BUKU: 2 KUTUB

Buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata penulisnya. Mengupas secara detail dan sistematis dari gejala awal gangguan bipolar, saat berada di puncak manik dan depresi, sampai langkah-langkah pemulihannya. Inilah buku “2 KUTUB: Perjalanan Menantang Di Antara Dua Kutub”.

Info Buku >> KLIK DISINI
Tampilkan postingan dengan label curhat cinta tresya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat cinta tresya. Tampilkan semua postingan

Bukan Manusia, Jika Itu Sempurna ( 37 - Selesai )

Aku Memilih untuk Dicintai

Oleh Tresya Agnashila


Tirta tak sabar, menungguku datang ke rumahnya. Pukul 07.00, dia datang kemudian memelukku, ”Maaf ya, kemarin aku nggak bisa jemput.”

Semalaman aku terjaga. Terus memikirkan apa yang harus aku lakukan. Apa yang akan terjadi ketika Tirta tau mas Doni telah kembali. Dan benarkah kata-kata mas Doni tak akan membiarkan aku menikah dengan orang lain sebelum dia tau apa alasan aku meninggalkannya?

Lepas dari pelukan Tirta, aku memandangi wajahnya. Wajah manisnya, wajah lugunya, wajah polosnya saat ada di depanku. Semua yang dia alami, dia rasakan, hampir tak satupun aku tak tau, baik, buruk, tampan dan jeleknya dia, sudah dia buka semua terhadapku. Pun begitu, dengan keadaanku, masa laluku, keadaan hatiku, baiknya aku, buruknya kebiasaanku, dan semua hal-hal konyol yang sering aku lakukan, hampir semua telah aku ungkapkan pada Tirta.

Berat rasanya, duduk menemani Tirta sarapan sambil menyimpan hal besar yang baru saja aku alami. Tapi aku belum bisa, memulai kata-kata untuk mengungkapkannya. Tirta masih terlihat sangat lelah, subuh baru saja dia pulang dari rumah sakit. Lebih baik, aku menemaninya melepas lelah, sambil aku menenangkan hatiku, bersiap untuk menceritakan hal besar yang baru saja aku alami.

Selesai membersihkan diri, Tirta menawarkanku untuk berkeliling mencari undangan atau keperluan lain pernikahan kami. Tapi aku memilih untuk beristirahat, aku memintanya untuk tidur di pangkuanku.
”Ta…. Tidurlah disini. Rebahkan bahumu dipangkuanku…”
Tatapan mata Tirta terlihat bertanya-tanya ke arahku.
“Ada apa ni? Kok tumben kayak gini?”

Kemudian perlahan dia berjalan mendekat ke arahku dan memposisikan diri membaringkan kepalanya di pangkuanku.
Aku terus memandanginya… aku terus mengusap dahinya.
”Ta….. Tirta sayangku….”
Kata itu lirih keluar dari mulutku…
Tirta masih diam, dan makin terlihat raut curiga di wajahnya.
”Kenapa sayang ? ada apa? “

Aku masih diam. Tapi aku terlalu bodoh untuk menutup-nutupi sesuatu. Aku bodoh untuk berbohong. Dan aku juga bodoh untuk menutupi perasaanku. Terlebih didepan Tirta.
”Ta….boleh aku cium kamu? “
Tirta terbangun dari pelukanku.
”Kamu kenapa? “

Aku memeluknya…. Memeluknya dengan sangat erat sambil menangis menggantikan kata-kata yang belum bisa terucap dari bibirku.
“Ta….aku sayang kamu Ta…. Yang aku mau cuma kamu… kamu aja Ta….”

Tirta masih memelukku, dia membelai punggungku, membelai rambut panjangku yang terurai, sesekali mencium telingaku, menenangkanku.
”Iya…aku disini, buat kamu “
Setelah aku cukup tenang, tirta melepaskan pelukanku… tirta menyandarkanku kemudian membersihkan kembali peluh mas doni yang lagi-lagi mengotori wajahku.
Tirta merapikan rambutku, dan kemudian mencium keningku….
”Udah? sekarang cerita…. Ada apa? “

Dadaku masih sangat sesak, aku masih belum berani mengucapkan kata mas doni di depan tirta… berat rasanya mengucap nama itu didepan orang yang telah menyelamatkan hatiku.
”Dia pulang….”
”Dia? ” kata Tirta…
”Iya Ta…. Dia kembali… dia datang lagi….”
”Ehm, kamu mimpiin dia lagi? “
”Engga Ta…ini bukan mimpi. Ini kenyataan. Dia datang lagi, kami bertemu lagi. “
”Owh……” Tirta tersenyum sambil merebahkan dirinya disampingku.
”Heeehm… gimana ceritanya?” Tanya tirta

”Semalem, di terminal, aku ketemu sama dia. Waktu aku mau cari taksi, dijalan aku ketemu sama dia. Dia marah, karena selama ini aku nggak kasih kabar ke dia. Aku juga marah, kenapa selama ini dia nggak mencari aku. Awalnya aku mau menghindar dari dia, tapi nggak bisa. Dia nyeret aku masuk taksi, trus dia anter aku pulang kerumah. Di rumah kita membicarakan semuanya. Aku bilang ke dia, kalo aku udah punya kamu. Dan sebentar lagi kita bakalan nikah. Dia marah, ternyata selama ini dia masih nungguin aku. Dia masih berharap aku hubungi dia dan menyesali keputusanku.”
”Hehm…… trus sayang jawab apa ? “

Medengar tirta memanggilku sayang dan nada bicaranya yang terlihat cukup santai, hatiku jadi lega…..ternyata dia bisa menerima ini semua.
Aku jadi lebih lancar bercerita….

”Semalem dia bilang, kalo ternyata selama ini dia nggak pernah bisa berhubungan dengan wanita lain. Entah iya atau tidak..kenyataan aku jg nggak tau. Tapi itulah yg dia katakan. Nggak munafik, dia juga pernah deket sama beberapa cewek yang dia kenal disana. Tapi jalan 1 minggu, paling lama 2 bulan, pasti berakhir lagi. Karena dia belum bisa menemukan sosok aku diwanita lain. Dan saat dia tau aku udah mau nikah, dia nggak rela. Karena sekarang dia pulang, memang berniat untuk mencariku lagi. Entah iya atau engga, aku juga nggak tau…. Tapi aku ngotot, kalo aku udah serius sama kamu ta, dan aku udah bahagia sama kamu. Kamulah sosok yang terbaik untuk mendampingiku. Kamu juga lah yang membawaku keluar dari keterpurukanku. dan dia bilang, dia mau melepaskan aku kalo aku mau jujur ngasih tau alasanku ninggalin dia dulu…”

”Trus sayang bilang apa ? “
”Aku diem aja…aku masih nggak rela kalo akhirnya aku yang harus ungkapkan kebusukan mamanya…”
”Kenapa nggak rela ? “
”Kalo aku ngomong, trus apa gunanya selama ini aku menderita ? bahkan aku harus kehilangan dia ? “

Tuhaaaaaaaaaaaaaaan, sepertinya aku salah ngomong. Wajah tirta berubah jadi pucat dan pasif mendengar aku mengeluarkan kata-kata itu.
”Ehm…. Gitu ya “

Mati aku, tirta pasti kecewa dengan penyesalanku kehilangan dia. Dia pasti menganggap aku masih mengharapkan dia.
”Ya udah….. aku tau, sangat tau seperti apa wanita yang aku sayangi. Aku juga paham, dan kini lebih paham, seperti apa bentuk hati wanita yang aku cintai. Masih banyak waktu kok…. Sayang juga masih punya banyak kesempatan untuk memilih, dan menentukan….”
Dengan tersenyum tirta mengatakan semua itu…

Tirta tidur terlentang disampingku…dia menatap langit-langit dikamarku, dan aku masih terduduk termenung disampingnya, lagi-lagi meratapi kebodohanku.

Sekitar pukul 7 malam, tirta pamit untuk pulang… aku menahannya. Nggak biasanya dia pulang. Biasanya dia selalu tidur disini apalagi setelah lama kita nggak ketemu… tapi, sambil tersenyum dan menyentuh pipiku, dia menjawab
”Kamu nggak akan bisa berfikir kalo aku ada disampingmu “

Akhirnya dia pulang, dia masih terlihat tersenyum sampai dia benar-benar keluar dari halaman rumahku. Tapi aku tau, aku sangat memahami setiap sudut senyumnya….

Kamarku, kamar galau ku…dan saksi kehancuranku…lagi-lagi kamar ini yang menemani keterpurukanku. dan lagi-lagi semua karna mas doni.

Cinta memang hebat. Rasa sakitnyapun juga tak kalah hebat….
Semakin besar cinta, semakin dahsyat pula hantamannya….

Hidup adalah pilihan… pilihan menjadi baik atau menjadi buruk. Pilihan hitam atau putih. Manis atau asam. Tapi ada juga yang tak dapat kita pilih… siang dan malam, gelap dan terang, hujan dan gersang, hidup dan mati…

Tapi bahagia, masih mungkin untuk kita pilih…. Biar cinta sejati, cinta pertama dan cinta yang penuh impian, menjadi cerita dalam perjalanan hidup ku. Tapi cinta yang bahagia, cinta yang selalu bisa menghadirkan senyuman, cinta yang untuk menjalaninya tidak mengharuskanku untuk membuang jutaan tetes air mata, dan cinta yang selalu mampu menghangatkanku, akan kupilih sebagai masa depanku.

Aku ingin hidup….dan aku ingin bahagia…..

Hp ku bergetar, nomor tanpa nama yang tak asing bagiku muncul di layer utama.
”Di rumah dek, mas kerumah ya?” Mas doni mengirimiku sebuah pesan singkat….
”Ehm, mau ngapain mas ? “
”Boleh enggak ? “

Aku mencoba sebisa mungkin untuk menghindari pertemuan dengan mas doni. Bukan apa-apa, tapi aku sadar diri bahwa hatiku masih mudah untuk digoyahkan. Rasa rinduku yang bertahun-tahun mengendap masih sangat kuat mampu dengan mudah meracuni pikiranku. Dan dengan melihat atau mendengar suaranya saja, sudah mampu menggugurkan benteng pertahanan cintaku.

Tak kupungkiri, masih banyak hal yang ingin aku perbincangkan dengan mas Doni. Tapi, aku harus bisa menahan diri, untuk menjaga hati dan perasaan ini. Aku harus berperang melawan semua ini.

”Maaf mas, aku masih pengen istirahat… kalo ada sesuatu yang ingin mas sampaikan, mungkin bisa mas sampaikan lewat Hp ini….”

”Dek, banyak yang ingin mas ceritakan…. Banyak kejadian yang ingin mas bagi denganmu. “

”Mas, setiap langkah kehidupan kita pasti memiliki suatu cerita. Sudah, Biar ini menjadi pengalaman untuk kita. Bukan aku nggak mau mendengar semua pengalamanmu, tapi aku rasa, akan lebih baik jika aku tak tau."

”Dek, dulu setahun setelah mas lulus, mas ditugaskan di suatu daerah yang cukup terpencil di makasar. Dari kampung menuju kota, 7 jam perjalanan darat harus dilewati. Bisa dibilang, setelah lulus dari akademi, mas sangat jarang pulang ke kota ini. Pertama kali mas pulang, ketika hari kelulusan kamu. Tapi emosi mas masih meledak-ledak kala itu. Mas masih belum mampu menerima keputusanmu. Dan mas ingin, kamu menyesali keputusanmu.

Papah juga sakit keras waktu itu. Papa terus menanyakan keberadaanmu. Kenapa sekarang kamu nggak pernah ke rumah. Kenapa kamu nggak pernah menghubungi papa. Papa kecewa saat aku bilang untuk tak usah menanyakan lagi hal tentangmu. Hubungan mas dengan papa dan mama jadi agak renggang. Mas terlalu frustasi memikirkan kamu. Mas benci dengan kota ini. Dengan rumah yang pernah mempertemukan kita. Dengan jalan yang pernah kita lewati. Mas sangat membenci kamu.

Mas berusaha untuk menjadi orang baru di tempat dan keadaan yang baru. Sebisa mungkin mas tak melirik apa lagi membayangkan semua hal yang berhubungan dengan kamu. Bertahun-tahun mas nggak pulang. sempet mama berniat mengenalkan mas pada beberapa wanita, tapi selalu saja, hubungan itu tak ada yang berjalan lebih dari hitungan bulan.

Disini, mas sempat bertemu dengan seorang gadis. Namanya Anggun. Dia adik dari senior mas yang rumahnya nggak jauh dari asrama tempat mas tinggal. Dia baik, dia sering mengirimi mas dan teman-teman makan siang atau cemilan di sore hari. Mas sempat dekat dengannya. Waktu itu dia juga lagi patah hati. Dia putus sama pacarnya gara-gara beda keyakinan. Dia sering curhat sama mas, dan mas juga sering curhat ke dia masalah kamu. Mas sangat merindukan kamu, dan Cuma dialah yang mau mendengarkan kerinduan mas.

Waktu berlalu, tiba-tiba dia bilang kalo dia sayang sama mas. Dia ingin mas menjadi kekasihnya, dan menggantikan kamu di hati mas. Tapi mas nggak bisa. Mas sudah terlanjur menganggapnya sebagai seorang adik. Sempat dia agak memaksa, dan mas juga sempat mencoba untuk membuka peluang untuknya. Siapa tau, dialah jodoh mas, dan siapa tau juga dia bisa menggantikan kamu di hati mas. Tapi pengaruhmu masih terlalu kuat di hati mas.

Terlebih dengan keputusan sepihakmu yang tanpa alasan meninggalkan mas. Ribuan pertanyaan selalu membuntuti mas. Hubungan mas dengan anggun berjalan kurang lebih 3 bulan. Selama 3 bulan mas coba membuka hati dan diri buat dia. Tapi mas tetep nggak bisa. Dari pada terlalu lama membuat dia berharap, mas memilih untuk jujur dan melepaskan dia. Mas nggak mau, mas memeluk dia, tapi hati mas mencium kamu.

Jangan pernah bilang, mas tidak mencarimu dek. Waktu itu papa sakit keras. Papa memang tak bilang ingin bertemu kamu. tapi mas tau, papa sangat merindukan kamu. mas pulang ke jawa, dan langsung mencarimu di rumah ini. Tapi semua kosong, mas mencoba menelfon ke nomor rumah, Hp dan nomor mama mu, tapi tak pernah ada balasan juga. 3 hari mas mencari kamu, tapi papa tidak sanggup lagi menunggu.

