Tiga Serangkai eBook Bipolar
3 eBook Bipolar ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata penulisnya. Mengupas secara detail dan sistematis dari gejala awal, saat berada di puncak manik dan depresi, sampai langkah-langkah pemulihannya. Inilah ebooknya : "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah”, “Berdamai dengan Bipolar” dan “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”.

Fasilitas Kesehatan Menjadi Komoditi Bisnis

    

Pengalaman Pribadi

Oleh : Karila

Padahal baru dua hari yang lalu aku membuat postingan tentang Kekayaan…
Ternyata sore harinya aku menelan pil pahit, bahwa masyarakat sekarang sangat materialistik…termasuk di dalam bidang yang menyangkut nyawa seseorang seperti pada fasilitas kesehatan

Aku akan bercerita sekilas tentang apa yang kualami pada tanggal 14 Juli 2009.
Sore hari setelah aku posting tentang Kekayaan itu, aku pulang ke rumah dan ternyata sakit radang tenggorakan yang diderita anakku belum sembuh, sehingga badannya panas.
Lalu Alex, anakku tersayang terkena step karena panasnya yang tinggi…Di tengah kekalutan, aku, suami dan pengasuh anakku langsung membawa anakku ke sebuah RS yang dekat dengan lokasi rumah kami, katakanlah RS X (Benernya aku pengen sih tulis nama RSU-nya biar bisa jadi masukan buat mereka…Tapi aku ga mau jadi Ibu Prita kedua..Masyarakat kita belum bisa menerima kritik secara terbuka *sigh*)

Singkat kata, kami sampai di UGD Rumah Sakit itu dengan kondisi anakku yang tertidur setelah kejangnya…
Bukannya langsung menangani anakku…mereka minta aku untuk daftar dulu (OMG!!! It’s about life and death and they still care about administration stuff..)
Aku langsung ke front desk untuk daftar (suamiku masih berusaha cari parkir mobil) dan anakku digendong oleh pengasuhnya.
Di Front desk aku masih harus antri, karena ada keluarga pasien lain yang juga sedang mengisi formulirnya. Dalam pikiranku, aku agak tenang saat itu, karena kupikir paling tidak anakku sudah ditangani para tenaga medis…
Betapa kagetnya aku, ketika kembali dari front desk (karena suamiku sudah datang dan menggantikanku untuk mendaftar)….ANAKKU MASIH TETAP DIGENDONGAN PENGASUHNYA TANPA ADA TINDAKAN YANG DIAMBIL KECUALI SEBATANG TERMOMETER RAKSA YANG NEMPEL DI KETIAKNYA!!!!
Aku langsung marahi pengasuh anakku..kenapa tidak dibawa ke para tenaga medis…
Dan dia menjawab bahwa tadi dia sudah minta pertolongan dan mengatakan bahwa anakku baru saja step, tapi salah satu tenaga medis disana berkata
“Iya, Sabar..ini masih antri..Tunggu saja disitu!!!”

Hatiku langsung mencelos…apakah seperti ini memang fasilitas di Rumah Sakit Umum….
Sekitar 1,5 tahun yang lalu, Alex sempat juga step dan kubawa ke salah satu Rumah Sakit Internasional(sebut saja RS Y), disana pelayanannya jauh lebih baik…Pada saat itu, ketika aku dan anakku datang, tim dokter langsung sigap mengambil anakku dari gendongan dan diberikan pertolongan pertama secepatnya..tanpa aku harus mengikuti prosedur yang berbelit…Baru setelah anakku melewati masa observasinya dan dinyatakan aman, aku dipanggil untuk melakukan pendaftaran, pembayaran, dll.

Jadi betapa kagetnya aku ketika anakku tidak langsung mendapat pelayanan dan observasi, walau hal itu urgent…
Baru setelah suamiku datang dengan map formulir,dsb..mereka baru mengambilkan tempat tidur untuk anakku….
Dan ketika baru saja menidurkan anakku di ranjang, Alex mengalami serangan kejang yang kedua…DAN TETAP MEREKA TENANG-TENANG SAJA…(yach, ini mungkin subyektif, aku akui..karena aku sedang panik..)

Aku ingat aku sampai harus berteriak “Pak, tolong donk..anak saya kejang lagi..Arrgghh..”
Eee..aku malah ditegur “Ibu jangan gitu..nanti anaknya tambah parah..”
DOENGGG…aku sampe speechless… Lha kalo gitu napa anakku ga langsung ditangani…

Setelah kejang yang kedua itu, anakku diberi masker oksigen..dan suamiku diminta untuk nebus resep di apotik….
Dan karena ini pengalaman kedua, aku sampe membandingkan dengan pelayanan dan pengobatan yang aku terima di RS Y..seingatku, dulu anakku langsung dikasi obat anti kejang dan obat penurun panas lewat dubur…Ketika aku minta hal itu ke mereka…mereka bilang bahwa obatnya akan dimasukkan lewat infuse anakku

BARU SETELAH SUAMIKU DATANG DENGAN OBAT2AN DAN INFUS, anakku baru dikasi infus… *sigh*
Bayangkan jika keluarga yang tidak mampu dan tidak bisa langsung nebus obat…Bisa-bisa penangannya terlambat *sigh again*

Dalam hati aku sudah ga sreg aja..aku pengen pindah Rumah Sakit..tapi takut nanti malah riskan dengan kondisi anakku yang belum stabil….

