Tiga Serangkai eBook Bipolar
3 eBook Bipolar ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata penulisnya. Mengupas secara detail dan sistematis dari gejala awal, saat berada di puncak manik dan depresi, sampai langkah-langkah pemulihannya. Inilah ebooknya : "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah”, “Berdamai dengan Bipolar” dan “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”.

Dasar Spesies Primitif !

    

Pengalaman Pribadi

Oleh : Henry

Anjing lu yee, bangsat!!.buukk...buukkk...bukkk

Ingat siang tadi saat berangkat kerja, sekitar pukul 11.00 baru berangkat dari rumah di daerah Tangerang. Naik angkot, lalu ganti bis patas 157 (yep, patas yg agak-agak butut itu:)) jurusan senen dari tol islamic.

Turun dari angkot saya naik bis tersebut dari belakang, lalu duduk di tengah (bangku dua), di samping bapak-bapak kemeja putih. Pengennya sih ga di situ karena sempit & kaki saya yang panjang seperti belalang ini pastinya bakal tertekuk tersiksa. Tapi ini kan bis, agak penuh pula. dapet duduk aja udah untung (wedeh, curhat...!). Akhirnya kaki kiri saya nekuk, kaki kanan lumayan aman tanpa tekukan.

singkat cerita bis berangkat, pelan-pelan meyusur jalan ke depan. sampai depan Gokart (yang punya rumah daerah sama dengan saya pasti tau...) bis melambat lagi, rupanya ada ibu-ibu yang naik dari pintu depan lalu duduk dekat pak supir yang sedang mengendali kuda (wew, eta mah kusir!!:), tuk tik tak tik tuk...:)). Bersamaan dengan itu naik juga seorang anak kecil lusuh dekil bawa gitar warna coklat. Sama seperti si empunya, Gitarnya juga ga kalah (dekilnya..heuheu).


setelah naik, si anak kecil ini jalan menyusur agak ke dalam (o ya, umur ni anak kira2 12-13 tahunan..) lalu berhenti dan bersandar di bangku tiga di arah jam tiga saya, hehehe...arah jam tiga!. Menghadap sedikit ke saya, lalu dia mulai memainkan Gitarnya & bernyanyi. Ngga jauh, yang di maininnya lagu-lagu ST12 n peter pan kayanya, judulnya apa saya ngga ingat. Sumpah, suaranya ga enak banget, naik turun-naik turun ga karuan. Pusing dengernya, Raungan mesin, gemeretak kaca bis, gitar genjrang-genjreng, nyanyian asal!!. wah, lengkap.
kalo kuping saya bisa ngomong pasti dia bilang "kampret!!".

Rupanya, yang terganggu bukan cuma saya. beberapa orang termasuk bapak-bapak usia 40an yang duduk di belakang pengamen juga merasakan hal yang sama. Beliau ini menatap si pengamen dengan wajah ilfil (wew..ilfil nih yeee), agak-agak melotot juga (menurut saya..). Gelisah, kesal dan terganggu lah pokoknya.

dasar apes kayaknya nih bapak-bapak, selesai pengamen nyanyi (yang parah n ga enak itu..), neck gitarnya nyenggol dikit kepalanya. kontan aja tangannya nyamber, plaaakkkk....kepala si pengamen jadi sasaran tangan kanannya. "liat-liat luh!" teriaknya. Belum puas, tangan kanannya kembali melayang plaaaaaakkk...., kepala lagi sasarannya.
tertunduk meringis-ringis pengamen kecil itu ke depan saya, lalu menoleh "ma\'ap paak" lirihnya. gitarnya pun sampai mengenai saya. "ma'ap-ma'ap!!" plaaaaakkk...., sekarang giliran pipi kiri si pengamen yang kena sasaran tangan kanannya.