Papa pergi, tanpa sedikitpun pesan kepada mas. Papa pergi, dan kamu tak hadir bahkan di pemakamannya. Mas kecewa, lagi-lagi mas kecewa… mas kembali lagi merantau, memfokuskan diri, mengabdi untuk Negara. Hingga beberapa bulan lalu, kakak menghubungi mas. Dia bilang kalo dia bertemu kamu, dengan seorang laki-laki. Jujur, mas tidak bisa menerima kenyataan ini. Lalu mas putuskan untuk pulang. pulang ke tanah jawa. Mencoba menanyakan dan merebut kembali hati kamu. dan sekarang, ketika kamu akan benar-benar melepaskan mas, tolong lepaskan mas tanpa sebuah ikatan. “

”Iya mas…. Maaf, aku terlalu picik dan pikiranku terlalu sempit. Aku meninggalkan kamu seperti aku meninggalkan kulit kacang di atas asbak. Tapi andai kamu tau, sungguh, sangat berat melewati ini semua. Hatiku tak semudah mulutku, langkahku meninggalkanmu juga tak selancar kata-kataku. Aku melewati bertahun-tahun dengan jutaan tetes air mata. Aku hidup dengan kata “merindukanmu”. Semangat untuk berharap suatu hari kamu akan mencariku. Menanyaiku seperti yang kamu lakukan saat ini.

Tapi ini terlalu lama… tuhan telah mengirimkan Tirta untuk menarik ku dari lubang keterpurukan. Awalnya aku juga sama sepertimu mas, tak bisa menerima laki-laki lain untuk menggantikan sosok mu di hatiku. Awalnya aku menjalani semua ini dengan tirta juga karena rasa iba. Iba akan semua kebaikan dan ketulusannya. Tapi tirta adalah sosok yang sangat baik. Kesabarannya, penantiannya, ketulusan dan keikhlasannya membuatku menjadi merasa tenang.

Mencintai adalah hal yang indah,,, tapi dicintai, adalah hal luar biasa yang bisa membuat kita bahagia. Aku mencintaimu mas, tapi aku dicintai oleh tirta. Dan maaf, aku lelah untuk hidup dalam rasa was-was… aku lelah untuk menunggu dan kembali berjuang.


Perjalanan kita masih akan sangat-sangat panjang… banyak rintangan didepan mata, yang secara naluri aku tak mampu untuk melawan. Bagaimanapun juga, besarnya cintaku tak bisa mengalahkan tetesan darah dan pertaruhan nyawa yang seseorang pernah lakukan untuk kamu. mungkin saat ini ribuan pertanyaan masih menghantui kamu. tapi percayalah, aku berjanji, akan melepasmu tanpa suatu ikatan. Aku sudah memilih untuk dicintai.

Mas, percayalah... Buka hatimu, buka dirimu, dan bukalah matamu…. Beri lebih banyak waktu, untuk seseorang menemani hari-harimu. Dan percayalah, bahwa tuhan punya yang terbaik untuk hidupmu. Jangan terus memaksakan dengan apa yang telah kamu pilih, tapi serahkan dan biarlah tuhan yang tentukan, pilihan terbaiknya untuk masa depan.

Kelak, pahami setiap kata dan barisan-barisan kalimat yang aku kirimkan untukmu. Disanalah, aku akan benar-benar melepasmu. Disanalah, kamu akan temukan semua jawaban dari ribuan pertanyaanmu. Dan aku juga berharap, disanalah, kamu bisa benar-benar melepasku.

Tapi tolong ingat satu pesanku mas,
“Aku hanyalah seorang gadis yang pernah singgah beberapa hari di hatimu. Jangan membenci darah dan keringatnya, tapi tuntunlah dia, karena itulah kewajibanmu. “
                                                            *** Selesai ***


Testimoni Cerbung

Pembaca setia Cerbung Curhatkita, itulah bagian akhir kisah cinta Tresya. Bagaimana? Apakah anda cukup puas dengan akhir kisah ini?

Setelah membaca keseluruhan kisahnya, bagaimana pendapat anda tentang Cerbung ini. Silakan sampaikan tetimoni (kesan, pesan, saran dan kritik) anda di komentar atau kirim ke email: tarjumsahmad@yahoo.com. Klo anda mau sertakan alamat facebook atau twitter anda di testimoni. Testimoni yang menarik nanti akan ditampilkan di posting rillis ebooknya.

 

Ebook Cerbung “Pengorbanan Cinta”

Dalam beberapa hari ke depan (paling lambat pertengahan November) cerbung ini akan dirilis versi ebooknya dengan judul “Pengorbanan Cinta”. Beda judul tapi isi cerita tetap sama. Sekarang masih dalam proses editing, agar anda lebih nyaman membaca kisah ini tanpa terganggu kesalahan ejaan dan tanda baca..

Yang minat membeli ebooknya, bisa pesan dulu sebelum rillis, dengan cara kirim email ke tarjumsahmad@yahoo.com dengan subjek “Pesan eBook Cerbung Curhatkita”. Yang pesan sebelum rillis akan saya kasih harga sepesial. Saat ebooknya rillis nanti, anda tinggal transfer dengan harga sepesial yang sudah ditentukan dan ebooknya akan segera dikirim via email.

Sekian pemberitahuannya, terima kasih.


Subang, 28 Oktober 2013

Tarjum
Founder & Editor Blog Curhatkita

Lanjutkan...

Bukan Manusia, Jika Itu Sempurna ( 36 )

Oleh Tresya Agnashila


Lama, sangat lama aku menangis. Aku rasakan tubuh seperti beberapa tahun yang lalu. Tubuh yang sakit, mata yang pegal hingga hampir keluar, kepala yang sungguh pusing tak terhingga, dan sendi-sendi yang sangat linu.

Aku rasakan kembali sakit-sakit seperti dahulu. Ini sudah terlalu lama, air mataku sudah tak ada lagi yang bisa kukeluarkan. Punggung ini sudah lelah membungkuk. Aku beranikan diri untuk menegakkan badanku. Tapi masih saja sama, otakku masih kosong. Masih tak ada kata yang bisa kuucapkan menyambut kedatangannya.

Kami masih sama-sama terdiam. Diam dan hanya diam. Tirta, hanya Tirta. Nama Tirta lah yang ada di otakku. "Ta, aku harus bagaimana menghadapi situasi ini? Apa yang harus aku lakukan Ta?

Andai aja Tirta ada disini, pasti aku tak sebingung ini.
Mas doni masih terduduk diam disampingku…. Dia masih menikmati keheningan ini.
Hari semakin malam. Petugas terminalpun datang menghampiri kami.
“Nunggu bus jurusan mana mas? ini bus terkahir yang akan berangkat.”
Aku hanya diam…dan mas Doni menjawab,
“Oh engga pak, kita berhenti disini kok”
KITA ?????????????????
Huh….. aku nggak tau mesti ngomong apa, yang kurasakan saat ini hanya lelah. Aku ingin segera pulang, membasuh wajahku dan merebahkan tubuhku.

Aku bangkit dari dudukku, tampak seperti mas doni melihat ke arahku, aku sama sekali tak mampu melihatnya. Aku hanya bisa berjalan perlahan menjauh darinya. Aku sendiri sadar aku belum sepenuhnya sadar dan yakin dengan apa yang harus aku lakukan.

Aku berjalan menyusuri setiap ubin yang ada di terminal ini. Setelah beberapa langkahku… aku dengar suara hentakan sepatu mas doni. Cepat dan semakin cepat menuju ke arahku. Entah apa yang ada dipikirannya, tiba-tiba dia menyaut tas ku, dan mencengkeram lenganku. Dia menghentikan langkahku, tapi aku menampiknya… tanpa kata-kata aku mengelak dari cengkramannya, baru kali ini setelah beberapa menit yang lalu aku berani menatap matanya.

Matanya terlihat sangat tajam. Rautnya seperti orang yang ingin meneriakkan sesuatu diwajahku…dia terlihat sangat marah. Aku masih tersendu-sendu, sambil menatapnya, aku mencoba meraih kembali tas ku yang direbutnya.

Dia memegang erat tasku, tak membiarkan aku mendapatkannya, dia semakin geram, dan tanpa kata-kata pula dia menggenggam erat tanganku. Dia remas setiap sela-sela jariku. Semakin erat dan semakin kencanag. Dia tak lagi memandangku, dia menyeretku menarikku pergi dengan langkah-langkah lebarnya yang semakin cepat.
“Maas….sakit.”

Aku mencoba untuk melepaskan genggamannya, tapi semakin aku mencoba mengelak darinya, semakin kuat juga dia menggenggam tanganku.

Kami jadi pusat perhatian malam itu, meskipun sudah tak begitu banyak orang disana. Tapi tetap saja semua mata memandang pada kami. Tapi dengan kesangaran dan seragam mas Doni, tak ada 1 orang pun yang berani mendekati kami.

Mas doni terus menarikuu, dia berjalan dengan sangat cepat dan tegas tanpa memperdulikan aku. Aku mengikutinya dengan tertatih-tatih. Saat itu aku masih memakai seragam kerjaku. Dengan hem batik dan rok selutut serta sepatu hak tinggi membuatku tak bisa berjalan dengan cepat. Mas doni memanggil sebuah taksi, dia membuka pintu dan memasukkanku dengan paksa ke dalam taksi. Aku mencoba sekuat tenaga untuk menolaknya.

“Nggak mau. Aku mau pulang sendiri… lepasin! “

Dia masih hanya diam sambil menatapku tajam. Dia terus mendorongku hingga terpaksa aku duduk di dalam taksi bersama dia.

“Jalan manggis 2 pak “

Dia masih hafal dengan alamat rumahku. Didalam taksi, dia masih memegangi erat jemariku. Aku mencoba untuk melepaskan genggamannya.
“Lepasin mas…. Sakit ! “

Setelah mendengar kata sakit keluar dari mulutku, dia baru melepaskan genggamannya.
Aku menangis lagi, sambil meniupi sela-sela jemariku. Padahal kurasa tak seberapa sakit, tapi ingin rasanya hati ini menangis. Dan kugunakan saja jemariku sebagai alasan aku menangis.

Mas doni bingung melihat sikapku.
Dia melemparkan tas ku sambil berteriak.

“Mau kamu tu apa ??? aku harus gimana ngadepin kamu ?? !!!!! “

Dia berteriak sangat keras… hingga taksi ini terasa seperti bergetar. Supir taksi cuma bisa diam aja melihat pertengkaran kita.

“Ngomong donk, jangan nangis aja!! apa salahku sampe kamu kayak gini !! “

Mas doni kembali berteriak padaku. Ini kali pertama semenjak aku mengenalnya dia berteriak keras dan membentakku seperti ini. Dia terlihat putus asa karena aku hanya diam sambil terus menangis dan meniupi sela-sela jemariku.

Sampailah kami didepan rumahku. Taksi sudah berhenti, tapi kami masih duduk terdiam. Mas doni mengeluarkan dompetnya, dia membayar ongkos taksi kemudian dia membuka pintu dan keluar dari dalam taksi. Dia kemudian membukakan pintukku dan memegang tanganku perlahan.

“Ayo dek, turun….”

Ini pertama kalinya semenjak saat itu mas doni memanggilku dek… lagi-lagi hanya air mata yang terasa sangat panas yang keluar dari mataku. Mas doni membawakan tasku, dan merangkulku berjalan perlahan memasuki gerbang rumahku.

Dia menggeledah tas ku, mencari kunci rumahku. Dia masih sangat hafal dengan kebiasaanku meletakkan kunci rumah di sela-sela tas kecil dalam tas ku. Ya allah…kenapa setelah sekian lama, sepertinya dia masih sangat hafal dengan setiap langkahku…..

Terbukalah pintu rumahku, mas doni memapahku masuk kedalam. Tak ada 1 pun lampu yang menyala.
Mas doni menyalakan lampu ruang tamu dan halaman depan. Dia juga masih sangat hafal dengan setiap sudut rumahku.
Mas doni meletakkan task u di atas sofa, kemudian dia mendudukkanku di atas sofa. Aku masih saja berpura-pura meniupi jemariku. Karena aku benar-benar bingung, apa lagi yang harus aku lakukan…

Mas doni menyalakan semua lampu di rumahku. Dengan suara sepatunya yang sangat keras, dia berjalan menyusuri setiap sudut rumahku.
Ya, rumahku memang masih sama seperti dulu… tak ada satu pun dari sudut ruangan ini yang aku rubah.

Mas doni masuk kedalam kamar mandi, terdengar suaranya mengambil air dari gayung… aku masih duduk di sofa, ternyata dia membasuh wajahnya dan membasai kepalanya. Mungkin dia sama sepertiku, merasa wajah dan pikiran ini sangat penat dan panas…
Lalu dia membuka kulkasku, dia mengambil gelas di atas kulkas, kemudian menuangkan sebotol air dingin kedalam gelas…
Dia menghampiriku, menyuruhku untuk meminum air ini… aku minum tiga teguk air…kemudian dia duduk bersandar tepat disebelahku…

“haaaaah……..”
Dia terdengar menghela nafasnya…

“dek, aku harus gimana ngadepin kamu ? “
Inilah saat paling tenang setelah kita bertemu beberapa jam yang lalu… aku masih memegangi gelas dinginku.
Dia mencoba untuk memulai pembicaraan dan seakan dia ingin tau tentang semua yang terjadi selama ini.
Dia memegang tanganku….aku benar-benar tak berdaya.

“Dek, coba ngomong sesuatu….”
Entah apa yang aku pikirkan…..rasanya geli ketika mengingat ini. Kata pertama yang kuucapkan adalah….
“Mas, kamu tambah ganteng….”

Hahahahahaaaaaa……… aku bener-bener konyol…. Ketika mengingat dan menulis kata ini disini, aku tertawa sambil meratapi kekonyolanku. Hahahahahaaaa…..
Mas doni pun tersenyum…. dia terlihat malu… dan dia terlihat seperti menawan tawa kegeliannya.

“Dek, kamu masih belum terlambat buat menjelaskan semua sama mas….”
Ceileh, dia mulai menyebut kata “mas”….

“haaaaah…. Apa mas yang harus aku jelasin. Toh semua juga udah terlambat untukku.”
Suasana jadi semakin santai. Aku sudaah bisa mengendalikan diriku sendiri…dan kami juga sudaha bisa berbincang dengan tenang.

