BUKU: 2 KUTUB

Buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata penulisnya. Mengupas secara detail dan sistematis dari gejala awal gangguan bipolar, saat berada di puncak manik dan depresi, sampai langkah-langkah pemulihannya. Inilah buku “2 KUTUB: Perjalanan Menantang Di Antara Dua Kutub”.

Info Buku >> KLIK DISINI

Batas Kemampuan

Seorang remaja lugu dan pemalu yang baru lulus SMA, diajak saudaranya bekerja di sebuah perusahaan sebagai tenaga administrasi. Si remaja ragu menerima ajakan tersebut. Mengapa? Dia menganggap pekerjaan tersebut menuntut kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi, hal yang menurutnya tak dikuasainya. Dia selalu merasa tidak percaya diri saat berhadapan dengan seseorang.
Sebelum mengambil keputusan—apakah akan menerima atau menolak ajakan tersebut—dia mengadu dan meminta saran ayahnya.

“Pak, sepertinya aku tak bisa menerima ajakan kerja itu. Aku merasa tak akan mampu melakukannya,” kata si remaja setengah mengeluh.

“Kalau kira-kira kamu tak sanggup, ya jangan dipaksakan,” kata sang ayah. “Tapi…” lanjutnya, “Sebaiknya kamu coba saja dulu barang sebulan atau dua bulan. Kalau sudah dicoba ternyata memang tak mampu, kamu bisa mengundurkan diri.”

“Jadi aku coba dulu Pak?”

“Ya, coba saja dulu! Nggak enak menolak ajakan orang. Kalau suatu saat nanti kamu butuh pekerjaan, nggak malu memintanya, iya kan?” kata sang ayah meyakinkan.

“Iya deh, Pak, akan aku coba,” kata si remaja, masih dengan nada ragu.

Beberapa tahun kemudian si remaja pendiam dan pemalu yang selalu merasa rendah diri ini sudah menjadi manajer pemasaran di perusahaan tersebut. Padahal saat pertama kali bekerja, jangankan melakukan transaksi jual beli yang membutuhkan kepiawaian berkomunikasi, berbicara di telepon saja ia sering gugup. Sampai-sampai bosnya sering menegurnya, “Kalau ngomong di telepon yang keras dong! Enggak kedengaran, kayak berbisik!” Ia juga paling enggan jika harus menghadapi tamu, karena ya itu tadi, sering gugup dan kikuk.

Namun, tuntutan pekerjaan mengharuskannya sering berinteraksi dengan banyak orang. Jadi mau tak mau, segugup dan sekikuk apa pun, terpaksa ia harus menghadapi dan berbicara dengan banyak orang. Situasi dan kondisi lingkungan kerja ini, tanpa ia sadari telah melatih sekaligus mengasah kemampuannya dalam berkomunikasi. Perlahan tapi pasti, rasa gugup dan malunya mulai berkurang. Kepercayaan dirinya pun mulai tumbuh dan berkembang.

Tak terasa, pekerjaan yang semula ia anggap berat dan tak mampu dilakukannya itu, sudah dijalaninya selama hampir sepuluh tahun. Semakin lama ia semakin menyukai pekerjaannya, dan sepertinya, sekarang ia tak sedikit pun berniat mengundurkan diri dari perusahaan itu.

Kebanyakan dari kita mungkin belum tahu batas kemampuan diri yang sebenarnya. Kadang kita menilai terlalu rendah kemampuan diri sendiri. Mungkin kita melihat diri kita seperti “Oplet tua-nya si Mandra” yang sering mogok dan harus didorong jika dihidupkan pagi hari. Itu lho, oplet tua milik si Doel, anak Betawi “si tukang insinyur” dalam sinetron “Si Deol Anak Sekolahan (SDAS)”.

