Tiga Serangkai eBook Bipolar
3 eBook Bipolar ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata penulisnya. Mengupas secara detail dan sistematis dari gejala awal, saat berada di puncak manik dan depresi, sampai langkah-langkah pemulihannya. Inilah ebooknya : "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah”, “Berdamai dengan Bipolar” dan “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”.

Arti Cinta Bagi Seorang Bipolar (Bagian 2)

    

Oleh Tarjum

Tulisan bagian kedua ini merupakan resume dari bagian pertama yang menampilkan hampir semua komentar secara detail tentang cinta seorang bipolar.

Tulisan ini dipicu oleh pernyataan unik dan menarik Robi Krucil di status facebooknya.

“Mencintai seorang bipolar harus siap untuk memberi memberi dan memberi. Tidak ada take and give. Dan selalu bersiap mengoreksi hati. Saya Robi, dan saya Bipolar... :)))”

Arie Dabo, membuka obrolan dengan menulis komentar pertama, "Tapi yo, bipolarnya harus belajar memberi juga. Saya Arie Dabo, dan saya Bipolar."

Aniek Wijaya, menulis komentar yang mengejutkan, “Saya sedang belajar untuk tidak jatuh cinta (lagi). Karena menurut saya tidak ada cinta yang tulus. Setiap cinta pasti membuat seorang saya (yang kebetulan bipolar) terseret pada kondisi posesif, takut kehilangan juga segala kekhawatiran yang berlebihan dan amat sangat mengganggu laju perjalanan hidup saya yang sebetulnya sedang baik-baik saja.”

Kristi Swastiani ternyata sedang mencari cinta, “Saya Kristi, baru saja menginjak 27 tahun....saya bipolar dan schziofrenia.... lagi mencari laki-laki indonesia, karena si om Denmark yang satu itu katanya seh ga mau nikah ma saya...hahahahaha...”

Bisa difahami kekhawatiran Aniek, karena saya dan teman-teman bipolar yang lain mungkin juga merasakan kekhawatiran yang sama.

Islandria Gobed (caregiver yang pacarnya seorang bipolar) memberi kuncinya, bagaimana menjaga hubungan dengan seorang bipolar; sabar, pasrah, mau memberi dan bersedia mengoreksi hati sewaktu-waktu. Tapi, Islandria juga mengakui, “Ada kalanya saya juga egois, lelah, bingung, putus asa, atau malah ingin menyerah, tapi saya setuju dengan mas Robi untuk bagian yang menyebutkan bahwa niat si ODMK itu sendiri untuk sembuh sangat penting. Jangan pernah mencintai bipolar yang menolak untuk berobat atau malah tidak ingin sembuh... itu saja. Dan saya bersyukur, Arie Dabo sangat kooperatif dalam menjalani pengobatannya....Lucky Me....”

Anik, wanti-wanti kepada para bipolar lover, “Jangan ngarep, kalo elo emang cinta, ya beri saja segala yg dia butuhkan; cinta, perhatian dan jangan pernah sekali-kali berharap untuk mendapatkan balasan. Kalau tidak siap seperti itu, mending pensiun dini deh. Cari yang lain. Nah, kalau bersedia mengoreksi hati sewaktu-waktu, artinya harus siap dengan segala konsekwensi ketika si bipolar ini udah menya-menye nggak jelas membagi kapling hatinya, atau tiba-tiba marah nggak jelas padahal kesel ke siapa, tapi marahnya ke orang yang paling dekat dengannya. Sakit pasti, tapi ya harus dimaklumi. Kan udah tahu bipolar mempunyai kemungkinan untuk berbuat seperti itu”

Robi Krucil, menulis komentar yang tak kalah mengejutkan, “Menjadi caregiver bipolar memang tugas berat. Salute untuk yang berani mencoba apalagi yang mampu bertahan. Saya berani bilang bahwa mencintai bipolar itu ndak ada untungnya. Tanya sama hati kecil mbak Islandria, ada ndak untungnya mencintai mas Arie (Arie Dabo)?”

Robi juga wanti-wanti, “Menjadi caregiver bipolar memang harus siap resikonya. Tapi menjadi bipolarnya juga harus mau membenahi diri. Jangan karena bipolar maka jadi merasa boleh marah-marah ndak jelas. Atau menjadikan para caregiver sebagai pelampiasan emosi. Tolong diingat, para caregiver inilah yang sekuat tenaga merawat dan memperhatikan kita saat kita relaps. Jadi kita juga harus belajar memberi dong. Bipolar harus mau belajar!”