Doni : “ dek, tolong katakan semua yanag udah terjadi selama ini. Mas masih nungguin kamu. Kenapa kamu nggak hubungi mas ? kenapa kamu nggak kirimi mas kabar ? kenapa dihari kelulusan mas kamu nggak datang ? kenapa dimalam pelepasan tugas kamu juga biarin mas nungguin kamu sendiri. Kenapa kamu hilang gitu aja ? “
Haaah ? kok gitu sih ? bukannya aku yang nungguin dia, kok malah dia juga nungguin aku ?

Me : “ mas, kenapa selama ini juga mas baru kembali ? kenapa setelah lulus mas sama sekali nggak hubungi aku ? kenapa selama bertahun-tahun mas nggak nyariin aku ? aku nungguin kamu mas. Bahkan no HP ku pun bertahun-tahun nggak aku rubah. Alamat rumah, telfon rumah juga masih sama. Lalu disaat kelulusanku, kenapa mas Cuma datang liat aku dari jauh ? kenapa mas nggak nemuin aku ?”

D : “itu karna mas ingin kamu yang mencari mas. Kamu nggak sadar dengan apa yang kamu lakuin ke mas dek ? mas selama ini menunggu penyesalan kamu. Mas nunggu penjelasan dari kamu. Kamu yang memutuskan mas secara sepihak. Itupun tanpa kamau ngomong sendiri ke mas. Kamu yang mintaa waktu buat kita urusi masalah kita sendiri. kamu yang bilang ke dendi kan kalo kamu masih pengen sendiri. kamu pikir mas nggak sakit hati dek ? mas berjuang disana, tiba-tiba pulang dapet kabar kamu mau ninggalin mas. Ya udah, ini kan yang kamu mau… mas sama sekali nggak mengusik kamu. Mas nggaka menggangu kehidupanmu. Tapi mas masih menunggu kamu. Mas berharap, suatu saat nanti kamu menyesali keputusanmu dan kamu kembali mencari mas. Mas nggak berharap permintaan maaf dari kamu, cukup kamu menyesal aja mas udah seneng dek.”
Haaah….. ternyata selama ini dia juga menungguku….

M : “ tapi apa selama ini mas nggak kangen sama aku ? kenapa mas nggak mencoba buat hubungin aku sekalipun “

D : “ mas kangen sama kamu sampek mas hampir gila dek. Mas bener-bener hancur disana. Tapi mas berusaha buat memenuhi apa yang kamu inginkan. Dendi bilang kamu masih ingin sendiri, focus dengan hidup kamu. Makanya mas nungguin kamu. Hp mas juga nggak pernah ganti, kenapa kamu juga nggak hubungi mas ?”

Ya allah…..kenapa jadi gini sih?
Iya, memang benar selama ini aku yang salah…aku yang memulai semua ini. Aku yang membuat keputusan ini. Dan aku juga yang menentukan jalannya hubungan kami.
Aku Cuma bisa diam…. Lagi-lagi tak mampu menjelaskan.

“dek…. Sekarang mas Tanya, kamu masih cinta kan sama mas ? kamu masih sayang kan ? mas nggak akan Tanya apa alasanmu dulu meninggalkan mas… kalo kamu memang nggak bisa mengatakan, mas nggak akan meminta penjelasan apa-apa lagi dari kamu. Cukup kamu bilang kamu sayang sama mas, ayo kita mulai lagi semua dari awal “

Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah…… petir rasanya menyambar-nyambar ditelingaku.
Lemas sudah…ternyata mas doni masih sesempurna dulu….
Bertahun-tahun upaya untuk melupakannya, hancur sudah hanya dalam waktu kurang dari 2 jam.
Lalu tirta ? calon suamiku….bagaimana dia…..
M : “ mas, aku sudah hampir menikah….”

Aku memberanikan diri mengatakan kata-kata itu dengan tubuh dan suaraku yang sangat lemah. Tapi saat itu, aku sudah cuek…entah apa yang akan terjadi nanti, aku pasrahkan semua pada tuhan yang menciptakan keadaan ini.
Mas doni tertawa sinis sambil membaringkan punggungnya di sofaku… dia menatap langit-langit rumahku.

Dengan senyum kecil di bibirnya,
“ heeeehm, terus mas mesti gimana ?”
M : “ nggak tau mas…. Aku juga bingung”

Tiba-tiba dia bangkit, berdiri dan berteriak.
“ NGGAK BISA, KAMU NGGAK BOLEH BINGUNG, KAMU NGGAK BOLEH NGGAK TAU !!! “

Aku kaget..bener-bener kaget….
Mas, kenapa kamu sekarang jadi hobi berteriak….. inikah hasilnya kamu menjadi seorang perwira….
Tapi aku kembali sadar, wajar dia seperti ini padaku…memang aku yang salah…aku yang sudah menyakitinya.

Matanya memerah, dia terlihat sangat menyeramkan… dia berteriak lagi padaku…
“NGOMONG DEK ! NGOMONG ! JANGAN DIEM AJA MAININ AKU KAYAK GINI !!!!!!”

Dia berteriak sambil mencengkeram lenganku dengan sangat kuat…
M : “aku takut mas….aku takut… kamu jangan kayak gini..aku takut”

Tubuh kencangnya menjadi lemas, dia terduduk dihadapanku, dia memegngi kedua tanganku…dia bersujud dihadapanku, dia menciumi tangan dan lututku…dia menetskan air matanya….meski hanya setetes, tapi itu sangat membuatku tersiksa.

“dek…aku harus gimana…aku nggak bisa terima kalo kamu buat keputusan ini. Kita masih sama-sama. Kamu nggak bisa ninggalin aku gini aja…”

Melihat mas doni tak berdaya, hatiku semakin teriris-iris… penyesalan, rasa bersalah benar-benar menghantam tubuhku… aku tak bisa melihat dia seperti ini… dia masih lemas terduduk dilututku….

Tanpa sadar, aku memeluknya…. Aku memeluknya dengan sangat erat. Inilah pertama kali aku memeluk tubuhnya setelah masa-masa yang kulalui… aku memeluknya dengan penuh rasa rindu… hanya beberapa menit sudah mampu membuat kami kembali bersatu…aku jatuh lagi padanya… aku jatuh lagi dalam peluknya…
Dia juga memelukku…dia juga memelukku dengan sangat erat dengan penuh kerinduan.,,

Dia terus bicara…
“kamu masih milikku dek, kamu masih sayang aku…kamu masih mencintaiku, kamu nggak akan bisa hidup dengan orang lain dek…”

Dia terus mengatakan kata-kata itu sambil memelukku….
Disela-sela curahan kerinduan kita, Hp ku berbunyi…. Tirta menelfonku…
Aku kaget, mas doni pun kaget…

Lama aku membiarkan Hp ku bernyanyi…dan tirta pun masih terus saja meneruskan panggilannya. Mas doni melihat Hp ku, dia melihat nama “ lovely “. Dia tersenyum sinis dan memberikan Hp padaku.
“ angkat dulu…”

Aku takut…apa yang harus aku jelaskan pada tirta. Aku baru saja menghianatinya.
“ halo ta….”
Tirta sepertinya curiga…
“ kok panggil ta sih ? “
“ oh, iya sayang….”

Mas doni berdiri dan berjalan melihat sudut-sudut ruanganku seakan tak mau melihatku memanggil orang lain dengan sebutan sayang.
“ sayang, udah sampe rumah kan ? tadi naik apa ?”
“ oh tadi naik taksi kok…iya santai aja, udh sampe rumah kok “
“ kamu kenapa sih ? kok kayaknya bingung gini ? “
“ nggak papa sayang, aku Cuma capek aja…”
“ hhhhmmm….dasar manja, nggak pernah baik bus, skalinya naik bus pasti mabok ya. Hehehe”
Tirta masih saja bercanda tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun padaku….
“ ehm…iya ta, aku capek banget…”
“ kok ta lagi sih ? wah nyesel banget gara-gara nggak dijemput diterminal predikat sayang untukku jadi menghilang “

Rasanya ingin sekali aku menangis mendengar tirta mengucakan kata-kata itu…
Iya ta…andai aja kamu tadi datang, aku nggak akan seperti ini sekarang. (gumamku dalam hati)

“ya udah, kamu istirahat aja ya sayang….ini aku masih di rumah sakit, mungkin aku nginep disini aja. Udah malem, aku juga capek. Kamu bobok aja ya, nggak usah nungguin aku. Rumah dikunci semua. Besok pagi baru aku pulang….”

“Ta…eh sayang, besok biar aku yang kerumah kamu aja. Kamu nggak usah kesini. Aku kangen sama rumah kamu, besok biar aku masak disana ya. Kamu nggak usah kerumahku”

“oke deh….dah buat istirahat ya. Besok bangun siang aja…aku nggak akan ganggu kok”

Haaaah…..apa yang aku lakukan… kenapa aku bohongin tirta. Kenapa aku nggak bilang kalo saat ini aku sedang bersama mas doni. Kenapa juga tadi aku menyuruhnya untuk tak datang kerumah…. Aku sungguh berdosa pada tirta….

Mas doni tampak gelisah…dia tampak tak senang melihatku seperti ini. Tapi dia juga terlihat tak mau pergi, ingin terus mendengar percakapanku bersama tirta.

D : “itu dia…. Calon kamu ? “
M : “iya mas…. Namanya tirta. Dia pria yang baik mas. Dia yang selama ini nemenin aku, semangatin aku, dan bawa aku lepas dari keterpurukanku “
Mas doni duduk sambil tersenyum sinis padaku…

D : “kenapa kamu nggak cari aku ? “
M : “ada 1 alasan yang nggak bisa aku ungkapin ke mas…. Aku pengen biar mas tau masalah ini, tapi bukan dari aku “
D : “trus kalo bukan dari kamu, dari siapa aku bisa tau ?”
M : “biar tuhan nanti yang kasih liat jalannya….”
D : “dek, apa selama ini, bertahun-tahun aku nungguin kamu, belum bisa juga buktiin serius N cintanya aku sama kamu ? apa selama ini aku tunggu, belum layak juga buat aku tau apa salahku ? “
M : “bukan mas… kamu nggak salah. Dari awal juga aku nggak pernah meragukan kesetiaan dan keseriusan cintamu… ini bukan salah kita. Keputusan ini memang salahku, tapi masalah ini bukan kesalahan aku ataupun kamu “
D : “trus apa ? kamu nggak bisa hukum aku kayak gini. Penjahat aja dihukum ada salahnya. Apa aku lebih hina dari penjahat ? sampe-sampe kamu tega hukum aku kayak gini….”
M : “engga mas…. Aku juga nggak bisa jelasin semua ini. “
D : “engga, malam ini juga kita harus selesain masalah ini “

Haaaah……apa memang ini jalannya ? aku harus ungkapin perilaku mamanya ? trus, buat apa selama bertahun-tahun ini aku menderita kalo pada akhirnya aku juga yang harus memaparkan kebusukan mamanya….!
M : “ nggak bisa mas…. Kamu harus tau sendiri. aku nggak mau….”
D : “oke, nggak masalah kalo kamu nggak mau kasih tau. Tapi satu hal, kamu juga nggak boleh nikah sebelum aku tau apa alasannya kamu ninggalin aku. Kamu nggak boleh deket sama cowok lain, sebelum aku tau semuanya !”

“Haaaaaaaaaaaaaah…….!!!” Itulah kata-kata terakhirnya sebelum dia berniat pergi meninggalkan rumahku.

Lalu aku harus bagaimana? Bagaimana harus kuhadapi mas doni? Bagaimana aku harus menjelaskan semua ini pada tirta? Dan bagaimana dengan nasib pernikahanku nanti?

Bersambung…


Berkali-kali saya katakan, cerita cinta yang mengharu-biru ini, penuh kejutan dan gak bisa ditebak alurnya. Bahkan sampai menjelang akhir cerita, anda masih belum bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya dan bagaimana akhir ceritanya, iya gak? Siapa yang akan dipilih Tresya untuk menjadi pendamping hidupnya? Tirta atau Doni?

Saya mau tanya, seandainya cerita ini saya susun dari awal sampai akhir menjadi sebuah ebook (buku elektronik) yang bisa anda baca secara offline atau bisa anda print, apakah anda mau membeli ebook tersebut? Jika banyak yang berminat membaca cerita cinta ini dalam format ebook, Insya Allah saya akan menyusunnya menjadi sebuah “eBook Kisah Cinta”.



Lanjutkan...

Bukan Manusia, Jika Itu Sempurna ( 35 )

Ternyata, “Bukan Manusia, Jika itu Sempurna” Belum Berakhir

Oleh Tresya Agnashila



Dia datang, disaat aku sedang mempersiapkan pelaminan.

Ya Ttuhan, kenapa engkau menuntun langkah kakinya untuk berjalan tepat dihadapanku. Saat ini, disaat aku sedang mempersiapkan pernikahanku bersama orang yang sangat mencintaiku.

Benar apa yang pernah dikatakan seorang ulama, ada 3 macam cara tuhan menjawab doa kita.
Pertama, mengabulkan doa/permintaan kita saat ini juga.
Kedua, mengganti doa/permintaan kita dengan sesuatu yang jauh lebih baik untuk kita.
Ketiga, menunda doa/permintaan kita hingga tiba nanti saatnya.

Dan mungkin, kini aku sedang mendapatkan jawaban ketiga.

Iya, tidak kupungkiri, dahulu kala, hampir setiap detik dan setiap nafasku aku memohon kepada Tuhan,
“ya Tuhan, kembalikan mas Doni padaku….”
“ya Tuhan, tolong sampaikan salam rinduku pada mas Doni…”
“ya Tuhan, tolong bimbing langkah mas Doni untuk datang kembali padaku…”
“ya Tuhan, tolong getarkan hati mas Doni untuk selalu mengingatku…”
Dan masih banyak lagi caraku memohon kepada tuhan untuk membawa mas doni kembali kepelukanku.

Namun, Tuhan mengulur waktu yang teramat sangat lama, sedangkan aku, mungkin memang benar, aku tak pantas mendapatkannya. Aku bukan orang yang cukup setia untuk cintanya. Nyatanya, kini aku lebih memilih Tirta. Lebih memilih menyerahkan hidup, diri dan cintaku untuk Tirta.