Bicara soal sinetron (maaf, agak melenceng sedikit), saya penggemar berat sinetron SDAS. Karena menurut saya, tidak seperti kebanyakan sinetron yang selalu menampakan kegemerlapan, tema maupun jalan cerita SDAS tergolong realistis, memotret kehidupan keluarga Betawi apa adanya. Kadang saya merasa terwakili oleh tokoh si Doel (Rano Karno), seorang pemuda Betawi yang sederhana namun bercita-cita tinggi dan selalu memegang teguh prinsip. Bukan hanya itu, si Doel yang pendiam dan pemalu itu ternyata mampu menggaet cewek metropolitan yang cantik jelita, cerdas dan gaul, Sarah (Cornelia Agatha). Untuk yang satu ini, saya merasa kurang terwakili, karena saya tak sepandai si Doel soal menggaet cewek cakep….he-he-he……

Kembali soal “Oplet tua”.
Kita mungkin menganggap diri kita sebagai oplet tua yang tak bisa berlari cepat dan sering mogok si tengah jalan. Penampilannya pun sama sekali tak menarik, lebih pantas menjadi bahan ejekan dan tertawan orang sepanjang jalan. Kita tak sadar bahwa diri kita sebenarnya adalah Mercedes-Benz. Bila dirawat dengan baik, diberi bahan bakar dan pelumas yang berkualitas, lalu dikendarai dengan benar, mobil mewah ini bisa dipacu dengan kecepatan tinggi. Lincah dan gesit menembus jalan tol maupun melintasi jalanan kota yang macet. Penampilannya pun gagah, anggun dan elok. Selalu menjadi pusat perhatian dan mengudang decak kagum siapa pun yang melihatnya.
Jadi, sebenarnya terserah kita, apakah akan melihat diri kita sebagai “Oplet tua” atau sebagai “Mercedes-Benz”?

Art Garner, seorang pembicara motivasional terkenal, dalam bukunya Why Winners Win, menjelaskan dengan indah mengenai hal ini:
“Ketehuilah, tragedi kehidupan yang sesungguhnya bukan terletak pada terbatasnya bakat, tetapi pada kegagalan menggunakan bakat itu. Bukanlah siapa diri kita yang menahan kita – itu adalah orang yang kita pikir bukan diri kita. Kita perlu menyadari bahwa masa lalu kita tidak membatasi kemungkinan kita. Para ahli psikologi menunjukkan bahwa kita kebanyakan hanya mengembangkan dan menggunakan 10 sampai 15 persen potensi kita.”

Si remaja yang diceritakan diawal tulisan ini sebenarnya punya potensi untuk sukses, namun dia tidak menyadarinya. Malah sebaliknya menganggap dirinya tidak punya kemampuan. Dia bukanya tak mampu melakukan pekerjaan itu, tapi dia takut tak mampu, takut gagal! Takut diejek, takut ditertawakan, takut direndahkan, takut pada apa yang akan dikatakan orang tentang dirinya jika ia tak mampu melakukan pekerjaan itu. Mengapa ia takut? Karena ia tak percaya pada kemampuan dirinya sendiri. Mengapa ia tak percaya pada kemampuannya? Karena ia tak tahu dan tak mengenal kemampuan dirinya yang sebenarnya.

Berikut pendapat David. H. Burns tentang rasa takut, “Orang harus mulai belajar dan mengkaji potensi dirinya, melakukan monolog sehingga bisa diketahui rasa takut yang sebenarnya. Dan dari situ, Anda akan menyadari betapa tidak rasionalnya rasa takut itu. Sebab, yang Anda takuti tak lain adalah diri Anda sendiri. Repleksi semacam itu bakal menyadarkan Anda, "Saya menjadi gugup dan bingung, dan hal itu sungguh menjengkelkan" Ya, betul. Dan buatlah prasangka untuk mengenali gejalanya—bahwa gugup adalah suatu yang manusiawi saja.”