Aniek memberi pehamanan, apa sebenarnya yang dinginan wanita dari pasangannya. “Wanita butuh banyak kalimat-kalimat peneguhan dan bukti, sekedar sebaris sapaan di pagi, siang dan malam hari. Butuh perasaan bahwa si wanita itu dibutuhkan keberadaannya, dan jaminan bahwa ketika si wanita itu ada sesuatu yang ingin diungkapkan atau sedang terbelit masalah, ada seseorang yang siap dengan bahu pereda dukanya.

Oh ya, kadang perempuan cuman butuh didengarkan ketika curhat, bukan mencari solusi (karena kalau wanita pinter, biasanya siap dengan sejuta solusi). Buat kenyamanan aja, bahwa ada yg memperhatikannya.

Saya tergoda nimbrung obrolan mereka yang sangat menarik.
“Obrolan ringan yang jujur dan inspiratif. Penuh canda namun bermakna. Menurut saya yang tak sepenuhnya memahami cinta, cinta yang tulus menyehatkan dan membahagiakan bagi yang memberi atau menerima. Oke lah, mungkin seorang bipolar butuh perhatian dan cinta berlebih, tapi bukan berarti bipolar tak bisa memberi. Seorang bipolar itu peka dan sensitif, artinya perasaannya lebih halus dan bisa lebih memahami perasaan orang lain, termasuk perasaan orang yang dicintainya.

Seorang bipolar juga akan banyak memberi kepada orang yang dicintainya. Labilitas moodnya yang kadang tak terduga dan mengejutkan justru akan membuat dia tak membosankan bagi pasangannya. Seperti kata sebuah iklan “Perempuan mudah bosan” (maaf bukan memojokan perempuan..:D..). Perempuan juga suka tantangan. Seorang bipolar akan sangat menarik dimata perempuan karena dia beda dari pria kebanyakan. Kata seorang pakar relationship, perempuan bukan ingin diperlakukan sepesial, tapi dia ingin menjadi spesial. Perempuan yang menjalin hubungan dengan seorang bipolar adalah perempuan sepesial.

Kekurangan kadang menjadi kelebihan bagi seseorang. Seorang bipolar punya kenunikan yang tak dimiliki orang lain.”

Heri Pureness, menyampaikan pendapatnya tentang cinta, “Kita pasti tanpa disadari pernah dibenturkan oleh waktu utk mencintai dan dicintai dlm ranah cinta yg lebih universal.. t'masuk didalamnya membangun sebuah relantionship yg tangguh di tengah keterbatasan mnjadi cerdas tanpa batas memaknai cinta itu sendiri...

Robi Krucil, yang masih menahan diri untuk menjalin hubungan cinta, menulis sebuah pengakuan yang berani, “Bipolar memang sangat tidak stabil. Untuk bipolar yang sangat ekstrem perubahan moodnya seperti saya, sangat tidak mudah menemukan pasangan yang cocok dan mengerti. Pada saat saya depresi, jangankan untuk mencintai, untuk bergerak saja saya susah, apalagi mencari nafkah.”

Robi juga membalas komentar saya, “Bisa mas Tarjum bayangkan apa jadinya rumah tangga saya dengan kondisi saya depresi? Lalu dikala saya manik, saya akan menjadi orang yang pemarah, sangat ambisius, tidak bisa diam, tidak bisa menolak godaan, dan lain sebagainya.

Saya Bipolar ekstrem Mas, dan saya ingin sembuh. Tapi untuk sementara, saya harus mengakui bahwa untuk diri saya, saat ini saya tidak bisa hidup berpasangan tanpa menyakiti pasangan saya.”

Saya mencoba memahami keengganan Robi untuk menjalin sebuah hubungan, walaupun seperti yang dia bilang, itu hanya sementara. “Saya ngerti apa yang Mas Robi Krucil rasakan saat ini walaupun tidak sepenuhnya. Saya aja yang kategori bipolar ringan sempat psimis, bisakah saya menikah dan punya keluarga dengan kondisi mental yang labil? Yang kadang untuk mengurus diri sendiri aja gak bisa?