Tapi kenapa? apa yang sebenarnya tuhan rencanakan untuk hidupku? kenapa kini disaat hatiku sudah tak lagi mengharapkannya, dan hatiku sudah benar-benar ingin bersanding pada tirta, tuhan membawanya kembali padaku. Dan dia ucapkan, dia masih sangat mencintaiku.

Ya Tuhan…………… Bolehkah aku marah padamu ?????????????
Kenapa engkau mempermainkan perasaan hambamu yang sangat lemah ini ?
Apa sebenarnya rencanamu ?

Mungkinkah ini ujian untuk cinta dan setiaku pada Tirta ?
Atau inikah jawaban dari doa-doa ku dulu yang kau tunda ?
Lantas aku harus bagaimana ???

Tuhan, selama ini, hanya kepadamulah aku menyerahkan semua hidup dan langkahku…
Hanya padamulah aku mengadu dan membiarkan engkau memberiku pilihan yang terbaik. Tapi apa sebenarnya semua ini ? disaat engkau telah menunjukan semua kebaikan dan kesempurnaan tirta, kini kenapa juga engkau kembalikan mas doni padaku….

Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan???

Aku mencintai tirta, karena dialah orang yang selama ini selalu ada disampingku… saat dukaku, saat-saat terlemahku, dan saat aku sudah tak mampu menghadapi dunia. Dialah orang yang mengembalikan senyumku… membawaku berlari dan membuang semua kenangan pahit bersama mas doni. Melepaskan aku dari jeratan bayang-bayang mas doni.. dan mengajakku melangkah dalam penantian cinta mas doni.

Tapi mas doni, dia adalah orang yang mengenalkanku pada cinta… dialah cinta pertamaku. Dan dia orang yang tak pernah berdosa padaku. Dia adalah pria yang pernah sangat mencintai dan aku cintai. Dia juga adalah pria yang pernah aku sakiti. Dia berhak marah padaku…tapi aku juga berhak marah padanya. Kenapa setelah sekian lama, dia baru kembali dan mempertanyakan cinta kita….

Sore itu,di hari Jumat, aku memutuskan untuk berlibur pulang ke kampung halamanku. Rumah yang sudah lama aku tinggalkan… dan tirta kekasih hati yang selama ini selalu mengunjungiku.

Rencana pernikahan kami sudah mulai matang, tahun, bulan dan tanggal sudah ditentukan. Memang masih cukup lama, mengingat kami berdua masih sama-sama sibuk dengan pekerjaan, dan rumah yang kami bangun juga masih belum sempurna, kami memutuskan untuk tidak tergesa-gesa melaksanakan pernikahan.

Tirta sangat mengerti aku adalah orang yang sangat menghargai moment-moment penting. dan dia juga ingin, bahwa pernikahan kami nanti menjadi sempurna, seperti apa yang kami berdua inginkan. Dan untuk semua itu, pasti butuh waktu yang cukup lama untuk mempersiapkan segalanya.

Kami sepakat, untuk menikah di kota kelahiranku dan kota dimana tempat kami bertemu. Untuk mempermudah semua nya di Hari H nanti, aku memilih untuk menggunakan semua jasa pernikahan yang ada di kotaku. Jadi mungkin mulai saat ini, setiap weekend, aku lah yang harus bolak balik dari kota dimana aku bekerja ke kota kelahiranku.

Kali ini tirta tak bisa menjemputku, dia masih sangat sibuk dengan pekerjaannya dan lusa dia juga harus keluar kota. Terpaksa aku naik bus karena tirta tidak memperbolehkanku untuk menyetir sendiri dalam jarak yang cukup jauh. Sepulang dari kantor, aku diantar oleh supir kantor menuju terminal.

Tadinya pak seno (driver kantor) menawarkan untuk mengantarku pulang sampai di rumah, tapi engga lah… jarak dari kantor ke rumahku jauh banget. Hampir 3 jam perjalanan. Kasihan juga dia nanti pulang kesini sendirian. Toh aku juga jarang banget naik kendaraan umum, sekali-kali boleh lah…pasti menyenangkan nanti bertemu dengan banyak orang.

Sampai di terminal, pak seno mencarikanku Bus Patas yang menuju ke kotaku. Setelah mendapatkan tiket, aku naik dan duduk dikursi nomor 12. terminal terlihat cukup ramai, banyak terlihat para mahasiswa dan orang-orang seumuranku yang sepertinya juga akan mudik ke kota mereka masing-masing. Ternyata seru ya naik Bus Umum… banyak pedagang asongan yang menjajakan dagangannya, ada tahu, arem-arem, permen jahe, dan banyak minuman kaleng lainnya.

Kemudian yang paling bikin aku seneng, banyak pengamen yang beramai-ramai membawa gitar, kendang dan gitar kecil yang kurang lebih kalo nggak salah namanya gitar Kencrung. Suara mereka cukup merdu, dan lagu-lagu yang dibawakan mereka cukup asyik…lagu pop diiringi dengan tabuhan kendang, sontak membuat kaki ini menjadi ingin ikut bergoyang…

Tapi sayang. Ternyata mereka hanya boleh bernyanyi dan menawarkan jajanan hanya ketika di terminal. Ketika bus berjalan, mereka semua turun, dan bus pun menjadi sangat sepi…hanya terdengar suara mesin yang meraung-raung.

Dalam perjalanan. Entah setan apa yang merasuki pikiranku, tiba-tiba saja aku teringat oleh mas Doni… ya, dulu kami pernah naik bus seperti ini. Ketika kami akan menghadiri malam akrab di akademinya, kami menaiki bus akademi yang hawanya seperti ini.

“Haaah…mas doni, mas doni…. Seperti apa rupamu sekarang mas.. tambah gemuk kah? kurus kah ?” hehehe… aku cuma bisa tersenyum mengingatmu.

Hampir 3 jam perjalanan, aku sudah memasuki kotaku, segera aku menelfon tirta mengabarkan bahwa aku hampir sampai di terminal.
“assalamualaikum….”
‘waalaikumsalam “
“sayang, aku udah masuk kota. Jemput di terminal sekarang ya ?”

“Maaf sayang, nanti biar anggotaku yang jemput kamu ya. Barusan aku dapet kabar ada anggotaku yang kecelakaan. Dia nggak ada keluarga disini. Ini aku lagi perjalanan ke rumah sakit, nanti biar aku suruh orang buat jemput kamu. Nanti kalo semua udah selesai aku langsung kerumah “

“ haaah ? ada yg kecelakaan ? ya udah kalo gitu biar aku naik angkot/taksi aja. Udah kamu pasti lagi repot, lagian ini kan pribadi, nggak enak kalo suruhan orang kantor buat jemput aku. Lagian aku kan masih pacarmu, belum jd istrimu. Dah biar aku pulang sendiri aja. Kamu ati-ati ya di jalan…”

Awalnya tirta menolak dan memaksa agar aku dijemput oleh anggotanya, tapi setelah perbincangan kami yg cukup lama, akhirnya tirta menyerah juga.

Sampailah aku diterminal…. Waduuuuh, aku bingung. Gimana nih ? tadi di terminal sana masih ada pak seno yang menemani, tapi sekarang aku sendiri, cari angkot/taksi nya dimana ni ???

Terminal di kotaku tidak seperti di terminal kota-kota besar lainnya. Kotaku adalah kota yang kecil mungil sepi dan damai. Jadi jam segini, kira-kira jam 9 malam, terminal pun juga udah sepi….
Turun dari bus, aku diam duduk sejenak untuk sekedar menghela nafas…
“hhhmmm….. lumayan juga lah, pengalaman malem-malem sendirian di terminal.”
Ada beberapa pria yang menghampiriku untuk menawarkan jasa ojek..
“ mbak ojek mbak… kemana mbak ? saya Bantu bawa tas nya “
“ engga pak, terima kasih…saya cari angkot aja “

Tak berapa lama, aku menghampiri seorang bapak-bapak tua yang terlihat seperti petugas di terminal.
“maaf pak, numpang Tanya. Kalo cari angkot/taksi disebelah mana ya pak ?”
“oh, mbak nya keluar aja. Di luar banyak angkot dan taksi tinggal pilih jurusan mana. Kalo didalem nggak ada, didalem yg boleh masuk cuma bus sama kendaraan roda dua.”
“oh baik pak, makasih ya pak infonya.“

Mendengar jawaban dari bapak tadi, aku segera bergegas berjalan keluar terminal. Aku sengaja berjalan perlahan menelusuri warung-warung yang menyediakan berbagai macam oleh-oleh khas kotaku… banyak juga terlihat pengamen, pedagang asongan dan peminta-minta yang sedang beristirahat sambil menghitung rejeki berbentuk lembaran dan kepingan rupiah dari kantong permen mereka. Ada juga ibu-ibu penjaga warung yang dengan baju setengah terbuka, sedang menggesek-gesekan uang logam ke lehernya hingga merah-merah. Hahahaaa….. cukup menarik pemandangan diterminal ini.

Tapi entah semalam aku mimpi apa, entah tadi siang ada badai apa, dan entah entah entah apa yang terjadi dalam hidupku saat ini……. Tepat dihadapanku, aku melihat seorang laki-laki, dengan postur tubuh yang sangat tinggi, memakai baju seragam dinas berwarna hijau, bermotif doreng, dengan baret warna hijau menutupi kepalanya dan menggenggam tas ransel warna hitam di tangan kanannya.

Aku pernah melihat wajah ini, dan sudah barang tentu dia sangat tak asing lagi.

Mas doni, pria yang selama ini aku tunggu…. Pria yang bertahun-tahun lalu aku harapkan berdiri didepanku seperti ini. Pria yang pernah sangaaat amat sangat aku cintai. Dan pria yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidup ini.

Kami sama-sama diam. Mungkin saat itu kami sama-sama tertegun. Kaget, dan apalah… yang pasti saat itu tubuhku terasa sangat panas. Badanku lemas, kakiku seakan bergetar dengan hebat. Air mataku seperti sudah penuh dan tak tertampung lagi, tangan ingin gemetar, dan dada ini rasanya sungguh dasyat… entah berdetak, bergetar atau apa. Aku sudah tidak bisa merasakan.

Nafasku hampir saja berhenti…. Beruntung aku tidak memiliki riwayat penyakit jantung, mungkin jika iya, saat ini juga aku terkena serangan jantung.

Haaaaaaaah…… sungguh ini gila. Tubuhku sudah sangat lemas. Entah aku harus berbuat apa.

Dia terlihat sangat tegang, bahkan tak sekalipun kulihat dia mengedipkan matanya. Tampaknya dia lebih kaget dari pada aku.

Cukup lama kami berdiri. Saling menatap dan saling merasakan keanehan dalam tubuh kami.

Entah apa yang ada dipikiranku. Aku sama sekali tak punya daya untuk menyapa atau tersenyum padanya. Yang kulihat saat itu hanya kursi kayu berwarna coklat di depanku. Tanpa pikir panjang, aku langsung melangkahkan kedua kakiku untuk duduk menenangkan diriku sendiri dikursi panjang itu.

Haaaaaah, kini baru aku bisa bernafas. Huuuuuuuuuh, rasanya ingin menangis, tapi kenapa ? apa alasanku hingga aku harus menangis ?

Ingin rasanya berteriak kencang, tapi apa yang harus aku teriakkan ? ingin rasanya kubaringkan badan ini, tapi tak mungkin. Aku hanya bisa menyandarkan punggungku dan terus mengambil nafas dengan tatapanku yang masih kosong.

Kudengar langkah kaki yang sangat tegas. Suara sepatunya yang sangat berirama, terdengar jelas ditelinga. Mendekat…dan kian mendekat. Lalu kurasakan bangku ini bergetar, duduklah dia tepat disampingku. Dengan jarak kurang lebih 100 cm.

Aku tak berani melihat e arahnya, aku hanya berani duduk, menatap kedepan sambil memegang kencang tas kerjaku. Kaki ini masih bergetar, tangan ini juga semakin dingin dan gemetar. Cukup lama kami duduk disini, entah memang benar-benar lama, atau aku yang merasa lama.

Tanpa sepatah katapun, dia juga hanya diam. Mungkin dia juga sama sepertiku. Tapi jujur, saat itu tak ada satu pertanyaanpun atau satu katapun yang ingin aku katakana padanya. Sungguh kosong, hampa. Benar-benar hampa.

Hingga kurasakan dia menggerakkan tubuhnya. Akhirnya, dia menyandarkan punggung yang tadinya terduduk dengan sikap tegap. Dia angkat kedua tangannya menutupi kedua matanya. Kemudian dia melepas baret hijaunya, lalu dia membungkuk sesaat, dan kembali menegakkan kepalanya.

“Kamu kemana aja?” tanya mas Doni.

Ya tuhan….aku sama sekali tidak mengharapkan moment-moment seperti ini. Aku benci detik-detik ini…aku hancur lagi. Aku ingin ini tak usah terjadi.

Aku hancuuuuuuur….!!!. Aaku tak berdaya dihadapannya. Hanya dengan mendengar suaranya saja, serasa tubuh ini akan meledak. Tangisku sudah tak mampu kubendung lagi. Aku kenapa? mendengar tiga patah kata darinya saja bisa jadi seperti ini?!

Aku heran dengan diriku sendiri, beberapa menit yang lalu aku masih menjadi manusia yang pasif, yang tak tau harus berbuat apa dan tak tau harus berkata apa. Tapi kenapa sekarang aku menangis? air mataku jatuh begitu saja…dadaku terisak-isak. Tangisanku semakin meronta… seperti aku sedang mengeluarkan air mata yang selama bertahun-tahun ini aku simpan.

Mas doni bingung melihat kearahku, dan aku semakin bingung dengan apa yang terjadi padaku. Dia mencoba untuk memegang pundakku atau mungkin lenganku. Tapi aku tak bisa…aku menampik tangannya.
“Tolong….jangan sentuh aku!”
Kata itu yang pertama kali keluar dari mulutku setelah bertahun-tahun kita tidak bertemu.

Mas Doni terlihat kecewa, dia menundukkan wajahnya dan memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Entah seperti apa kita berdua, mungkin banyak orang yang melihat kita, aku terus melanjutkan tangisanku, dan mas Doni terus duduk sambil menundukkan wajahnya.

Bersambung…


Lanjutkan...

Bukan Manusia, Jika Itu Sempurna ( 34 )

Oleh Tresya Agnashila

Sampai di rumah, aku langsung mengambil sample urineku dan aku celupkan alat tes kehamilan ini.