“Maka, seseorang yang takut gagal sebenarnya memerlukan pengalaman gagal sebanyak-banyaknya. ‘Praktik kegagalan’ ini membuahkan banyak hasil. Bila ia gagal berulang kali, ketakutan akan gagal cenderung lenyap, Karena ia akan mengetahui bahwa sungguh tetap hidup dan dunia benar-benar tidak kiamat," kata Burns.

“Ngomong gampang tapi praktiknya yang susah!” begitu celetuk seorang teman. Betul! Tak mudah merubah sesuatu yang sudah tertanam kokoh di alam bawah sadar. Saya merasakannya sendiri. Saya sering takut dan khawatir jika akan melakukan hal-hal baru. Ya itu tadi, takut gagal dan takut salah. Tapi susah dan tak mudah tidak berarti tak bisa bukan? Dengan keyakinan dan tekad kuat, kita bisa memperbaiki dan merubah kekurangan dan kelemahan diri. Tentu saja tidak cukup hanya dengan merubah keyakinan dan pemikiran yang keliru, yang terpenting adalah bertindak!

Dr. Windy Dryden dan Jack Gordon dalam bukunya Think Your Way to Happyness, menyarankan kepada pembacanya untuk melakukan beberapa latihan praktis yang disebutnya sebagai 'latihan-latihan mengalahkan rasa malu'.
"Latihan-latihan tersebut dirancang untuk membuat anda bertindak melawan sikap-sikap Anda yang menciptakan malu dan kebingungan yang sudah demikian melekat pada diri anda untuk waktu yang lama, yang membuat Anda tidak bisa melakukan banyak hal yang sebenarnya ingin Anda perbuat karena
Anda menganggapnya terlalu memalukan atau membingungkan.

Ada dua tujuan dari latihan-latihan ini. Pertama, dengan melaksanakan latihan-latihan ini
memberikan pada Anda suatu pengalaman belajar yang membuktikan bahwa tidak ada apapun yang menakutkan akan menimpa diri anda jika orang-orang menertawakan anda atau menunjuk anda dan menggeleng-gelengkan kepala mereka. Kedua, dengan melakukan latihan-latihan tesebut memberikan pada anda kesempatan untuk menerima diri anda sebagai manusia yang mudah berbuat salah dihadapan kritik-kritik dari orang lain terhadap anda," tulis Dr. Windy dan Jack Gordon

Berikut salah satu contoh latihan untuk mengalahkan rasa malu yang disarankan Dr. Windy dan Jack Gordon:

Masuklah ke sebuah supermarket dengan berpakaian aneh. Sekarang ini, apa yang dianggap
sebagai pakaian aneh di suatu daerah mungkin merupakan hal yang biasa di tempat lainya.
Maka gunakanlah akal anda. Bila anda seorang pria, kenakanlah wig wanita, pakailah ikat
leher dari bahan yang berwarna-warni. Lalu berjalanlah bolak-balik dalam supermarket tadi
untuk selama sedikitnya sepuluh menit pada saat banyak pengunjung sedang berbelanja. Bila
orang-orang tersebut menertawakan anda, biarkanlah! Yakinkanlah diri anda bahwa walaupun
anda kelihatanya tolol, hal itu tidaklah berarti anda seorang yang dungu.

Perlihatkan diri anda bahwa apa pun pendapat orang-orang mengenai perilaku anda, anda tidak harus meremehkan diri anda sendiri, meskipun anda bisa memakluminya bahwa perilaku anda mungkin merupakan bahan tertawaan.

Jadi jangan malu atau takut melakukan sesuatu, terutama sesuatu yang baru, lakukan saja! Jangan takut gagal, jangan takut diejek atau ditertawakan, dan jangan peduli apa pun yang akan dikatakan orang-orang tentang anda. Toh semua itu tak akan membuat anda terluka!
“Praktik-praktik kegagalan” itu akan menjadi pengalaman berharga bagi anda. Dan rasa takut itu tak lagi akan mengekang dan mengendalikan anda, tapi akan berada dalam kendali anda. Maka jadilah anda seorang pemberani!