That\'s it!. Saya yang tadinya kesal oleh suara pengamen malah jadi sebel ma ulah bapak-bapak yang ngamuk, wong udah minta ma\'af masih di gaplokin aja.

si pengamen saya tarik ke belakang, di pisahkan dari si bapak "cukup pak, cukuup...kasian anak kecil!" ucap saya (saya lebih heran, dari banyak orang di bis itu kok ya pada diam sajjah!!).
"awas lu jangan ikut-ikutan!\" katanya sambil tepis bahu saya yang baru mau berdiri.
saat itu bis baru sampai rest area & siap-siap teruskan perjalanan (tahu kan Rest area yang di KM 13,5 arah Jakarta dari Tangerang?, tah eta di dinya'!)

Tangan bapak yang masih mengamuk itu saya pegang dengan tangan kiri, lalu sambil berdiri saya dorong tubuhnya menjauh dari pengamen dengan tangan kanan, "udah pak, malu jadi tontonan.." sambung saya.
"HHHAAAh...lu mau jadi JAGOAN??" tanyanya emosi sambil tepis semua tangan saya. lalu gantian, kali ini tangan kanannya cekik leher saya.
Habis sudah, selesai...
saya yang dari tadi coba tenangkan dia malah jadi ikutan terbakar, leher gw di cekek orang yang ga gw kenal batin saya.

"anjing lu yeeee, bangsat!" saya mengumpat lalu buuukkkk...buukkkk...buukkkk tinju kanan dan tinju kiri saya gantian mampir di wajah dan pelipisnya. sambil terhuyung ke belakang dia balas menendang lutut, sumpah ngga terasa!.
cengkeramannya di leher saya lepas, dia jatuh terlentang sambil kakinya menendang-nendang saya.
"berani jangan sama anak kecil njing!!!" maki saya sambil berusaha menginjak-injak tubuh dan wajahnya.
tanpa sadar seisi bis mulai heboh, yang perempuan teriak-teriak. para laki-laki yang terdekat dengan saya sibuk menarik saya menjauh. beberapa yang lain menarik si bapak dan coba membangunkannya.
"turun kalo berani, gua matiin lu!!" bentak saya. dia diam, tapi tampak jelas wajahnya masih emosi.
"mas, isighfar mas.." kata laki-laki sebaya yang memegangi saya. si bapak ngamuk itu usap-usap darah yang mulai keluar dari hidung. "AYO, TURUN!!" bentak saya lagi tambah nafsu.
"udah mas udah, mendingan mas ngalah...turun di sini!" sadar ucapan laki-laki yang memegangi saya ada benarnya, lalu saya ambil tas, turun lewat pintu belakang sambil tarik si pengamen dekil itu agar ikut turun dengan saya (turun di tol cing...!).

saya turun tidak jauh dari mal Puri dan buru-buru bergegas naik ke AJA 104 di belakang bis yang saya tumpangi tadi (untung macet tadi.., wedeh tiap hari kali macet!). Pengamen dekil itu masih bengong-bengong di pinggir jalan.

bagusnya, AJA 104 masih nyisain tempat kosong. buru-buru saya hempas pantat saya ke kursi, bersandar, taruh tas di pangkuan, lalu mulai tenang.
lalu perlahan, perih dan sakit mulai merayapi leher dan lutut. kaos saya sobek di bagian leher, lalu ada beberapa tanda cakaran oleh-oleh dari si bapak ngamuk, heuheu.... sumpah mulai perih nih!.

Ngapain tadi gw ladenin hati saya memaki. Monyet, ndableg, tolol lagi-lagi saya mengumpat. Seandainya tadi saya diamkan, pasti tidak akan perih leher saya, tidak akan sobek baju saya, tidak akan sakit lutut kiri saya, tidak akan turun di tengah tol, tidak akan ganti bis, tidak akan jadi malu kalo nanti bertemu orang-orang yang memisahkan kami, tidak akan berdarah hidung si bapak ngamuk. Tapi, si pengamen dekil?, pasti lebih habis di toyor-toyor. Halah, saya jadi tambah puyeng.