Kutunggu hingga beberapa menit, dan ternyata hasilnya garis satu, yang menandakan itu adalah negatif atau aku tidak dalam keadaan hamil.

Haaaah, lega hatiku, ternyata aku nggak hamil.

Sadar beberapa menit, aku mikir sama diriku sendiri, “Aku ini blo’on apa oneng ya? Kemarin kan aku nggak jadi gitu-gituan sama Tirta, kok hamil?? Hamil dari mana?? Hahahahaha…”

Aku menertawakan diriku sendiri, aku lega dan mungkin aku hanya masuk angin biasa.

Sore hari sepulang kantor, Tirta menelfonku dia tanya, “Kenapa sih tadi siang tanya-tanya kayak gitu? Ada apa lagi? Trus kenapa tadi langsung matiin telfon gitu aja?”

Hehehe… aku cuma nisa tertawa cengengesan aja, sambil terus menggodai dia.

Seminggu berlalu, aku sudah minum obat masuk angina, tapi perut ini masih terasa mual, dan kadang terasa seperti ada jarum yang menusuk-nusuk perut bagian kanan bawahku.

Aku coba periksa ke dokter umum, jangan-jangan aku terkena mag, tapi kata dokter ini bukan mag. Dia hanya memberiku obat masuk angin dan penghilang rasa nyeri.

Satu resep telah habis, tapi tak kunjung sembuh. Kadang ketika aku terlalu lelah, rasa sakit di perutku terasa lebih hebat. Kemudian aku coba konsultasi kembali pada dokter, lalu dokter menyarankanku untuk USG di dokter spesialis kandungan, biar dilihat ada apa dalam perutku, atau mungkin ke dokter penyakit dalam.
Waktu itu aku cenderung ingin memeriksakan diri ke dokter penyakit dalam, tapi ketika aku datang, aku mendapat nomor antrian 57, padahal saat ini baru sampai nomor 6. haaah? Trus sampai jam berapa aku harus menunggu?

Kemudian aku putuskan untuk mencoba memeriksakan diri ke ahli kandungan… kebetulan saat itu masih sepi, aku mendapatkan antrian nomor 8 tapi karena saat itu belum ada pasien yang datang, maka aku langsung dipersilahkan masuk oleh suster.

Dokter : “Keluhannya apa nona Tresya?”
M : “Ini dok, perut saya itu kadang mual, kadang kalo kecapekan juga nyeri banget…saya periksa ke dokter umum tapi katanya nggak ada magh, kemudian saya direkomendasikan untuk USG disini”
D : “oke kalo gitu, mari kita lihat dulu”

Berbaringlah aku di kasur putih ini, dibuka sebagian perutku, dan diolesi oleh perawatnya cairan bening yang terasa dingin… kemudian alat itu menekan perutku dan diputar-putarkan oleh dokter dodi disekitar perutku… dokter melihat layer dengan sangat jeli..sangat lama dia memutar-mutarkan alat USG itu… tak jarang dia menekan di beberapa tempat…
Hampir 15 menit dokter memeriksa perutku sambil menanyaiku beberapa pertanyaan…

Kemudian dia menyuruhku untuk duduk kembali dan mulailah kami berbincang…
D : “ nona tresya, suka makanan cepat saji ?”
M : “ hehe..iya dok..”
D : “ suka makan mie, sarden, kornet dan makanan berbahan pengawet lainnya ?”
M : “ hehe…iya dok “
D : “ kemudian bumbu masak, chiki-chiki dan makanan berbahan pewarna,penyedap dan perasa lainya ?”
M : “ iya dok”
D : “ mulai sekarang, wajib berhenti mengkonsumsi semua itu. Jika anda masih sayang dengan rahim anda, anda wajib menghentikan, bukan hanya mengurangi makanan seperti yang tadi sya sebutkan”
Raut wajahku mulai memburuk.
M : “memangnya kenapa dok ?”
 

Sambil melihatkan foto USG tadi,
D : “Dari hasil USG yang kita lakukan tadi, saya temukan ada tumor padat di dinding rahim anda. Dan ini sudah berukuran 5,8 cm. Saya tidak bisa mengatakan ini berbahaya tapi kita juga tidak boleh meremehkan barang ini. Dibanding dengan jenis lainnya, tumor ini bisa dibilang tidak atau sangat lama berkembang. Bukan termasuk dalam jenis tumor yang jahat, tapi permasalahannya adalah, tumor ini tumbuh di dinding rahim dan di jalan masuknya sperma. Jadi kemungkinan, sperma dari suami nona nanti akan sulit masuk dan membuahi sel telur. Tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau terus berdoa, saya hanya menyampaikan kemungkinan terburuknya saja agar anda mau lebih berhati-hati lagi.”

Aku tertegun, terdiam mendengar penjelasan dari dokter.
M : “Bagaimana kalo operasi pengangkatan tumor ini dok ? “
D : “Bisa saja dilakukan operasi, tapi akan membuat presentase kemungkinan anda untuk memperoleh keturunan menjadi lebih kecil, karena dinding rahim akan rusak, dan proses pembuahan akan semakin sulit dilakukan.”

Pulang aku dari rumah sakit itu. Diperjalanan aku merenungkan apa yang terjadi pada diriku.
Ya allah, kenapa aku harus mengidap penyakit ini? Kenapa benjolan ini harus tumbuh di rahimku? Mungkinkah aku bisa memberi seorang anak pada suamikU? Berapa lama waktu untuk kami memiliki buah hati nanti?

Sampai di rumah, Tirta menelfonku, seperti biasa, dia menyapaku dengan penuh keceriaan. Dia selalu bisa membuatku tersenyum bahagia.
Tengah malam aku merenung, “Ya allah, masih pantaskah aku mendampingi Tirta, seorang pria yang benar-benar sempurnya.
Dia seorang pria yang tampan, mapan, berhati mulia, dan berakhlak sangat istimewa.

Dia selalu membicarakan rumah tangga yang bahagia denganku, 2 orang anak yang mengisi keceriaan dalam rumah yang sebentar lagi akan kami bangun.
Dia ingin menjadi seorang ayah yang baik, ayah yang selalu meluangkan waktu di akhir pekan untuk mengajak anak-anaknya berlibur dan bermain. Dia ingin meluangkan waktu di jam 10 pagi untuk menjemput malaikat kecilnya disekolah. Dia membayangkan pulang disambut dengan tangisan dan candaan buah hatinya. Ya allah, mampukah aku memberi semua itu padanya?
Lama aku merenung, hingga mungkin aku tak tertidur.

Di akhir pekan tirta mengajakku jalan-jalan… dia bilang dia rindu pada adam… hatiku semakin teriris… tersayat dan entah apa aku bisa menahan rasa kecewa pada diriku sendiri.

Aku memikirkan banyak cara… banyak sekali cara…
Apakah aku harus meninggalkannya seperti aku meninggalkan mas doni ?
TIDAK, Tirta terlalu baik untuk ku sakiti…
Apakah aku harus mengatakan keadaanku pada tirta?
YA, dengan semua sifatnya dia pasti akan mengatakan tak apa-apa… tapi aku yang akan tersiksa karena aku tak dapat memberikannya keturunan. Dan aku tak mau, kelak hidupnya juga akan kesepian karena tak ada buah hati diantara kita.
Apakah kelak ketika kami sudah menikah aku akan meminta untuk mengadopsi seorang anak?
Tirta pasti mau, tapi…… ini tak adil untuknya.

Mungkin waktu itu pikiranku terlalu sempit… yang aku pikirkan hanya bagaimana membuat hidup tirta menjadi sempurna.
Mungkin, aku harus mengenalkannya pada wanita baru? wanita yang lebih sempurna dariku yang bisa membahagiakannya dan memberikannya seorang keturunan…

Ya, aku ingat beberapa teman kuliahku… banyak diantaranya yang berprofesi sebagai model.. aku menghubungi mereka satu per satu.. aku bilang aku punya saudara, tampan, mapan dan baik yang sedang ingin mencari pacar.. banyak diantara mereka yang sudah memiliki pasangan, hingga kutemukan 1 temanku yang aku tau dia memang orang yang baik. Dia mau untuk aku kenalkan pada Tirta. Hingga kami mengatur janji untuk sekedar minum kopi dan mengobrol lebih lanjut tentang tirta… disitu aku mengatakan padanya,

“Tolong buat pertemuan ini seperti natural.. karena dia sebenarnya tidak mau dijodoh-jodohkan, aku yang berinisiatif untuk mencarikannya seorang pacar.”
Temanku “Nabil”, dia mau menuruti apa kataku.

Saat itu aku memberikan akun facebook milik tirta. Kemudian nabil meminta pertemanan pada tirta.
Sungguh, hatiku sangat sakit.. bahkan lebih sakit ketika aku berpisah dengan mas doni… aku menangis lebih keras dan seluruh tubuhku terasa lebih lemas ketika menyerahkan Tirta, orang yang kusayangi pada wanita lain.. tapi aku harus tegar, aku harus melihat tirta hidup bahagia dan lebih sempurna.

Hubunganku dengan tirta masih baik-baik saja.. meskipun tirta sudah berteman dengan nabil, tapi tirta belum menganggapnya penting. aku coba membuka akun facebook tirta, dan terlihat beberapa obrolan mereka. Nabil mencoba untuk mengajakanya berkenalan, tapi tirta hanya menjawabnya singkat, padat namun tetap ramah. Seperti tirta menjawab postingan-postingan dari teman-temannya yang lain…

Rasa cemburu begitu meledak-ledak didada ketika melihat pesan masuk dari nabil yang mengingatkan tirta untuk jangan lupa makan, dan jangan terlalu lelah bekerja.
Walaupun tirta hanya menjawab “ ya, thank’s “ tapi rasa dihatiku sangat nggak rela… tirta lelakiku, hanya aku yang boleh mengatakan itu.. tapi lagi-lagi aku harus sadar diri. Akulah yang membuat semua skenario ini.
Sampai suatu hari, entah apa yang mereka perbincangkan.

Tirta datang padaku, ketika aku sedang mendengarkan alunan musik di kamarku, tirta datang, melepas earphone ku, dengan wajahnya yang sangat geram, mukanya yg sudah memerah, dia membanting HP nya tepat dihadapanku.

Kaget, tapi aku tetap tersenyum sambil menunduk tak berani menatapnya.
“Apa-apa an sih?! kamu kenapa?! apa salahku?!”

Aku cuma bisa tersenyum simpul, tetap tak bisa menatapnya.
“Tirta marah…sungguh sangat marah. Lebih menakutkan dibanding dengan marahnya dia di lapangan basket kala itu. Tirta berteriak, membentakku dengan sangat keras… kudengar dari nadanya bicara, dia juga terisak menahan amarah dan tangisan di dadanya…

Sungguh saat itu aku sudah tak punya rasa. Aku hanya bisa duduk sambil tersenyum simpul diujung ranjangku.
“Jawab aku, liat aku, apa yang kamu lakuin ke aku ??!!”

Dia terus membentakku. Dia berdiri tepat di hadapanku.
“Doni? Doni lagi yang bikin kamu kayak gini?!”

Dia mengira mas Doni telah kembali… dan aku ingin bersatu lagi dengan mas Doni.
Aku hanya bisa diam… tapi air mata ini tak bisa tertahankan… dalam batinku aku ingin menjerit…
“aku sudah tak memikirkan lelaki itu… yang aku mau hanya yang sempurna untukmu”

Belum sempat aku memandangnya dan mengatakan barang sepatah kata, dia pergi meninggalkanku… iya, tirta benar-benar pergi meninggalkanku.

Dia membanting pintu kamarku…membanting pintu rumahku…dia juga membanting pintu jean… (maaf jean, tirta harus menyakitimu).

Tirta pergi…aku baru berani benar-benar mengeluarkan air mataku lagi.
Yaaa, hanya ini yang aku bisa…meratapi lagi nasibku… meratapi lagi apa yang menjadi pilihanku.

Seminggu berlalu tirta sama sekali tak menghubungiku… akun facebook nya juga telah menghilang, sama sekali dia tak meninggalkan jejak untukku.

Siang itu aku terbangun dengan infuse ditanganku. Ternyata tubuhku sudah tak kuat lagi.
Sakit, rindu, tekanan, dan kemarahan tirta membuatku benar-benar tak berdaya. Tubuhku tak mampu menampung semua ini.

Seminggu aku di rumah sakit… tak ada tirta yang menemani serta menyemangatiku lagi. Sungguh, jika aku boleh mati, rasanya ingin aku mati hari ini…. Tanpa merasakan perihnya hati ini, harus melukai orang yang kusayangi lagi.

Aku marah pada diriku sendiri… kenapa selalu cerita cintaku berakhir seperti ini..kenapa lagi-lagi aku harus mengorbankan semua ini… tanpa aku mampu mengucapkan sebuah pengakuan.

Suatu hari, di kantor, aku berada dalam suatu acara. Aku bertemu dengan seorang atasan dari luar kota. Dia terlihat masih sangat muda. Dan dari beberapa pertemuan kita, aku lihat dan merasa bahwa dia tertarik padaku. Dia orang yang sangat pendiam. Awalnya dia mengaku seorang duda ber anak 1. dia mengaku nyaman berbincang denganku. Lebih dari rekan kerja.

Hampir saja aku melampiaskan kesedihanku kepada orang ini. Hampir saja aku dekat dengannya, aku juga merasa, dia seorang duda, sudah memiliki anak, maka tak apa jika dariku dia tak mempunyai keturunan… tapi ternyata tuhan berkata lain… ternyata dia masih belum resmi bercerai dengan istrinya. Tapi rumah tangga mereka sudah tidak harmonis lagi. Istrinya melakukan suatu kesalahan yang tidak bisa dia ampuni.

Tapi lagi-lagi aku berfikir, bukankah setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan? apa selama dia hidup dan berumah tangga dia tak pernah melakukan kesalahan?
Kemudian bagaimana dengan anak-anaknya ? apa mereka juga melakukan kesalahan yang sama seperti ibunya ? haruskah mereka menjadi korban dari perselisihan orang tuanya?

Lagi pula, tak adil juga jika aku bersama dia tapi hatiku masih mencintai Tirta. Tak adil baginya untuk menjadi pelarianku saja.

Dalam kebimbanganku ini, terdengar pesan masuk berdering di HP ku.
“Udah makan?” Tirta mengirim sms padaku.