Lanjutkan...

Seseorang, Tolonglah Saya!

Empat bulan yang lalu saya ditolak oleh seorang cewek. Saya langsung mencoba melupakannya. Jeleknya, saya menandai pikiran saya, seperti ini, saya membunyikan alarm seperti ini di pikiran saya,"saya melupakannya barusan", jelas konyol, hal ini juga sekaligus memanggil dia ke pikiran saya. Mulanya alarm itu berbunyi sekitar sekali sepuluh menit, lalu menjadi semakin sering, sampai menjadi sekitar sekali semenit. Dalam segala kegiatan, membaca, menonton, berbicara, dalam segala kegiatan, pikiran seperti ini menjadi pola yang tidak terputus di kepala saya. Jadi dalam apapun yang saya lakukan, dia selalu timbul tenggelam di pikiran saya, sekali satu menit, saya selalu menangkap kemunculannya di pikiran saya, emngukur berapa lama dia tidak ada di pikiran saya. Saya bukan lagi sekedar teringat pada dia, tapi dia tertahan di pikiran saya. Saya bukannya tidak ingin mengingat dia, tapi bukan dengan cara seperti ini, saya kehilangan fokus, tidak lagi mempunyai lamunan, selain memikirkan cara keluar dari kesulitan ini.
Sekitar satu bulan saya menjalani hidup seperti ini, sampai saya bertemu lagi dengan cewek itu, dan saya mendapatkan cintanya! kami jadian! tapi saya udah terlanjur gila!
Pikiran saya tetap seperti itu, dikejutkan oleh alarm-alarm, tidak mengalir, padahal saya sudah tidak perlu melupakan dia, tapi dia tertahan di pikiran saya. Tidak punya fokus, tidak punya lamunan, selalu menandai sampai di mana pikiran ini berjalan, mengukur berapa lama alarm tidak berbunyi, waktu dan uang jutaan ludes untuk berobat, psikolog, psikiater, hypnoterapi, dan ternyata, penyakit ini tidak ada yang mengenalinya, saya adalah manusia pertama yang mengidapnya.
Sejatinya adalah, saya tidak bisa bisa membuat mereka benar-benar memahami apa yang terjadi pada pikiran saya, mereka mengatakan bahwa ini biasa terjadi pada orang patah hati, walaupun saya rasa apa yang terjadi pada saya cukup gampang dipahami, bahkan boleh dicobakan pada pikiran anda sendiri.
Sekarang cewek itu sudah saya putuskan tanpa saya bisa menjelaskan alasannya. Untuk beberapa lama saya masih mencoba menjalani hidup normal, bekerja, kuliah, bergaul, dengan pikiran seperti itu, but not anymore, sekarang saya hanya bisa bertahan hidup dengan rohypnol di siang hari, mabuk di malam hari, berbulan-bulan sudah seperti ini, dan sayangnya, Tuhan belum mematikan saya.
Siapa pun, tolong beri tanggapan untuk ini.
Dalam bulan-bulan pertama saya sangat intensif mencari pengobatan. Setelah gagal ke beberapa tempat dan kehabisan uang, saya pasrah dan hidup memprihatinkan selama tiga bulan. Beberapa hari ini, setelah sebuah percobaan bunuh diri yang gagal, ada keinginan untuk mempunyai pikiran seperti dulu, tapi saya sudah tidak punya apa-apa lagi.
Kalau ada yang ingin memberi bantuan, atau penjelasan saya kurang lengkap, silahkan post di sini atau email ke qiubolok@yahoo.com

Tulisan di atas dikutif dari forum diskusi Sivalintar.com.
Jika anda ingin memberi saran atau nasehat untuknya silakan tulis di kolom coment di bawah.
Anda juga bisa mengirim saran atau nasihat langsung melalui emailnya atau melalui email pengelola blog ini: sivalintar@yahoo.com.