Saya baru berani menjalin hubungan dengan wanita sekitar 5 tahun setelah kondisi mental saya menuju pemulihan. Ternyata selama itu, beberapa gadis menunggu saya (maaf bukan sok ganteng…walaupun sebenarnya lumayan ganteng..:D). Begitu saya mendekati seorang gadis, beberapa gadis lain yang saya kenal mencoba mendekati saya, bahkan ada yang cukup agresif, menyatakan cintanya lebih dulu. Artinya seorang bipolar dengan segala kekurangannya (saya lebih suka menyebutnya keunikan) sebenarnya punya daya tarik tersendiri di mata wanita.

Saya suka dengan pernyataan mas Robi, “untuk sementara…..”. Pernyataan yang positif dan optimis. Saya yakin walaupun mas Robi, belum menyatakan cintanya kepada seorang wanita…beberapa orang diam-diam menunjukan ketertarikannya pada Mas Robi. Bener gak mas? Hanya mas Robi yang tahu.”

Saya menanyakan hal yang agak sensitif kepada Islandria Gobed, “Klo boleh tahu....apa saja hal menarik dari Arie Dabo dimata dan hati Islandria, dari segi fisik, karakter dan kepribadian? ya...untuk bahan pembelajaran kita-kita para pria...:) Ari Dabo, mohon jangan geer dulu ya..:D

Islandria, dengan agak malu-malu, menjawab pertanyaan saya tentang Arie Dabo kekasihnya dengan diplomatis, “Hahaha.... apa ya Mas Tarjum. cannot explaining secara detail nih kalo begini...
Saya juga kadang-kadang bingung kok kenapa bisa bertahan.
Tapi Mas Robi lagi-lagi betul bahwa hati yang ikhlas, sabar, cinta yang penuh, segudang maaf, pengertian dan dompet yang tebel sangat diperlukan untuk menghadapi sang bipolar.

Robi Krucil juga membalas komentar saya tentang keunikan dan kelebihan seorang bipolar, “ Mas Tarjum, siapa bilang bipolar tidak punya fans Mas? Coba tanya sama Mas Arie Dabo, dia punya deretan fans yang bejibun sampe mbak'e Is (Islandria maksudnya) megap-megap... :D

Saya juga begitu.... Bipolar punya daya tarik tersendiri untuk wanita terutama pada saat mereka manik.
Tapi untuk masalah bertahan... itu lain soal. Karena itulah masalah cinta bagi seorang bipolar sangat rumit.”

Elma Marviani, seorang bipolar yang sudah berkeluarga dan punya anak, berbagi pengalaman.
“Aku Bipolar. Karena bipolar aku telah menyakiti sahabat aku yg hampir setengah hidupku bersahabat dengan dia.

Untuk masalah perceraian seorang bipolar memang tinggi. Dulu aku pernah mengalami hampir terpuruk dan jatuh ke perceraian. Alhamdulilah sekarang baik-baik. Memang gak gampang seorang bipolar untuk menjalani sebuah komitmen. Apa lagi seorang ibu seperti saya yg kadang ada kalanya aku pingin sendiri tanpa ada gangguan dari anak. Tapi itulah ujian yang harus dihadapi, gimana mengendalikan mood aku yg naik turun. Alhamdulilah sekarang dah jauh banyak berubah di banding waktu aku baru punya anak.

Memang sih gak bisa di pungkiri, kadang rasa malas atau rasa pinginmarah-marah masih ada. Akhirnya aku sekarang berusaha pingin menjadi seorang ibu yang baik bagi anakku. Itulah motivasi terbesar aku pingin sembuh dari bipolar.”

Aniek, masih dengan pendiriannya, “Saya harus mengakui bahwa untuk diri saya saat ini, saya tidak bisa hidup berpasangan tanpa menyakiti pasangan saya. Tanpa menyakiti dan tersakiti. Dengan kata lain agar tak saling melempar lara.”

Mengakhiri rangkaian komentar di statusnya, Robi melontarkan gurauan yang mengundang senyum namun cukup mengena, “Laki-laki bipolar adalah bayi yang terjebak dalam tubuh orang dewasa. Jadi tingkah lakunya seperti bayi, bisanya nangis, tertawa dan bermain.

Membaca komentar ini saya tersenyum tapi merenung, rasanya dulu saya pernah mengalami kondisi seperti itu.