Ya allah… betapa senang hatiku…. Sungguh tak bisa kugambarkan betapa bahagianya aku malam itu… tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata betapa aku sangat bahagia.
Aku membalas sms nya, “belum…”
Karena memang malam itu, sebiji gandum pun belum masuk ke perutku…

“Sate mau? “

Haaaah ?? sate ??? Tirta menawariku sateeee ????
“Kkamu dimana ? “
5…10…hingga 15 menit dia tak menjawab…
Aku terus memegangi hp ku samil kunaik-naikkan ke atas, Siapa tau aja nggak ada sinyal, padahal penuh juga sih.
Duuuuuh, kok nggak bales ya… janga-jangan tirta Cuma mau ngerjain aku.

Nekat ah…aku telfon aja dia. Baru aku mau menelfon dia, terdengar raungan suara gas dan klakson jean di depan rumahku.
Aku intip dari bilik jendela… haaah? jean??? mobil tirtaaaa???
Ya allaaaaaaaaaaaaah….aku deg-deg an banget… udah berapa bulan aku nggak ketemu dia. Kayak apa sekarang mukanya ??? duh, penampilanku gimana ya ???

Dia turun dari mobilnya, dengan celana pendek dan kaos oblong favoritnya…membawa sebungkus sate dengan khas gaya jalannya… aku tak sabar ingin menemuinya… seolah malam ini aku lupa dengan benjolan yang ada diperutku.. aku lupa, beberapa bulan yang lalu aku telah menyakitinya.

Dia masuk kedalam rumahku, aku terlihat sudah didepan pintu. Seolah seperti tak pernah ada apa-apa.
“Kurus banget sih?“ dengan nadanya yang jutex dia menyapaku.
“hehehe…” aku cuma bisa tertawa sambil memegangi handphone ku.
“Yuk, cepetan makan… “

Dia masuk kedalam meninggalkanku sendirian diruang depan… dia masuk kedapur, mengambil 2 buah piring kemudian menatakan sate untukku… dibawanya keruang tengah, dia letakkan di atas karpet kemudian tanpa segan dia menyalakan televisI sambil mengganti-ganti chanelnya…

Aku tersenyum bahagia memandangnya dari ruang tamuku. Ttirtaku…ternyata masih sama seperti yang dulu.
Sambil menggigit batang satenya…dia melirik ke arahku, “Cepetan sini makan… malah bengong. Heran ya liat cowok ganteng ?”

Hahahahaa….tirta tirtaaa.
Lalu aku datang mendekat padanya… aku makan sate yang rasanya jadi seperti makanan paling nikmat sedunia… beneran deh, nggak ada makanan lain yang seenak sate ini.. hahahahaha

Mungkin tirta nggak sabar melihatku makan dengan perlahan… ya memang setelah malam itu, malam dimana tirta meninggalkanku… selera makanku jadi sangat kurang bagus…kadang, bisa dalam sehari aku tak menyentuh sesuap nasi.
Tirta mengambilkan sesendok besar lontong beserta sambelnya…dia menekan kedua pipiku sambil terus memaksa menyuapiku.

Meskipun kita sempat bertengkar, tapi hati ini rasanya sangaaaat bahagia.
Selesai makan, tirta tidur-tiduran di sofa depan tv ku… aku masih heran melihat kelakuannya.

“Ni anak kerasukan apa sih kok bisa aneh kayak gini ? “
Persis seperti awal kita bertemu… gayanya super jutex emang selalu bisa membuatku bertanya-tanya bahagia.

“Ta….”
“Heeeem ?”
“sory ya…”
“sory kenapa ?”
“nabil….”
“ wah, sexy ya….”
“ aaaaah, kok sexy sih ??”
“ iya, nabil temenmu yg model kan ? difoto sih keliatan biasa aja…cantik lah, tapi standart. Setelah ketemu aslinya, sexy banget… pantes aja jadi super model”
“ aah ah ah…. Kok gitu sih ? kamu pernah ketemuan sama dia ?”
“ ya pernah lah… gila aja sia-siain barang bagus”
“ tirtaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa !!!!”
Aku teriak keras-keras di telinganya sambil mencubiiiit hebat perutnya.

“Ya udah, terus ngapain kamu kesini sekarang ? ngapain tadi sms aku ? pake beliin aku sate !! suap-suapin segala !!!! “
Tanpa dosa dia menjawabku…
“Cuma mampir “

Ya allaaaaah, teganya kamu ta…. !!!!!!!
Aku tersungkur lemas merebahkan diri ke sofaku…. 
Tak selang berapa lama… tirta mengecilkan volume tv ku…

“hei….” Dia mendekati sambil menyapaku.
Aku masih saja diam tak mau melihatnya.
Kemudian dia ikut-ikutan bersandar di sofaku sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku.
“ makanya, jadi orang jangan sok-sok an…. Masih cinta, masih sayang, pake mau ninggalin segala…”

Setelah dia mengatakan itu, aku baru berani menatap mata indahnya.

“Lain kali, apapun yang terjadi, bilang sama aku… jangan biasakan menyiksa diri sendiri lagi. Kamu punya aku, punya papa mama dan yang pasti kita punya tuhan. Percaya, nggak ada masalah yang nggak ada penyelesaiannya. Nggak ada penyakit yang nggak ada obatnya. Jangan menganggap dunia ini kecil… toh kalaupun memang kecil, masih banyak hal yang bisa kita lakukan.”

“Tirtaaaa….. “ aku terbangun dari sandaranku.

“iya, aku udah tau… kamu kok bisa-bisanya berfikiran seperti itu. Kamu masih belum sadar seberapa sayangnya aku sama kamu ? sekarang kita juga nggak punya anak, tapi aku juga cinta sama kamu… apa bedanya nanti sama sekarang kalo kita nggak punya anak ? “

“Ya beda ta… kelak ketika sudah berumah tangga, kita bakal ngerasa kesepian kalo nggak punya anak. Belum lagi keluarga, teman dan saudara, setelah kita menikah, mereka pasti bertanya… gimana udah isi belum? Gimana anaknya udah berapa ? gimana, anaknya udah bisa apa ?. kita itu hidup bermasyarakat, kita pasti akan menemukan hal-hal seperti itu… dan aku, Cuma ingin yang terbaik buat kamu.”

“Ya kamu. Cuma kamu yang terbaik buat aku. Kalo kamu bener-bener pengen yang terbaik buat aku, ayo, menikah sama aku”

Lagi-lagi tirta sangat tegas mengambil keputusan ini…aku bahagia…sangat bahagia…namun aku juga masih sangat bimbang dengan diriku sendiri.

“Hei… rumah tangga kita berdua, biar aja jadi urusan kita. Nggak usah perduliin omongan orang lain… kalo kamu terus-terusan mikirin perasaan orang lain, pendapat orang lain, lama-lama kamu bisa mati gila ! biar mereka dengan pemikirannya masing-masing, yang penting kita jalani hidup kita dengan baik dan bahagia…”

Kata-kata itu yang sampai saat ini terus aku ingat… terus terngiang-ngiang dalam benakku. iya, benar kata tirta… buat aku aku hidup dalam baying-bayang orang lain. Buat apa aku hidup dalam ketakutan akan pendapat orang lain… yang penting aku hidup tidak menyusahkan orang lain, itu sudah lebih dari cukup.

“Makasih ya ta… makasih kamu benar-benar mau menerimaku apa ada nya…”
Aku hanyut dalam pelukan hangatnya… pelukan yang selama beberapa bulan ini tak menenangkan diriku lagi… pelukan yang benar-benar hebat… benar-benar bisa membuatku merasa disayangi..
Tak ada kata ragu lagi untuk menolak lamarannya… dia benar-benar seorang pria yang mau menerimaku, mencintaiku dan menyayangiku apa adanya… bahkan di saat aku menjadi seorang wanita yang tak sempurna.

Guys, inilah akhir dari cerita cintaku.

Doakan, beberapa bulan kedepan aku akan menikah dengan Tirta… dan kebetulan, tirta memiliki teman seorang dokter, dia menyarankan aku untuk melakukan terapi pengecilan tumor. Dengan obat-obat herbal dan dia menyarankan untuk setiap hari aku meminum air rebusan daun sirsat.

Dengan kecanggihan tekhnologi masa kini, dia juga memberi solusi untuk kami memiliki seorang keturunan. Dia menyarankan jika nanti setelah proses pengecilan tumor ini kami tak berhasil juga memiliki seorang keturunan, kami bisa melakukan Inseminasi… insyaallah, atas izin allah… jika kita memang dipercaya bisa memiliki keturunan, pasti bagaimanapun caranya kami akan mendapatkan seorang buah hati.

Sekian cerita pengalaman kehidupan saya… semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua… bahwa hidup tak harus selalu memikirkan pendapat dan pandangan orang lain. Tak ada masalah yang tak ada penyelesaiannya, tak ada penyakit yang tak ada obatnya… cobalah untuk berbicara, jangan pendam semua dan menyiksa dirimu.

Kita, berhak untuk bahagia.

Apakah menurut anda cerita cinta ini sudah berakhir?
Ya, Anda mungkin mengira inilah akhir cerita cinta Tresya.
Sang penulis cerita ini juga mengira cerita perjalanan cintanya yang dramatis dan berliku sudah berakhir.

Ternyata belum! Cerita cinta Tresya belum berakhir. Ada peristiwa yang bahkan sang penulisnya sendiri tak menduga. Dan ini mengagetkan dia, bahkan membuat dia shok! Apa yang terjadi?

Penasaran kan? Silakan simak lanjutan ceritanya. Tak harus menunggu lama, besok anda bisa baca lanjutan ceritanya.


Bersambung…


Lanjutkan...

Bukan Manusia, Jika Itu Sempurna ( 33 )

Oleh Tresya Agnashila

Aku udah merasa, dia pasti menanyakan mas Doni padaku.

K : ”Doni masih sering hubungin Icha kah? Atau bagaimana hubungan kalian? Kenapa doni berubah?”

M : ”Maaf kak, aku nggak tau soal itu, dia juga nggak pernah hubungi aku lagi.”

K : ”Kakak penasaran, kenapa kalian jadi begini? Sebenarnya ada masalah apa? Setau kakak hubungan kalian selalu baik-baik saja, bahkan Doni pernah bilang kalo kalian mau tunangan, kenapa sekarang jadi gini sih Cha?”

Aku hanya menjawabnya dengan simpel, “Mungkin belum jodho kak….”

K : ”Hanya belum kan? Sampai sekarang kakak yakin Doni masih sendiri. Kamu pulanglah kerumah bersama kakak. Papa kangen juga sama kamu. Pulanglah ikut kakak Cha, hubungi Doni lagi. Dan kamu kembalilah pada Doni. Kasian papa Cha, dia sering nanyain kamu. Pliiiis sekali aja ikut sama kakak, hanya untuk menjenguk papa. Kasian papa sekarang sakit-sakitan.”

Seakan dunia ini runtuh dan menguburku. Aku nggak berdaya, bener-bener nggak berdaya. Mas Doni ternyata juga tidak pernah kembali ke sini. Kakak juga bilang mas Doni masih sendiri. Mungkinkah dia masih menungguku sampai saat ini?

Entah sudah berapa lama aku berbincang dengan kakak…. Tiba-tiba tirta datang dan terlihat panic mencariku
T : ”Dari mana aja sih ? lain kali jangan jauh-jauh dari aku…aku cemas nyariin kamu.”
Tirta menyadarkanku dari guncangan hebat ini… kakak terlihat heran memandangi tirta…

K : ”Siapa ini cha? temen kamu ya?”

Tirta memandangiku dan bertanya juga padaku…
T : ”Ini siapa sayang ? Temen ya? Apa saudara?”

Aku hanya bisa diam..entah setan apa yang merasuki pikiranku sampai aku tak bisa menjelaskan pada kakak bahwa tirta adalah kekasihku…orang yang akan menjadi suamiku…

Kakak memegang tanganku dan bilang… ”Ayo cha..ikut bersama kakak!”

Tirta mungkin tau kalau dia adalah kakak mas doni.. tirta melepaskan rangkulannya dariku dan dia mundur 1 langkah dari hadapanku… aku kaget melihat tirta, aku memandangi tirta dan tirta terlihat sangat pasrah melihat semua ini… kakak trus memegangi lenganku…

Dalam diam kami bicara….
Sekan tirta memberiku pilihan saat ini…“Ikutlah denganku cha..lepaskan tangan wanita itu…”

Kakak : “Ayo cha…doni masih mengharapkan kamu…papa juga merindukanmu.”

Ya allah…. Kenapa aku jadi sebodoh ini…dimana akal sehatku…!!!!!!!!!!!!!!!

Melihat aku berdiam diri terlalu lama, Tirta pergi meninggalkanku… tirta pergi dan berjalan cepat keluar area pertandingan ini… suara gaduh, ricuh dan teriakan seakan bergema di gendang telingaku… kakak menggenggam tanganku dan dia menarikku untuk keluar dari gedung ini…

Tuhan baik padaku, dia menyadarkanku bahwa selama ini tirta lah yang selalu menemaniku… tirta lah yang ada dalam tangisanku… dan tirtalah yang bisa membuatku dan membawaku berdiri di tempat ini…

Aku melepaskan tangan kakak…”Mmaaf kak, tapi aku sudah punya pilihan lain… tolong sampaikan salam sayangku untuk papa”

Aku berlari mengejar tirta… jangankan tubuhnya, bayangannya pun tak bisa kutemukan…
Aku pergi ke area parkir, aku mencari mobilnya, tapi jean juga sudah tiada… aku coba menghubungi HP nya… nada panggilan terdengar masuk, namun tak juga diangkatnya…

Aku coba sms dia…“tirta maafin aku… plis jemput aku disini”

Tapi tak juga dibalasnya… aku coba untuk mencari kendaraan, aku pulang kerumahku, tapi tak terlihat juga mobilnya…kemudian aku berbalik arah dan mencari di rumah kontrakannya, tapi pintu masih terkunci, mobil juga tak ada… ya allah, dimana tirta… dimana diaaaa……!
Aku terus menunggunya di depan rumah, sambil terus mencoba menghubunginya… tapi dia tak juga pulang, telfon tak jua diangkatnya… aku coba untuk keliling kota ini…siapa tau aku menemukannya dijalanan.

Hampir semua sudut kota aku telusuri, hampir 2 jam aku berkeliling sendirian, tapi tetap, aku tak melihatnya… aku pasrah…dan aku putuskan untuk pulang kerumah mengambil kunci rumah tirta dalam dompetku.

