinta Bagi Seorang Bipolar (Bagian 2)
- Arti Cinta Bagi Seorang Bipolar (Bagian 1)
- Jangan Takut untuk Mencintai, Seseorang sedang Menunggu Kedatangan Anda
- Pengorbanan Cinta
- 5 Saran Simpel Untuk Cowok yang Sedang Mencari Cewek Idaman
- Pengorbanan Cinta
- Cinta atau Sahabat
- Keajaiban Memberi
curhat kisah
- Hati-Hati dengan “Sang Pencuri Impian”
- Cinta yang Luar Biasa Seorang Ayah kepada Anak Angkatnya
- Pengamen Nyentrik di Markas Polres Subang
- Apa kata Krisna jika Melihat Kisah Cinta Rais dan Risna?
- Ebook True Story “Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah”
- Inpirasi dari film “Mongol”, True Story Genghis Khan
- Tanggung Jawab dan Keberanian yang Luar Biasa Dua Ekor Semut Pemimpin
- Ibuku, Tak Pernah Membentak Apalagi Memukulku
- Gabriel Muniz, Bocah Tanpa Kaki yang Punya Talenta Luar Biasa
- Ayahku adalah Sahabat, Teman Curhat dan Penasihatku
- Ujian Tuhan untuk Seorang Istri Luar Biasa yang Bijaksana dan Berjiwa Besar
- Kejujuran Iblis Kepada Nabi Muhammad SAW ( 2 )
- Kejujuran Iblis Kepada Nabi Muhammad SAW
- Seorang Karyawati Nekad Bunuh Diri
- Pelajaran Berharga dari Nenek “Berbibir Merah” di Lereng Merapi
- Bagaimana Mengatasi Kejenuhan Rutinitas Kerja dengan Cara Sederhana namun Unik dan Berkesan
- Pelajaran Berharga dari Seorang Janda Tua
- Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Pasukan Super Khusus Amerika Serikat, “Tim Enam” Navy SEAL?
- Bagaimana Bertahan Hidup Selama 3 Minggu di Lautan Lepas?
- Zhang Da, Bocah Tangguh yang Pantang Menyerah!
- Inilah Kaver buku “Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah”
- Perempuan Tua yang Hilang Ingatan itu Diusir Petugas Ronda
- Keajaiban Memberi
- Ketegaran Jiwa Seorang Sekizofrenia
curhatku
- Menjalani Proses Pengobatan dan Pemulihan Gangguan Jiwa, Butuh Keyakinan dan Kesabaran
- Banyak “Tongki” Masuk ke Desa Kami
- Tanggung Jawab dan Keberanian yang Luar Biasa Dua Ekor Semut Pemimpin
- Sahabat yang Unik dan Langka
- Di Ujung Senja Menanti Sang Kekasih
- Ibuku, Tak Pernah Membentak Apalagi Memukulku
- Ayahku adalah Sahabat, Teman Curhat dan Penasihatku
- Kenangan Indah di Tangkuban Perahu dengan Teman, Kekasih dan Anak Istri
- Tuhan Kadang Mengabulkan Do'a Kita dengan Cara yang “Unik” dan Tak Pernah Terbayangkan
- Rekaman Wawancara Tentang Bipolar Dengan Penyiar Radio Nederland Wereldomroep (RNW)
- Ada Apa di Tahun Baru 2012?
- Indah dan Uniknya Persahabatan di Dunia Maya
- Testimoni
- Selamat Idul Fitri 1432 H
- Hanya Dalam 6 jam Kehilangan 2 Penopang Hidup Keluarga
- Antara Atlet dan ODB
- Jangan Takut untuk Mencintai, Seseorang sedang Menunggu Kedatangan Anda
- Sahabat, Tapi juga Musuh Dalam Selimut yang Lambat Aku Kenali
- Saling Berbagi untuk Mencari Solusi Terbaik Penanganan Gangguan Bipolar
- Oleh-Oleh Nyantri di Pesantren Ustad Yusup Mansyur
- Jangan Hanya Mencari Obat, Tapi Cari Dulu Sang Pemilik Obat!
- Pengorbanan Cinta
- Luapan Semangat dan Gairah yang Saya Alami, Bukan Manik!
- Komentar dan Saran dari Teman Facebooker dan Blogger
Ingin mendapat artikel seperti ini langsung ke Email anda? Silahkan masukan alamat email anda untuk berlangganan.
Komentar :
serem juga ya tongkinya
Dulu saya nggk tau apa itu tongki, Gan tpi kampung ente kyknya kurang sigap sma pecinta sesama jenis. Ane tau karena ane pernah mengerjakan Project Ban Evoty di Subang.Dan skarang kmpng ente diseBut kmp.Tongki
Posting Komentar
Sampaikan komentar terbaik anda di kolom komentar :)