Itulah dua tulisan tentang cinta seorang bipolar yang saya kutif dari status facebook Robi Krucil. Semoga tulisan ini bermanfaat, bisa memberi pemahaman dan inspirasi.

Mengakhiri tulisan ini saya hanya ingin mengatakan, “Setiap orang berhak mencintai dan dicintai, tak terkecuali seorang bipolar.”

Apa dan bagaimana arti cinta menurut anda? Silakan sampaikan di komentar.

Jika menurut anda artikel ini cukup menarik dan bermanfaat silakan share di twitter atau facebook. Jika mau berlangganan artikel blog ini melalui email, silakan subscribe disini.

Tarjum adalah pendiri dan editor Curhatkita, Forum Curhat, Grup Teman Curhat dan Solusi Bipolar Facebook. Penulis buku psikomemoar "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah". Anda bisa kenal lebih dekat dengan Tarjum di sini dan ikuti Tarjum di Facebook dan Twitter.



Bookmark and Promote!



Artikel Terkait:

Ingin mendapat artikel seperti ini langsung ke Email anda? Silahkan masukan alamat email anda untuk berlangganan.

Komentar :

ada 2 komentar ke “Arti Cinta Bagi Seorang Bipolar (Bagian 2)
Anonim mengatakan...

saya Bipolar berusia 19 tahun & tentang cinta saya tidak pernah merasa menyakiti bebrapa pria namun dampak yang saaya terima dari mereka begitu memojokkan saya hinga saya memutuskan hubungan dgn siapapun itu, & bertahan lajang hingga setahun :)

nemo Saja on Sabtu, 20 Juni 2015 12.25.00 WIB mengatakan...

perasaan saya terwakili oleh percakapan di atas... bahkan sy pikir awalnya tidak ada yang bisa mngerti hal ini...

Posting Komentar

Sampaikan komentar terbaik anda di kolom komentar :)

eBook 1: "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah"

Buku psikomoar ini bercerita tentang pergumulan saya selama bertahun-tahun dengan gangguan jiwa yang tidak saya fahami dan membuat saya bertanya-tanya, “Apa yang terjadi dengan diri saya? Penyakit apa yang saya alami? Bagaimana cara mengatasinya?” Ironisnya, saya baru tahu apa yang terjadi dengan diri saya, 8 tahun setelah saya pulih, bahwa saya mengalami Gangguan Bipolar. [Selengkapnya]




eBook 2: "Berdamai Dengan Bipolar"

Bagaimana mengenali dan mengatasi Gangguan Bipolar?
Bagaimana menanggapi sikap negatif orang-orang di sekitar anda?
Bagaimana mendampingi orang yang mengalami Gangguan Bipolar? eBook ini memberi jawaban dan solusi alternatif penanganan Bipolar. [Selengkapnya]



eBook 3: “7 Langkah Alternatif Pemulihan Bipolar”

eBook ini merupakan inti dari pengalaman dan pemahaman bipolar saya. Inti dari tulisan-tulisan saya di buku, ebook, blog, facebook, twitter dan media lainnya. eBook ini bukan teori-teori tentang gangguan bipolar! Bukan formula ajaib untuk mengatasi gangguan bipolar! eBook ini tentang tindakan, langkah-langkah penanganan bipolar. [Selengkapnya]


eBook Novel: “Pengorbanan Cinta”

Novel ini bukan sekedar kisah cinta yang romantis dengan segala macam konflik di dalamnya. Saya berani menyebut novel ini sebagai “Buku Pelajaran Cinta”. Beda dengan buku pelajaran pada umumnya, Buku Pelajaran Cinta ini tak membosankan, malah sangat mengasyikan dibaca. Setelah mulai membaca, jamin Anda tak ingin berhenti dan ingin terus membacanya sampai akhir cerita. [Selengkapnya]



eBook Panduan: “7 Langkah Mudah Menyusun & Memasarkan eBook”

Jika dikemas dengan desain cover yang apik dan diberi judul yang manarik, kumpulan posting blog atau catatan facebook anda bisa disusun menjadi sebuah ebook yang akan memikat pembaca di ranah maya. Selanjutnya ebook anda tinggal dipasarkan secara online.
[Selengkapnya]

 
 © Copyright 2016 Curhatkita Media  template by Blogspottutorial