Lanjutkan...

JURUS JITU JINAKAN STRES

STRES, salah satu jenis gangguan jiwa ringan yang bisa dialami oleh siapa saja. Dari anak-anak, remaja, orang tua sampai lansia bisa mengalami stres dengan kadar gangguan yang berbeda-beda. Faktor penyebabnya pun bisa beragam pula. Seorang remaja bisa stres karena kesulitan belajar atau karena putus cinta. Orang tua bisa stres karena memikirkan tingkah polah anak-anaknya yang susah diatur dan suka memberontak. Bahkan, seseorang bisa stres berat hanya karena hewan peliharaan kesayangannya mati. Masih banyak lagi faktor pemicu stres (stressor) dengan tingkat yang berbeda-beda pula pada setiap orang. Dari stressor ringan sampai stressor berat. Berat ringannya stressor relatif pada setiap orang. Suatu stressor bisa dianggap ringan oleh si A, tapi sebaliknya bisa dianggap berat oleh si B.


Tapi, tidak soal apa pun dan bagaimana pun faktor penyebabnya, yang penting adalah bagaimana cara mengatasinya, agar stres tidak berlarut-larut sampai menjadi gangguan jiwa kronis. Jika anda merasa stres atau gangguan jiwa ringan, jangan panik! Tenangkan perasaan dan kendalikan pikiran, berusahalah untuk rileks.


Berikut akan saya jelaskan dua “jurus jitu” untuk mengendalikan dan mengatasi gejolak perasaan dan pikiran ketika stres datang menggoda.


Sebelumnya saya ingatkan, walaupun saya sebut “jurus jitu”, apa yang akan saya jelaskan ini bukan “mantra ajaib” yang bisa mengatasi gangguan mental setiap orang dengan seketika. Jurus ini saya olah dari pengalaman saya sendiri dan pengalaman orang lain ketika mengalami tekanan jiwa. Jurus ini belum tentu cocok untuk semua orang, karena gangguan mental sifatnya sangat spesifik, baik penyebab, gejala maupun cara penanggulangannya, tergantung karakter si penderitannya. Namun, tak ada salahnya jika jurus ini dicoba. Mari kita mulai membahas sekaligus mempraktikan jurusnya.

Jurus Pertama: SIMPAN BEBAN ANDA

Steven R. Covey, mengumpamakan beban pikiran atau tekanan mental seperti gelas berisi air. Segelas air dengan takaran yang sama, beratnya relatif, bisa berbeda-beda tergantung seberapa lama kita memegangnya.


Jika anda merasakan ada beban pikiran yang membuat anda stres, jangan biarkan beban itu menekan anda terus-menerus, karena semakin lama beban itu akan terasa semakin berat. Tunda beban itu, paling tidak untuk sementara!


Jika siang hari anda merasa stres karena beban pekerjaan yang menumpuk atau masalah lain yang menekan pikiran anda, malam hari selepas kerja, simpan semua beban pikiran itu! Coba anda katakan pada diri sendiri, “Malam ini saya ingin tenang dan menikmati kebersamaan dengan keluarga. Saya tak akan memikirkan masalah apa pun sampai besok pagi.”


Jika anda bisa melepaskan beban pikiran, paling tidak untuk sementara, anda akan merasa tenang dan rileks. Tak masalah jika besok pagi anda akan mengambil dan memikul beban itu kembali. Besok adalah misteri. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Bukan tidak mungkin besok hari anda akan menemukan jalan keluar dari masalah yang sedang anda hadapi. Tapi, apa pun yang mungkin akan terjadi besok, berusahalah untuk selalu berpikir positif. Sikapi setiap kejadian (baik atau buruk) dengan hati yang lapang dan pikiran yang jernih.