Sekitar pukul 5 sore aku kembali ke rumah tirta… masih seperti tadi, pintu masih terkunci dan jean tak terlihat dihalamannya.

Aku masuk, badanku sudah lemas, pikiranku juga sudah melayang entah kemana… aku bingung… dimana sekarang tirta…kenapa sudah ber jam-jam dia nggak pulang-pulang.

Aku telusuri setiap dinding rumahnya dengan langkahku yang lemas…Sungguh hampa, layar televise yang sungguh gelap, sofa yang dingin,,, dan lantai yang sangat bersih seakan tak pernah ada kehidupan.

Aku masuk ke kamarnya… jendela yang tertutup rapat, dan ranjang yang sangat rapi…. Sungguh kini aku seorang diri… bahkan cicak pun enggan menemani. Aku terduduk di ranjang tirta… sambil menyentuh selimut yang setiap hari menghangatkannya.

Aku melamunkan canda tawa bersamanya… senyumnya, kekonyolannya, dan tingkah lakunya yang selalu bisa membuatku tertawa…Dia selalu ada, disaat aku membutuhkannya…Mama dan papanya… keluarganya, yang bisa mencintaiku apa adanya.

Dan air mataku pun menetes, saat aku mengingat aku tak bisa menyebutnya sebagai kekasihku….betapa bodohnya aku… kenapa aku campakkan orang yang sangat mencintaiku begitu saja… aku menangis kembali di atas ranjangnya.

Entah berapa lama aku menangisinya, aku terlelap, tertidur memeluk selimutnya…Hingga aku terbangun dengan suara pintu yang terbuka…Aku masih hanya terbangun, memandangi kegelapan ini…Tiba-tiba ada seseorang yang datang menghampiriku… tanpa kata-kata dia memelukku.

Ya, dia adalah tirta kekasihku… aku menangis terisak-isak dipelukannya, “maafin aku ta… maafin aku…..”
Tak ada kata lain yang bisa kuucapkan padanya selain kata maaf.

Tirta hanya memelukku dengan erat, sambil kurasakan betapa lelah hatinya… betapa pasrahnya dia… tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.. andaikan saja ada sedikit cahaya diruangan ini, pasti aku tak kan sanggup untuk memandangi wajahnya.

Dia tertunduk padaku… benar-benar tertunduk dan memasrahkan semua ini padaku…Aku menyentuh kedua pipinya… aku takut tapi aku harus menyentuhnya…” maafin aku ta… maafin.

Belum selesai aku mengatakannya, dia membungkam bibirku dengan bibirnya…Dia menciumku dengan penuh cinta… dia menciumku seakan dia mengikatku agar aku tak lagi pergi meninggalkannya.

Aku pun langsung membalas ciumannya… kami berciuman, dan isak tangisku berubah menjadi kelegaan mengerti dia telah memaafkanku.

Dia mengecup keningku, aku sudah tak berdaya lagi….“Maafin aku Ta, beri aku kesempatan kedua… aku sadar, aku tak bisa hidup tanpamu.”

Tirta menurunkan wajahnya, kemudian mengedipkan matanya padaku…Entah apa yang ada dipikiranku saat itu, rasanya aku ingin membuat tirta mengerti bahwa kini aku benar-benar mencintainya… aku ingin dia tau, bahwa kini aku benar-benar miliknya…

Dalam gelap dan heningnya malam… tanpa saksi dan tanpa kata, aku ingin melepaskan semua yang aku punya… aku ingin serahkan semua milikku pada tirta…Belaian lembutnya sungguh sangat menenangkanku…pelukan hangatnya membuatku semakin percaya, dialah yang bisa melindungiku…

Lama kami bercumbu…. Sendu berubah menjadi nafsu….

Ditengah perjalanan deru nafas penuh nafsu kami…. Tirta menghentikan langkahnya…
Tirta memelukku dengan sangat erat…

Dan dia berbisik….“kamu tak perlu melakukan ini, aku percaya, sepenuhnya percaya padamu sayangku…”

Lagi-lagi aku meneteskan air mata… betapa hebatnya dia… mampu melawan nafsu birahinya… aku yang sudah sangat dekat dengannya, aku yang sudah membuka diri untuknya… tapi dia benar-benar tulus mencintaiku… bukan karna nafsu dan bukan demi harta… dia mengambil selimut yang ada dibawahku, kemudian menutup tubuhku yang tertutup oleh gelap malam… dia menyelimutiku, kemudian memeluk sambil terus membelaiku…

“Terima kasih sayang… kamu sudah berikan semua untukku.. terima kasih kamu telah percaya padaku.. tapi cintaku tak perlu bukti, asalkan engkau mau terus disampingku, aku sudah yakin bahwa kamu mencintaiku…”
Tirta begitu mulia… dia begitu menghargai cinta kita….

Aku tidur dipelukannya, aku merasakan kehangatan dan kasih sayangnya… sungguh nyaman ada dalam pelukan orang yang mencintai kita… aku berjanji pada diriku sendiri, sekuat tenaga aku akan menjaga cinta kami….

Seminggu berlalu, aku kembali dengan rutinitasku.


Di kantor, ketika makan siang tiba, aku merasa ada yang aneh dalam perutku… mual, seperti ada tangan yang mengaduk-aduk perutku…Kepalaku juga pusing, badanku juga terasa sangat letih…

Saat aku menikmati ketidaknyamanan dalam tubuhku ini, tiba-tiba tirta sms…
“lagi ngapain istriku…?”

“Haaaah ? istriiii ??? haaaah ? “

Aku langsung memegangi perutku….

Jangan-jangan ????

Noooooooooooooooooooooooooo !!!!

Aku nggak mau hamil sebelum nikah…. Tuhan….apa yang harus aku lakukan !!!!!!
Aku langsung menelfon tirta…
M : “ Ta, kamu sayang kan sama aku ? kamu cinta kan sama aku ????”

T : “ Ya iyalah lah… kenapa sih ???”

M : “ Kamu mau kan nikah sama aku ???”

T : “ Hahahaha…. Mau banget lah…ayok kapan ? sekarang??”

Aku langsung menutup telfonnya, aku langsung lari pergi keluar kantor… yang ada dipikiranku saat itu Cuma aku harus cek keadaanku. Test pack !!! yaa, aku harus beli alat test kehamilan !!!

Didepan apotik, sempet ragu juga sih buat masuk…duh, gmna ya ? beli nggak ya ?? tapi aku kan udah dewasa…gak bakal dicurigain juga deh kalo aku beli test pack!

Aku beranikan diri untuk masuk ke apotik dan aku beli alat test kehamilan itu… petugas apotik menanyaiku…
“Udah telat berapa bulan mbak ?”

“Haaah, berapa ya ? lupa mbak..yg penting udah telat gtu aja…”

“Owh….semoga jadi ya mbak.“

Alamak !!!! semoga jangan atuh mbak !!!! (gumamku dalam hati !!!!)

 

Bersambung...


Nulis komentar di posting Cerbung “Bukan Manusia, Jika itu Sempurna” bisa dapat hadiah. Tema komentarnya bebas; bisa berupa kesan, pesan, saran atau kritik untuk cerbungnya. Gaya tulisan juga bebas, boleh menggunakan bahasa gaul, nggak harus dengan tata bahasa Indonesia yang baku. Yang penting sopan. Diakhir kisah akan dipilih 10 komentar terbaik yang berhak mendapatkan kenang-kenangan dari blog Curhatkita. Selengkapnya silakan baca di sini.




Lanjutkan...

Bukan Manusia, Jika Itu Sempurna ( 32 )

Oleh Tresya Agnashila

Sebulan berlalu, kami jadi lebih seperti pasangan lain pada umumnya.

Tirta tak ragu lagi memanggilku sayang. Dia juga tak segan lagi memegang tanganku, mencium pipi dan keningku, bahkan tidur bersandar dipangkuanku.

Ya, kini kita benar-benar menjadi sepasang kekasih. Aku sudah membuka lebar pintu hatiku untuknya. Dia sudah masuk dan tak lagi hanya menungguiku sambil terus mengetuk pintuku.

Kami sangat bahagia. Aku merasa aku sudah terlepas dari bayang-bayang mas Doni, yang kukira, dialah orang yang akan kucintai sampai aku mati.

Tapi tirta, masuk dalam kehidupanku dan membuka mataku untuk melihat dunia baru. Kini kami tengah membangun sebuah pondasi kokoh untuk kami tinggikan menjadi rumah yang megah beserta isinya yang indah.

Tirta sangat mengerti aku dan dia juga sangat menyayangiku… kini, dia sedang berusaha untuk pindah ke kotaku… kota dimana sekarang kami tinggal. Tak jarang, ketika pekerjaannya selesai lebih awal, dia menyempatkan diri untuk datang ke kotaku..meski hanya dalam hitungan jam, tapi cinta membuatnya tak mengenal lelah…

Tirta sangat ingin segera menikahiku… ketika kami bersama, dia selalu mengajakku berbicara tentang rumah yang nantinya akan kami huni.. dia ingin membanggun sebuah rumah, dimana akulah arsitek nya. Dia benar-benar ingin memanjakanku dalam segala hal…

tirta membeli sebidang tanah yang cukup luas… dia ingin membangun sebuah rumah sebelum nantinya kita menikah…
ternyata sangat seru..memikirkan dan menggambarkan ruangan-ruangan seperti apa yang akan kita tempati kelak… setiap weekend, kita habiskan waktu untuk menggambar rumah seperti apa yang kita inginkan…

ya, selera kami berdua ternyata sama… kami ingin sebuah rumah dengan ruangan yang minimalis…dengan kolam kecil didalam rumah, dan taman dibelakang rumah… dapur terbuka serta ruang makan dan ruang keluarga di teras belakang rumah.. kami berdua senang menghirup udara segar… tak terhalang oleh dinding dan udara segar dapat kami hirup setiap saat…

tak jarang tirta juga membayangkan betapa bahagia kami ketika nanti telah berumah tangga….

Suatu obrolan di minggu siang, sambil berbaring dipangkuanku dan sambil kusuapi dia dengan potongan apel….
T : ” sayang…”

M : ” iyaaaa……?”

T : “enak ya ntar kalo kita dah nikah….”

M : ” kok tau kalo enak ?”

T : ” ya enak tiap hari bisa beginian… tiap hari bisa bobo dipangkuan kamu, tiap hari disuapin, tiap hari juga bisa berduaan trus kayak gini”

M : ” hahahaahahaaa…. Kamu aneh deh kalo romantis gini ! nggak banget ah ! xxixi ^^”
Dengan wajahnya yang makin manja tirta memanyunkan bibirnya persis kayak anak TK ^^

T : ”sayang… besok kalo dah nikah, pengen punya anak berapa ??”

M : ”ehm….. berapa ya ?”

T : ”kalo aku pengen punya 5 “

M : “kok 5 ??? engga 10 sekalian !!”

T : ”engga 5 aja, kalo 10 kasian kamunya…”

M : ”kalo 5 nggak kasihan ???????”

T : ”hehe…kasian ya ?”

M : ”2 aja ya sayang ”

T : “ah kok 2 ??? ntar ga seruuu “

M : ”2 aja lah… biar kita bisa konsen ngurusinnya… jadi kasih sayang bisa kita bagi rata… kalo anaknya 5, anak pertama udah gede, ntar bisa terabaikan gara-gara kita ngurusin si kecil… “

T : ”emang gitu ya ?”

M : ”iya lah…apalagi kita berdua sama-sama kerja… kan ada iklannya tuh,, “2 anak lebih baik.”

T : ”ah gitu ya ?? ya udah deh nurut aja… tapi bikinnya gak cuma 2 kan ? “

M : ”bikin apaan siiiiiih ???”

T : sambil mengejek ku ”itu tuuuuuh”

M : ”itu apaan ????? ! “

T : ”ya bikin anak lah, masak bikin roti ! “

M : ”iiiiih, dasar tirta nakaaaaal !!!”

T : ”hahahaaaa… tirta ketawa bahagia…”

T : ”sayang, kalo punya anak pengen cewek apa cowok ?”

M : “cewek sama cowok…^^”

T : ”cowok dulu baru cewek ya…”

M : ”eh ga boleh gitu, apapun harus disyukuri… yang penting kan sehat”

T : ”iya sih, tapi kan manusia boleh berencana, sapa tau ada malaikat lewat trus di amin in deh”

M : ”hahaha…kamu tu ada-ada aja…”

T : “kalo anak kita cowok kira-kira mirip siapa ya ?”

M : ”pasti mirip mamanya…”

T : ”Galak donk ?”

M : ”aaah, emang aku galak ??? ″

T : ”ga Cuma galak, tapi SADIS !!!”

M : ”kok gituuuuuuuuuuuuu !”

T : ”nah tu..belum apa-apa aku udah di cubit lagi… hidup genap 1 minggu sama kamu bisa-bisa dagingku abis gara-gara kamu cubitin melulu “

M : “NGGAK CUMA AKU CUBIT, TAPI AKU MAKAN SEKALIAN !!! ” sambil aku remas tangannya dan aku gigit lengannya !!!

T : “ampuuuuuuuuuun…iya iya iya ampuuuuuun ! ya ampun perasaan aku nggak kurang-kurang ngasih kamu makan, masih aja kelaperan !”

M : ”aaaaaaaaaaaah, tirtaaaaa nakaaaaaaaaaaaaaaaaaal !!!!”

Hehehe….. kami lalu berpelukan dalam canda ini.

Minggu berlalu dan bulan pun berganti.. hari itu ada pertandingan basket di salah satu gelanggang olah raga di kota ku dulu..kota dimana tirta masih tinggal.. tirta mengajakku menonton pertandingan itu, dan Jumat sore, sepulang kantor aku pulang kesana untuk menemani tirta melihat pertandingan.

Aku rindu rumahku… rumah dimana aku menghabiskan masa kecil dan remajaku… sesampai di terminal, tirta terlihat sudah menjemputku… lalu kita sama-sama pulang ke rumahku…

Rumah yang bersih..meskipun tak ada yang menempati, tapi rumah ini terlihat sangat bersih dan masih asri…
Ya, karna tirta menyuruh seseorang untuk membersihkan rumahku 3 hari sekali… tak jarang tirta juga tidur disini, untuk berjaga-jaga agar rumah tak terlihat sepi.