Tapi aku masih sangat beruntung dibandingkan salah satu pasien yang aku lihat ketika aku ke Lab untuk tes darah anakku (BTW, ini pertama kalinya aku lihat ada sample darah yang cuman ditaroh di toples kecil gitu aja tanpa ditutupin…Lha ya..apa steril tho yo???)

Pasien yang aku lihat itu sudah sepuh (tua) dan entah sakit apa…Dia teriak2 kesakitan dengan mulut membuka dan tangan kejang menghadap ke atas…Saat itu aku pikir, “Lho ini pasien ngapain ditaroh di depan pintu…” Jadi nenek itu ada diatas ranjang dan terletak di pintu masuk…

Ketika aku sampai di UGD dan cerita ke pengasuh anakku..dia nimpali “O,iya, bu…tadi ada disini..trus karena teriak..semua orang pada ngeliat trus ahkirnya dikeluarin…” trus pengasuhnya Alex nambahin, tadi ada salah satu paramedis Tanya ke temannya “Lho..napa orang itu?” dan temannya bilang “Sudah biarin..itu masih ngurus askes-nya..JPS” Memang kalo dilihat fisiknya, terlihat dari kalangan tidak mampu…

DUUUGGHH..aku semakin trenyuh….paramedis yang mestinya adalah profesi mulia karena menyangkut nyawa seseorang…ternyata ada beberapa oknum (aku ga bilang semua seperti itu..dan semoga memang tidak..) yang menolong orang dengan pilih-pilih berdasarkan status ekonomi pasien itu….

Aku jadi serasa menjilat ludah sendiri tentang postinganku tentang kekayaan…
Ternyata kekayaan itu bisa berdampak juga terhadap nyawa anda…
Ketika anda miskin nyawa anda akan terkesan semakin tidak berharga…
Kalo anda kaya, maka bisa “membeli” fasilitas terbaik yang dapat menyelamatkan nyawa anda…
Reality bites….Reality bites… *sigh*

Aku hanya dapat berdoa dan berharap..semoga masih ada yang mengemban tugas mulia sebagai tenaga medis dengan integritas tinggi…dengan kebahagiaan utama untuk membantu menyelamatkan nyawa…Semoga..Semoga.. *sigh*

Dan semoga pemerintah baru yang terbentuk melalui pemilu ini, dapat memastikan bahwa seluruh rakyat akan dapat menerima fasilitas kesehatan yang terbaik..tak peduli bagaimanapun kondisi ekonominya…Amien…

Melalui tulisan ini, aku tidak bermaksud menyinggung siapapun…tapi semoga bisa menjadi refleksi bagi semuanya..bisa menjadi masukan…bisa menjadi cerminan realitas yang ada…

Karila
Email : karilaw@ymail.com


logo sivalintar



Bookmark and Promote!



Artikel Terkait:

Ingin mendapat artikel seperti ini langsung ke Email anda? Silahkan masukan alamat email anda untuk berlangganan.

Komentar :

ada 0 komentar ke “Fasilitas Kesehatan Menjadi Komoditi Bisnis”

Posting Komentar

Sampaikan komentar terbaik anda di kolom komentar :)

eBook 1: "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah"

Buku psikomoar ini bercerita tentang pergumulan saya selama bertahun-tahun dengan gangguan jiwa yang tidak saya fahami dan membuat saya bertanya-tanya, “Apa yang terjadi dengan diri saya? Penyakit apa yang saya alami? Bagaimana cara mengatasinya?” Ironisnya, saya baru tahu apa yang terjadi dengan diri saya, 8 tahun setelah saya pulih, bahwa saya mengalami Gangguan Bipolar. [Selengkapnya]




eBook 2: "Berdamai Dengan Bipolar"

Bagaimana mengenali dan mengatasi Gangguan Bipolar?
Bagaimana menanggapi sikap negatif orang-orang di sekitar anda?
Bagaimana mendampingi orang yang mengalami Gangguan Bipolar? eBook ini memberi jawaban dan solusi alternatif penanganan Bipolar. [Selengkapnya]



eBook 3: “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”

eBook ini merupakan inti dari pengalaman dan pemahaman bipolar saya. Inti dari tulisan-tulisan saya di buku, ebook, blog, facebook, twitter dan media lainnya. eBook ini bukan teori-teori tentang gangguan bipolar! Bukan formula ajaib untuk mengatasi gangguan bipolar! eBook ini tentang tindakan, langkah-langkah penanganan bipolar. [Selengkapnya]


eBook Novel: “Pengorbanan Cinta”

Novel ini bukan sekedar kisah cinta yang romantis dengan segala macam konflik di dalamnya. Saya berani menyebut novel ini sebagai “Buku Pelajaran Cinta”. Beda dengan buku pelajaran pada umumnya, Buku Pelajaran Cinta ini tak membosankan, malah sangat mengasyikan dibaca. Setelah mulai membaca, jamin Anda tak ingin berhenti dan ingin terus membacanya sampai akhir cerita. [Selengkapnya]



eBook Panduan: “7 Langkah Mudah Menyusun & Memasarkan eBook”

Jika dikemas dengan desain cover yang apik dan diberi judul yang manarik, kumpulan posting blog atau catatan facebook anda bisa disusun menjadi sebuah ebook yang akan memikat pembaca di ranah maya. Selanjutnya ebook anda tinggal dipasarkan secara online.
[Selengkapnya]

 
 © Copyright 2016 Curhatkita Media  template by Blogspottutorial