Jurus Kedua: PUPUK HARAPAN

Dalam situasi sesulit dan seberat apa pun, saat segalanya tampak buruk, saat keputusasaan mendera, bahkan disaat yang paling kritis sekalipun, selalu ada yang tersisa, sekecil apa pun, itulah HARAPAN.


Mungkin anda pernah mengalami saat-saat ketika hanya harapan yang tersisa. Kita juga sering mendengar ungkapan seperti ini, “Walaupun sangat kecil, tapi masih ada harapan.”
Harapan adalah dasar dari sikap positif, akar dari optimisme. Harapan bisa menepis keputusasaan sekaligus menumbuhkan gairah dan semangat.


Ketika anda menghadapi suatu masalah yang membuat anda stres, cobalah untuk mencari solusi. Solusi akan melahirkan harapan; keadaan akan berubah, keadaan akan membaik dan masalah akan bisa diatasi. Pupuklah harapan-harapan anda. Yang saya maksud adalah harapan yang realistis. Boleh juga khayalan atau angan-angan tapi tetap yang realistis. Sebagai gambaran dan perbandingan, berikut akan saya ceritakan sebuah contoh, kisah tentang bagaimana harapan bisa membantu anda mengatasi dan menyelesaikan masalah.


Seorang pemuda yang sehari sebelumnya baru saja kecurian sepeda motor kesayangannya, tidak tampak terlalu kecewa, murung atau sedih (bukan tidak sama sekali, karena ini sesuatu yang sangat manusiawi), sebaliknya ia tampak tenang dan rileks. Padahal dia membeli sepeda motor itu dengan uang tabungannya sendiri yang ia kumpulkan selama beberapa tahun. Apa gerangan di balik sikap rileksnya? Mari kita selidiki penyebab dan alasannya.


Seminggu sebelum peristiwa pencurian, ia mengisi sebuah angket berhadiah di tabloid otomotif langganannya. Hadiah utama angket tersebut adalah sebuah sepeda motor. Saat si pemuda kehilangan sepeda motornya, awalnya memang ia merasa kecewa, sedih, bingung dan marah. Reaksi wajar yang akan dirasakan siapa pun yang mengalami peristiwa serupa. Namun, semua itu tidak berlangsung lama, ia bisa mengendalikan pikiran dan perasaannya. Ia bisa berpikir jernih dan positif. “Mungkin semua ini cobaan dari Tuhan. Tuhan mungkin punya rencana lain yang tidak saya fahami. Saya yakin Tuhan maha adil. Bukan tak mungkin dengan hilangnya motor itu, saya akan mendapatkan gantinya, motor yang lebih bagus,” begitu pikiran positifnya.



Ia ingat tentang angket berhadiah sepeda motor yang diikutinya. Ia berharap (setengah berkhayal), siapa tahu dengan hilangnya sepeda motor miliknya, ia akan mendapat gantinya dengan memenangkan hadiah utama, sebuah sepeda motor. Itulah harapannya. Harapan yang cukup realistis dan tidak terlalu muluk.


Itulah rahasianya, mengapa ia bisa tetap tenang dan rileks. Dia punya HARAPAN dan terus memupuk harapannya. Tapi bukan berarti ia hanya duduk berpangku tangan dan menunggu nasib baik atau keajaiban datang. Dengan pikiran jernih dan tenang, ia bisa mencari solusi mengatur strategi dan menentukan langkah terbaik yang akan dilakukannya untuk mencari dan melacak sang pencuri sekaligus melacak keberadaan sepeda motornya.


Dibantu oleh keluarga, sahabat dan kerabatnya, ia berusaha sekeras yang ia bisa untuk melacak sang pencuri dan sepeda motornya. Tak lupa ia pun berdo’a memohon pertolongan dari yang maha kuasa. Usaha kerasnya membuahkan hasil, dua hari kemudian sudah ada titik terang, siapa si pencuri dan perkiraan keberadaan sepeda motornya. Tengah malam, tepat tiga hari setelah peristiwa pencurian, sepeda motor kesayangannya berhasil ditemukan dan dibawa pulang, walaupun sang penmcuri berhasil melarikan diri. Anda bisa membayangkan betapa bahagiaanya dia? Walaupun motor itu sudah tak utuh lagi karena dipereteli dan warnanya sudah berubah, namun semua itu tak mengurangi kebahagiaanya.


