Tiga Serangkai eBook Bipolar
3 eBook Bipolar ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata penulisnya. Mengupas secara detail dan sistematis dari gejala awal, saat berada di puncak manik dan depresi, sampai langkah-langkah pemulihannya. Inilah ebooknya : "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah”, “Berdamai dengan Bipolar” dan “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”.

Standing Party Menjauhi Kita?

    

Pengalaman Pribadi

Oleh : R. Rudi Agung P

Mengisi malam panjang dengan tetangga sekitar. Ramai bersama sejumlah kerabat. Diskusi ringan seputar prediksi masa depan Indonesia. Sesekali membicarakan tema-tema keagamaan.
Entah mengapa di tengah keramaian ini, pikiranku berkelana ke bulan-bulan di tahun 2008. Persisnya ketika menjadi jurnalis di Jakarta. Saat itu, sempat beberapa kali liputan di gedung atau peresmian-peresmian dengan makanan berlimpah.

Beruntung, sebelum liputan aku selalu menyempatkan diri untuk mengisi perut. Yah, untuk menjaga stamina di lapangan. Otomatis, aku enggan mencicipi makanan dan minuman yang berjejer di hadapan mata. Sudah kenyang.
Hmm, jadi ngalor ngidul tuh hehe. Dari pengalaman itu, aku kerap memperhatikan cara penyajian makanan yang disediakan bagi undangan atau rekan jurnalis lain.

Panitia menyuguhkannya secara prasmanan. Tamu dipersilahkan mengambil sesukanya. Namun, mereka memakannya dengan cara berdiri. Standing party. Sekilas seperti tidak ada yang salah. Seperti hal lainnya, terkadang kita selalu mengadopsi budaya Barat. Tapi, dalam hati ku selalu bertanya, \"Kenapa sih makan aja kita juga berkiblat pada Barat?\"

Kita ini orang Timur. Dengan mayoritas Muslim. Bagi umat Muhammad, kita tentu memiliki cara dan adab makan atau minum.Lantas, mengapa kita tidak mematuhinya. Pun dengan varian pesta lain. Pesta kebun, pesta ulang tahun, misalnya. Para tamu menikmati hidangan dengan berdiri. Sudah menjamur. Seperti budaya, membentuk peradaban baru.

Tak sedikit pula yang minum dengan tangan kiri. Ironisnya, ada saja yang menganggap cara tersebut gaul. Populis. Padahal, jika dibuka KTP mereka, tentu tertulis: agama Islam. Hmm, mari kita kembali pada Sunnah. Pada cara, etika, dan adab yang begitu mulia.

Makan dan minum dengan duduk. Diawali basmallah, diakhiri hamdallah. Gunakan tangan kanan. Tak perlu malu dianggap kuno. Tak perlu merasa aneh dicap gak gaul.
Islam indah. Ajarannya mulia. Apalagi yang harus diragukan. Kadang aku berpikir, standing party ini apa ingin menjauhi kita dari nilai Islam? Astaghfirullah.

Ghazul fikri kian nyata. Semoga kita mampu menangkisnya. Biarlah orang mencap kita sok agamis, kuno, atau hal negatif lain. Apapun terima saja, yang pasti niatkan semuanya untuk ibadah. Mengembalikkan Sunnah yang mulai ditinggalkan.

Mari, makan dan minumlah dengan duduk. Jangan berdiri. Tangan kanan, bukan tangan kiri. Mulai hari ini, mari. Ya Rab lindungilah kami dari serangan musuh-musuh Mu, amin.
Jika tak dimulai dari kita, siapa lagi? Tentu kita tak rela, kerabat, saudara, atau adik-adik kita larut dalam budaya non Islam. Sedikit banyak kita memiliki tanggung jawab untuk saling mengingatkan kebaikan dan kesabaran.

Di sini tambah ramai. Diskusi pun mulai menghangat. Malam minggu, enak juga, tak diisi dengan hal yang berkaitan dengan asmara :) hehehe..

R. Rudi Agung P
Email : r_agungp@yahoo.com
Blog : klikrudi.blogspot.com



logo sivalintar



Bookmark and Promote!



Artikel Terkait:

Ingin mendapat artikel seperti ini langsung ke Email anda? Silahkan masukan alamat email anda untuk berlangganan.

Komentar :

ada 1
M. Syam on Selasa, 21 Juli 2009 16.32.00 WIB mengatakan...

setuju. kenapa ya kita selalu mengiuti budaya barat. kalau tidak mnyimpang sih gak papa, tp klo nyimpang kan berabe. kita kembali ke budaya kita

Posting Komentar

Sampaikan komentar terbaik anda di kolom komentar :)

eBook 1: "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah"

Buku psikomoar ini bercerita tentang pergumulan saya selama bertahun-tahun dengan gangguan jiwa yang tidak saya fahami dan membuat saya bertanya-tanya, “Apa yang terjadi dengan diri saya? Penyakit apa yang saya alami? Bagaimana cara mengatasinya?” Ironisnya, saya baru tahu apa yang terjadi dengan diri saya, 8 tahun setelah saya pulih, bahwa saya mengalami Gangguan Bipolar. [Selengkapnya]




eBook 2: "Berdamai Dengan Bipolar"

Bagaimana mengenali dan mengatasi Gangguan Bipolar?
Bagaimana menanggapi sikap negatif orang-orang di sekitar anda?
Bagaimana mendampingi orang yang mengalami Gangguan Bipolar? eBook ini memberi jawaban dan solusi alternatif penanganan Bipolar. [Selengkapnya]



eBook 3: “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”

eBook ini merupakan inti dari pengalaman dan pemahaman bipolar saya. Inti dari tulisan-tulisan saya di buku, ebook, blog, facebook, twitter dan media lainnya. eBook ini bukan teori-teori tentang gangguan bipolar! Bukan formula ajaib untuk mengatasi gangguan bipolar! eBook ini tentang tindakan, langkah-langkah penanganan bipolar. [Selengkapnya]


eBook Novel: “Pengorbanan Cinta”

Novel ini bukan sekedar kisah cinta yang romantis dengan segala macam konflik di dalamnya. Saya berani menyebut novel ini sebagai “Buku Pelajaran Cinta”. Beda dengan buku pelajaran pada umumnya, Buku Pelajaran Cinta ini tak membosankan, malah sangat mengasyikan dibaca. Setelah mulai membaca, jamin Anda tak ingin berhenti dan ingin terus membacanya sampai akhir cerita. [Selengkapnya]



eBook Panduan: “7 Langkah Mudah Menyusun & Memasarkan eBook”

Jika dikemas dengan desain cover yang apik dan diberi judul yang manarik, kumpulan posting blog atau catatan facebook anda bisa disusun menjadi sebuah ebook yang akan memikat pembaca di ranah maya. Selanjutnya ebook anda tinggal dipasarkan secara online.
[Selengkapnya]

 
 © Copyright 2016 Curhatkita Media  template by Blogspottutorial