Untung istri saya ngga ikut, ga kebayang jewerannya ke kuping ini (hehehe klub ISTI kali ye gw). Pasti meledak omelannya seketika itu juga.

haduhh...Dasar Spesies Primitif. Melerai malah terbakar!, GOBLOK!!

Henry
Email : mangidi80@gmail.com



logo sivalintar


Bookmark and Promote!



Artikel Terkait:

Ingin mendapat artikel seperti ini langsung ke Email anda? Silahkan masukan alamat email anda untuk berlangganan.

Komentar :

ada 3 komentar ke “Dasar Spesies Primitif !”
Mackieca on Jumat, 10 Juli 2009 12.51.00 WIB mengatakan...

keren nih cerita cuma ending nya euy , , ,
hehe cuma komentar sih , , , gw mah ga bisa bikin nyang kayak beginian , , ,keren lah , , ,

Tarjum on Jumat, 10 Juli 2009 13.15.00 WIB mengatakan...

Siapa bilang anda gak bisa...Klo anda pikir anda bisa, anda pasti bisa! Coba kirim kisah anda sendiri.

henry on Minggu, 12 Juli 2009 15.03.00 WIB mengatakan...

@mackieca : iya..endingnya gitu doang, kan sayanya masih sibuk ngarasain nyeri2, hehehehe
@tarjum : akuuurr...

Posting Komentar

Sampaikan komentar terbaik anda di kolom komentar :)

eBook 1: "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah"

Buku psikomoar ini bercerita tentang pergumulan saya selama bertahun-tahun dengan gangguan jiwa yang tidak saya fahami dan membuat saya bertanya-tanya, “Apa yang terjadi dengan diri saya? Penyakit apa yang saya alami? Bagaimana cara mengatasinya?” Ironisnya, saya baru tahu apa yang terjadi dengan diri saya, 8 tahun setelah saya pulih, bahwa saya mengalami Gangguan Bipolar. [Selengkapnya]




eBook 2: "Berdamai Dengan Bipolar"

Bagaimana mengenali dan mengatasi Gangguan Bipolar?
Bagaimana menanggapi sikap negatif orang-orang di sekitar anda?
Bagaimana mendampingi orang yang mengalami Gangguan Bipolar? eBook ini memberi jawaban dan solusi alternatif penanganan Bipolar. [Selengkapnya]



eBook 3: “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”

eBook ini merupakan inti dari pengalaman dan pemahaman bipolar saya. Inti dari tulisan-tulisan saya di buku, ebook, blog, facebook, twitter dan media lainnya. eBook ini bukan teori-teori tentang gangguan bipolar! Bukan formula ajaib untuk mengatasi gangguan bipolar! eBook ini tentang tindakan, langkah-langkah penanganan bipolar. [Selengkapnya]


eBook Novel: “Pengorbanan Cinta”

Novel ini bukan sekedar kisah cinta yang romantis dengan segala macam konflik di dalamnya. Saya berani menyebut novel ini sebagai “Buku Pelajaran Cinta”. Beda dengan buku pelajaran pada umumnya, Buku Pelajaran Cinta ini tak membosankan, malah sangat mengasyikan dibaca. Setelah mulai membaca, jamin Anda tak ingin berhenti dan ingin terus membacanya sampai akhir cerita. [Selengkapnya]



eBook Panduan: “7 Langkah Mudah Menyusun & Memasarkan eBook”

Jika dikemas dengan desain cover yang apik dan diberi judul yang manarik, kumpulan posting blog atau catatan facebook anda bisa disusun menjadi sebuah ebook yang akan memikat pembaca di ranah maya. Selanjutnya ebook anda tinggal dipasarkan secara online.
[Selengkapnya]

 
 © Copyright 2016 Curhatkita Media  template by Blogspottutorial