Sampai dirumah tirta sudah menyiapkan makanan cepat saji, dia membelinya sebelum menjemputku di terminal tadi.. dia takut aku kelaparan, jadi dia membelikan beberapa potong ayam dan beberapa bungkus nasi…

M : ”ta, kalo ntar aku jadi gendut…tua N jelek, kamu masih suka gak ?”

T : ”sexy tauk….!”

M : ”ah kamu, serius ni…..!”

M : ”ya suka lah…emang selama ini kamu pikir yang aku liat dari kamu tu body N tampang nya doank apa ?”

T : ”ya nggak gitu…sebagai cewek, kadang kan minder juga kalo ntar kita punya anak N badanku jadi ga seideal ini lagi. Belum lagi kalo kamu terus-terusan manjain aku kayak gini, alhasil ni badan mesti melar juga…!”

M : ”sayang, percaya atau engga, aku ngga pernah melihat kamu dari kecantikan… ya memang itu sangat perlu, kamu juga harus menjaga penampilannmu sebagai wanita, tapi itu bukan factor utama aku mencintai kamu… itu hanya pelengkap, dan lebih dekat dengan nafsu…”

M : ”berarti ntar kalo dah gendut, kamu nggak nafsu lagi donk sama aku?”

T : ”bohay tau ! cewek gendut tu sexy abis… lagian kan irit tu ga usah beli kasur yang tebel… !”

M : ”hahaha…kamu tu ada-ada aja… serius tau!”

T : ”kamu juga sih aneh-aneh aja… cewek cantik tu banyak, di luar juga masih pada antri cewek yang lebih aduhai…tapi yang ada dihatiku kan cuma kamu “

M : ”wueeeeeeeeeekkkk, sumpah, ga pantes banget deh kamu ngomong beginian !!!”

Hahahaha…kita tertawa bersama… ^^

Pagi datang, sampailah kita di pertandingan… tirta memang sangat menyukai pertandingan basket… dan kali ini, tim yang dijago-jagokannya bermain didepan mata…

Senang sekali bisa menemaninya… dia terlihat sangat serius dan sangat senang ketika tim jagoannya mencetak angka.

Di tengah-tengah pertandingan, aku berinisiatif untuk keluar membelikan tirta sebotol minuman… dia pasti haus… sampai aku diujung pintu, dan aku bertemu dengan seorang wanita yang sangat tak asing bagiku… dia terus memandangi aku… lalu aku memberanikan diri untuk memandangnya, dan ternyata benar… dia adalah kakak mas doni… pria yang sudah sangat lama menghilang dari kehidupanku… pria yang pernah membuatku gila…pria yang pernah sangat aku cintai.

Dia tersenyum padaku, kemudian menghampiriku…

Kakak : ” icha… apa kabar ”

M : “alhamdulillah sehat kak….”

K : ”icha kemana aja ? kenapa nggak pernah kerumah lagi?”

M : “icha sekarang udh nggak rumah sini kak… icha sekarang kerja diluar kota”

K : ”oh ya… icha skrg krja dimana ? wah nggak nyangka ya, icha udah besar, udah kerja pula…”

M : ”iya kak…alhamdulillah aja “

K : ”icha nggak kangen sama mas doni ?”

aku hanya terdiam…. Entah kenapa dia begitu mudah masuk kembali kedalam otakku..mengganggu pikiranku dan mengguncang jiwaku. Seakan aku kembali pada beberapa tahun yang lalu… aku yang masih sangat mencintai mas doni, dan aku yang masih selalu mengharapkan kepulangannya.

K : ”chaa….kok diem?”

M : ”oh iya..gmna kak ? gmna kabar papa ? sehat kan ?”

K : ”hhhmm…papa biasa aja…skrng papa udah pensiun, kadang jantungnya masih sering kambuh. Doni nggak pernah pulang, mungkin papa kangen sama doni…

Aku berusaha menahan diri untuk tidak menanyakan apalagi membahas mas doni…
M : ”oh ya… udah coba di terapi kak ? atau mungkin di obat alternative…?”

K : ”terapi apaan ? namanya juga orang kangen cha..mungkin papa sehat lagi kalo doni udah kembali”
Pliiiiiiiiiiis kak, jangan sebut nama itu lagi…pliiis jangan buat aku terjatuh lagi

K : ”cha…kakak boleh Tanya sesuatu ?”

Aku udah merasa, dia pasti menanyakan mas doni padaku…
K : ”doni masih sering hubungin icha kah ? atau bagaimana hubungan kalian ? kenapa doni berubah ?”

M : ”maaf kak, aku nggak tau soal itu… dia juga nggak pernah hubungi aku lagi”

K : ”kakak penasaran, kenapa kalian jadi begini? sebenarnya ada masalah apa? setau kakak hubungan kalian selalu baik-baik saja, bahkan Doni pernah bilang kalo kalian mau tunangan, kenapa sekarang jd gini sih Cha?”

Bersambung…


Nulis komentar di posting Cerbung “Bukan Manusia, Jika itu Sempurna” bisa dapat hadiah. Tema komentarnya bebas; bisa berupa kesan, pesan, saran atau kritik untuk cerbungnya. Gaya tulisan juga bebas, boleh menggunakan bahasa gaul, nggak harus dengan tata bahasa Indonesia yang baku. Yang penting sopan. Diakhir kisah akan dipilih 10 komentar terbaik yang berhak mendapatkan kenang-kenangan dari blog Curhatkita. Selengkapnya silakan baca di sini.

Gambar Ilustrasi oleh Anindhita Lakshmi Soeriodipoero


Lanjutkan...

Bukan Manusia, Jika Itu Sempurna ( 31 )

Oleh Tresya Agnashila

Kami memetik buah sepuasnya.

Terlihat ada 3 pegawai papanya sedang memilih pepaya yang sudah tua dan hampir matang. Mereka memetik dan menatanya dengan sangat rapi.

Ada seorang pegawai yang bertanya pada mamana, “Iibu, siapa ini bu cewek cantiknya… calon mantu ya?… pacarnya mas Tirta?”

Dengan singkat padat dan jelas mamanya menjawab, “Amin mang !“

Wekekekeke…… aku malu banget rasanya.. mamanya ni bisa aja. Tirta juga malu sambil nyengar-nyengir setelah mendengar jawaban mamanya.

Pagi hingga hampir siang kita habiskan waktu di kebun. Setelah itu kita pulang, makan siang kemudian beristirahat.

Siang itu papa dan mamanya pergi untuk suatu urusan. Tinggal aku dan tirta didalam rumah. Tirta mengajakku melihat-lihat sekeliling rumahnya.

Ia juga memperlihatkan aku barang-barang koleksinya ketika masih kecil. Ya, dikamarnya semua masih dia simpan… ada bola tennis yang sudah berlumur Lumpur, ada baju-baju seragam sekolah yg tercoret-coret sewaktu kelulusan, ada sepatu bola ketika dia masih kecil.

Ada 1 barang yang membuatku sangat simpati padanya. Ya, dia menyimpan fotoku, dia dan adam kala itu. Dia tak hanya menyimpannya di rumah kontrakan, tapi dikamarnya pun, kamar yang setiap saat papa mamanya bisa melihat, dia pasang juga fotoku dan dia dalam bingkai yang cantik.

Tirta masuk ke kamar sambil membawa segelas minuman… dia melihatku yang sedang memandangi fotoku sendiri… perlahan dia menghampiriku… dan tersenyum padaku.

Aku duduk di ranjangnya, dan bertanya…

M: “Seberapa serius kamu mencintaiku ta?”

T : “Maksudnya apa sih ?”

M : Wajahku benar-benar serius kali ini. “iya…. Tolong jawab aku. Seberapa besar kamu menyukaiku…seberapa lama kamu ingin hidup denganku”

T : “Kamu kenapa? kenapa dengan foto ini?”

M : Aku pandang wajahnya…dan aku genggam jemarinya….
“Benarkah kamu sangat mencintaiku?”

Tirta hanya terdiam…dan menundukkan wajahnya perlahan.

Aku angkat wajahnya dengan kedua tanganku… dia menatapku dalam… sangat dalam.

Tak ada alasan lagi untuk aku menolaknya… dan aku harus membayar apa yang dulu pernah dia lakukan.

Aku mencoba mendekatkan diriku padanya… aku dekatkan wajahku padanya… aku kecup keningnya… dan dia menutup matanya…. Aku kecup hidung mancungnya… dan kemudian aku melakukan apa yang dulu pernah dilakukannya…

Ya…kami berciuman, dan kali ini, aku yang menciumnya…

Sesaat dia mungkin kaget dengan apa yang aku lakukan… tapi benar-benar aku ingin mencoba dan meyakinkan diriku sendiri… benarkah aku bisa merasakan apa yang dulu aku rasakan dengan mas doni… ternyata berbeda… entah apa yang kurasakan, tapi kali ini aku tak setenang dulu… dulu ketika aku berciuman, yang kurasakan hanya kehangatan dan kelembutan…tapi ketika dengan tirta, nafasku mulai terengah-engah…dan aku mulai tak tenang…

Cukup lama kami berciuman… dan cukup lama pula tubuhku memeluknya…

Masih dengan raut kagetnya, tirta memelukku dengan erat… dia bertanya…
“Ada apa? kenapa tiba-tiba seperti ini? apa yang kamu pikirkan ?

Aku meneteskan air mataku…. Dan dengan kata yang tak lancar keluar dari mulutku…
“Aku…. Kamu… kamulah yang terbaik untukku… “

Tirta melepaskan pelukannya dan menggenggam erat lenganku…
“Apakah kamu menginginkanku…. Seperti aku menginginkanmu ?”

Aku mengangguk….

“Apakah kamu merindukanku seperti aku merindukanmu….?”

Aku kembali mengangguk….

“Apakah kamu mencintaiku seperti aku mencintaimu ?”

Air mataku tak tertahan lagi… aku menangis dihadapannya dan sambil memeluknya, jatuh dalam perlindungannya, aku berteriak….

“Iyaaaaaaaa…… aku mencintaimu ta….aku sangat mencintaimu… aku tak bisa lagi hidup tanpamu….”

Tirta mendekapku dengan semakin erat… dan aku makin menangis meronta-ronta… tapi hati ini terasa sangat legaaa… seperti ada beban berat yang terbang entah kemana, setelah aku meneriakkan bahwa aku mencintainya.

Tirta melepaskan pelukanku, dan dia kembali menciumiku…. Dia menciumi wajahku, tak membiarkan air mata mengotori wajah ku…dia menciumi mataku…tak membiarkan air mata menetes lagi di pipiku… kemudian dia mencium bibirku… tak membiarkan bibir ini terisak karena tangisanku.

Lama kita berciuman… dan lama pula aku menangis melepaskan bebanku.

Kemudian dia menidurkanku diranjangnya… dia memelukku, menyimpanku dalam hangat tubuhnya… dia mendekapku dengan penuh kasih sayang… aku menatap bidang dadanya, dan dia menatap langit kamarnya… dia membelai rambutku, dan berkata.

“Lepaskan semua… lepaskan hari ini juga… mulailah denganku.. percayakan padaku…”

Aku hanya bisa mengangguk sambil bahagia mendengar pernyataannya…. Akhirnya, aku temukan orang yang tepat untuk hidupku… orang yang benar-benar menantiku…

Kita tertidur disini… diranjangnya.


Bersambung…


Nulis komentar di posting Cerbung “Bukan Manusia, Jika itu Sempurna” bisa dapat hadiah. Tema komentarnya bebas; bisa berupa kesan, pesan, saran atau kritik untuk cerbungnya. Gaya tulisan juga bebas, boleh menggunakan bahasa gaul, nggak harus dengan tata bahasa Indonesia yang baku. Yang penting sopan.
Diakhir kisah akan dipilih 10 komentar terbaik yang berhak mendapatkan kenang-kenangan dari blog Curhatkita. Selengkapnya silakan baca di sini.


Lanjutkan...
Tiga Serangkai eBook Bipolar

3 eBook Bipolar ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata penulisnya. Mengupas secara detail dan sistematis dari gejala awal, saat berada di puncak manik dan depresi, sampai langkah-langkah pemulihannya. Inilah ebooknya : "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah”, “Berdamai dengan Bipolar” dan “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”.
eBook 1: "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah"

Buku psikomoar ini bercerita tentang pergumulan saya selama bertahun-tahun dengan gangguan jiwa yang tidak saya fahami dan membuat saya bertanya-tanya, “Apa yang terjadi dengan diri saya? Penyakit apa yang saya alami? Bagaimana cara mengatasinya?” Ironisnya, saya baru tahu apa yang terjadi dengan diri saya, 8 tahun setelah saya pulih, bahwa saya mengalami Gangguan Bipolar. [Selengkapnya]




eBook 2: "Berdamai Dengan Bipolar"

Bagaimana mengenali dan mengatasi Gangguan Bipolar?
Bagaimana menanggapi sikap negatif orang-orang di sekitar anda?
Bagaimana mendampingi orang yang mengalami Gangguan Bipolar? eBook ini memberi jawaban dan solusi alternatif penanganan Bipolar. [Selengkapnya]



eBook 3: “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”

eBook ini merupakan inti dari pengalaman dan pemahaman bipolar saya. Inti dari tulisan-tulisan saya di buku, ebook, blog, facebook, twitter dan media lainnya. eBook ini bukan teori-teori tentang gangguan bipolar! Bukan formula ajaib untuk mengatasi gangguan bipolar! eBook ini tentang tindakan, langkah-langkah penanganan bipolar. [Selengkapnya]


eBook Novel: “Pengorbanan Cinta”

Novel ini bukan sekedar kisah cinta yang romantis dengan segala macam konflik di dalamnya. Saya berani menyebut novel ini sebagai “Buku Pelajaran Cinta”. Beda dengan buku pelajaran pada umumnya, Buku Pelajaran Cinta ini tak membosankan, malah sangat mengasyikan dibaca. Setelah mulai membaca, jamin Anda tak ingin berhenti dan ingin terus membacanya sampai akhir cerita. [Selengkapnya]



eBook Panduan: “7 Langkah Mudah Menyusun & Memasarkan eBook”

Jika dikemas dengan desain cover yang apik dan diberi judul yang manarik, kumpulan posting blog atau catatan facebook anda bisa disusun menjadi sebuah ebook yang akan memikat pembaca di ranah maya. Selanjutnya ebook anda tinggal dipasarkan secara online.
[Selengkapnya]

 
 © Copyright 2016 Curhatkita Media  template by Blogspottutorial