Lalu bagimana tentang harapan si pemuda, tentang hadiah sepeda motor dari angket yang diikutinya? Beberapa minggu kemudian, dia menerima kiriman via pos dari redaksi tabloid otomotif langganannya, selembar poster. Ya, selembar “poster” moge (motor gede) favoritnya lengkap dengan bikernya yang tampak gagah. Itulah hadiah angket yang berhasil dimenangkannya.


“Jadi jika motor saya tidak berhasil ditemukan, sebagai gantinya saya mendapatkan sebuah poster sepeda motor yang keren, weleeeeh….” Begitu gumamnya, sambil tersenyum.


Tapi, apa pun hadiah yang ia peroleh, harapan akan hadiah itu telah membuatnya bisa berpikir dan bertindak positif, tidak terpuruk dalam kekecewaan dan keputusasaan.

Lanjutkan...
Tiga Serangkai eBook Bipolar

3 eBook Bipolar ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata penulisnya. Mengupas secara detail dan sistematis dari gejala awal, saat berada di puncak manik dan depresi, sampai langkah-langkah pemulihannya. Inilah ebooknya : "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah”, “Berdamai dengan Bipolar” dan “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”.
eBook 1: "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah"

Buku psikomoar ini bercerita tentang pergumulan saya selama bertahun-tahun dengan gangguan jiwa yang tidak saya fahami dan membuat saya bertanya-tanya, “Apa yang terjadi dengan diri saya? Penyakit apa yang saya alami? Bagaimana cara mengatasinya?” Ironisnya, saya baru tahu apa yang terjadi dengan diri saya, 8 tahun setelah saya pulih, bahwa saya mengalami Gangguan Bipolar. [Selengkapnya]




eBook 2: "Berdamai Dengan Bipolar"

Bagaimana mengenali dan mengatasi Gangguan Bipolar?
Bagaimana menanggapi sikap negatif orang-orang di sekitar anda?
Bagaimana mendampingi orang yang mengalami Gangguan Bipolar? eBook ini memberi jawaban dan solusi alternatif penanganan Bipolar. [Selengkapnya]



eBook 3: “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”

eBook ini merupakan inti dari pengalaman dan pemahaman bipolar saya. Inti dari tulisan-tulisan saya di buku, ebook, blog, facebook, twitter dan media lainnya. eBook ini bukan teori-teori tentang gangguan bipolar! Bukan formula ajaib untuk mengatasi gangguan bipolar! eBook ini tentang tindakan, langkah-langkah penanganan bipolar. [Selengkapnya]


eBook Novel: “Pengorbanan Cinta”

Novel ini bukan sekedar kisah cinta yang romantis dengan segala macam konflik di dalamnya. Saya berani menyebut novel ini sebagai “Buku Pelajaran Cinta”. Beda dengan buku pelajaran pada umumnya, Buku Pelajaran Cinta ini tak membosankan, malah sangat mengasyikan dibaca. Setelah mulai membaca, jamin Anda tak ingin berhenti dan ingin terus membacanya sampai akhir cerita. [Selengkapnya]



eBook Panduan: “7 Langkah Mudah Menyusun & Memasarkan eBook”

Jika dikemas dengan desain cover yang apik dan diberi judul yang manarik, kumpulan posting blog atau catatan facebook anda bisa disusun menjadi sebuah ebook yang akan memikat pembaca di ranah maya. Selanjutnya ebook anda tinggal dipasarkan secara online.
[Selengkapnya]

 
 © Copyright 2016 Curhatkita Media  template by Blogspottutorial